DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Cepat



Cepatnya Jarrett berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, tak bisa dikalahkan. Dia menjelajahi semua tempat di dalam rumah The Twins dengan tatapan kagum.


Jemma tertinggal langkah dari saudaranya itu. Dia lebih memilih bermanja-manja di gendongan ala koala Nigel untuk memeriksa setiap ruang dalam rumah dan ruang bawah tanah.


Hari ini adalah hari pertama mendiami Rumah The Twins, sekaligus hari perayaan untuk itu. Nigel memastikan lagi semuanya sudah siap untuk menyambut kehadiran orang-orang kesayangannya nanti.


Mulai dari halaman depan yang ditata apik dengan kesederhanaan khas pulau Delan, hingga halaman belakang yang dibuat luar biasa dengan desain modern yang multifungsi nan canggih sesuai preferensi Nigel.


Duo J tidak punya kata lain kecuali pujian ketika melihat hasil akhir dari renovasi Nigel itu. Meski akhir-akhir ini keduanya sering menemani sang papa bolak-balik mengecek orang-orang pekerja menyelesaikan rancangannya.


Memang tidak terkejut, tapi sangat terpukau. Begitu yang Duo J rasa untuk apa yang dilihat sejak pagi ini. Kualitas Nigel memang berbeda dengan kebanyakan orang.


"Pap, Mama masih lama? Padahal hampir jam makan siang," ucap Jemma sendu. Dia sudah tidak sabar melihat reaksi Gail terhadap rumah baru ini.


"Kita tunggu dua puluh menit lagi, Sang Putri. Papa akan jemput Mama kalau masih belum tiba juga," kata Nigel menenangkan.


"Jemput pakai mobil, Pa?" ujar Jarrett ingin tahu lebih.


"Jalan kaki, Ja," kekeh Nigel.


"Seingatku mobil Papa memang tidak ada di sini, Jarrett," tutur Jemma lalu berjeda sebentar dan kembali berucap, "Apa mobilnya Papa titip simpan di villa om Adi?"


Nigel tertawa terlebih dulu sebelum berkata lebih lanjut. Sudah terbayang bagaimana reaksi terkagum-kagum Duo J setelah mendengar penjelasannya sebentar lagi.


"Ayo ke halaman depan dulu, Kids. Papa akan jelaskan keberadaan mobil itu di rumah ini."


Benar saja, Duo J berdecak memuji. Nigel merancang ruangan sebagai tempat penyimpaan mobil dengan teknologi penyamaran dinding rumah.


Seolah tidak ada garasi di rumah The Twins itu. Rupa dinding dibuat sama, tak ada beda bagian yang jadi pintu garasi dengan bagian yang memang tembok penyekat.


Jika tidak tahu bahwa ada garasi tersembunyi, maka rumah itu terlihat seperti pada umumnya. Bentuk depannya mirip dengan rumah The Brown.


Peletakan jendela-jendela pada dinding juga sama. Bahkan ada di bagian pintu garasi.


Ketika mobil keluar atau masuk, rumah The Twins akan terlihat ompong dindingnya. Nigel memakaikan teknologi pintar untuk buka dan tutup sendiri yang diaplikasikan untuk garasi.


"Mama Duo J tidak suka dengan sesuatu yang terlalu mencolok," ucap Nigel mengakhiri pertunjukkannya terhadap letak mobil yang tersembunyi.


"Pap, aku rasa ini termasuk mencolok," ujar Jemma mematahkan kalimat Nigel tapi matanya masih menatap takjub yang Nigel perbuat terhadap perkara mobil dan garasi itu.


"Saat dinding bagian garasi dibuka, itu bergerak ke bawah. Bisa aku pahami berpindah ke sela ruang bawah tanah. Maka orang-orang yang kebetulan sedang ada di jalan depan rumah ini akan tercengang. Dinding rumah menghilang," terang Jarrett sambil geleng-geleng kepala.


"Ya, sudah. Kalau Mama Duo J bilang tidak suka nanti, Papa akan renovasi lagi. Gampang," ucap Nigel ringan.


"Tentu," sahut Duo J berbarengan. Paham saja tipikal sang papa.


Nigel Irey yang selalu bisa melakukan apa pun yang pernah keluar dari mulutnya adalah papa Duo J. Pria yang begitu tergila-gila dengan sang mama itu tidak akan keberatan melaukan apa saja demi wanita kesayangan tersebut.


***


Sore adalah waktunya mulai berkumpul di rumah The Twins. Pengaturan makan malam bersama sudah mulai terlihat di halaman belakang.


Duo J sedang mandi dan bersiap-siap untuk menyambut kedatangan anggota keluarga Irey dari Hicyti.


Yang berbeda kali ini adalah masing-masing punya kamar dengan tempat mandi tersendiri. Tidak ada drama berebut lebih dulu seperti yang keduanya lakukan ketika di rumah The Brown.


"Jarrett, sudah selesai belum?" seru Jemma sembari mengetuk pintu kamar saudaranya.


"Sudah. Ayo menemani Mama," ucap Jarrett sambil keluar kamarnya.


Duo J melangkah menuju kamar paling depan. Ruangan yang lebih besarnya dibandingkan dengan kamar Duo J.


Nigel memperuntukkan kamar tidur untuk Gail dan dirinya dengan kemungkinan tidur berempat bersama Duo J.


Sekali lagi, kondisi ajaib Gail perlu waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan hal-hal baru. Termasuk perihal yang seharusnya, suami dan istri sekamar berdua.


"Masuk, Kids. Pintunya tidak dikunci," sahut Nigel mewakili Gail yang dipanggil tapi yang bersangkutan masih di toilet.


"Pap, apa Mama baik-baik saja?" kata Jemma ketika berlari ke arah Nigel setelah melewati bukaan pintu kamar kedua orang tuanya.


Jarrett yang berada di belakang saudarinya mengedarkan pandangan ke sekeliling suasana kamar tidur tersebut. Rapi, bersih, dan terlihat tak ada masalah.


"Baik, Je. Mama sedang di toilet," sambut Nigel lalu membawa tubuh kecil putrinya ke pangkuan. Ikut duduk di kursi kerjanya.


Sedangkat Jarrett melangkah ke sisi kamar yang terdapat rak buku yang dilengkapi sofa baca. Tentu saja itu rancangan Nigel dengan segala pertimbangan dan keinginan.


"Jadi jendela ini kalau dibuka punya pemandangan ke jendela kamar Mama di rumah The Brown, Pap. Wah, arah area kerja Papa tidak menghadap ke dinding lagi."


Nigel tidak balas dengan kata-kata untuk menanggapi Jemma. Dia tersenyum serta tersipu dalam mengusap sayang kepala si genius manis itu.


"Nig, bisa tolong aku," seru Gail dari arah kamar mandi yang didesain menyatu dengan toilet.


"Bisa. Tolong apa, Gee?" jawab Nigel cepat sambil membawa Jemma dalam gendongannya ke dekat pintu ruangan Gail berada. Langkahnya pun tak santai.


Gail menjulurkan kepala dari sela pintu ketika tahu Nigel semakin dekat ke posisinya. Setelah mama muda itu bermenit-menit berperang antara rasa segan, malu tapi darurat.


"Jemma," ujar Gail senang ketika menyadari putrinya juga ada.


"Mam, minta tolong apa?" kata Jemma antusias. Sebelah tangannya bergelayut di leher Nigel.


"Begini-" ucap Gail menggantung. Dia masih ragu tapi mau tak mau lanjut berkata, "Bisakah tolong ambilkan pembalutku di rumah The Brown?"


"Pembalut?" tanya Jemma dan Nigel bersamaan.


Muka Gail memerah. Dia tidak mengira jadwal menstruasinya datang secepat ini, harusnya masih dua atau tiga hari lagi.


"Maaf, Nig. Aku tidak bisa mengambilnya sendiri. Keluar dari sini pun aku-"


"Gee, aku akan ambilkan. Jelaskan dulu dimana kamu menyimpannya, ya?" sahut Nigel lembut. Dia memotong kalimat Gail, sebab tak ada yang salah dan perlu dimaafkan dari istrinya minta.


Kalaupun ada, dirinya lah yang salah. Nigel kira semua keperluan Gail sudah lengkap dipersiapkannya.


Ternyata hal terpenting bagi kewanitaan istrinya tidak ada. Nigel merutuki ketidaksempurnaannya yang Gail terima. Tapi kini darurat, dia harus pergi cepat-cepat.


|Diw @diamonds.in.words - Feb22


Kan emang N, nobody's perfect.. ceunah hahahaa