
Tidak tahu dengan jelas apa yang ada dalam kepala Gail saat berpamitan tadi, meski sikapnya sama dengan Genaya yang dia kenal. Nigel pulang dari rumah The Brown tapi pikirannya masih disana.
Yang Nigel tahu sekarang adalah dirinya sungguh-sungguh untuk menetap di pulau Delan sampai waktu yang dia sendiri tidak tahu kapan. Urusan lainnya menyusul, termasuk rumah yang akan dihuninya.
Beruntung pada saat rapat dadakan tadi, rumah yang menjadi incaran Nigel bisa dinegosiasikan dengan pemiliknya. Berbagai kompensasi menarik dari Miles mempercepat kunci rumah itu berpindah.
Nigel membayar mahal yang berkali-kali lipat dari harga pasaran untuk sebuah rumah beserta tanah di pulau Delan. Hanya karena letak yang strategis baginya. Hanya itu saja, satu alasan itu.
Nigel masih duduk di kursi rodanya sedangkan Miles terus berbicara lewat ponselnya. Dadakan seperti ini memang menjadikan Miles semakin sibuk di antara mereka berdua.
Tidak bosan-bosan Nigel melihat ke luar jendela kaca. Posisi dia sekarang pas berseberangan dengan rumah The Brown. Rumah yang ditempatinya memang yang berhadapan berbatas jalan.
Seolah Nigel mengobati rindu dengan cara melihat bingkai kamar tidur yang Gail tempati. Gila, emang padahal malam sudah larut. Dia juga sudah tahu dari Landon kapan waktu tidur Gail.
Saking gilanya, Nigel tidak ingin tidur di malam pertama tinggal di Delan ini agar bisa langsung melihat Gail pada pagi harinya. Si suami yang tergila-gila pada pesona sang istri.
Ingin melihat Gee terus menerus tapi tidak bisa adalah level lain dari tersiksanya rindu seorang Nigel Irey. Walaupun sangat menyiksa, dia menerima dengan senang hati.
Jika disuruh memilih pun, Nigel lebih memilih tersiksa yang seperti sekarang daripada yang sebelumnya. Karena kini Gee tidak hanya ada di hatinya tapi ada di depan matanya juga.
“El,” panggil Miles berulang kali supaya si kakak menoleh padanya dan benar-benar mendengarkan apa yang akan dia sampaikan.
“Bilang saja. Aku mendengarkanmu, Es,” ucap Nigel dibarengi senyum yang sejak dari klinik tadi tidak luntur. Kedua bola matanya tetap ke arah jendela rumah The Brown.
“Baiklah, yang kasmaran,” ejek Miles sebelum berkata dengan nada seriusnya, “Untuk rapat besok tidak bisa diwakilkan. Kita harus kembali ke Hicity esok pagi.”
“Ya, kamu bisa pergi, Es.”
“Aku? Hanya aku? El, jangan mengada-ada. Jika aku pergi, itu artinya kita berdua.”
“Es, aku tidak akan pergi. Aku tidak ingin lagi terpisah dengan Gee. Aku tidak akan kemana-mana.”
“Wah, kakakku benar-benar sudah kembali. Dia sudah bisa mendebatku lagi sekarang,” ujar Miles senang namun cemas.
“Tenang saja. Aku akan baik-baik saja jika kamu pergi, Es. Daripada mengkhawatirkanku, lebih baik lanjut memikirkan bagaimana cara rumah ini beralih nama dan bisa direnovasi lebih cepat.”
“Kamu benar-benar akan tinggal lebih lama di Delan, El?”
“Selama istri dan anak-anakku mau.”
“Tapi disini jauh berbeda dari kehidupan di Hicity. Ini pulau kecil, El.”
“Tapi disinilah ada Gee dan Duo J.”
“Tapi-“
“Es, sudah saatnya aku mengembalikanmu pada Avery dan Evelyn. Enam tahun ini pasti jadi tahun-tahun yang berat untuk mereka dan kamu.”
“Lalu bagaimana dengan kakimu? Masih ada beberapa kali terapi di rumah sakit.”
“Es, jangan bodoh. Aku pasien prioritas Univ Iking Hospital dan kamu atasan dari banyak atasan di Iking Care Line.”
“Astaga, El. Kamu benar-benar sudah kembali. Nigel Irey yang menjengkelkan tapi aku menyayangimu.”
“Aku serius, Es.“
“Baiklah, terima kasih sudah kembali ke dirimu yang aku kenal. Aku akan mengatur waktu dengan Ayah dan Avery untuk membahas ini lebih lanjut.”
“Aku sangat berterima kasih padamu, Es.”
“Aku tahu. Aku akan membawa mereka ke sini. Ke rumah kecilmu ini.”
“Jangan beritahu sekecil apa. Biarkan mereka terkejut sendiri.”
“Aku tergila-gila.”
“Oh, astaga.”
Jeda beberapa menit, kedua pria itu sibuk sendiri dengan pikiran masing-masing. Nigel masih melihat ke luar jendela dan Miles melihat Nigel.
“El,” panggil Miles kembali dengan nada seriusnya dan berkata, “Apa kamu benar-benar tinggal di sini? Bagaimana jika kamu bolak-balik saja? Genaya juga tidak akan pergi kemana-mana, El.”
“Oh, astaga. Es?”
“Maaf. Aku tidak bisa membayangkan keterbatasanmu disini.”
“Kamu tidak lupa, kan. Selama setahun aku pernah hidup di luar kemewahan keluarga Irey. Aku bisa bertahan dan kali ini juga bisa. Nyawaku ada di rumah seberang itu, Es.”
“Ya, sudah lah.”
“Kamu hanya perlu mendapatkan rumah dan tanah ini seutuhnya untukku dan lihatlah nanti apa yang aku perbuat. Kamu tidak akan menyangka, Es.”
***
Mata Gail membola mendapati Nigel tersenyum padanya dan duduk di ruang makan rumah The Brown. Tubuhnya bergetar karena tidak siap dengan keadaan seperti ini.
Keterkejutan setelah bangun tidur. Orang asing, dan tiba-tiba. Ditambah, dia bertemu Nigel di ruang makan bukan ruang tamu. Tempat yang maknanya lebih intim.
“Selamat pagi, Gee. Landon mengajakku sarapan di sini,” ucap Nigel menjelaskan karena dia melihat ada pertanyaan dari raut wajah sang istri.
“Iya, silahkan. Selamat pagi,” kata Gail gugup dan buru-buru menuju kamar mandi.
Nigel mengulum bibirnya, tersenyum saja dan jangan kelepasan tertawa. Gail yang menggemaskan berhasil menambah cerah suasana hatinya.
“Pap, apa kegiatan papa setelah ini? Paman Miel berpesan untuk aku selalu memberitahukannya,” kata Jemma sembari menggeser kursi yang akan ditempatinya ke samping Nigel. Dia baru kembali dari halaman.
“Papa belum tahu. Apa Je punya saran?” ucap Nigel lembut dan tangan kanannya mengarahkan satu potongan roti bakar ke mulut Jemma.
“Aku akan bersama Papa kemana saja,” kata Jemma sambil mengunyah.
“Bagaimana dengan Ja?”
“Jarrett sedang bersama kakek memperbaiki blender,” ucap Jemma kemudian, “Aku mau sepotong lagi, Pap.”
Nigel tergelak karena ekspresi lucu Jemma dan tak urung dia mengabulkan permintaan sang putri. Obrolan ringan dan ngalor ngidul ala ayah dan anak pun terjadi.
Gail memandangi interaksi dua orang itu dari pintu kamar mandi yang dari tadi dia buka. Saat selesai dengan urusan bersih-bersih dan akan kembali ke kamar, Jemma baru tiba di dekat sang papa.
Ada bagian dari hati Gail menghangat dan memunculkan rasa senang dengan kasih sayang yang tampak antara keduanya. Dia baru melihat wajah bahagia Jemma yang sebahagia saat ini.
Ingatan Gail memutar kejadian lampau, ketika Jemma berumur tiga tahun dan merengek ingin ada papa di sampingnya. Sekarang sang putri yang berumur lima tahun tampak berbeda.
Jemma tersenyum lebar, meloncat girang, dan katanya akan bersama papa kemana saja. Begitu cepat orang asing itu masuk dan diterima.
Berbeda dengan Gail, meski semua hal yang dapat membuktikan Nigel adalah suaminya sudah ditunjukkan dengan jelas. Dirinya ketakutan. Tahu Nigel berasal dari keluarga Irey pula, dia sulit menerima.
Maka demi kedamaian bersama, Gail hanya menuruti sopan santun untuk kehadiran Nigel yang diterima semua orang disini. Hanya seperti itu saja, katanya dalam hati.
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021
**Silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Juga, bagikan. Makasih ya :))