DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Seperti



Suami itu belajar dari pengalaman bagaimana reaksi sang istri saat dia ingin membantu menghapus air mata itu dengan tangannya langsung.


"Terima kasih, Nigel. Aku tidak seperti ini biasanya. Maaf, aku merepotkanmu."


"Aku senang kamu menangis-" ucap Nigel tertahan karena menyadari susunan kata-katanya tak tepat dan tatapan Gail yang terkejut dengan apa yang keluar dari bibir suaminya.


"Gee, maksudku ketika kamu seperti ini dan aku bisa berada di dekatmu sampai perasaanmu lebih baik. Aku merasa berguna dan senang dengan penerimaanmu."


Gail tidak bersuara lagi. Dia tersenyum saja merespon tutur Nigel sembari menghilangkan jejak air di pipi dan matanya.


"Boleh aku memelukmu sekali lagi, Gee?"


"Kenapa?"


"Aku ingin berbagi kekuatan. Kamu pernah bilang itu pada pelukan pertama kita, setelah kita resmi sebagai suami dan istri."


Selang beberapa waktu, Gail hanya menatap Nigel tanpa memberi jawaban boleh atau tidak. Ada raut ragu yang kentara di wajahnya.


"Maaf, Nigel. Aku tidak bisa mengingatnya."


"Aku mengerti. Kita tidak sedang buru-buru, Gee."


"Atau, aku bisa mencobanya?"


"Aku tidak memaksa, Gee. Kapan pun kamu-"


Gail tidak mempedulikan Nigel yang masih berbicara. Dia mengikuti intuisinya untuk lebih dulu memberi pelukan pada sang suami.


Sekian detik, Nigel mematung tidak percaya. Keajaiban untuknya terjadi lagi. Gail mendekapnya, bahkan berinisiatif membelitkan lengan pada tubuhnya dengan erat.


"Gee, terima kasih. Perasaan buruk apapun yang sedang ada padamu sekarang, itu tak akan selamanya. Kamu bisa berbagi denganku. Setidaknya saling berpelukan begini. Aku sudah bersamamu lagi. Kita bisa bersama-sama menghadapi apapun masalahmu. Jika belum kini, tak apa. Yang harus selalu kamu ingat, aku akan terus menunggu kapan pun waktu kamu bersedia mengikutsertakanku."


Kalimat panjang Nigel itu diucapkan dengan berbisik ke telinga Gail. Penuh perasaan dan penuh harapan.


Perasaan Gail terasa semakin campur aduk. Manis sekali terdengar apa yang Nigel sampaikan. Tapi dua sisi diri Gail jadi bertentangan.


Antara merasa tersanjung, betapa beruntungnya menerima perlakuan Nigel yang spesial. Serta merasa tak pantas, sebab betapa sempurnanya lelaki itu berbanding terbalik dengan dirinya yang serba terbatas.


"Sudah. Sebaiknya kita segera masuk ke rumah. Semua orang ada di dalam," putus Gail sembari mengurai pelukannya.


Takut Gail akan kemungkinan dirinya menjadi semakin salah tingkah oleh pesona Nigel. Lagi pula perlu segera jauh dari si suami agar degup jantung Gail yang berdetak cepat tidak disadari.


Nigel mau tidak mau menuruti Gail. Sudah cukup rasanya. Dia tidak mau menjadi serakah dan berimbas tak baik nanti.


Gerakan terampil tangan Gail memperbaiki penampilan wajahnya setelah menangis, merapikan apa yang dirasa perlu untuk mengaburkan jejak emosinya tadi.


"Gee, tablet Jarrett ditinggal di mobil kah?" tanya Nigel saat keduanya beranjak dari kabin mobil.


"Aku lupa. Itu aku yang bawa, Nigel," ucap Gail sembari mengambil gawai yang jadi pemicu kejadian tadi.


Setelah yakin tidak ada yang tertinggal lagi, Nigel menutup pintu dan mobil otomatis terkunci. Dia mengikuti Gail yang buru-buru masuk rumah.


Sesampainya Nigel di ruang tamu, dia mendapatkan tatapan penuh tanya dari Miles. Perlu penjelasan lebih lanjut terkait isi pesan teks si kakak kembar yang menghilang hampir setengah jam.


Nigel balas dengan isyarat. Permintaan untuk bersabar menunggu sampai bisa leluasa mengobrol berdua saja nanti.


"Pap, tadi Jemma ingin menyusul Papa ke mobil tapi tidak dibolehkan Paman," kata Jemma sambil berjalan mendekat ke kursi ruang tamu, duduk bersama dua pria kesayangannya.


"Mau saja. Jemma suka ada Papa dan Mama bersama-sama. Tapi setelah aku selesai mandi tadi, tidak ada yang bisa aku temukan," keluh Jemma.


"Bukannya ada Paman, Bibi, Nenek juga Kakek?" laden Nigel.


"Pap, maksud dari kalimatku itu adalah Papa dan Mama. Ketika aku melihat bayangan Papa di mobil dan ingin kesana, Paman melarangku. Aku cuma bisa menunggu Papa muncul," tutur si perempuan kecil.


"Terima kasih banyak, Je. Kamu melakukan hal yang sangat tepat, Sang Putri," ucap Nigel bangga. Ternyata kesigapan Miles menerima permintaan tolongnya dibarengi oleh Jemma yang penurut.


"Baiklah. Tadinya Sang Putri kesal, tapi tidak lagi sekarang," kekeh Jemma lalu membalikkan badannya untuk mendekap Nigel.


Miles geleng-geleng kepala saja menyaksikan perbincangan dua orang di hadapannya itu. Bagai melihat dirinya dan Evelyn, putri kecilnya yang dewasa daripada umur.


"Pap, bajunya basah," ujar Jemma sambil merenggangkan pelukannya dengan Nigel.


Miles yang mendengar ucapan Jemma itu menjadi menelisik kaos yang Nigel pakai. Mata tajamnya bisa melihat jejak di warna gelap pakaian sang kakak kembar.


"Iya, Je," jawab Nigel singkat disertai senyuman. Raut wajah sang papa cerah ceria, tak sesuai ekspektasi Jemma.


"Paman, apa hanya aku yang merasa aneh? Kalau baju yang dipakai lembab, seharusnya menjadi tidak nyaman kan? Tapi Papaku terlihat senang," ujar Jemma setelah menoleh ke arah Miles.


"Benar. Itu aneh. Kita harus menerima keanehan Papamu, Keponakanku," canda Miles lalu terkekeh.


Jemma menghela nafas dengan kentara. Dia belum paham dengan humor yang Miles selipkan dalam kalimatnya dan yakin itu lebih ditujukan kepada Nigel, orang yang mereka bicarakan langsung di depan wajahnya.


"Aku harus menunggu besar dulu untuk mengerti," keluh Jemma diikuti tawa oleh dua pria kesayangannya.


"Papa," panggil Jarrett yang sudah berada di dekat Nigel.


Dari penampilannya, Jarrett yang sudah selesai mandi terlihat lebih segar tapi kentara dengan raut wajahnya yang tampak murung.


"Ada apa, Ja?" tanya Nigel serius. Dia bisa merasakan sesuatu yang serius akan diutarakan putranya itu.


Perhatian Jemma dan Miles pun beralih ke Jarrett. Penasaran dengan apa yang akan dikatakan selanjutnya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya memanggil saja," ucap Jarrett menyadari semua tatapan mengarah kepadanya. Niat dalam hati dia urungkan. Sisi tertutupnya aktif.


***


"Biar aku yang mengambilkannya, Nigel," pinta Gail yang lebih dulu menjangkau piring.


Nigel tersenyum manis sebagai jawaban mengiyakan. Kedekatan dengan sang istri semakin membaik, termasuk duduk berdekatan kini tak sebermasalah seperti di awal-awal.


Gail menyendok nasi sembari bertanya lewat isyarat bagaimana selera Nigel. Lalu memindahkan lauk pauk ke piring setelah mengetahui yang mana si suami inginkan.


Hal yang Gail lakukan untuk Nigel juga dilakukan oleh Ellie dan Every untuk suami masing-masing. Tak enak rasanya bagi Gail jika tidak melayani pula.


Makan malam bersama kali ini dengan cara prasmanan melantai. Kehangatan keluarga besar terasa lewat lezatnya hidangan dan mengalirnya obrolan.


Duo J menikmati momen itu dengan suasana hati yang berbeda di antara keduanya. Sisi yang bertolak belakang.


Jemma dengan suka cita tapi Jarrett dengan sedih hati. Jemma banyak bicara tapi Jarrett lebih pendiam. Kentara.


Sikap berbeda itu tak lepas dari perhatian Nigel. Sang papa bisa merasakan ada sesuatu terjadi yang ditutupi Jarrett.