
“Duo J, ada dimana? Jawab Papa, Kids,” teriak Nigel sambil menjalankan kursi roda canggihnya lewat tombol.
Nigel tidak bisa menghubungi ponsel kedua anaknya itu untuk mencari tahu ada di ruangan mana masing-masing dari mereka.
Seandainya sedang berada di rumah sendiri, Nigel bisa memanfaatkan tangkapan kamera cctv dari seluruh ruangan. Atau juga kumpulan info dari para pelayan di seantero tempat.
“El, kenapa harus berteriak? Tunggu saja. Duo J tahu waktunya kembali. Apa kita sedang buru-buru untuk sampai di rumah The Brown?” ucap Miles sembari mendekat ke posisi Nigel.
“Sudah selesai menjawab surel-surelnya, Es?” tanya Nigel tanpa merespon perkataan sang adik kembar.
“Beres, baru saja,” jawab langsung Miles.
Lalu pria minim ekspresi itu berjalan ke arah punggung sang kakak. Bermaksud meraih ganggang dorong kursi roda.
“Tidak, terima kasih,” tolak Nigel dan jarinya menekan tombol untuk kursi rodanya tidak bergerak. “Lebih baik berpencar menemukan Duo J, Es. Mereka tidak menjawab dari tadi."
“El,” seru Miles meledek. "Cepat menemukan Duo J supaya cepat bertemu mamanya, kan?"
"Benar," kata satu itu jadi jawaban Nigel dengan rona wajahnya agak memerah.
Miles geli dan terkekeh sendiri melihat reaksi Nigel. Luar biasa pesona wanita pujaan hati kakaknya, mampu membuat pria yang selama enam tahun sulit didekati itu bisa menjadi tersipu malu begitu.
"Ya sudah. Aku ke ruangan yang ada di lantai dua, El."
Ruangan pertama yang jadi tujuan Miles langsung berada di ujung atas tangga. Itu ruangan khusus yang letaknya berdekatan dengan perpustakaan.
Segera Miles buka pintunya. Ternyata yang dicari-cari memang benar sedang berada di sana. Goa bagi Jarrett.
Atas permintaan Nigel, Addison memberikan kamar yang cukup besar untuk menjadi tempat pribadi Jarrett. Lebih tepatnya, ruang kerja si genius tampan yang disponsori sang papa.
Tentu saja berisi segala hal yang Nigel pesankan dari Hicity bahkan luar negeri untuk mendukung kejeniusan Jarrett dan keberhasilan apa yang ingin diperbuat putranya itu.
Komputer tercanggih dengan segala perangkatnya, adalah salah satu yang Nigel sediakan. Nanti jika rumah The Twins selesai direnovasi, ruang khusus Jarrett akan lebih besar dan lebih banyak isinya.
Bunyi daun pintu bergeser menyela fokus Jemma dari layar dekstop. Gerakan kepala itu membuat Jarrett ikut menoleh ke pintu kamar.
"Paman," sapa Jemma riang. Tubuh kecilnya segera berlari ke posisi Miles yang masih di ujung pintu.
"Untunglah kalian berdua di sini. Sebentar lagi kita ke rumah The Brown. Papa kalian sudah menunggu di bawah. Segera turun, ya," ucap Miles panjang lebar agar Duo J bergegas.
"Baik, Paman. Aku tinggal mematikan komputer. Aku akan menyusul," sahut Jarrett dari balik meja.
"Jarrett, aku turun duluan dengan Paman," ujar Jemma lalu menatap Miles.
Intuisi Miles menjawab tatapan keponakannya itu dengan mengulurkan sebelah tangannya untuk Jemma sambut. Mereka akan menuruni tangga.
"Wah, Paman bisa membaca pikiran," ujar Jemma riang.
"Tidak," ucap Miles dengan nada bingung.
"Iya, Paman," tegas Jemma.
"Kenapa iya?"
"Karena Paman memberikan tangan kepadaku tanpa aku bilang apa-apa. Aku tidak bersuara tapi Paman bisa tahu apa yang aku katakan dalam kepalaku."
Perlu sekian detik untuk Miles paham. Dia tergelak sendiri dengan jawaban polos si genius manis itu
"Benarkah?"
Anggukan Jemma sebagai penjawab pertanyaan Miles. Sebab perhatian keponakan manis itu lebih tertuju ke arah Nigel yang sedang melambaikan tangan.
"Paman, terima kasih. Aku ke Papa dulu," kata Jemma ketika sampai di pijakan terakhir tangga.
Sang papa sedang menggunakan kursi roda dan Jemma tak akan melewatkan kesempatan untuk dipangku Nigel. Dia tak akan bisa menikmati momen berdua seperti itu jika kaki Nigel sudah dinyatakan benar-benar sembuh dan boleh berjalan normal.
Sesampainya di dekat Nigel, Jemma berdiri saja menatap orang tuanya itu. Dia mempraktekkan apa yang tadi dicobanya kepada Miles.
"Ada apa, Je? Kenapa diam begitu, Putrinya Papa?" tanya Nigel sambil meraih tubuh Jemma untuk dia angkat ke pangkuannya.
"Wah, Papa juga bisa membaca pikiran," sorak Jemma.
Miles yang sudah berada di jarak dekat pasangan ayah dan anak, menahan tawanya. Dia ingin tahu bagaimana Nigel merespon kalimat Jemma.
"Juga? Siapa orang yang bisa selain Papa, Je?"
"Paman, Pap. Bahkan Paman hanya diam saja. Tidak ada tanya-tanya. Tapi langsung tahu apa yang aku bilang di kepala," jelas Jemma penuh antusias.
Nigel menoleh ke Miles dan ada hawa kecemburuan dari tatapannya. Cemburu Nigel yang menggemaskan tampak bagi Miles.
"Aku bisa membayangkan, level posesifmu makin bertambah seiring Jemma bertambah besar, El," lontar Miles meledek.
Nigel tidak membahas tapi kalimat Miles masuk jadi buah pikirannya. Bertanggung jawab untuk kehidupan Jemma dan Jarrett bagai kejutan.
Seluruh diri Nigel yang jatuh hanya kepada sang istri, siap tak siap menerima dua orang anak yang sudah hadir di antara mereka.
Mendapatkan sekaligus kehilangan, itu yang terjadi kepada Nigel dengan keberadaan Duo J. Jawaban dari rasa putus asanya menginginkan kembali Gee.
Nigel mendapatkan dua tambahan kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Entah apa istilahnya, campur tangan Duo J memang berpengaruh besar untuk dia sembuh.
Sedangkan untuk kehilangan, adalah waktu enam tahun yang lewat begitu saja sehingga Nigel tidak mendapatkan momen-momen tumbuh kembang si kembar. Rasanya tiba-tiba, dua anaknya sudah berumur lima.
"Aku sudah siap," seru Jarrett berlari lincah menuruni tangga.
"Pap, lihat. Jarrett akan dimarahi Mama kalau tahu melakukan itu," kata Jemma mengadu. Dia tak suka apa yang sedang saudara kembarnya lakukan.
"Kenapa Mama marah, Je?" ucap Nigel penasaran sedangkan satu tangannya yang lain mengusap lembut kepala Jemma. Menenangkan emosi putrinya.
"Kenapa Papa tidak marah?" tanya Jemma menjawab pertanyaan Nigel.
Pria berusia tiga puluhan itu hanya diam dan menatap lembut Jemma. Seakan berkata tidak akan memberi jawaban sebelum putrinya lebih dulu.
"Aku tidak bisa membaca pikiran, Pap," keluh Jemma lalu dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Nigel.
Respon Jemma itu dibalas pelukan sayang oleh Nigel. Dia tak yakin tahu dengan apa yang sedang putrinya rasakan sekarang.
Jika saja sudah hidup bersama lebih lama, Nigel bisa menjawab pertanyaan sederhana-tapi-tidak-sederhana dengan jawaban yang bijak.
Atau jika saja Gee aka Genaya aka Gail sedang bersamanya, Nigel bisa meminta bocoran jawaban yang dimiliki ibu dari anak-anaknya itu. Membantu untuk tahu apa yang terlewatkan selama bertahun-tahun tentang mereka.
"Iya, Sayang. Bawa mobilnya langsung ke pintu depan saja."
Seuntai kalimat on the point Miles untuk menjawab telepon lalu sambungan putus. Nigel langsung paham, waktunya berkumpul ke rumah The Brown.