DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Baik



“Mama, apa kita tidak jadi bicara?” ucap Jarrett memeluk sebelah lengan Gail. Ada nada penekanan pada kata bicara. Mereka, bertiga dengan Jemma sudah berbaring di kasur untuk tidur malam.


“Jemma mengizinkan malam ini tidak ada cerita pengantar tidur. Mama dan Jarrett akan jadi suara pengantar tidur,” kata Jemma yang pengertian merespon kalimat saudara kembarnya. Dia mencium pipi Gail sebelah.


“Baiklah. Jemma tutup mata untuk tidur dan Jarrett dengarkan mama,” kata Gail lembut. Kedua anak berumur lima tahun itu menurut.


Gail menjelaskan apa yang membuatnya marah pada Jarret pada sore tadi. Dia kecewa pada sang putra yang acuh tak acuh pada orang yang sedang kesusahan. Orang yang dimaksud adalah Nigel.


Juga, Gail merasa kecewa pada dirinya sendiri karena merasa tidak berhasil mendidik kepribadian Jarrett. Di depan matanya, sang putra hanya melihat santai tanpa ada keinginan membantu Nigel.


Sepaham Gail yang kenal dengan kemampuan Jarrett memahami keadaan, sang putra pasti tahu bahwa kursi roda yang berada di dekat pintu masuk jadi tujuan Nigel tapi kenapa dibiarkan saja, tidak ditolong.


“Maaf, Mama. Maafkan aku, “ ucap Jarrett tulus dan sungguh-sungguh. Dia meminta maaf karena telah membuat sang mama kecewa dan merasa bersalah karena dirinya.


Sedangkan tentang kesalahpahaman terhadap yang dirinya lakukan pada Nigel tidak diungkapkan oleh Jarrett. Tidak pernah atau nanti saja jika keadaan memungkinkan, begitu menurut pria kecil itu.


Jarrett selalu diingatkan Gail tentang nilai-nilai yang baik untuk dilakukan dalam keseharian. Sang mama mencurahkan sayangnya dengan cara yang cocok dengan penerimaan  Jarrett.


Angka jam dinding kamar tidur mereka menunjukkan dalam beberapa menit Gail harus masuk ke fase tidur. Jarrett yang paham itu meminta maaf sekali lagi dan berjanji akan jadi lebih baik.


Sesi berbicara pun berakhir dengan Gail mengucapkan terima kasih pada Jarrett dan berbisik juga pada Jemma yang sudah pulas. Ucapan selamat malam menutup hari.


Jarrett belum sepenuhnya ingin dan bisa tidur. Otak geniusnya masih menyala. Pikirannya terisi dengan rancangan aplikasi perangkat lunak yang dipuji Nigel tadi sore.


Ternyata rasanya sebahagia itu mendapatkan apresiasi dari seorang sosok ayah, Jarrett mengarahkan matanya ke Jemma yang lelap. Dia jadi sangat paham alasan saudarinya terlihat lebih bahagia.


Awalnya Jarrett hanya mengikuti Jemma, membantu dengan sungguh-sungguh karena Jemma, dan apapun yang berkaitan dengan Nigel, selalu ada Jemma dalam alasannya tersendiri.


Jarrett sudah merasa cukup dengan kasih sayang Gail dan The Brown. Sejak diberitahu bahwa Nigel adalah sang papa, dia tahu itu sangat penting bagi Jemma yang tidak berhenti berdoa untuk punya sosok ayah.


Si kakak cengeng pandai sekali menyembunyikan betapa besar keinginannya itu di hadapan Gail dan The Brown. Hanya jika sedang berdua dengan Jarrett, Jemma bisa menangisi impian keluarga sempurna itu.


Sekarang Jarrett paham dengan baik perasaan Jemma. Saudarinya lebih dulu tahu bahwa punya papa di dekat mereka akan menambah kebahagiaan. Apalagi Nigel bukan orang yang buruk untuk sang mama.


Jarrett kini bertekad untuk lebih mengerahkan diri dalam mewujudkan impian keluarga sempurna yang selalu Jemma ulang-ulang padanya. Papa sudah ada untuk Duo J tapi masih belum jadi suami bagi mama.


Belum seperti The Brown, ada cinta dan kasih sayang terasa di antara pasangan yang menjadi kakek dan nenek untuk dirinya dan Jemma. Mereka berdua seperti panutan hubungan orang dewasa bagi Jarret.


Sedangkan dari kedua orang tuanya, cuma Nigel yang dia lihat menatap penuh cinta pada sang mama. Jarrett menjadi tidak sabar untuk merealisasikan yang dia perlihatkan pada sang papa tadi sore.


Tapi hal itu memerlukan banyak uang untuk Jarrett bisa mendapatkan alat-alatnya. Sebab rancangan yang tadinya ada di ponsel tidak akan semudah itu diwujudkan dalam bentuk nyata.


Prototype aplikasi berasal dari hasil Jarrett membaca banyak buku yang ada di perpustakaan vila kantor Addison ditambah mempelajari artikel jurnal ilmiah via internet. Otak geniusnya tidak main-main.


Istilahnya saja pergi bermain di sana. Sepertinya Jarrett harus cari cara dan strategi untuk bisa menghasilkan uang seperti sebelumnya. Pria kecil itu pun menutup mata untuk tidur, besok perlu energi banyak.


***


Lagi, pagi ini Gail membulatkan matanya seperti sebelumnya. Dia melihat Nigel tersenyum kepadanya seperti yang sudah-sudah dan sedang berada di ruang makan rumah The Brown.


Gail menenangkan diri sambil membalas sopan senyuman Nigel kemudian berlalu ke kamar mandi. Ayah angkatnya sangat pemurah pada pria itu, entah makan ke berapa kalinya dia di sana.


Nigel senang sudah bertemu Gail meski hanya untuk beberapa detik, setelah menunggu sejam lebih. Kemudian dia menggerakkan tombol kursi roda untuk kembali ke rumah seberang.


Duo J menyebut rumah itu dengan nama rumah The Twins. Mereka baru saja memberi kata itu untuk rumah yang ditempati Nigel karena melihat gambar perencanaan renovasi bangunan di atas meja.


Untuk gambar depan rumah terlihat mirip dengan depan rumah The Brown, seperti kembar dan itu jadi alasan Duo J. Namun untuk bagian lainnya, tidak sama sebab ada selera Nigel, si tuan keluarga Irey dan CEO banyak perusahaan di lingkup Iking Group.


Setelah itu, Duo J disibukkan dengan banyak kotak paket berbagai ukuran yang memenuhi ruang tamu rumah The Twins. Mereka anteng saja ketika Nigel pamit meninggalkan mereka ke rumah The Brown.


Jarrett mengenali isi dari setiap kotak yang Nigel tunjukkan untuknya. Satu per satu disatukannya dan paham apa makna dari yang diberikan sang papa.


Sedangkan Jemma menatap Jarrett bingung. Dia tidak mengerti, alat-alat yang tidak dia tahu namanya apa itu membuat saudaranya bahagia sekali.


Yang Jemma tahu Jarrett lebih senang menolak jika diberikan barang-barang, apalagi sebanyak ini. Dia harus tahu ada apa dengan keanehan adik sederhana itu tapi tertangguhkan.


“Duo J,” panggil Nigel dari arah pintu masuk.


Jarrett tersadar tumpukan kardus dan bungkusan paket dari kotak-kotak yang dibukanya menghalangi pergerakan pintu. Nigel tertahan untuk masuk rumah.


“Maaf, Pa. Tolong tunggu sebentar. Aku merapikan barang-barang di balik pintu dulu,” sahut Jarrett cepat. Dia tidak menyangka seceroboh itu dalam memisahkan isi dengan kotak paket.


“Pap, tenang saja. Jemma bantu Jarrett untuk lebih cepat,” timpal Jemma. Dia ingin mengusili Jarret tapi tidak tega dengan Nigel yang menunggu di luar.


“Iya, papa tunggu. Tidak perlu buru-buru. Hati-hati saja memindahkan barang –barang itu,” tanggap Nigel sambil tersenyum. Kedua anaknya itu manis sekali bersikap.


Nigel kehabisan kata untuk kehidupan yang dijalaninya sekarang. Gail berhasil mendidik anak-anak dengan baik tanpa kehadiran dirinya.


Dari penilaiannya, Gee sudah menjadi mama yang luar biasa. Nigel jadi ragu apa dirinya cukup baik untuk mereka semua.


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021



Silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Juga, bagikan. Makasih ya :))**