
“Tidak berjalan saja seperti kemarin-kemarin? tanya Jemma kepada Nigel.
“Untuk mempermudah Paman dan Bibi ke dermaga nanti, Je,” jawab Nigel tapi melirik ke arah Jarrett. Putranya masih saja fokus dengan layar gawai yang ada dalam genggaman tangannya.
“Bibi, apa mobil ini nanti ikut pergi ke Hicity?” tanya Jemma lagi. Arah bicaranya kepada Avery.
“Tidak, Keponakan Manisku. Mobil ini tetap di Delan,” terang Avery.
“Kenapa tidak dibawa saja, Bibi?” ujar Jemma, terus bertanya.
“Karena kata Paman yang Menawan Jemma, mobil ini akan menemani Papamu di sini. Jadi hanya Bibi dan Paman yang kembali ke Hicity,” ujar Avery terkekeh.
“Apa Jemma tidak mau mobilnya?” ucap Miles nimbrung.
“Aku hanya penasaran, Paman,” tutur Jemma ringan.
“Paman jadi penasaran juga, kapan Jemma ke Hicity lagi? Apa tidak rindu dengan Grandpa?” ucap Miles.
“Aku rindu Grandpa. Tapi aku ingin ke Hicity nanti bersama Papa dan Mama. Rasanya pasti lebih menyenangkan,” ucap Jemma riang.
“Aku ditinggal begitu saja, Jemma? Baik sekali kamu,” sarkas Jarrett dengan nada sewotnya. Meski begitu, arah mata genius tampan itu masih saja di layar tabletnya.
“Iya. Kamu sudah tidak asik, Jarrett,” ucap Jemma ikut kesal.
Jarrett merespon Jemma dengan tatapan tajam lalu melengos. Dia tidak melanjutkan balas membalas ucapan seperti kebiasaan mereka. Sebab kembali fokus pada bacaannya.
“Pap, lihat. Jarrett tidak biasanya jadi diam seperti itu. Dia seperti antara ada dan tidak ada,” adu Jemma ke Nigel disertai rengekan. Ada sedih di raut wajah anak perempuan itu.
“Sudah. Kita sudah sampai,” seru Avery mencerahkan suasana.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Miles pada istrinya sebelum bergerak cepat membuka pintu sampingnya.
Miles segera turun dan mengambil kursi roda Nigel dari bagasi. Sedangkan kakak kembarnya itu berjalan perlahan menyusul. Mempersingkat waktu.
Beda dengan Duo J, keduanya betah untuk tetap di dalam mobil bersama Avery. Bahkan Jemma pindah duduk ke samping bangku kemudi, lanjut mengobrol dengan sang bibi.
Sebab dilihat dari kondisi rumah The Brown, tidak tampak tanda-tanda ada orang di sana. Lagipula, memang belum jam pulang Gail dan kedua orang tua angkat.
Demi Nigel yang ingin menunggui kepulangan Gail, maka Miles dan Avery menurut saja untuk berangkat lebih awal dari villa. Paham dengan kegilaan asmara kesayangan mereka.
“Langsung berdiam diri dan memandangi jalanan atau ikut dulu denganku mengecek progres renovasi rumahmu, El?” kata Miles yang berisi nada ledekan.
“Tentu saja bukan pilihan kedua. Aku tidak ingin melewatkan Gee, sedetik pun,” tegas Nigel.
“Astaga,” ujar Miles lalu tertawa. Nigel si bucin.
Kakak-beradik kembar tidak identik itu pun memisahkan diri. Nigel berhenti di tepi jalan, ujung halaman rumah The Brown. Sedangkan Miles terus melangkah ke rumah seberang.
Keberadaan Nigel di tepi jalan seperti itu menjadi perhatian setiap orang yang lalu-lalang. Pria memiliki keelokan paras di atas rata-rata bersama kursi roda yang didudukinya.
Nigel tentu saja tidak peduli dengan orang-orang yang memandanginya terang-terangan atau sekedar melirik penasaran dengan tatapan memuja ketampanannya.
Ternyata butuh waktu lebih dari setengah jam, Nigel melihat ada siluet Gail berjalan ke arahnya. Sedangkan wanitanya itu berfokus kepada The Brown, mengobrol dalam perjalanan.
Obrolan berbalut tawa. Berucap lalu terkekeh. Gail dan The Brown dalam selera humor yang sama. Mereka berbalas canda untuk membuat jalan kaki pulang tak terasa jaraknya.
Seiring waktu, Nigel bisa melihat lebih jelas rupa Gail yang tertawa lepas itu. Salah satu ekspresi yang ingin dia dapatkan juga ketika mereka berdua. Momen seperti dulu.
“Nigel, apa sudah lama menunggu?” tanya Landon, menyadarkan menantunya yang seperti tak sadar akan keberadaan yang lain.
Landon cukup mampu membaca kelakuan Nigel. Lelaki itu terperangkap dalam pesona Gail, sebab kedua matanya dari tadi hanya menatap terpana ke wajah anak angkatnya itu.
“Ti-tidak, Ayah,” jawab Nigel gugup. Arah matanya beralih dari Gail yang diam saja balas menatap.
The Brown serempak menahan tawa, berusaha tersenyum saja. Ellie berinisiatif angkat bicara untuk mengajak semuanya segera melangkah ke rumah.
Landon berjalan paling depan disusul Ellie. Sedangkan Gail melangkah ke arah ganggang dorong kursi roda Nigel. Kali ini tidak ada bawaan di tangan Gail.
“Mama, Papa,” teriak Jemma sambil berlari ke arah Gail dan Nigel.
Perempuan kecil itu baru saja menyambut singkat kakek dan nenek yang sampai di dekat mobil parkir. Itu berarti Gail juga sudah tiba. Jemma bergegas menuju kedua orang tuanya.
Gail yang berencana untuk mendorong kursi roda Nigel seperti biasanya membatalkan niat. Dia menyambut putrinya lebih dulu. Kebiasaan Jemma dan ritual cium pipi mereka.
“Saat ini adalah waktu yang menyenangkan. Terima kasih, Mam,” ucap Jemma setelah mendapatkan yang dia mau. Gail tersenyum gemas.
Kemudian Jemma bergerak ke Nigel, yang refleks mengangkat tubuh putrinya untuk dipangku di atas kursi roda. Tak perlu diucapkan, sang papa paham.
“Terima kasih, Pap,” ucap Jemma lalu melakukan hal sama dilakukannya pada Gail. Kecupan di pipi kanan.
Sekali lagi, tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan betapa penuhnya hati Nigel dengan kebahagiaan. Momen yang ingin terus dirasakannya, berada dekat bersama-sama.
“Dimana Jarrett?” ujar Gail. Nadanya lebih ke arah bergumam daripada bertanya langsung kepada dua orang beda generasi itu.
Sebab arah mata Gail menyapu keadaan, beralih dari Jemma dan Nigel. Dia mendapati sosok Jarrett duduk di mobil yang pintunya sedang terbuka.
Gail melihat Jarret terus menunduk dan larut dengan apa yang ditampilkan di layar gawai. Sontak wanita dua anak itu menghela nafas dan membuangnya kasar.
Kesekian kalinya Gail merasa Jarrett berubah. Si genius tampan tidak sepeduli sebelumnya dengan keberadaan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Jarrett sering sibuk sendiri, dan Gail terusik. Masalah gawai yang ada terus dibawa-bawa sang putra.
Seingat Gail, perubahan yang ada pada Jarrett dimulai sejak Nigel memberikan barang mewah yang tak mungkin mampu dia beli itu. Sepertinya ujian harta menghadang Gail.
“Ada apa, Gee?” tanya Nigel. Telinganya sensitif, bisa mendengar Gail berdengus. Tanda istrinya sedang tidak baik-baik saja, sebaik itu sang suami paham.
“Tidak ada apa-apa. Ayo ke rumah,” jawab Gail beserta senyuman sekenanya. Tatapannya juga berbeda, tidak seramah tadi.
Beebeda, Nigel menatap sendu pada Gail. Sang istri belum terbuka untuk berbagi dengannya, masih ada jarak membentang.
"Ayo, Mam. Meluncur," seru Jemma riang. Keberadaan perempuan kecil itu memutus keinginan Nigel. Tak ada pertanyaan lebih jauh.