DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Ikut



"Ikutan, Mam. Aku boleh ikut, ya," sorak Jemma sekaligus memohon setelah dia mendengar Gail dan Ellie mendadak perlu pergi ke pasar.


Jemma antusias sekali. Dia mau ikut keluar dari ruang kerja Gail yang mulai terasa membosankan baginya.


"Sang Putri akan melakukan apa?" kata Gail merespon. Dia sedang menghitung lembaran uang yang akan dibawa untuk belanja dadakan itu.


"Menemani Mama."


"Lalu?"


"Menemani Nenek juga."


"Lalu?" ucap Gail lagi sambil menahan senyum.


"Mam," kata Jemma dengan cengiran. Dia ternyata digoda oleh Gail.


"Ada syaratnya, kamu hanya menemani Mama dan Nenek. Jadi nanti cukup balas menyapa orang saja. Jangan jadi mengobrol. Kita cuma sebentar di pasar. Oke, Jemma?"


Kalimat Gail yang panjang itu bernada tegas. Jemma mau tak mengiyakan, daripada tambah bosan sendirian.


Jemma suka dengan suasana pasar. Banyak hal yang dia temukan disana. Orang dan barang yang beraneka ragam.


Sisi ekstrovert Jemma akan berasa terisi energi penuh. Teringat sudah lama dia ke pasar.


Ketika seharian di villa Addison, Jemma sering diajak untuk mengikuti Om Adi-nya itu melaksanakan tugas di pasar. Bertemu dan berbincang dengan banyak orang.


Tak heran para penjual dan pedagang di sana kenal dengan Jemma. Ditambah pula perempuan kecil itu mudah mengakrabkan diri.


Paduan tingginya daya tarik dari gen Nigel dan kecerdasan emosional dari ajaran Gail memberkati Jemma. Orang-orang tidak sulit langsung menyukainya di pertemuan pertama.


Tentu menyenangkan bagi Jemma karena bisa berbagi rasa, lewat ekspresi wajah, cerita pengalaman bahkan tahu jajanan pasar yang mana enak.


"Nek," panggil Jemma berbisik ke arah Ellie. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan dan Gail mengikuti di belakang.


Ellie menoleh dan menampilkan raut wajah bertanya kepada Jemma. Sepertinya ada sesuatu yang akan diminta oleh sang cucu.


"Nek, kita benar-benar sebentar saja di pasar?" tanya Jemma lagi setelah tadi dia sudah mengucapkan kalimat tanya itu ketika masih berada di Dapur The Brown.


"Iya, Cucu Manis Nenek," kekeh Ellie. Lalu lanjut berkata, "Jemma inginnya bagaimana?"


Jemma tak langsung menjawab. Dia membalikkan badan sekilas, seolah tidak bermaksud melihat ke Gail.


"Nek, bisakah kita ambil jalannya yang melewati kios air tebu peras?" tutur Jemma berbisik dengan penuh harap.


"Kenapa?" sahut Ellie ikut-ikutan berbisik.


"Tadi aku sudah janji pada Mama, aku cuma menemani Mama dan Nenek saja. Tapi aku baru ingat, Papa suka dengan air tebu peras. Ketika tinggal di villa, kami selalu minum air tebu itu bersama-sama sepulang Om Adi ada pekerjaan di pasar."


Jelas Jemma panjang. Berharap Ellie berada di pihaknya dan paham apa yang dia maksud.


"Kiosnya yang terletak sebelah mana, Jemma?" tanya Ellie sambil mengedipkan sebelah mata.


Ingin rasanya Jemma melonjak senang tapi dia tahan. Ellie memang hebat, neneknya itu bersedia mengabulkan keinginannya untuk berbelanja.


"Yang di ujung deretan ke dua dari pintu masuk pasar yang kita lewati barusan, Nek," terang Jemma riang.


Ellie merespon dengan tersenyum saja. Kemudian dia perlahan menghentikan langkah dan menoleh ke Gail.


"Gail, sebelum ke toko cabe, kita ke arah sana dulu ya. Bunda mau beli air tebu peras," ucap Ellie memberitahu sekaligus meminta anak angkatnya itu setuju.


Mata Gail beralih dari menatap Ellie dengan hangat ke melihat Jemma dengan selidik. Naluri keibuannya aktif, tahu ada ikut serta sang putri dibalik keinginan mendadak itu.


"Ayo, Bunda. Segera kita belikan padahal tadi Jemma berjanji cuma menemani saja," ucap Gail langsung tembak.


"Mam," panggil sendu Jemma seraya melepas gandengan tangan Ellie untuk memeluk pinggang Gail yang bisa digapainya.


"Mama sudah bilang syaratnya dan Jemma sudah mengiyakan. Harusnya bagaimana, Sang Putri?" tutur Gail mengintimidasi. Dia juga membiarkan saja Jemma memeluknya tanpa dibalas.


"Mama dan Nenek hanya sebentar disini karena perlu mendadak. Pekerjaan di Dapur The Brown perlu diselesaikan cepat dengan bahan-bahan yang akan dibeli sekarang. Lagipula Papa dan Jarrett sudah dalam perjalanan pulang, lalu langsung menjemput Jemma untuk ke rumah bersama-sama."


Kalimat panjang lebar Gail keluar untuk menerangkan kondisi kepada Jemma. Kadang memang perlu cara melarang yang diikuti dengan memaparkan alasan.


"Maaf, Mam. Aku minta maaf," ucap Jemma yang suaranya sudah terdengar bergetar dan serak.


"Iya, Mama maafkan. Lalu bagaimana?" kata Gail melunak. Dia usap sayang puncak kepala Jemma.


"Tidak jadi beli air tebu peras. Kita cepat saja belanja seperti rencana awal, Mam."


"Benar?"


"Iya, aku sungguh-sungguh."


"Ya sudah. Jemma, minta maaf dulu pada Nenek. Setelah itu kita membeli keperluan Dapur," pinta Gail lembut. Mode sudah kembali pada khasnya mama Duo J.


Anggukan Jemma menjadi jawaban lalu melepaskan pelukannya dari Gail. Dia melakukan apa yang sang mama suruh.


Ellie kembali menggandeng tangan Jemma untuk melanjutkan rencana belanja bahan-bahan yang sudah didiskusikan dengan Gail sebelumnya.


Meski ada keinginan Ellie untuk mengabulkan permintaan Jemma, itu tidak serta merta diungkapkannya langsung ketika Gail memberi penegasan pada sang cucu.


Ellie cukup diam dan memperhatikan. Karena dia tidak akan merusak cara Gail mendidik Jemma dan apa yang dilakukan oleh mama Duo J itu juga bisa dipahaminya sesuai untuk kebaikan sang cucu.


"Gail, air tebu peras yang Jemma mau tadi itu untuk Nigel. Dia ingat Papanya suka," bisik Ellie di sela-sela Gail menunggu kembalian uang dari penjual cabe.


"Tapi, Bund-"


"Cuma memberi tahu Gail. Bunda kembali ke sana," potong Ellie seraya menunjuk ke tempat Jemma berdiri di ujung meja tumpukan cabe. Tempat yang cukup lowong dibandingkan posisi Gail di dalam toko.


Gail menampilkan senyumnya untuk mempersilakan Ellie. Dia menatap Jemma yang hanya bisa tampak bagian samping.


Jemma terlihat sudah kembali ke mode ceria dan penuh antusiasnya. Berdiri di posisi sekarang membuatnya bisa melihat pemandangan pasar dari situ dan berbalas sapa dengan siapa yang lewat.


Seperti sudah merelakan apa yang diinginkan tadi, Jemma menikmati keramaian pasar yang ada di depan matanya. Juga menampilkan raut senang ketika disapa oleh orang-orang yang mengenalnya.


Setelah dari toko cabe, dua wanita dewasa dan seorang perempuan kecil berpindah ke tempat penjual bumbu-bumbu. Lalu lanjut berpindah sesuai daftar belanjaan di tangan Gail.


Jika urusan uang dan harga menjadi tugas Gail maka untuk bagian kualitas dan pemilihan barang-barang untuk dibungkus adalah tugas Ellie. Perihal pengalaman yang membedakan level kemampuan.


Akhirnya selesai, semua yang harus dibeli sudah dibungkus dan dibayar. Seperti biasa, seluruh belanjaan diikutkan dengan biaya jasa antar langsung ke tempat.


Pilihan paling tepat daripada menyulitkan dua orang perempuan yang tidak bertubuh kekar itu untuk mengangkut sendiri barang yang berpuluh kilo beratnya. Keluar uang lebih bukan masalah besar.


"Waktu kita selesai lebih cepat sepuluh menit dari perkiraan," ucap Gail setelah melepas pergi mobil pengangkut barang berangkat ke Dapur The Brown.


Jemma sontak menatap Gail penuh harap karena mendengar kalimat barusan. Diikuti dengan komat-kamit doa untuk lanjutan perkataan sang mama.


"Jemma masih mau membeli air tebu peras?" tanya Gail dengan raut wajah yang sangat berbeda dibandingkan saat perkara tadi.


"Mau, Mam. Mau," sorak Jemma senang.


Ellie tidak bisa menahan tawa. Gail dan Jemma membuat hidupnya semakin berwarna.


Tak berselang lama, arah langkah pun menuju Dapur The Brown. Suasana sore yang sejuk membuat jalan kaki jadi pilihan.


Urusan belanjaan sudah masuk ke bagian tugas Landon. Pekerjaan memasak telah mendapat amunisi karena pengantaran barang tiba dengan cepat seperti hasil diskusi.


Landon tidak banyak bicara sebab kemampuannya yang tinggi itu dalam mengolah bahan menjadi makanan maka perihal lainnya diserahkan pada Ellie dan Gail. Dirinya malah berterima kasih dibolehkan saja dengan peran sebagai pengikut.


|Diw @diamonds.in.words - Feb22


Manis banget siiiih keluarga ini hihihii