
Nigel berada di taman samping villa Addison. Dia sedang berusaha keras mengayuh roda untuk lintasan yang menanjak. Cara manual dengan tangan untuk menggerakkan kursi roda.
Akibat lupa memeriksa daya baterai kursi rodanya, Nigel kesusahan. Lengannya yang harus bekerja keras memutar roda agar dia bisa melewati rintangan jalan taman yang bergelombang.
Sebentar lagi waktunya Gail tiba di ruang musik villa, mana mau Nigel melewatkan kesempatan bertemu dengan sang istri. Apalagi rasanya ada peningkatan dalam hubungan mereka.
“Nigel,” panggil sebuah suara dari seseorang yang dari tadi ada dalam pikiran Nigel. Gail lanjut berkata, “Aku bantu dorong ya. Kamu mau kemana?”
“Gee,” gumam Nigel dan tubuhnya membeku sejenak. Pria itu menenangkan debaran jantungnya. Degup yang keras terasa olehnya.
“Nigel? Apa aku mengganggu?” tanya Gail dengan nada tidak enak hati terhadap tindakan dadakannya. Tadi dia spontan saja membelokkan langkah ke posisi Nigel berada sekarang.
“Tidak. Tidak, Gee. Aku hanya terkejut barusan,” tanggap Nigel cepat.
“Maaf, aku tiba-tiba datang dan membuatmu kaget.”
“Bukan salahmu, Gee. Bukan salahmu, aku lah yang sibuk sendiri.”
Setelah kalimat itu, keduanya terdiam. Suasana canggung terasa. Gail yang bingung mesti bersikap apa selanjutnya dan Nigel yang salah tingkah karena apa yang terjadi sekarang.
Nigel tahu apa maknanya jika Gail mampu lama berbicara dan berada dalam jarak dekat dengannya disaat mereka hanya berdua. Momen yang paling ditunggu-tunggu sudah datang.
Setelah enam tahun, ini pertama kalinya Nigel pergi keluar sendiri. Malah jadi berkah untuknya karena jadi bertemu berdua dengan Gail. Rasanya seperti mereka bertemu dulu.
“Gee,” panggil Nigel yang sudah bisa mengendalikan diri. Dia menyadari Gail melamun dengan memandang ke arahnya.
“Ya?” sahut Gail refleks. Suara Nigel menariknya dari lamunan. Kemudian dia berkata, “Maaf aku tidak mendengarkanmu. Ada apa Nigel?”
Raut wajah Nigel tampak cerah dan bahagia ditambah senyum manis khasnya yang Gail selalu dapatkan. Mata sang istri menajam, rasanya beberapa saat tadi pria itu seperti orang kesusahan.
“Apa kamu akan ke villa? Aku bisa bantu mendorong kursi rodamu,” ujar Gail lagi. Dia mulai tidak nyaman karena membalas tatapan Nigel dan itu mengusik perasaannya.
“Iya, aku memang ingin balik ke sana. Apa kamu tidak apa-apa membantuku, Gee? Maksudku, apa kamu akan baik-baik saja?” kata Nigel lembut. Dia perlu memastikan.
Gail tersenyum sebagai jawaban bahwa dia tidak masalah untuk membantu Nigel. Dia bukan orang yang pemaksa jika tidak mau mendapat bantuannya.
“Baiklah. Terima kasih banyak, Gee.”
“Aku hanya membantu. Aku pun berterima kasih banyak padamu.”
Semakin membuncah perasaan senang Nigel. Dengar dan lihat langsung bagaimana Gail mengucapkan kata demi kata padanya serta pakai ditambah dengan senyum yang dirindukannya.
“Aku bahagia sekali, Gee.”
“Syukurlah,” ucap Gail kemudian dia berpindah ke belakang kursi roda Nigel. Dia menggenggam tangkai untuk mendorong alat bantu itu.
“Gee, tunggu,” sela Nigel saat roda mulai bergerak. Dia menoleh pada Gail yang dia punggungi.”
“Ada apa?”
“Bagaimana jika aku berjalan dengan kedua kaki dan kamu mendorong kursi roda saja. Aku sudah bisa sedikit,” pinta Nigel. Mana mau dia membuat Gail kesusahan karena beban tubuhnya.
“Yakin?” tanya Gail ragu.
“Sangat yakin,” ucap Nigel mantap.
“Ya sudah.”
Sebenarnya tadi bisa saja Nigel pilih berjalan seperti sekarang daripada kesusahan mengayuh roda. Tapi dia batalkan karena banyak pertimbangan.
Lagipula kursi rodanya Nigel hanya satu di pulau Delan dan dia tidak ingin menambah kesusahan selanjutnya. Ternyata pilihannya tidak salah. Dirinya sangat bersuka cita.
Nigel pikir setelah Gail menyetujui ide barusan, sang istri akan berjalan mendorong kursi roda kosongnya dalam kecepatan yang normal dan dia berjalan sendiri tertinggal. Dia salah.
Gail menyamakan langkah dengan lambannya Nigel berjalan. Kepekaannya bisa merasakan betapa berjuang sang suami terhadap kedua kaki itu.
“Nigel, jadikan saja pundakku sebagai tumpuan,” usul Gail. Dia mengatakannya dengan tulus dan mengikuti saja kata hati.
Sontak ucapan Gail itu membuat langkah Nigel terhenti. Percaya tak percaya dengan yang didengar barusan. Satu lagi kemajuan untuk hubungan mereka berdua.
“Tidak apa-apa, Gee?” kata Nigel sambil menguasai diri agar tidak meledak kegirangan. Sebab rasa senangnya tidak boleh jadi masalah untuk Gail nanti.
“Kita coba saja, Nigel. Aku ingin membantumu.”
“Oke. Katakan padaku jika kamu mulai tidak nyaman ya, Gee.”
Sepasang manusia dewasa itu pun berjalan berdampingan dari jalanan taman sampai ke villa, lebih tepatnya ruang musik. Tujuan mereka adalah tempat yang pasti ada Jemma di sana.
Tapi sebelum Gail dan Nigel sampai di sana, ada Jarrett yang menyaksikan kedekatan kedua orang tuanya dari jendela perpustakaan. Yang letaknya di lantai dua bangunan villa.
Tanpa pikir-pikir lagi, anak genius berusia lima tahun itu menyambar ponselnya dan mengaktifkan kamera perekam. Dia mau mengambil gambar dari momen istimewa itu diam-diam.
Jarrett ingin menjaga kenaturalan isi video. Ini juga berguna untuk aplikasi yang sedang dia selesaikan. Demi mama dan papa serta kesempurnaan keluarga impian versi Jemma.
“Nigel, apa kamu masih kuat berjalan kaki? Kita sudah di villa.” ucap Gail cemas ketika melihat keringat Nigel yang semakin banyak.
“Aku masih bisa, Gee,” kata Nigel meyakinkan Gail. Tidak lupa dengan nada lembut, hangat, dan senyuman manis khas untuk sang istri seorang.
“Sudah, Nigel. Kembali duduk di kursi roda,” titah Gail. Rasa khawatirnya tidak bisa dibendung lagi.
“Gee?” ujar Nigel bingung. Istrinya berubah, tidak bersikap lembut seperti sepanjang jalan tadi.
“Duduk,” perintah Gail dengan nada tegas. Dia tidak peduli bagaimana penilaian Nigel terhadap perlakuan yang menurutnya tidak santun ini. Sudah cukup kedua kaki itu dipaksakan.
Nigel masih belum bergerak menuruti Gail. Otaknya masih memproses yang sedang terjadi, kondisi yang berubah jauh dalam sekejap.
“Nigel,” panggil Gail. Sekali lagi dengan nada yang lebih tegas dan mengintimidasi.
Situasi itu masuk dalam bidikan ponsel Jarrett dan membuat si genius harus segera turun tangan. Buru-buru dimatikannya kamera video dan berlari mendekati kedua orang tuanya.
Sebab Jarret seperti melihat sang mama memperlakukannya jika tidak mau makan sayur. Perintah Gail harus dituruti dan itu sangat tidak menyenangkan. Dia tidak ingin papa merasakannya.
“Mama,” teriak ceria Jarrett untuk mengalihkan perhatian Gail dari Nigel.
Jarrett bertingkah sambil berlari untuk mengulur-ulur waktu. Dalam hatinya berdoa agar sang papa paham apa yang harus dilakukannya terhadap mama. Tidak mungkin hanya dirinya yang genius.
“Sepertinya sedang senang sekali,” sambut Gail pada Jarrett yang sudah berada di dekatnya. Dia lalu menuruti gerak tubuh Jarrett yang minta digendong.
Nigel tersenyum senang menikmati interaksi ibu dan anak. Sisi lembut Gail kembali, tidak seperti barusan. Tapi ada sesuatu dengan Jarrett, seperti memberi kode tentang sesuatu padanya.
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021