DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Buruk



Gail mengurungkan niatnya untuk keluar dari bilik toilet. Telinganya mendengar ada nama The Brown disebut-sebut dalam obrolan beberapa orang di luar.


Yang Gail tahu orang tua angkatnya memang dikenal luas oleh penduduk Delan dan luar pulau. Bukan hal yang mengejutkan jika mereka menyebut nama Landon dan Ellie.


Tapi masalahnya adalah nada bicara orang-orang itu terdengar tidak menyenangkan. Ada cemoohan dan sejenisnya yang buruk. Gail tidak yakin dengan penilaiannya tapi dia peka itu bukan sesuatu yang baik.


Indra pendengaran Gail semakin tegak menyimak obrolan. Semua suara itu sepertinya berasal dari perempuan-perempuan paruh baya.


Begitu perkiraan Gail untuk mereka yang sedang berada di luar bilik toilet. Sepertinya sambil punya urusan di wastafel, mulut mereka terbiasa mengurusi hidup orang lain.


Inti dari yang Gail curi dengar itu menyangkut kehadiran menantu The Brown. Suami dari anak angkatnya ternyata cacat, lumpuh berkursi roda dan buruk sekali setelah enam tahun malah menampakkan diri.


Mereka menambahkan kalimat-kalimat terkait Duo J. Betapa malangnya punya sosok ayah seburuk itu sedangkan kedua anak tersebut mengagumkan. Duo J adalah bintang bagi mereka.


Lalu dialog berganti arah ke Gail dan spekulasi macam-macam mereka tentang hubungan suami dan istri itu. Bahkan  sakit lupa ingatannya Gail dihubungkan dengan masa lalu mereka yang buruk.


Buruknya hingga tidak diterima untuk tinggal serumah sehingga berimbas pada tetangga. Bahkan orang baru itu licik mengusir orang yang rumahnya berhadapan dengan The Brown agar bisa dikuasai.


Sambil telinga Gail terus mendengar, emosi di hatinya terasa mendidih. Ada marah dalam dirinya karena orang-orang membicarakan Nigel sangat buruk.


Untung pikiran Gail lebih kuat mensugesti diri supaya tidak meledak. Pengendalian diri harus menang terhadap tindakan spontan yang bisa merugikan banyak hal.


Selang beberapa saat suara banyak langkah kaki terdengar menjauh, sepertinya orang-orang bermulut buruk itu keluar. Gail pun bergerak keluar dan menemui Ellie kembali.


“Gail,” panggil Ellie yang sedang berdiri dekat kios bawang, beberapa langkah dari pintu keluar toilet umum pasar.


“Bunda, apa sudah selesai belanjanya?” ucap Gail setelah dirinya berada di dekat Ellie. Dia mengabaikan pertanyaan untuknya.


Gail berusaha bersikap biasa, seolah tidak ada kejadian apa-apa. Dia tidak ingin berbagi cerita tentang hal buruk yang terdengar tadi.


“Sudah. Apa ada yang ingin Gail beli sebelum kita kembali ke Dapur?”


“Tidak, Bund.”


“Dasar, Bunda sudah bisa saja menebak jawabanmu,” kekeh Ellie dan suara tawa sang bunda mengobati suasana hati Gail yang sedang buruk.


“Pasar bukan tempat yang cocok untuk Anak Bunda ini,” seloroh Gail dan ikut tertawa karena ditulari Ellie.


“Meski tahu begitu, hatinya yang baik tetap saja bersedia menemani Bunda keliling pasar hari ini.”


Tawa Gail reda lalu berubah menjadi sebaris senyum saja. Bertepatan dengan keduanya mulai berjalan keluar pasar tradisional pulau Delan.


Tempat dimana seluruh penduduk selalu bertemu. Tidak hanya bertemu fisik untuk urusan tukar-menukar barang dan jasa, jual-beli saja.


Ada juga bertemu dan bertukar kabar, berita, gosip, seperti yang tadi ditemukan tak sengaja di toilet umum. Gail yang nyaman untuk menyederhanakan hidupnya tidak terbiasa dengan interaksi begitu.


Itu buruk dalam pandangannya. Potensi drama kehidupan yang menguras emosi. Buktinya perasaan Gail yang sensitif terusik oleh sekian kalimat yang hanya beberapa menit didengarnya.


Andai orang-orang itu tahu siapa orang yang mereka katakan buruk tadi. Tapi Gail paham, keberadaan Nigel memang bisa jadi topik menarik obrolan mereka yang urusannya tidak begitu sibuk dengan kehidupan sendiri.


Nigel yang dua hari tinggal di pulau Delan lalu hilang beberapa waktu, tapi muncul lagi kemarin dan juga pagi tadi. Lelaki itu seperti Duo J, sama-sama penuh kejutan.


Satu hal yang pasti, Gail tidak menemukan hal buruk yang Nigel lakukan kepadanya. Dia diperlakukan baik, kedua anak mereka juga, serta The Brown pun sama. Pribadinya baik sekali.


Teringat beberapa kejadian lucu terkait Nigel, senyuman Gail tampak jelas terbit di wajahnya. Itu jadi menarik perhatian Ellie yang berjalan berdampingan dengan sang anak angkat.


“Bund,” panggil Gail dengan ragu-ragu.


“Iya. Ada apa, Anak Bunda?” ucap Ellie perhatian.


“Sore ini aku saja yang menjemput Duo J ke villa, bagaimana Bund?”


“Harusnya giliran Bunda, ya?”


“Iya, Bund.”


“Boleh saja jika bisa. Tapi apa Anak Bunda tidak apa-apa? Hari ini kesibukanmu banyak.”


“Aku bisa, Bund. Tenang saja. Anak Bunda ini masih dalam batas kemampuannya,” kata Gail dengan terkekeh.


“Baiklah, Bunda percaya. Masih ada beberapa jam lagi kalau Anak Bunda berubah, jangan dipaksakan ya kemampuan tubuhnya.”


***


Kedua kaki Nigel sudah mampu berlama-lama menahan seluruh bobot badannya. Maka berdiri untuk memasak bukan hal yang sulit baginya.


Nigel ingin menunaikan niatnya untuk memasak makanan kesukaan sang istri. Niat yang tertunda selama bertahun-tahun karena terpisahkan takdir. Masuk ke dalam mimpi buruknya.


Kali ini, semuanya sudah memungkinkan untuk Nigel. Meski sudah lama sekali tidak beraksi di dapur tapi dia cukup percaya diri bahwa hasil masaknya tidak akan buruk.


Nigel merindukan ekspresi Gee saat menerima makanan dari olahan tangannya. Seperti dulu ketika sekali dirinya dipuji bisa memasak enak oleh wanita tercinta itu. Selera yang pas.


Kemarin Nigel membawa alat dan bahan masak dari Hicity. Semuanya yang berkualitas tinggi. Mana mau suami itu memberi yang buruk pada sang istri.


Dua kotak makan pun terisi masakan ala Nigel Irey untuk Gee alias Genaya alias Gail. Satunya makanan manis dan lainnya dominan asam gurih. Sesuai kesukaan.


Selesai dengan urusan di dapur, Nigel kembali ke kursi rodanya. Waktunya Duo J dijemput dan dia ingin menitipkan kantong yang berisi kotak makanan tersebut.


Jemma yang sedang berada di ruang musik seperti biasanya jadi tujuan Nigel. Sedangkan Jarrett terlalu aktif berpindah sehingga tidak pasti dia ada di ruangan mana pada waktu segitu.


Ketika sedang asyik memperhatikan Jemma belajar memainkan lagu dengan drum, Nigel tidak sadar dirinya juga sedang diperhatikan. Mata Gail dari kejauhan terpaku pada sosok sang suami.


Lewat beberapa waktu yang cukup lama, barulah Gail melanjutkan langkah untuk disadari kehadirannya. Dia memasuki ruang musik dan melihat Nigel lebih dekat.


“Gee, kamu yang datang?” ucap Nigel memastikan apa yang dilihatnya.


Wajah senang Nigel tampak jelas menyambut Gail yang menjawab dengan tersenyum. Kesempatan bertemu yang tidak boleh disia-siakan.


“Aku tadi memasak makanan kesukaanmu, Gee,” ujar Nigel dengat sigap dia julurkan kantong tadi. Lalu berkata, “Silakan coba bagaimana rasanya, semoga masih pas dengan seleramu.”


Gail menatap dalam kepada Nigel. Itu bukan ekspresi yang suami itu harapkan tadi. Satu kotak yang paling atas berpindah ke genggaman sang istri, dan sendok pun sudah siap untuk menyuap.


Sedih yang menjalar di hati Nigel dalam sebentar jadi serta merta hilang karena ucapan Gail berikutnya.


“Terima kasih, Nig. Ini tidak buruk.”


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021