
Sore hari beranjak senja ketika Gail berjalan pulang dari Dapur The Brown. Ada hal mendadak yang harus diselesaikan dulu sebelum bisa beranjak dari ruang kerjanya.
Sendiri menyusuri jalanan yang cukup ramai tidak membuat Gail canggung. Beda sekali jika dia bandingkan dengan dirinya beberapa tahun dulu, awal hidup di pulau Delan itu.
Banyak yang berubah, baik pribadinya juga lingkungan bermasyarakat. Satu senyum terbit saat otak Gail memutar beberapa kenangan sambil dia melangkahkan kaki.
Hingga tatapan kedua mata Gail bersirobok jauh dengan sepasang mata Nigel. Ada beberapa meter menjadi jarak mereka. Tapi senyum menawan dari sang suami sudah terpampang.
Nigel berada di tepi jalan, dekat tempat masuk ke halaman rumah The Brown. Lelaki itu duduk di kursi rodanya dan berdiam di sana.
Rasanya ingin menyusul ke dekat Gail, tapi lagi-lagi Nigel harus menahan diri. Mesti bersikap yang tidak kentara mengekspresikan perasaannya.
Padahal Nigel sudah menggebu sekali untuk segera melihat Gail dan memandangi wajah sang istri berlama-lama. Seandainya perjalanan cinta keduanya semulus dulu, pasti beda cerita.
“Selamat Sore, Nigel,” sapa Gail ketika tubuhnya sudah berada di jarak yang sopan untuk bersuara.
Nigel menjawab dengan khasnya yang memperlakukan Gail lembut. Kemudian keduanya bertukar beberapa kalimat salam dan kabar, lanjut masuk ke halaman.
Gail refleks meraih ganggang kursi roda, lalu mendorongnya. Tapi alat bantu Nigel itu tidak bergerak.
“Gee, berikan dulu tas dan kantong yang kamu bawa itu. Biar sama aku,” ucap Nigel sembari memutar arah badan ke belakang. Menoleh ke Gail.
“Yang bermasalah kursi rodanya, Nigel. Tidak jalan saat aku dorong,” tutur Gail bingung dan tak mengubris permintaan Nigel barusan.
“Makanya taruh dulu bawaanmu padaku, Gee,” pinta Nigel ditambah lengkungan bibirnya ditampilkan untuk meluluhkan Gail.
Mana mau Nigel membiarkan sang istri terbebani lebih banyak. Malah jika bisa dia gendong Gail agar segera beristirahat karena pasti lelah bekerja seharian ditambah berjalan kaki pula.
Mau tidak mau Gail menurut. Ekspresi puas dari Nigel pun terbit. Tatapan penuh cinta nan menawan pun tak surut dihadiahkan oleh si suami pada sang istri.
Namun, Gail tidak sempat memperhatikan perubahan raut wajah itu karena dia terburu-buru kembali ke posisi mendorong kursi roda. Bertepatan dengan itu refleks Nigel aktif.
Jari telunjuk Nigel secepat kilat menekan tombol mode untuk alat bantunya itu agar digerakkan secara manual. Keduanya beriringan tanpa bicara.
Sesampainya di pintu masuk rumah, Gail bisa mendengar dengan jelas suara Duo J berebut sesuatu. Tipikal ego kanak-kanak yang hanya ingin saling mengusili. Tak serius untuk ribut.
"Jarrett, Papaku sudah datang. Jadi segera mengalah denganku," ujar Jemma ketika matanya menangkap bayangan kursi roda Nigel muncul di ruang tamu.
"Jangan senang dulu, Jemma. Ada Mamaku di belakang Papa," sahut Jarret saat Gail beberapa langkah menapak lantai dalam rumah.
Duo J tersenyum penuh arti. Makna senyuman yang hanya mereka berdua pahami dan seolah bicara lewat telepati.
"Dimana Paman Miel, Duo J?" ucap Nigel setelah kursi rodanya dihentikan di ruang tamu.
"Di halaman belakang bersama Bibi Avery dan Nenek, Pap," jawab Jemma cepat.
"Itu barang bawaan Mama. Apa Papa menjemput Mama sampai ke Dapur?" sambung Jarrett setelah melihat apa yang ada di pangkuan Nigel duduk berkursi roda.
Nigel menjawab Jarrett dengan menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan. Gelengan yang menyedihkan baginya. Nasib dirinya yang masih dalam keterbatasan.
Pada saat yang lain bertukar suara, Gail menyimak sambil mendekat ke Duo J lalu mencium pipi masing-masing. Salam diantara mereka yang terpisahkan seharian beraktifitas.
Setelah itu Gail beranjak ke arah kamar mandi. Dia ingin menuntaskan dorongan buang air kecil yang muncul sejak perjalanan tadi.
“Mama, hati-hati!”
Duo J bergantian meneriaki kalimat itu saat tersadar kemana Gail melangkah terburu-buru. Perhatian mereka tadinya lebih memusat ke Nigel.
Bertepatan setelah teriakan Duo J, Gail berteriak juga. Teriak yang hanya ada kata A yang keluar dari mulutnya.
Secepat kilat Nigel bangkit dari kursi rodanya, untuk berlari ke Gail. Pikiran bahwa sesuatu yang buruk terjadi mengisi kepala lelaki itu.
Nigel langsung meraih tubuh Gail ketika sampai dan memeluknya erat. Sedangkan Duo J yang mengikuti sang papa berlari, serempak bengong dengan apa yang mereka lihat.
Posisi berdiri sang mama sepertinya baru akan memijak bagian lantai yang basah. Sepertinya teriak Gail barusan lebih ke akibat kaget daripada kesakitan.
“Gee.. Gee.. Gee,” lirih Nigel berulang kali dan badannya bergetar.
Lelaki itu masih tetap berdiri dan memeluk Gail lebih erat. Duo J jadi merasa ada yang salah dari pelukan kedua orang tua itu.
“El,” sentak Miles mengurai dekapan Nigel pada Gail.
Segera kedua telapak tangan Nigel digenggam oleh Miles. Si adik kembar itu berusaha menenangkan sang kakak. Berharap tidak lama keadaan begini berlanjut.
Miles menjadi was-was karena menemukan lagi Nigel yang tidak stabil kondisinya. Tangannya terus mengenggam sekaligus menahan pergerakan sang kakak jika lepas kendali.
Semua yang diusahakan bisa jadi sia-sia jika Nigel kambuh lagi di sini sekarang. Ditambah, sorot mata Gail yang ketakutan sempat tertangkap oleh Miles.
Ruang depan kamar mandi menjadi sempit setelah adanya kehadiran Miles yang disusul oleh Avery dan Ellie. Teriakan tadi terdengar sampai ke posisi mereka di halaman belakang.
Perhatian Ellie tertuju langsung kepada Gail yang mematung. Wanita itu berdiri kaku dan tatapan matanya terlihat kosong.
“Gail,” panggil Ellie lembut, berusaha menahan getaran suara agar tidak terdengar pertanda rasa cemasnya. “Anak Bunda, lihat kesini. Ada Bunda bersama Gail.”
“Bunda,” gerak bibir Gail tanpa suara. Raut wajah itu sedikit membaik dari syoknya.
“Iya, ini Bunda. Kita ke kamar, ya. Bunda antar,” ucap Ellie dengan menampilkan senyum khasnya.
Gail tidak menjawab tapi badannya menuruti Ellie yang menuntun untuk lekas melangkah. Dalam diri Gail, kamar adalah tempat aman. Dia perlu itu.
Setelah Gail dan Eliie menjauh, giliran Miles membawa Nigel. Ruang tengah jadi tujuannya.
Avery pun tidak tinggal diam. Istri tangguh milik Miles itu segera ke mengambilkan dua gelas air putih. Masing-masing untuk Nigel dan Gail.
Duo J memisahkan diri mengikuti salah satu orang tua mereka. Jemma kepada Nigel dan Gail untuk Jarrett.
Bukan suasana seperti sekarang yang mereka rencanakan tadi. Beda jauh dari apa yang Jemma dan Jarrett rembukkan berdua untuk menyambut kepulangan Gail dan Nigel.
Duo J memang ingin menciptakan momen untuk mendekatkan ikatan perasaan kedua orang tua mereka. Antusias sekali tadi, bahkan berebutan siapa yang berkesempatan lebih dulu.
Namun belum sempat salah satu dari Duo J beraksi, rencana otomatis gagal. Peristiwa tiba-tiba ini membawa perbedaan drastis.
Yang tadinya suka cita berubah ke sisi sebaliknya. Sangat berbeda saat ini. Sebab yang mendominasi yaitu kekhawatiran, ketakutan, dan perasaan buruk lain.
|Bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Desember2021
Mari beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, makasih loh dukungannya untuk keberlangsungan Duo J: Genius :)