
Sinar matahari pagi masuk ke celah-celah kamar saat Gail bangun tidur. Efek obat membuatnya bangun lebih lama jika tidur secara normal.
Ketika Gail akan berjalan keluar kamar tidur, sebuah kotak berwarna coklat menarik pandangan matanya. Itu yang Nigel berikan padanya semalam.
Degup jantung Gail menjadi tidak setenang tadi karena teringat sang suami. Dua pagi belakangan ini, selalu ada Nigel yang seolah menyambutnya saat melewati ruang makan untuk sampai di kamar mandi.
Tanpa Gail sadari, dirinya mendekati cermin dan memperbaiki penampilan bangun tidurnya agar cukup enak dilihat. Setelah cukup, barulah wanita itu melanjutkan langkah ke luar kamar.
Tidak seperti perkiraan Gail. Ruang makan kosong. Suasana rumah juga sepi. Sepertinya semua orang sudah berada di aktivitas masing-masing.
Jemma dan Jarret di rumah The Twins serta Landon dan Ellie di dapur The Brown. Gail tahu itu karena selalu diinformasikan tentang agenda setiap orang pada malam sebelum waktunya tidur.
Tujuannya itu seperti pagi ini, Gail tidak jadi kebingungan karena ditinggal sendiri di rumah. Lagi pula ini bukan pertama kali baginya bangun setelah Duo J dan The Brown mulai beraktifitas.
Kembali ke kamar setelah membersihkan badan, Gail kembali dibuat penasaran dengan kotak dari Nigel. Sang suami seperti punya banyak hal untuk dia katakan tapi tidak dilakukannya.
Gail segera membuka pengait tutup sembari menimbang-nimbang apa isi dari kotak yang warna coklatnya itu dia suka. Degupan jantung wanita itu jadi bertalu.
Ada kertas-kertas yang mengisi kotak ditambah dengan album foto dan entah barang-barang lainnya yang tidak jadi perhatian Gail. Sebab matanya lebih terfokus pada amplop.
Yang paling atas jadi pilihan pertama Gail untuk dia buka. Tidak ada apa-apa yang tertulis di bagian luar amplop itu. Lalu kertas surat di dalamnya jadi perhatian.
Ada tulisan tangan yang mengisi dua lembar kertas. Gail langsung memeriksa bagian akhir surat. Format tempat yang biasanya sebagai pemberitahuan siapa yang menulis surat.
Di sana tertulis: Nig- Nigel Irey. Gail ingat saat sang suami berkata bahwa dirinya suka saat dipanggil Nig, sebab itu panggilan sayang dari wanita tercintanya.
Gail kembali ke halaman awal surat. Dia pun membaca tulisan tangan Nigel yang rapi dan enak dilihat itu. Namun kertasnya tampak agak bergelombang, seperti terkena tetes air.
Baris demi baris yang Gail baca seperti ada Nigel yang berkata langsung padanya. Bagaikan sang suami ada di dekatnya.
Gail kembali mendapati permintaan maaf Nigel, yang berulang kali lewat deretan tulisan itu. Dalam dua lembar penuh berisi kalimat-kalimat yang membuat air mata Gail menetes.
Perempuan itu tidak paham kenapa air matanya masih mengalir meski sudah selesai membaca surat pertama Nigel itu. Lalu Gail mengembalikan ke dalam kotak dan menyimpan.
Suasana hati menjadi sendu dan Gail tidak suka dirinya merasakan itu di pagi hari. Dia berencana untuk mengulang buka kotak Nigel itu nanti saja.
Gail pun berkemas-kemas untuk berangkat ke Dapur The Brown. Dia memang tidak punya jam masuk kerja tapi datang siang juga bukan hal yang ingin dia lakukan.
Setelah semua kunci pintu dan jendela diulang cek, Gail berjalan kaki meninggalkan rumah The Brown. Beberapa meter di hadapannya adalah rumah The Twins, yang beberapa hari lalu masih milik tetangga.
Gail melangkah menuju pintu rumah itu kemudian mengetuknya. Dia ingin menemui Duo J sebentar untuk berpamitan pergi. Seperti yang dilakukannya kemarin.
Beberapa menit berlalu, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di sana walau Gail mengetuk berulang kali. Seharusnya ada Nigel atau Duo J yang langsung membukakannya pintu.
Tapi ternyata tidak ada siapa-siapa. Itu membuat suasana hati Gail berulang terganggu. Sendu lagi, seperti tadi saat tidak ada Nigel di meja makan dan tidak tahu air mata apa terkait surat Nigel.
Gail memutuskan untuk lanjut saja ke Dapur The Brown. Dia bisa mencari tahu jawaban keberadaan si tuan rumah itu dan kedua anaknya kepada Landon atau Ellie.
Apapun yang terjadi pada Duo J selalu dalam pengawasan kedua orang tua angkatnya itu. Gail beranjak dalam langkah cepat dan berulang kali mengatur nafas untuk tetap tenang.
“Ayah,” panggil Gail ketika melihat Landon keluar dari ruangan kantor. Dia berlari agar lebih cepat bisa bicara dalam jarak yang sopan dengan sang ayah.
“Gail, kenapa wajahmu khawatir begitu?” ucap lembut Landon. Dia mengamati raut muka sang anak angkat yang tidak biasanya.
“Duo J dan Nigel tidak ada di rumah The Twins, Ayah. Apa ada sesuatu?”
“Rumah The Twins?”
“Mereka ada-ada saja.”
“Mereka tidak ada di sana, Ayah. Suasana rumah itu juga sepi. Apa ayah tahu?”
Landon mengusap sayang pucuk kepala Gail. Tidak mungkin dirinya sebagai kepala keluarga abai dengan kabar seluruh anggota keluarganya.
“Duo J sedang di villa kantor Addison, Nak. Tidak perlu cemas lagi, ya.”
“Syukurlah. Yang aku tahu tadi malam, rencana mereka main seharian di rumah The Twins. Aku sudah tenang, terima kasih Ayah.”
“Bagus. Ketenangan dirimu itu penting, Nak.”
“Berkat Ayah, kan,” ucap Gail terkekeh. Suasana hatinya kembali membaik, mulai cerah.
“Ayahnya siapa?” kata Landon berkelakar.
“Ayahnya Gail,” sambut sang anak lalu mereka berdua tertawa. Selera humor yang sefrekuensi.
“Sudah dulu. Ayah harus kembali masak, Gail,” ujar Landon sambil menyeka ujung matanya yang sedikit berair karena tertawa.
“Silakan Ayahnya Gail,” ucap si lawan bicara. Tapi sebelum berpisah, Gail berkata, “Tadi kenapa Ayah masuk ruangan kantor?”
“Ayah terima telepon dari Nigel.”
“Ada apa, Ayah?”
“Nigel beri kabar, dia sudah naik kapal setelah mengantar Duo J ke villa.”
“Nigel pergi?”
“Iya, pergi ke Hicity.”
Seketika suasana hati Gail yang hampir cerah, berubah buruk. Perasaannya terusik lagi karena Nigel.
‘Kenapa berulang begini,’ tanya Gail dalam hati.
***
Hari ke sekian yang menyiksa bagi Nigel. Urusan yang diperkirakan bisa selesai dalam sehari ternyata tidak sesuai rencananya.
Keputusan dadakan yang Nigel buat memang sudah mendapat persetujuan semua keluarga Irey. Tapi itu tidak membuatnya bisa diselesaikan seperti membalikkan telapak tangan.
Apalagi pengulangan pembagian kuasa terhadap perusahaan yang mana dan lini bisnis apa untuk bisa Nigel kendalikan dari pulau Delan. Dia tidak akan bekerja di kantor seperti yang sudah-sudah.
Sehingga butuh waktu yang tidak sebentar untuk Nigel, Miles, Avery dan para petinggi Iking Group mendapat komposisi baru yang pas. Penyesuaian terhadap kehadiran CEO utama lewat virtual.
Jika Nigel sangat dibutuhkan untuk hadir langsung, itu pun harus diatur ketat. Agenda hanya seharian, dia ingin pergi pagi dan pulang sore, menolak keras untuk lama meninggalkan pulau Delan.
Maka secara publik, yang tampil sebagai pimpinan Iking Group adalah Miles Irey. Untuk otak perputaran dan kemajuan grup perusahaan tetaplah Nigel Irey, di belakangnya.
“El, ini akan sangat sulit.”
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021