
"Boleh aku pinjam ponselmu sebentar, Gee?" ucap Nigel ketika dia bisa mengambil kesempatan berbicara kepada sang istri.
Gail dan kedua wanita keluarga The Brown dan Irey baru saja selesai dari beberes peralatan makan malam tadi. Ruang lepas sudah kembali rapi.
"Maaf. Tadi bilang apa, Nig?" tanya Gail, tak cukup cepat menyadari bahwa Nigel bicara kepadanya.
"Aku ingin menyimpan nomerku di ponselmu, boleh ya Gee?" pinta Nigel harap-harap cemas.
Gail memandang Nigel bingung. Namun tak urung dia mengambilkan ponselnya yang terletak di samping tablet Jarrett.
Nigel bisa melihat dua gawai itu dengan jelas dari posisi duduknya melantai. Sebab letak kedua barang itu tidak tinggi, kira-kita hanya sebatas kepala Duo J.
"Nigel, ini," ujar Gail mengasihkan benda pipih pemberian anak kembarnya itu kepada Nigel.
Setelah yakin ponsel tersebut berada di tangan Nigel, Gail langsung pergi. Dia buru-buru menuju Avery yang sedang memanggilnya lewat isyarat untuk keluar rumah.
Meski ditinggal begitu saja oleh Gail, senyuman bahagia Nigel tetap terpampang di wajahnya. Jari-jari pria itu pun sibuk menekan-nekan layar ponsel pintar yang dipinjam tersebut.
Terbagi fokus Nigel dengan obrolan Miles dan Landon yang berada duduk di dekatnya.
Di lain sisi ruangan, Jemma mendekati Jarrett yang masih saja berdiam diri dan duduk dengan wajah muram. Ikut sedih melihat saudaranya tidak seceria biasa.
"Jarrett, berikan aku pelukan. Hari ini belum cukup," titah Jemma seolah dia mengusili sang adik. Dia tidak mau menunjukkan kasihan.
Seperti perkiraan Jemma, pelukan Jarrett akan langsung didapatkannya tanpa ada perdebatan receh yang khas terlebih dulu. Tanda saudaranya memang sedang tidak baik-baik saja.
Duo J pun saling memeluk dalam waktu lama. Niat hati Jemma ingin menemani Jarrett malah dia tertidur dalam nyamannya pelukan saudara kembarnya.
Tiba saatnya Nigel beserta Miles dan Avery pamit, Jemma sudah lelap. Tidur pulasnya membuat yang melihat tak tega untuk membangunkan.
“Ja, biar Papa gendong Jemma untuk pindah tidur ke kamar ya?” ucap Nigel kepada Jarrett yang masih memeluk saudariya.
Tanpa suara, Jarrett menggerakkan tubuhnya menyetujui perkataan sang papa. Kadar kasih sayang Nigel kepada sang buah hati itu membuatnya tidak berpikir dua kali berbuat.
Jarrett hati-hati mengurai pelukannya kepada Jemma untuk beralih ke tangan Nigel. Sigap si papa mengangkat tubuh saudarinya itu.
Cepat pula Jarrett memandu Nigel untuk masuk ke kamar tidur dan menunjukkan di sebelah mana Jemma dibaringkan. Pertama kalinya Nigel masuk ke ruangan yang cuma bisa dilihatnya dari jauh.
"Kita keluar, Ja?" tanya Nigel memastikan.
Nigel berharap ada yang dibicarakan putranya itu. Karena saat ini hanya berdua, tanpa dihitung Jemma yang sudah tidur itu.
"Ayo, Pa," kata Jarrett.
"Baiklah," pasrah Nigel.
Sebuah kecupan di kening Jemma menjadi pamit Nigel kepada putrinya. Lalu mengikuti Jarrett yang sudah berjalan keluar ke pintu kamar.
Seketika penglihatan Nigel menangkap bayangan kotak berwarna coklat dan masih berpita utuh di atas lemari rak kecil di dekat jendela.
Nigel memandang kasihan ke arah kotak itu, seolah mengasihani dirinya sendiri.
"Nigel, Miles dan Avery sudah menunggu di mobil," kata Gail memberitahu dari arah pintu kamar.
"Iya, Gee. Aku sudah selesai memindahkan Jemma yang tertidur," ucap Nigel lalu meneruskan langkahnya mendekat ke Gail.
"Terima kasih," ujar Gail tulus merespon apa yang sudah suaminya lakukan.
"Aku senang melakukannya. Bahkan jika bisa setiap hari, Gee," tutur Nigel penuh perasaan disertai tatapannya yang dalam pada Gail.
Tidak ada kata-kata yang bisa Gail keluarkan dari bibirnya untuk merespon apa yang Nigel katakan. Otaknya seolah melamban karena degupan jantungnya terpacu efek pesona sang suami.
"Gee, ini ponselmu yang aku pinjam tadi," kata Nigel lagi setelah merogoh gawai itu dari saku celananya.
"Iy-ya, ya," ucap Gail gugup menerima ponselnya.
Gail tidak tahu harus bagaimana menyikapi Nigel. Kali kesekian suaminya mengungkapkan perasaan.
Hening memeluk keduanya sekian detik. Lalu terusik dengan getar ponsel yang Nigel kantongi.
Ada info Miles sebagai penelpon. Mau tak mau Nigel mengangkat panggilan dari Miles.
Bertukar beberapa kata, kemudian telepon selesai. Nigel diingatkan Miles untuk segera berangkat dari rumah The Brown, tempat mereka sedang berada sekarang.
"Yang menelepon barusan adalah Miles. Mesti segera pergi ke dermaga. Aku pamit ya, Gee," jelas Nigel tanpa Gail minta. Nada lembutnya khas untuk bicara dengan sang istri.
Gail tersenyum mengiyakan. Dia berjalan bersisian dengan Nigel, mengantar sampai mobil di halaman rumah.
"Nigel, kursi rodanya?" ujar Gail tersadar dengan Nigel yang tidak menggunakan alat bantu tersebut.
"Sudah di bagasi mobil. Dua kakiku sudah mendekati normal, Gee. Sebentar lagi benar-benar sembuh."
"Syukurlah."
"Berkatmu juga," ucap Nigel yang kembali menghadirkan hening di antara keduanya.
Pintu mobil yang sudah terbuka menyambut kedatangan Gail dan Nigel yang mendekat.
"Gee, bisakah aku mendapat pelukanmu lagi sebelum pergi?" ucap Nigel sangat berharap. Raut wajahnya minta dikasihi terpampang.
"Maaf, Nig," jawab Gail dengan rasa bersalahnya.
"Ya sudah. Tidak apa-apa, Gee. Aku pergi dulu," ucap Nigel tetap dengan khasnya meski kecewa.
"Iya. Jaga diri selalu, Nig."
Setelah itu Nigel beranjak ke dekat The Browns untuk berpamitan. Mertuanya itu sedang mengobrol ringan dengan pasangan Miles dan Avery sembari menunggu kehadirannya.
Selesai, lambaian tangan pun menjadi akhir pertemuan. Mobil yang giliran Miles mengendarai itu pun menjauh dari halaman rumah The Brown.
"Gail," panggil Landon yang masih sama-sama berdiri memandangi jalan, "Ada masalah, Nak?"
"Hentahlah, Yah. Membingungkan. Nanti jika sudah tidak, aku akan bercerita," terang Gail sambil memaksakan senyum.
"Ada Ayah yang bisa membantu. Anak Ayah, jangan pusing sendiri. Mengerti?" tutur lembut Landon dengan sisi kebapakannya yang keras.
"Gail paham Ayah. Sejauh ini masih baik-baik saja."
"Baiklah. Kita susul Bunda masuk ke rumah. Udara malam sudah semakin dingin, Nak," ajak Landon.
Gail mengikuti langkah Landon. Sesampainya di pintu, ponsel yang dari tadi berada dalam genggaman Gail berbunyi.
Sebuah nada untuk tanda ada pesan teks masuk. Pertama kalinya Gail mendapatkan itu.
Dari nomor yang diberi nama kontak: Kekasih. Dahi Gail berkerut, mengingat-ingat siapa orang yang dinamai dengan hal itu.
Meski otak Gaik tidak cepat menemukan jawaban, jarinya cepat membuka pesan itu.
- Gee, jangan lupa besok buka kotak yang sudah aku titipkan untukmu. Berwarna coklat dengan ikatan pita putih. Tadi aku melihatnya saat masuk ke kamar tidur. Kotak itu berada di atas lemari rak, dekat jendela. Selamat beristirahat. Aku mencintaimu, Istriku -
|Bersambung..
-Author: Diw @ diamonds.in.words | Rd2021
Makasih ya sudah baca sampai sini dan kasih dukungannya untuk keberlangsungan Duo J: Genius
:)
Saatnya beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, lagi :D