DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Familiar



“Jemma,” suara Evelyn bermakna meminta Jemma terus mengikuti dirinya. Dua pasang tangan kecil itu mendorong pintu mewah salah satu ruangan yang ada di Mansion Utama Irey.


Mata Jemma berbinar lebih terang. Dia sedang serasa berada di surga alat musik. Walau sebelumnya Evelyn sudah bilang mereka akan masuk ruang musik ala kediaman Irey, Jemma tetap terkejut.


Ruangan pertama yang mereka datangi. Sesampainya dari perjalanan pulau Delan ke kota Hicity, Jemma menuruti apa yang sudah Evelyn rencanakan untuk mereka selama bersama


“Luar biasa sekali. Sangat luar biasa. Sungguh-” kata Jemma dengan cepat dipotong oleh Evelyn.


“Cukup pujianmu,” timpal Evelyn usil. Bosan dengar pujian lagi. Lalu dia mengambil satu alat musik dan berkata menantang,”Lebih baik mainkan satu lagu dengan biola ini, Adikku.”


“Aku cuma pernah melihat video permainannya dan belum pernah jadi violinis, Ev. Siap-siap kecewa dengan musikku,” jelas Jemma berkelakar.


“Jemma, aku tidak yakin kamu bisa mengecewakan,” kata Evelyn. Gantian dia yang mendengarkan pujian pada si adik.


Meski pengalaman pertama, Jemma menggesek biola dalam penampilan yang begitu memukau di mata Evelyn. Raut wajah mereka sama-sama cerah berbahagia.


Satu lagu selesai dimainkan Jemma dan tepuk tangan terdengar ramai. Tidak seperti berasal hanya dari Evelyn. Bunyinya dari tiga pasang adu telapak.


Jemma melihat ada dua orang pria yang sepertinya seumur sang mama. Satu duduk di kursi roda dan satunya berdiri di belakang kursi roda tersebut.


Selang waktu yang singkat, Jemma melihat Evelyn berlari cepat ke arah pintu dan memeluk pria yang berdiri. Keduanya tampak bahagia sekali.


Rona wajah Jemma perlahan redup. Mendapati langsung kenyataan di depan matanya, si kakak tidak sepertinya yang tak punya ayah.


Sebab otak Jemma menyimpulkan pria itu adalah ayah Evelyn. Mereka juga terlihat penuh kebahagian di pandangannya.


Setelah ini suasana hatinya akan memburuk, Jemma sadar diri. Dia jadi malas dan ingin diam saja. Perasaan cemburunya terasa naik level. Meresahkan dan menyusahkan.


Padahal Jemma tahu dia akan bertemu dengan anggota keluarga yang Evelyn punya karena tinggal di atap yang sama. Tentu saja ada seorang ayah, kakaknya itu pernah bilang.


“Jemma, ayo sini,” ajak Evelyn yang berteriak sebab dia sedang dalam gendongan ayahnya. Raut muka bahagia anak itu bertambah daripada tadi.


Dengan ragu, Jemma mendekati mereka. Rasa sayang pada Evelyn jadi alasan untuk dia tidak kalah dengan suasana hatinya yang berantakan.


“Dad, ini adikku. Jemma Brown,” kata Evelyn antusias pada pria yang menggendongnya.


Lanjut Evelyn bergerak untuk berada pas di samping pria yang berkursi roda lalu dengan nada hangatnya berkata , “Uncle, inilah Jemma. Sekarang aku sudah punya adik.”


Jemma yang jadi topik hanya menyimak. Raut wajahnya berubah. Dia semakin cemburu karena Evelyn seperti punya dua orang ayah.


Namun demi kesopanan, Jemma berusaha memaksakan dirinya untuk memperlihatkan keramahan. Seperti nilai yang selama ini ditanamkan padanya.


"Apa kamu menyukai lagu itu?" ucap Nigel sebelum Jemma merespon pengenalan Evelyn tadi. Dia sudah tahu sebagai siapa Jemma yang berada di hadapannya sekarang.


Sesuai dengan janji pada Miles karena traumanya bereaksi ketika menuju pulau Delan, Nigel menuruti perkataan Miles untuk tidak menyinggung tentang Genaya atau Gail terlebih dahulu.


Jemma memandang wajah yang menatapnya datar dan itu membuatnya bingung bersikap. Dia memainkan lagu itu hanya karena pernah memperhatikan video dari seorang violinis.


Evelyn yang biasanya peka dengan keadaan kali ini terbengong. Karena reaksi Nigel yang biasanya sulit didekati bisa memulai percakapan pada orang baru. Meskipun raut wajah sang uncle dalam mode datar.


Miles pun sama dengan Evelyn sehingga dia memilih untuk menyimak apa yang akan terjadi. Antara Nigel yang dingin dengan anak berumur lima tahun yang dianggap anaknya sebagai adik.


"Namamu Jemma, kan?" suara Nigel terdengar lagi dengan nada yang lembut kali ini. Keduanya juga masih saling menatap.


Cara Nigel berkata barusan itu terdengar tidak biasa bagi telinga Evelyn dan Miles. Lebih tepatnya karena jarang sisi lembut pria berkursi roda itu muncul.


Anggukan kepala Jemma merespon ucapan Nigel setelah hening semenit. Lalu sebuah senyuman sopan disematkannya.


"Apa kamu menyukai lagu tadi?" ujar Nigel mengulang pertanyaan pertamanya tadi. Nada lembutnya masih bertahan.


“Aku hanya melihat permainan biola untuk lagu itu," jawab Jemma seramah yang dia bisa.


Jemma mengangguk. Lagu yang dimainkannya termasuk terkenal meski tanggal rilis lagu tersebut lebih duluan hampir setahun daripada tanggal lahirnya.


"Aku bisa memainkan versi piano jika mau mendengarkannya lagi, hmm-" kata Jemma menggantung sebab dia bingung bagaimana panggilannya untuk si uncle dari Evelyn itu.


"Namaku Nigel," tanggap Nigel terhadap kalimat Jemma.


"Aku bisa memainkannya berulang kali untuk Om Nig," sambung Jemma kemudian. Suasana hati perempuan kecil itu berangsur lebih rileks.


Sisi diri Jemma yang mudah mengakrabkan diri aktif kembali. Itu membuat Nigel terkejut, mendengar panggilan yang diberikan Jemma padanya.


Seperti Jarrett waktu itu, dia suka. Tanpa sadar dia mengembangkan senyum yang jelas terlihat dan itu hal langka.


Jemma adalah saudari Jarrett. Jarret adalah anak Gail. Gail adalah Genaya yang hilang ingatan. Semuanya berkaitan dengan suatu hari di enam tahun yang lalu.


Nigel dan Miles memang menyimpulkan bahwa Jarrett dan Jemma adalah anak Genaya bersama Nigel, yang berarti keturunan Irey. Anggota keluarga Irey yang tidak disangka-sangka.


Namun, Nigel diminta untuk menjadikan itu rahasia sampai pada waktunya Miles izinkan untuk dibongkar. Tidak boleh terburu-buru karena bisa berdampak buruk pada kondisi kesehatan.


Kepekaan Evelyn aktif lagi. Tanpa aba-aba, dia menggandeng lembut lengan Jemma menuju piano di undakan ruangan. Tidak perlu tunggu kata iya keluar dari mulut si uncle.


Jemma melakukan apa yang dia bilang. Lagu yang sama dimainkan lebih dari sekali.


Satu kali lagu selesai, berulang jadi dua kali, berlanjut ke tiga kali hingga dia mendapatkan isyarat untuk berhenti.


Lagu yang mengalun dari permainan jari Jemma di atas tuts, seperti membawa Nigel kembali ke momennya bersama sang istri. Saat mereka di dalam mobil.


Ketika itu Nigel sedang mengemudi mobil menuju pelabuhan. Agar suasana tidak hening dan membuat kantuk, Genaya berkata panjang lebar tentang sebuah lagu baru yang dia sukai.


Judulnya itu Memories. Tentang pemaknaan dari kehadiran seseorang dalam kehidupan seseorang yang lain.


Genaya antusias sekali memaparkan kesan dan sudut pandangnya terhadap lagu itu. Bahkan dia memutar audionya berulang kali, ditambah menjeda pada lirik tertentu.


Dalam lirik juga terkandung kata Desember dan saat itu bulan Desember, Genaya tertawa tiba-tiba. Nigel pun ikut tertawa karena mendapati tawa sang istrinya serasa menular.


Tapi sekarang, Nigel susah. Dia tidak mampu tertawa. Dia menjadi semakin terluka saat bulan Desember tiba. Karena tidak ada lagi kehadiran nyata sang istri tercinta.


Nigel yang disuguhi lagu Memories dalam kemasan denting piano seakan mendengar potongan demi potongan lirik masuk ke telinga. Seakan ada Genaya membisikkannya.


Sementara itu, Miles bisa menikmati permainan satu lagu yang sama berulang kali dan ini tidak pernah dia alami sebelumnya. Dia tidak seperti Evelyn atau lainnya yang sangat menyukai musik.


Pembawaan Jemma dalam memainkan lagu lewat kemampuannya mengolah bunyi merdu dan penghayatan luar biasa tidak bosan disaksikan. Evelyn benar tentang ceritanya mengenai Jemma.


Pikiran Miles jadi terpikirkan sesuatu. Ketika dia mengamati wajah Jemma tadi, rasanya ada bagian dari visual itu yang familiar. Arah mata Miles bergantian ke muka Nigel dan Jemma.


Itu semakin memperjelas siapa Jemma untuk Nigel. Miles menjadi tidak sabar untuk segera menjalankan rencananya. Dia akan mengadakan tes DNA untuk bapak dan anak.


Bertepatan dengan Jemma yang lebih dulu hadir dan bertemu. Berkat Evelyn yang pemaksa pada Wyatt yang tidak bisa menolak kerinduan sang cucu pada yang disebutnya adik tanpa tahu hubungan darah mereka.


Seperti waktu Miles mengamati cara Jarrett menatap, ada yang familiar sejak pertama mereka bertemu. Jika dihubungkan dengan Nigel, kedua anak itu membuat perubahan pada kakaknya.


“Permisi, tuan Es. Ada pesan dari tuan besar untuk tuan, tuan El, nona muda Ev dan tamu. Beliau minta ditemui di ruang keluarga segera.”


***bersambung..**


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021


**Penting bagi keberlangsungan novel ini, wahai Pembaca.. silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Juga, bagikan. Makasih ya :))