
The Brown dan Duo J paham dengan reaksi yang tampak dari sikap itu. Nigel adalah orang asing bagi Gail.
Mode waspada sedang ditunjukkan Gail jika sudah memanggil Landon dengan cara seperti barusan. Sepertinya tidak ada memori atau ingatan dengan wajah si suami.
Mereka tidak ingin kemungkinan yang ini terjadi tapi buktinya sudah tampak. Sang istri tidak mengenali sang suami.
Raut wajah kecewa Duo J serempak disembunyikan dalam mode pura-pura tidur. Sesuai kesepakatan dadakan.
Dengan tanggap, Landon segera menggeser kursi roda Nigel agar bisa mengambil tempat di sana. Di belakangnya, Ellie mengikut agar bisa membuat Gail lebih cepat rasa kembali aman.
Miles pun menggenggam tangan sang kakak sambil mendorong kursi roda ke arah Duo J. Seperti pembicaraan beberapa menit sebelum Gail sadarkan diri.
Nigel mesti siap dengan kemungkinan terburuk dan segera menenangkan diri bersama Miles. Dia juga harus bersedia berjarak dengan Gail.
Dipandang asing oleh orang yang sangat dicintai dan dirindukan dalam waktu sangat lama memang menyakitkan.
Miles tidak bisa membayangkan jika saat mereka tiba tadi Nigel langsung diberikan tatapan asing lalu penolakan oleh Genaya. Sepertinya memang begini jalan untuk Nigel.
Untung saja bagian emosional sang kakak sudah terlewati dan luapan penyesalan sudah tersampaikan pada Genaya meski tidak ada mendapati respon balik.
Tatapan rindu mendominasi dari Nigel yang tak mengalihkan matanya dari wajah Gail meski jarak mereka dari ujung ke ujung ruangan. Sedangkan yang ditatap memeluk erat Ellie.
Bagi Nigel, ada yang masih sama dari sosok Genaya yang sekarang yaitu membuatnya jatuh cinta tanpa perlu ada usaha dari Gee untuk menarik perhatiannya.
Gee, Genaya, Gail akan tetap jadi orang yang sama untuk Nigel. Yaitu wanita yang membuatnya tergila-gila. Satu-satunya. Pertama dan terakhir dalam hidup seorang Nigel.
Tak berselang lama, dokter dan perawat masuk dan memeriksa perkembangan kesehatan Gail. Kondisi sudah membaik sehingga diperbolehkan pulang dengan konsumsi resep obat.
Dokter menemukan penyebab demam Gail terkait dengan alergi makanan atau minuman. Sehingga Gail diminta mengingat lagi apa yang dikonsumsi sebelumnya.
Raut wajah bingung Gail menyiratkan dia sedang berusaha mengingat. Belum sempat mengatakan bahwa dirinya tidak tahu mana yang jadi penyebab alergi, sebuah suara mendahului.
“Dokter, Gee-ku alergi olahan kacang almond,” ujar Nigel dengan arah matanya yang tetap pada Gail.
Dokter bisa paham siapa Gee yang dimaksud dalam kalimat itu tapi raut bertanya tetap dia berikan pada Gail. Pertanyaan yang mengarah ke siapa yang berkata itu.
Sebab si dokter dan pasiennya dekat bahkan klinik ini sudah jadi rumah kesekiannya Gail. Akrab juga dengan The Brown dan Duo J jadi penasaranlah dengan dua wajah baru dalam ruangan.
“Kacang almond?” ucap Gail mengulang kata sembari memutar lagi ingatannya.
Nigel terus melihat Gail, tidak rela sedetikpun sosok itu hilang dari pandangannya. Tatapan penuh rindu pun jadi tatapan memuja.
“Benar, aku ingat. Aku mencicipi susu almond yang dibawa Addison dari luar negeri. Hanya tiga teguk kalau tidak salah, Dokter.”
Tatapan memuja Nigel jadi diwarnai rasa cemburu karena ada nama pria lain yang keluar dari mulut Gail. Walau dia sudah tahu hubungan apa yang keduanya miliki, cemburu tetaplah cemburu.
Sedangkan yang ditatap, fokus menyimak apa yang dokter sampaikan. Gail dan dokter itu berdiskusi lama dengan The Brown lalu si dokter pamit undur diri untuk berpindah pasien selanjutnya.
Tinggal kembali enam orang dalam ruang inap kelas pertama itu. Keadaan hening dan tidak ada yang angkat suara. Mereka serempak menunggu apa yang akan Gail lakukan.
“Bunda, ini bukan kamar yang biasanya aku tempati. Ini yang letaknya di paling ujung, kan?” ujar Gail yang sudah merebahkan diri lagi dan ditemani Ellie di kursi samping. Mode cerewetnya aktif.
“Iya, Gail,” jawab Ellie lembut.
“Kenapa, Bund?”
“Bund, kenapa Duo J tidak seramai biasanya? Sakitku membuat mereka syok lagi, ya?”
“Mereka tertidur menunggui Anak Bunda. Tadi Gail lihat mereka rebahan di sofa, kan.”
“Dua orang asing itu siapa, Bund?” tanya Gail lagi tapi suaranya tidak sekeras tadi. Dia berbisik tapi tetap bisa terdengar karena ruangan yang hening sekali.
Kalimat yang ditunggu-tunggu dari tadi oleh semua orang disana akhirnya keluar. Mereka lega berjamaah.
Ketika pertanyaan itu terucap, pertanda Gail sudah bisa menerima ada keberadaan orang baru yang asing di dekatnya. Sebagai bentuk adaptasi alami tubuh Gail yang ajaib.
Luka dari kecelakaan enam tahun lalu jadi prediksi penyebab Gail seperti itu. Dulu perlu waktu lama untuknya bisa tenang dan nyaman bersosialisasi dan jadi penduduk yang membaur.
Makanya Gail tidak akan pergi jauh dari rumah orang tua angkatnya apalagi pergi keluar pulau Delan. Terlalu beresiko baginya dan Gail sadar dunia The Brown dan Duo J berpusat padanya.
Gail sudah mengenal seluruh penduduk Delan selama enam tahun dan itu sebagai sebuah pencapaian jika dikaji kondisi mental dan fisiknya dulu. Rasanya cukup saja hidup sampai akhir di Delan.
“Apa Anak Bunda tidak melihat salah satu dari mereka ada yang wajahnya mirip dengan Duo J?”
“Aku tidak bisa lama-lama melihat orang asing, Bund. Aku juga tidak bisa memperhatikan wajahnya.”
“Sebelum Anak Bunda memanggil ayah, tadi Gail sempat lama melihat wajah Nigel.”
“Namanya Nigel? Yang duduk di kursi roda, Bund?”
“Iya, Anak Bunda. Dia adalah Nigel Irey dan datang dari Hicity.”
“Keluarga Irey ya, Bund? Siapanya Evelyn?”
“Kakak dari ayahnya Evelyn. Dia datang khusus untuk menemui Anak Bunda.”
“Apa dia sudah mengatakan pada Bunda dan ayah tentang urusannya bertemu denganku?”
“Sudah. Ada kabar gembira untuk Anak Bunda. Nigel menunggumu lebih sehat dahulu.”
“Apa penting sekali, Bund? Aku yang sedang jadi pasien sampai ditunggui di ruang inap ini.”
“Penting sekali kata Nigel. Setelah Anak Bunda bangun tidur nanti, kita akan tahu lebih jelas. Sekarang paksakan untuk tidur ya. Bunda dan ayah ada disamping Gail. Selalu.”
Perlahan kelopak mata Gail menutup dan tingkat kesadarannya menurun. Bersamaan dengan air mata Nigel jatuh tetes demi tetes, menyimpulkan hubungan mereka sekarang.
Nigel harus memulai lagi dari awal. Jika memori tidak ada yang bisa diingat, perasaan pun tidak ada jadi pengikat.
Pada sebelum kecelakaan, Nigel ingat Gee belum pernah membalas secara langsung dan jelas ucapan cinta yang selalu dia katakan.
Ketika mereka memutuskan untuk menikah, Nigel menerima pengakuan Genaya yang belum bisa membalas rasa cintanya. Namun mereka sepakat seiring waktu bisa jadi saling mencintai.
Nigel paham saat Genaya mengatakan dirinya adalah orang yang sulit jatuh cinta. Tidak apa-apa bagi Nigel karena cintanya saja cukup untuk berdua dan bisa jadi saling menulari mereka.
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021
**Silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Juga, bagikan. Makasih ya :))