
“Aku dan Duo J pamit, Nigel.”
Satu kalimat itu lewat dari bibir Gail. Wanita itu mengatakannya sambil melihat mata Nigel dengan keramahan dan kehangatan. Pertama kalinya mereka berdua bisa saling bertatapan seperti itu.
Nigel yang sangat bahagia itu jadi salah tingkah, sampai-sampai hanya bisa merespon Gail dengan memberi sang istri senyuman manisnya saja. Hatinya serasa ingin meledak kesenangan.
Sebaris kalimat itu juga berhasil menyiram panasnya perasaan cemburu yang ditahan Nigel. Api dalam dirinya membara sejak melihat Gail dan Addison tertawa dan melangkah bersama Jarrett di lorong villa.
Jalan menuju tempat Nigel dan Jemma berada. Sudah saatnya Duo J kembali ke rumah The Brown. Sore ini giliran Gail yang menjemput anak-anak di villa kantor Addison.
Setelah bayangan sang istri dan kedua anak lima tahun menghilang dari jarak pandang, Nigel menghela nafasnya sedih. Dia sendirian lagi dan kini terpisah jarak lebih jauh dari sebelumnya.
Nigel tidak bisa menatap jendela kamar Gail saat malam hari. Itu juga dalam durasi yang sangat amat lama baginya. Perkiraan sebulan menetap di villa besar nan megah itu rasanya ujian berat.
“Tuan Irey, untuk makan malam ini apa anda berencana ke ruang makan atau diantar ke kamar?” kata Addison yang masih berdiri di samping Nigel.
“Panggil namaku saja, Addison. Jangan terus-terusan bicara formal. Kita sudah seperti keluarga sekarang,” ucap Nigel yang sudah kembali pada karakternya yang pernah tertutupi selama enam tahun.
Ada kombinasi nada yang menyenangkan, berwibawa, dan membuat lawan bicara nyaman dengan Nigel. Meski statusnya sebagai tuan kaya raya yang berjabatan tinggi, pria itu tidak mengintimidasi.
“Maaf, aku masih merasa sungkan-” kalimat Addison terpotong.
“Nigel. Kamu harus mulai terbiasa menyebut kata itu, Adi,” sela Nigel. Dia tersenyum hangat kemudian.
“Baiklah, Nigel. Terima kasih,” jawab Addison meski agak sulit. Isi kepalanya sudah mematri dengan jelas betapa tingginya derajat Nigel dan membuatnya canggung bersikap santai pada pria itu.
“Untuk pertanyaanmu tadi, aku makan malam di kamar hari ini. Nanti biar aku yang menelepon pelayan untuk mengantarkan hidangan. Kamu tidak keberatan?”
“Tidak. Tentu saja tidak, Nigel. Tadinya aku ingin menawarkan diri untuk menemanimu jika makan malam di ruang makan. Seperti kebiasaan banyak orang yang tinggal serumah.”
“Aku paham,” kata Nigel lalu berjeda sebentar untuk berkata, “Kita makan malam di ruang makan saja, di hari pertama ini aku sebagai teman serumahmu. Housemate.”
Addison kehabisan kata-kata. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, benarkah orang yang sedang berbicara seperti itu padanya adalah Nigel Irey.
Selama ini Nigel merupakan sosok yang sulit didekati. Itu yang Addison temukan sejak punya urusan bisnis dengan Iking Group yang membuatnya berinteraksi langsung dengan sang CEO.
Dalam piramida kekuasaan kerajaan bisnis Iking Group, nama Nigel ada di puncaknya sebagai CEO utama. Namun secara operasional sejak enam tahun lalu, Miles yang selalu tampil dan melindungi si kakak.
Itu juga lah yang membuat Nigel dan Miles semakin seperti perangko, kemana-mana harus mesti kudu wajib berdua. Otomatis mereka dan Addison berkesempatan untuk berinteraksi.
“Aku tidak bisa menolak, Nigel. Pukul berapa jam makan malammu? Aku akan menyesuaikan.”
“Jam tujuh malam. Apa itu cocok denganmu?”
“Cocok. Biar aku yang mengurus makan malam kali ini. Sekalian sebagai jamuan selamat datang padamu, Nigel.”
“Oke. Tapi jangan terlalu repot, Adi. Jumlah kita hanya dua orang,” ucap Nigel berkelakar. Itu membuat Addison bengong seketika karena mendapati perlakuan akrab yang hangat.
***
“Kamar untuk Papa ada di lantai satu, Ma. Kata Om Adi, itu yang paling luas di antara semua ruangan yang ada di villa,” tutur Jarrett.
“Aku rasa itu sebesar rumah The Twins kalau dinding-dinding dalam rumah itu tidak ada,” tambah Jemma. Lalu mengeluh, “Sebulan itu lama, ya.”
“Sang Putri kan masih bisa bertemu dengan Papa setiap hari,” ucap Gail merespon keluhan Jemma. Pelukan hangat perempuan kecil itu dibalas satu kecupan kening oleh sang mama.
Jarrett tidak bersuara lagi karena memilih untuk mengamati interaksi Jemma dan Gail. Rasanya ada yang berbeda ketika sang mama menyebut kata papa.
Tak lama kemudian setelah saling salam untuk tidur, Duo J pulas dalam posisi tidur masing-masing. Tersisa Gail yang pikirannya masih nyala dan ada Nigel di dalamnya.
Mata Gail melihat ke arah jam dinding. Dia menimbang-nimbang apa malam ini harus minum obat lagi. Dia kesal sendiri dengan dirinya yang sekarang sering terpengaruh Nigel.
Sejak malam makan bersama dua keluarga, Gail tidak bisa tidur dengan cara yang alami. Apalagi setelah dia melanjutkan keingintahuannya terhadap isi kotak berwarna coklat yang Nigel beri.
Selain surat berisi permintaan maaf, Gail membaca surat yang ditulis Nigel menceritakan kenangan sebelum mereka kecelakaan. Sebelum bulan madu nan tragis.
Tulisan Nigel seperti menyentuh hati Gail untuk ikut merasakan apa yang sang suami rasa terkait momen-momen mereka. Saat-saat yang diurutkan secara kilas balik oleh Nigel.
Saat tertawa bersama di mobil menuju terminal seaplane untuk menjelajahi keindahan wisata kepulauan Memo Islands. Saat romantisme mereka menghabiskan malam pertama di resort paling mewah Iking Mainland.
Saat perjalanan manis yang dilakukan berdua dari pesta pernikahan menuju tempat untuk berbulan madu. Saat sakral keduanya mengucapkan janji untuk sah menjadi suami-istri secara resmi.
Saat dua hati mereka direstui untuk bersatu oleh keluarga, baik lewat tatap muka maupun panggilan video. Saat banyak pembicaraan dalam dan berat yang terjadi di antara mereka berdua terkait lamaran Nigel.
Saat pertemuan-pertemuan yang sengaja dan yang tidak menjadi penguat untuk Nigel membawa hubungan mereka dalam ikatan pernikahan. Serta banyak lagi saat yang jadi momen berharga.
Nigel juga mengisi kotak tersebut dengan barang-barang yang tampak sepele tapi sangat bernilai kenangan. Salah satunya yaitu bekas tiket pemesanan seaplane yang tertulis nama Genaya Edith dan Nigel Irey.
Tanggal demi tanggal yang Gail temukan pada barang-barang yang ada dalam kotak itu terhitung enam tahun lalu. Sudah lama tapi tampak terjaga baik. Nigel dan nilai sentimentilnya.
Yang paling sering masuk dalam pikiran Gail adalah kalimat Nigel yang menyatakan kerinduannya pada Gee. Baik sebagai Genaya Edith maupun Gail Brown.
Meski sulit yang mesti Nigel hadapi untuk bisa kembali bersama Gee, dia tidak akan menyerah. Dia tidak mau lagi pasrah karena cukup saja enam tahun waktunya terbuang sia-sia.
Hati Gail selalu menghangat ketika membaca bagian surat Nigel yang itu. Rasanya tidak bisa didefinisikan.
Saat ada orang yang begitu mengharapkannya padahal sudah tahu bagaimana buruk kondisinya. Tahu bahwa Gail kini hidup dalam keajaiban, tidak normal seperti Genaya dulu.
Gail merasa dirinya yang punya banyak keterbatasan ini tidak pantas untuk seorang Nigel Irey, lelaki yang punya kehidupan tidak sesederhana dirinya. Pria itu adalah tuan Irey yang kaya dan pimpinan di Iking Group.
Namun ada bagian dalam diri Gail yang tidak tega menyakiti Nigel, menambah berat kesedihan yang sang suami itu miliki selama mereka terpisah. Ditambah penerimaan hangat Duo J pada sosok ayah kandung mereka itu.
'Hentahlah,' gumam Gail, lalu beranjak mengambil obat tidur.
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021