DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Arah



Perhatian keponakan manis itu lebih tertuju ke arah Nigel yang sedang melambaikan tangan.


"Paman, terima kasih. Aku ke Papa dulu," kata Jemma ketika sampai di pijakan terakhir tangga.


Sang papa sedang menggunakan kursi roda dan Jemma tak akan melewatkan kesempatan untuk dipangku Nigel. Dia tak akan bisa menikmati momen berdua seperti itu jika kaki Nigel sudah dinyatakan benar-benar sembuh dan boleh berjalan normal.


Sesampainya di dekat Nigel, Jemma berdiri saja menatap orang tuanya itu. Dia mempraktekkan apa yang tadi dicobanya kepada Miles.


"Ada apa, Je? Kenapa diam begitu, Putrinya Papa?" tanya Nigel sambil meraih tubuh Jemma untuk dia angkat ke pangkuannya.


"Wah, Papa juga bisa membaca pikiran," sorak Jemma.


Miles yang sudah berada di jarak dekat pasangan ayah dan anak, menahan tawanya. Dia ingin tahu bagaimana Nigel merespon kalimat Jemma.


"Juga? Siapa orang yang bisa selain Papa, Je?"


"Paman, Pap. Bahkan Paman hanya diam saja. Tidak ada tanya-tanya. Tapi langsung tahu apa yang aku bilang di kepala," jelas Jemma penuh antusias.


Nigel menoleh ke Miles dan ada hawa kecemburuan dari tatapannya. Cemburu Nigel yang menggemaskan tampak bagi Miles.


"Aku bisa membayangkan, level posesifmu makin bertambah seiring Jemma bertambah besar, El," lontar Miles meledek.


Nigel tidak membahas tapi kalimat Miles masuk jadi buah pikirannya. Bertanggung jawab untuk kehidupan Jemma dan Jarrett bagai kejutan.


Seluruh diri Nigel yang jatuh hanya kepada sang istri, siap tak siap menerima dua orang anak yang sudah hadir di antara mereka.


Mendapatkan sekaligus kehilangan, itu yang terjadi kepada Nigel dengan keberadaan Duo J. Jawaban dari rasa putus asanya menginginkan kembali Gee.


Nigel mendapatkan dua tambahan kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Entah apa istilahnya, campur tangan Duo J memang berpengaruh besar untuk dia sembuh.


Sedangkan untuk kehilangan, adalah waktu enam tahun yang lewat begitu saja sehingga Nigel tidak mendapatkan momen-momen tumbuh kembang si kembar. Rasanya tiba-tiba, dua anaknya sudah berumur lima.


"Aku sudah siap," seru Jarrett berlari lincah menuruni tangga.


"Pap, lihat. Jarrett akan dimarahi Mama kalau tahu melakukan itu," kata Jemma mengadu. Dia tak suka apa yang sedang saudara kembarnya lakukan.


"Kenapa Mama marah, Je?" ucap Nigel penasaran sedangkan satu tangannya yang lain mengusap lembut kepala Jemma. Menenangkan emosi putrinya.


"Kenapa Papa tidak marah?" tanya Jemma menjawab pertanyaan Nigel.


Pria berusia tiga puluhan itu hanya diam dan menatap lembut Jemma. Seakan berkata tidak akan memberi jawaban sebelum putrinya lebih dulu.


"Aku tidak bisa membaca pikiran, Pap," keluh Jemma lalu dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Nigel.


Respon Jemma itu dibalas pelukan sayang oleh Nigel. Dia tak yakin tahu dengan apa yang sedang putrinya rasakan sekarang.


Jika saja sudah hidup bersama lebih lama, Nigel bisa menjawab pertanyaan sederhana-tapi-tidak-sederhana dengan jawaban yang bijak.


Atau jika saja Gee aka Genaya aka Gail sedang bersamanya, Nigel bisa meminta bocoran jawaban yang dimiliki ibu dari anak-anaknya itu. Membantu untuk tahu apa yang terlewatkan selama bertahun-tahun tentang mereka.


"Iya, Sayang. Bawa mobilnya langsung ke pintu depan saja."


Seuntai kalimat on the point itu Miles gunakan untuk menjawab telepon lalu sambungan putus. Nigel langsung paham, waktunya berkumpul ke rumah The Brown.


***


“Pap, kenapa kita pakai mobil- tidak berjalan saja seperti kemarin-kemarin? tanya Jemma kepada Nigel.


“Untuk mempermudah Paman dan Bibi ke dermaga nanti, Je,” jawab Nigel tapi melirik ke arah Jarrett. Putranya masih saja fokus dengan layar gawai di genggaman tangannya.


“Bibi, apa mobil ini nanti ikut pergi ke Hicity?” tanya Jemma lagi. Arah bicaranya kepada Avery.


“Tidak, Keponakan Manisku. Mobil ini tetap di Delan,” terang Avery.


“Kenapa tidak dibawa saja, Bibi?” ujar Jemma, terus bertanya.


“Karena kata Paman yang Menawan Jemma, mobil ini akan menemani Papamu di sini. Jadi hanya Bibi dan Paman yang kembali ke Hicity,” ujar Avery terkekeh.


“Apa Jemma tidak mau mobilnya?” ucap Miles nimbrung.


“Aku hanya penasaran, Paman,” tutur Jemma ringan.


“Paman jadi penasaran juga, kapan Jemma ke Hicity lagi? Apa tidak rindu dengan Grandpa?” ungkap Miles.


“Aku rindu Grandpa. Tapi aku ingin ke Hicity nanti bersama Papa dan Mama. Rasanya pasti lebih menyenangkan,” ucap Jemma riang.


“Aku ditinggal begitu saja, Jemma? Baik sekali kamu,” kata Jarrett dengan nada sewotnya. Meski begitu, arah mata genius tampan itu  masih saja di layar tabletnya.


“Iya. Kamu sudah tidak asik, Jarrett,” ucap Jemma dengan sewot pula.


Jarrett merespon Jemma dengan tatapan tajam lalu melengos. Dia tidak melanjutkan balas membalas ucapan seperti kebiasaan mereka. Sebab kembali fokus pada bacaannya.


“Pap, lihat. Jarrett tidak biasanya jadi diam seperti itu. Dia seperti antara ada dan tidak ada,” adu Jemma ke Nigel disertai rengekan. Ada sedih di raut wajah anak perempuan itu.


“Sudah. Kita sudah sampai,” seru Avery mencerahkan suasana.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Miles sebelum bergerak cepat membuka pintu sampingnya.


Miles segera turun dan mengambil kursi roda Nigel dari bagasi. Sedangkan kakak kembarnya itu berjalan perlahan menyusul. Mempersingkat waktu.


Beda dengan Duo J, keduanya betah untuk tetap di dalam mobil bersama Avery. Bahkan Jemma pindah duduk ke samping bangku kemudi, lanjut mengobrol dengan sang bibi.


Sebab dilihat dari kondisi rumah The Brown, tidak tampak tanda-tanda ada orang di sana. Lagipula, memang belum jam pulang Gail dan orang tua angkat.


Demi Nigel yang ingin menunggui kepulangan Gail, maka Miles dan Avery menurut saja untuk berangkat lebih awal dari villa. Paham dengan kegilaan asmara kesayangan mereka.


“Langsung berdiam diri dan memandangi jalanan atau ikut dulu denganku mengecek progres renovasi rumahmu, El?” kata Miles yang berisi nada ledekan.


“Tentu saja bukan pilihan kedua. Aku tidak ingin melewatkan Gee, sedetik pun,” tegas Nigel.


“Astaga,” ujar Miles lalu tertawa. Nigel si bucin.


Kakak-beradik kembar tidak identik itu pun memisahkan diri. Nigel berhenti di tepi jalan, ujung halaman rumah The Brown. Sedangkan Miles terus melangkah ke rumah seberang.


Keberadaan Nigel di tepi jalan seperti itu menjadi perhatian setiap orang yang lalu-lalang. Pria memiliki keelokan paras di atas rata-rata bersama kursi roda yang didudukinya.


Nigel tentu saja tidak peduli dengan orang-orang yang memandanginya, baik terang-terangan atau sekedar melirik.


Yang ada dalam hati dan pikiran Nigel cuma kerinduan terhadap Genaya aka Gail. Dia sudah tak sabar melihat langsung istrinya itu, berada di depan mata kepala sendiri.