
"Gantian, Mam," ujar Jemma tersenyum kecil kepada Gail sambil melirik ke arah Jarrett dan Nigel.
Saudara kembar Jemma itu sedang diangkat dengan hati-hati untuk digendong oleh Nigel. Sebab Jarrett tertidur pulas dalam pelukan si genius manis saat menunggu waktu pulang ke rumah The Twins.
Gail tersenyum manis menanggapi Jemma. Dia paham, biasanya Nigel akan menggendong tubuh kecil putrinya itu tapi untuk sekarang posisinya itu digantikan oleh Jarrett.
"Ayo, Sang Putri. Kita pamit duluan kepada Nenek dan Kakek," ajak Gail kemudian menggandeng tangan Jemma ke arah pasangan The Brown yang berada di ruang tamu.
"Bantal yang aku pakai berdua dengan Jarrett tadi belum aku kembalikan ke tempatnya," ujar Jemma tiba-tiba setelah ala khasnya menyalami Ellie dan Landon bergantian.
Jiwa mandiri Jemma yang dididik oleh Gail merasa salah jika dia tidak mengerjakan nilai yang ditanamkan kepadanya. Setiap menggunakan barang, taruh sendiri ke tempat seharusnya.
"Jemma mau membereskannya sendiri?" sahut Landon. Matanya menangkap sosok Nigel yang menggendong Jarrett tiba di ruang tamu.
Anggukan Jemma menjadi jawabannya. Tanpa membuang waktu, dia berlari cepat ke ruang lepas lalu ke kamar tidur kemudian kembali berkumpul di ruang tamu.
"Sudah selesai, Cucu Manis Nenek?" kata Ellie ketika menyambut kedatangan Jemma.
"Selesai, Nek. Sudah bisa pulang supaya Jarrett bisa ditidurkan di kasur," jelas Jemma dengan jenaka.
Semua orang kecuali Jarrett saling mengucapkan selamat malam. Duo J dan kedua orang tua keluar dari rumah The Brown menuju rumah The Twins di seberang jalan.
Tidak ada yang bersuara sepanjang perjalanan karena suara Duo J lah yang biasanya saling mengusili itu mendominasi. Jemma memandang sendu Jarrett yang tidur digendong.
Jika yang seperti itu adalah dirinya, Jemma menganggap itu wajar. Dia memang sering bermanja-manja pada Nigel karena terasa menyenangkan baginya.
Tapi jika Jarrett yang seperti itu, Jemma merasa sedih. Bukan karena yang istilahnya cemburu antar saudara, tapi si genius manis itu peka dengan suasana hati adik kembarnya.
"Mam, apa aku sudah boleh tahu ada apa dengan Jarrett?" ucap Jemma ketika keduanya berada di kamar mandi untuk menyikat gigi sebelum tidur.
"Boleh, tapi Papa bilang dia yang akan menceritakannya pada Sang Putri," terang Gail sebelum berkumur-kumur untuk menghilangkan sisa odol di mulutnya.
"Aku akan tanya ke Papa," kata Jemma di sela-sela gerakan menyikat gigi. Dia tidak fokus sehingga kecepatannya tertinggal oleh Gail yang baru selesai.
Senyuman manis Gail merespon kalimat Jemma yang terdengar samar tapi jelas dipahaminya. Sebelah tangan sang mama mengusap lembut puncak kepala putrinya.
Pantulan sosok dua orang perempuan beda generasi itu tampak di cermin wastafel yang besar. Benda mahal yang tidak ditemui di kamar mandi sederhana di rumah The Brown.
Gail memandangi Jemma yang tingginya dibantu bangku pijakan dalam pantulan cermin. Setelah itu pikiran sang mama tidak lagi di tempat, sebab berkelana kian kemari.
"Pap," seru Jemma tertahan menyambut Nigel yang bergabung ke area wastafel di kamar mandi yang juga besar itu.
Pas sekali dengan Jemma yang selesai dengan aktifitas menggosok gigi saat Nigel datang. Ingin rasanya dia segera membentangkan lengan untuk minta digendong sang papa tapi ditahannya.
Jemma menyadari Gail masih melamun. Tampak olehnya lewat pantulan cermin.
Tadi Jarrett bertingkah tidak biasa, lalu kini Gail juga. Ada apa dengan dua orang kesayangannya itu, batin Jemma bertanya-tanya.
"Sang Putri tidak rindu Papa gendong, ya?" ucap Nigel dengan nada pura-pura merajuk, seperti yang Jemma lakukan ketika sedang dalam mode bertingkah drama.
"Tentu saja aku rindu, Pap," bisik Jemma namun volume suaranya cukup keras terdengar. Lalu menggerakkan bola matanya sebagai kode untuk melihat ke Gail dan lanjut berbisik, "Pap, Mama melamun."
Mendengar itu, Nigel memperhatikan Gail lebih cermat. Pantas saja tadi Jemma saja yang sadar dengan langkah kakinya dan tidak ada respon apapun dari istrinya.
"Gee. Gee," panggil lembut Nigel mendekatkan bibirnya ke telinga Gail. Bermaksud bercanda.
Jemma sebagai penonton membekap sendiri mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tawa. Tapi detik berikutnya malah didekap erat oleh Gail dan bisa terasa tubuh bergetar sang mama.
"Maaf, Gee. Aku minta maaf," kata Nigel cemas dengan respon Gail yang diluar dugaan.
"Mam. Tenang, Mam," ucap Jemma takut tapi diberanikannya diri untuk menenangkan Gail.
"Maafkan Mama sudah membuat Sang Putri takut," ucap Gail memohon.
Gail tahu diri, sebagai poros kehidupan Jemma sehingga tak boleh ada hal buruk terjadi pada dirinya. Ada potensi trauma bagi sang putri jika mama tidak sehat.
Jemma mengangguk lalu menoleh ke Nigel. Raut wajahnya berganti jadi memelas sebelum berkata, "Pap, jangan lakukan lagi yang seperti tadi pada Mama, ya?"
"Pasti. Maafkan juga Papa, Je," mohon Nigel pula. Dalam hati dia merutuki diri sendiri yang tak becus.
Anggukan Jemma menjadi jawab disertai dengan kalimat, "Papa peluk Mama dulu sebelum aku minta digendong."
"Gee," panggil Nigel lemah sambari merentangkan kedua lengan. Seakan memohon juga untuk Gail memberinya peluk.
Mau tak mau Gail melangkah ke hadapan Nigel dan mengabulkan keinginan dua kesayangan itu. Lagipula beberapa menit lagi waktunya berbaring untuk tidur.
"Makasih, Gee. Terima kasih, Istriku," kata Nigel dalam pelukan itu.
"Iya, Nig. Sudah peluknya. Dengar tadi, Sang Putri minta kamu gendong," ucap Gail terkekeh agar mencairkan suasana. Dia rasa hari ini adalah hari yang berat bagi sang suami.
"Baiklah. Aku mana pernah puas memelukmu, Gee," kekeh Nigel senang mendapati perlakuan Gail.
"Nigel," seru Gail melotot. Galaknya terpancing karena goda sang suami itu sebelum mengurai belitan lengan.
Makin renyah tawa Nigel ditambah tampang tanpa rasa bersalah dan kedipan sebelah mata ke sang istri. Bercanda yang seperti ini dia harapkan tadi tapi dia terlupa akan ajaibnya Gail.
Jemma tertawa karena menular dari Nigel. Setelah itu, senyum manis mengganti manyun di bibir Gail. Penutupan hari yang cukup baik.
"Ayo kita antar Mama buat tidur, Je," ajak Nigel yang langsung diiyakan si genius manis.
Jemma penasaran bagaimana rasanya tidur berada di antara kedua orang tua. Malam kemarin dia pulas sekali tidur jadi tidak merasakan ketika sudah diapit oleh Gail dan Nigel.
Yang Jemma tahu dari film, momen kebersamaan itu tak bisa tergantikan oleh apapun. Bahagia yang berbeda level.
Nigel membawa tubuh kecil Jemma dalam gendongannya ala koala. Sebelah tangannya yang bisa bebas meraih tangan kanan Gail.
Dengan penuh perasaan, Nigel mengecup telapak dan punggung tangan Gail berganti-ganti. Tatapan sendu papa Duo J seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa.
"Sudah, Nig," ucap tanpa suara dari gerakan bibir Gail. Dia akan salah tingkah sekali jika Jemma memperhatikan hal manis yang Nigel lakukan terhadapnya itu.
Nigel menurut. Mereka pun mulai melangkah meninggalkan area wastafel dan bergabung dengan Jarrett yang semakin tampak lelap.
Saatnya Gail berbaring juga, siap untuk tidur. Jemma pun merebahkan tubuhnya ikut sang mama dan dilanjutkan Nigel menempati porsinya di tepi.
Lewat teknologi remot, lampu kamar yang terang diganti redup dengan cepat. Kondisi ruangan yang Nigel rancang untuk mendukung kenyamanan tidur berhasil.
Tak perlu waktu lama untuk Gail tertidur. Wajah damainya tampak sama dengan Jarrett.
"Pap," bisik Jemma hati-hati.
Nigel yang masih terjaga merespon panggilan Jemma yang dia dengar ada nada menahan tangis. Dia mengusap sayang kepala Jemma.
"Pap, semuanya baik-baik saja, kan?"
Nigel menjawab dengan senyum manis, semuanya baik-baik saja. Cukup itu yang Jemma tahu.
Jikalau pun sebenarnya tidak, Nigel akan berjuang sangat keras memperbaiki. Bahkan rela jadi pemikul lebih banyak beban, mengorbankan diri sebagai pengganti.
|Diw @diamonds.in.words -Febm22
panutan beud dah papanya Duo J hohohooo