DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Suara



Suara Duo J terdengar samar-samar oleh Gail. Untuk meyakinkan diri apa benar-benar itu sepasang anak kembarnya, Gail pun memeriksa luar ruangan lewat jendela.


Ruang kerja Gail punya dua jendela yang berdekatan tapi berbeda arah. Satu ke arah jalan raya dan satunya menghadap ke pintu ruang masak, tempat Landon bertugas.


Sepasang mata Gail menangkap Duo J berlarian masuk ke halaman Dapur The Brown. Nigel tertinggal, masih melangkah di tepi jalan raya.


Gail merasa ada yang berbeda dari pemandangan yang sedang dilihatnya. Otaknya membongkar ingatan, mencari tahu jawaban untuk pertanyaan kepada diri sendiri itu.


Sedangkan Nigel, dia menangkap siluet Gail di jendela. Matanya berfokus ke titik itu, sampai semakin dekat jaraknya.


Sehingga Nigel bisa melihat dengan jelas. Bahwa Gail melamun memandanginya.


Belum sempat Nigel menyapa Gail, suara teriakan Jemma mengalihkan perhatiannya. Seperti sesuatu terjadi kepada Duo J yang berlarian sejak memasuki halaman.


Jemma tergelincir. Yang hampir terjatuh berbenturan dengan tanah, jika saja Jarrett tidak sigap membalikkan badan dan lari kencang untuk menahan tubuh saudarinya.


"Je, bagaimana keadaanmu?" tanya Nigel. Lagi-lagi dia menyembunyikan kepanikannya dan memperlihatkan ketenangan di depan Duo J.


"Pap," sahut Jemma lemah. Gestur tubuhnya meminta Nigel untuk memberinya pelukan.


Inilah yang Jemma tidak suka saat berlarian dengan Jarrett. Dia tidak setangkas saudaranya dalam mengendalikan fisik. Tapi dia suka menonton betapa kerennya Jarrett berolahraga.


"Maaf, Jemma," ucap Jarrett berempati. Karena idenya memaksa Jemma untuk ikut berlari.


Jemma yang dirinya sudah lebih tenang mengurai pelukan dari Nigel lalu merespon Jarrett dengan sebuah dekapan. Keterkejutannya terhadap sedikit lagi jatuh lalu terluka mereda.


Di sisi lain, Gail buru-buru keluar dari ruang kerjanya dan mendekati anak-anak serta suami. Insting keibuannya terpanggil.


Melihat Jemma tidak menangis dan tidak ada cidera, Gail menghela nafas lega. Duo J masih saling memeluk, sama-sama menenangkan perasaan.


"Nigel, kalian berjalan kaki kesini?" tanya Gail. Dia lebih dulu bersuara sebelum digoda lagi oleh gestur minta dipeluk seperti yang pernah si suami lakukan.


"Iya, Gee. Apa pekerjaanmu sudah selesai sekarang?" ucap Nigel. Tetap dengan caranya yang lembut dan memuja wanita paling berharganya itu.


"Masih ada sedikit lagi," ujar Gail dijeda. Matanya memindai penampilan Nigel lalu lanjut berkata namun ragu-ragu, "Nig, kamu-"


"Aku apa?"


"Kakimu?"


"Kakiku? Bagaimana kakiku, Gee?" ujar Nigel jahil. Dia tahu harusnya menjelaskan tapi menggoda istrinya lebih menarik.


Gail bingung dengan kalimat yang bagaimana untuk dia utarakan. Dia tak mau menyinggung perasaan Nigel.


Disabilitas rasanya hal yang sensitif bagi Gail. Dia sekilas saja memperhatikan dua kaki Nigel, lalu mengalihkan ke wajah sang suami.


"Gee, apa aku lebih tampan? Dari tadi kamu menatapku lama."


"Mana ada," lengos Gail galak tapi pipinya merona.


"Istriku tambah cantik," kekeh Nigel.


Mendengar suara tawa, Duo J menoleh ke arah Nigel dan Gail. Apalagi Jemma, dia suka memperhatikan kedua orang tuanya itu ketika bersama.


"Pap, Mamaku sudah cantik sejak dulu. Kalau dekat Papa, tambah cantik karena pipi Mama memerah. Bagus sekali kelihatannya," kata Jemma kepada Nihel namun arah matanya ke wajah Gail.


Jarrett menjadi memperhatikan apa yang Jemma suarakan barusan. Tatapan mata tajamnya baru menyadari itu, ada yang beda dengan sang mama.


Kesimpulan Jarrett, berarti proses pendekatan kedua orang tuanya semakin baik. Si genius jadi semakin bersemangat untuk mempercepat kedekatan suami dan istri yang terpisah enam tahun itu.


"Duo J mau ikut Mama ke kantor?" tanya Gail. Suaranya bergetar karena salah tingkah.


"Jarrett?" tanya Gail lagi.


"Aku di sana saja menunggu pulang. Mama tahu kantor Mama membosankan," canda Jarrett sembari menunjuk kursi di teras sebagai tempat tunggu.


"Ya, sudah," sahut Gail berbalik ke ruang kerjanya dengan cepat. Seolah menyelamatkan diri.


Sedangkan Nigel menahan tawa terhadap tingkah menggemaskan istrinya. Perlahan dia merasa jarak semakin terkikis tapi masih perlu waktu sampai benar-benar tak ada lagi.


"Ja, Papa dan Jemma akan ke Kakek," ucap Nigel memberitahu Jarrett bahwa mereka akan bubar jalan.


"Oke, Papa!" sambut Jarrett lalu tubuhnya berlari ke tempat yang ditunjuknya tadi. Kemudian sepasang tangan kecil itu sibuk dengan layar ponsel, Jarrett larut dengan dunianya.


Setelah melihat Jarrett dengan yakin, Nigel menggandeng tangan Jemma menuju ruang produksi. Tempat Landon berada, dan Ellie juga.


"Menantu Bunda sudah datang," sambut Ellie begitu Nigel melewati pintu.


"Tepat waktu kan, Bund?" kekeh Nigel.


"Jemma juga sudah datang, Nek," ucap Jemma tak mau kalah.


"Oh, ada Cucu Manis Nenek masuk ke sini. Biasanya lebih suka di teras," canda Ellie menanggapi tingkah Jemma.


"Yang di teras itu Jarrett, Nek. Aku menemani Papa ke sini biar langsung bertemu Nenek dan Kakek."


"Sayang sekali Jarrett ditinggalkan kakaknya."


"Aku memang sayang padanya. Jadi aku biarkan Jarrett sibuk sendiri dengan ponselnya di sana," tutur Jemma dengan gaya.


Di saat kedua perempuan beda generasi itu bertukar suara, Nigel mencari keberadaan Landon. Ayah mertuanya tidak tampak dalam ruangan itu.


"Ayah sebentar lagi kesini, Nigel," jelas Ellie yang membaca kebingungan menantunya.


"Baik, Bund. Apa semuanya lancar?" kata Nigel merujuk pada rencana yang mereka buat di malam kemarin.


"Soal makanan dan segala kelengkapan, Ayah jagoannya. Tak perlu cemas, Menantu Bunda."


Benar saja, tak berselang lama Landon menghampiri. Serta beberapa karyawan Dapur The Brown mulai beres-beres sebelum ruangan bisa ditinggal.


"Ayah, ada yang bisa aku bantu?" kata Nigel sekaligus menyapa Landon.


"Tidak ada, Nigel. Kita hanya perlu pulang lalu menikmatinya," ucap Landon yang paham arah bicara sang menantu.


Tidak ada lagi pembahasan, selang waktu beberes di akhir jam kerja di ruang produksi diisi oleh obrolan ringan dan berbalas canda. Termasuk Nigel, yang sisi tak mudah didekatinya sudah memudar dan bisa beradaptasi dengan mudah kembali.


Tiba saatnya pulang. Jemma bergandengan tangan dengan Ellie keluar dari ruang produksi. Sebab dua tangan Nigel menjinjing kantong seperti yang Landon juga lakukan.


Jarret berlari dari teras menuju sang papa dan kakek. Dia ingin barang bawaan pula dan ikut menjinjing pulang.


Gail melihat banyaknya bawaan itu dengan tanda tanya di kepalanya. Dilihat-lihat itu berisi kotak-kotak makanan.


Sebelum Gail menyuarakan rasa ingin tahunya, Nigel lebih dulu angkat suara. Ditambah dengan raut wajah yang kini sudah dia hafal apa itu, muka usil suaminya yang selalu membuat diri salah tingkah.


"Ayo kita pulang, Istriku yang semakin bertambah cantik."


Detik itu juga, Gail bisa membayangkan betapa tidak tenangnya perjalanan ke rumah The Brown. Dia pun melangkah ke dekat Ellie dan tak lagi bersuara.


|Bersambung.. Diw @diamonds.in.words - Januari22


Cie cie ciee.. Kayak anak remaja aje ye Gail hohohoo