
"Tunggu, Jarrett," seru Jemma lantang. Dia kesal selalu tertinggal jika sudah berlarian begini dengan si genius dalam olahraga.
"Ayo lebih cepat, Jemma," seru Jarrett tak kalah lantang.
Duo J berada di ruang besar di lantai bawah. Keduanya memilih ke sana setelah selesai sarapan bersama The Brown dan Nigel, untuk pertama kalinya di rumah The Twins.
"Jemma oh Jemma, aku tak mau menunggu kelambananmu," ledek Jarrett yang sudah duduk santai di kursi gantung. Tempat favorit barunya.
"Menyebalkan sekali," gerutu Jemma. Dia menatap sengit ke saudaranya itu.
Langkah Jemma tidak berhenti di dekat Jarrett. Dia memelet lidah saja saat lewat di depan adik kembarnya itu.
Sesampainya di Dinding Khusus, Jemma menekan satu tombol untuk membuka lebar pintu ruangan yang menjadi hadiah dari Nigel. Ruang musik untuknya.
"Genius, mainkan pianomu. Jangan lama-lama buat aku menunggui musik hebatmu disini," ujar Jarrett bersorak lalu tertawa tanpa rasa bersalah membuat si saudari kesal sebelumnya.
Jemma menoleh ke Jarrett. Niat hati ingin menggelitik saudaranya itu terlebih dulu sebelum pergi ke arah piano.
Tapi setelah berpikir dua detik, Jemma sadar diri tak bisa dengan mudah menjangkau tubuh Jarrett yang duduk di kursi gantung. Itu cukup tinggi baginya.
Jika sudah menyangkut kemampuan mengolah kekuatan fisik, Jemma tidak ragu untuk menyerah. Dia dan Jarrett tidak bisa disandingkan jadi lawan tanding.
"Iya, Fans-ku. Rekam idolamu ini dari sana. Aku akan menagih videonya. Awas jika tidak bagus," balas Jemma begitu saja dengan menampilkan wajah garangnya.
"Iya, Idola-ku. Sana, sana," ujar Jarrett dengan gaya mengusir dan di sebelah tangannya sudah ada ponsel siap merekam video. Lanjut berkata, "Aku akan beritahu jika Papa memanggil kita."
Batal sudah niat Jemma mengusili Jarret. Dia mempercepat langkah, lurus saja ke bangku piano.
Jemma beserta otak geniusnya dan kelenturan jemarinya pun bermain dengan deretan tuts. Musik mengalun dalam tempo cepat, nada riang terasa.
Duo J larut dengan aktiftas berdua di ruang bawah. Sedangkan di ruang atas, Nigel sedang memandangi wajah damai Gail yang masih dalam masa tidur.
Tidak puas-puas rasanya Nigel memaku matanya kepada Gail. Tatapan penuh perasaan. Rindu yang tak pernah habis. Cinta yang terus membesar.
Tubuh ideal Nigel nan gagah itu diaturnya sedemikian rupa. Seakan dia dalam garis yang sama dan berhadapan dengan badan Gail yang tidur menyamping ke kanan.
Nigel tidak merebahkan badannya di kasur. Kemungkinan Gail terganggu jika dia melakukan itu.
Caranya adalah kursi kerja Nigel yang berkualitas tinggi dan multifungsi dibawa pindah ke samping ranjang besar yang ditempati Gail. Isi rumah The Twins tidak sesederhana kelihatannya.
Nigel mengatur mode benda tersebut ke fungsi rebah. Papa Duo J itu sangat leluasa merekam dalam memorinya, wajah Gail yang ada di depan mata langsung.
Meski semalam Nigel bisa dikatakan tidak tidur, si suami itu masih saja tidak mau memejamkan mata. Dia seolah membalas waktu enam tahun tidak melihat istrinya.
Sepanjang malam Nigel menatap Gail. Walau yang tampak dari posisi tidurnya hanyalah sedikit bagian wajah sang istri karena arah badan.
Sempat Nigel jatuh tertidur selama dua jam. Tapi dia segera sadar dan tidak membiarkan matanya terpejam lama lagi.
Gail ada di dunia nyata. Tidak di alam mimpi. Begitu Nigel menghadapi waktu pertama kalinya sekamar lagi dengan sang belahan jiwa.
Jika saja sedang berada di mansion utama keluarga Irey, Nigel tidak akan beranjak dari kasur sampai bangun bersama Gail. Sebab sarapan disiapkan para pelayan.
"Nigel?" ucap Gail dalam suara serak khas orang bangun tidur. Nada bertanya seakan memastikan apa yang langsung dilihatnya saat membuka mata.
"Selamat pagi, Gee," ucap Nigel cepat. Disertai senyuman menawannya dan cara bicaranya yang lembut.
Gail segera mendudukkan tubuhnya untuk bersandar ke kepala ranjang. Dia masih mengumpulkan kesadaran bangun tidur.
Dalam gerakan cepat, Nigel mengubah mode kursi yang ditempatinya. Sama-sama ke posisi duduk seperti Gail.
"Tidak, Gee. Tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidur di kasur yang sama denganmu, Istriku," jelas Nigel dibumbui dengan menggoda sang istri.
Mana ada Gail menyusahkannya, Nigel mengasihani diri sendiri. Bahkan jika bisa, dia mau istrinya itu merepotkan dengan segala macam drama.
Namun, baik Gail maupun Genaya bukanlah tipe seperti itu. Kata mandiri bisa dijadikan nama tengah untuk istri Nigel itu, sampai-sampai menular kepada anak yang dilahirkannya.
"Duo J dimana?" ucap Gail singkat untuk mengubah topik. Kondisi jantungnya tidak santai karena Nigel mengumbar pesona.
"Di ruangan bawah, Gee. Sehabis sarapan Jemma minta ditemani Jarrett ke ruang musik," tutur Nigel dengan tersenyum.
Rona merah di pipi Gail tertangkap oleh mata Nigel. Wajah bantal wanitanya itu terlihat semakin mempesona.
"Nigel, apa ada hal mendesak yang akan kamu katakan? Aku sepertinya perlu ke kamar mandi sekarang."
"Kamu ke kamar mandi saja dulu. Aku tetap berada di sini, Gee."
Tanpa buang waktu, Gail segera turun dari ranjang besar itu. Lalu dia setengah berlari ke tempat yang disebutkan tadi.
Nigel mengulum senyum. Tingkah Gail pagi ini lebih menggemaskan daripada pagi-pagi sebelumnya.
Untuk setiap pagi hari di masa depan, Nigel melabeli diri sendiri sebagai penunggu Gail. Momen menunggui istrinya bangun tidur itu menjadi hal paling favorit.
"Gee?" tanya Nigel saat melihat kepala Gail melongok dari sela pintu kamar mandi.
"Nigel, maaf merepotkanmu. Aku ingin minta tolong. Aku benar-benar baru saja ingat ada yang terlupa," ucap Gail sungkan.
"Apa, Gee?" kata Nigel dengan senang.
"Pembalut. Lagi."
Nigel tidak langsung bereaksi. Dia perlu keterangan lebih lanjut dari Gail.
"Sekantong yang kamu bawakan kemarin aku taruh di dalam laci meja itu. Aku lupa memindahkannya ke sini untuk bisa langsung digunakan. Sekarang terlanjur, aku sudah-"
Gail menggantung kalimatnya. Rasa malu menahan kata-kata selanjutnya keluar.
"Sebentar, aku ambilkan," tanggap Nigel terhadap wajah Gail yang memerah.
Gerak cepat Nigel menyerahkan satu kantong yang berisi pembalut. Tangan sebelah kanan Gail meraih uluran sang suami.
Sela pintu kamar mandi yang dibuka secukup kepala melongok atau sebelah tangan keluar oleh Gail itu membuat jantung Nigel berdegup tak karuan.
Terbiasa melihat Gail berpakaian dengan model baju lengan panjang sejak bertemu lagi, Nigel tidak terpikir akan ada pemandangan seperti yang dilihatnya sebentar tadi.
Lengan tanpa ditutupi kain milik Gail membangkitkan sesuatu dalam diri Nigel. Dia tidak menyangka hari ini akan menjadi awal untuk ujiannya yang baru.
Padahal tidak ada yang dilakukan Gail, hanya kulit lengannya saja yang tampak dan itu cuma sebelah karena tidak sengaja pula. Tapi hasrat Nigel terpancing.
Teringat saat itu, malam dan pagi pertama setelah berganti status sebagai seorang suami, Nigel memaksimalkan waktu untuk menyatukan diri dengan Gail.
Jika dulu keabsahan perubahan status yang jelas memberi Nigel batasan untuk boleh melakukannya pada sang istri. Perihal kini, entah kapan batas waktu itu untuk ditunggu.
|Diw @diamonds.in\,words - Feb22
Selamat N, selamat menunggu, huhuuhuu