DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Batas



Jarett melihat Gail keluar dari kamar tidur mereka. Model ruangan lepas dalam rumah membuat pria kecil berumur lima tahun itu bisa tahu itu meski dia sedang di ruang tamu membaca buku.


 “Mama,” panggil Jarrett sambil berjalan menuju Gail. Dia cemas.


“Ya. Ada apa, Jarrett?” sahut Gail sambil menuangkan air dari teko ke gelas.


Jarrett tidak angkat suara. Pria kecil itu diam saja, memperhatikan apa yang Gail lakukan. Ada yang salah pada sang mama.


‘Mama minum obat untuk tidur,’ kata Jarrett dalam hati dan itu akan diingatnya hingga nanti. Dia tidak menyangka Gail perlu bantuan seperti itu untuk lelap.


Padahal dari hitungan Jarrett, hampir satu jam sudah Gail berbaring di kasur. Setelah mereka tadi mengucapkan selamat tidur. Kini tinggal lima menit sebelum batas waktunya sang mama.


“Ayo, Ma,” ucap Jarrett ketika Gail selesai dengan urusan minum obat itu. Dia tahu hanya itu keperluan Gail keluar dari kamar.


Jarrett mengenggam sebelah telapak tangan Gail dan menariknya. Sang putra seolah tidak membiarkan ada detik-detik terbuang dari langkah kaki mereka menuju tempat tidur.


Gail tersenyum mendapati perhatian Jarrett. Perlakuan yang menghangatkan hati. Selalu membuatnya bersyukur telah melahirkan lima tahun lalu.


Dari tadi Gail susah payah menenangkan pikiran dan perasaannya agar bisa segera tertidur. Tak berhasil. Puluhan menit berada sendiri di kamar dalam suasana siap untuk mengarungi batas kesadaran.


Pikiran Gail ramai dengan potongan-potongan kejadian yang dialaminya selama enam tahun ini. Ingatannya yang terbatas membuat momen-momen selama beberapa tahun itu muncul berulang kali.


Gail tidak bisa melampaui waktu enam tahun itu dalam mengingat apa yang telah dia perbuat dan masa lalu seperti apa yang dia miliki. Keterbatasannya benar-benar.


Perasaan campur aduk Gail makin menjadi dibuatnya. Dia sendiri tidak bisa paham ada di batas mana rasa senang, takut, dan lainnya dalam hatinya. Rumit sekali rasanya malam ini.


“Aku peluk, Ma,”ucap Jarrett lembut. Sorot matanya jelas menampakkan khawatir. Sang mama harus segera tidur. Sangat harus mesti, pokoknya begitu.


Gail tersenyum merespon lalu memposisikan tubuh mereka nyaman saling memeluk. Dia paham apa yang pria kecil itu lakukan. Reaksi obat juga sudah bekerja, dia bisa lelap beberapa detik kemudian.


Kedua mata kecil Jarrett awas memperhatikan perubahan Gail. Dua kelopak matannya sudah menyatu dan deru nafasnya sudah teratur. Wajah khas orang tidur juga sudah terlihat.


Jarrett lega. Apalagi saat ujung matanya bisa membaca waktu yang ditunjukkan oleh jam dinding, Gail tidak melewati batas. Dia mengeratkan pelukannya pada sang mama, ikut mengistirahatkan diri.


Rencana Jarrett untuk malam ini jadi batas menyelesaikan baca buku yang diberikan Nigel batal. Lagipula otak genius miliknya tidak bisa optimal saat dirinya khawatir seperti tadi pada Gail.


Tidak mau kebahagiaan yang baru sebentar Jarrett rasakan karena lengkapnya kedua orang tua itu rusak. Jika sakit Gail kambuh, sang papa yang akan paling tersiksa diantara dia, Jemma dan The Brown.


Yang Jarrett pahami, saat ini Gail adalah batas Nigel untuk kembali menjadi hidup. Jadi, tidak boleh ada sesuatu yang buruk terjadi pada sang mama. Ibarat tata surya, mama adalah mataharinya.


Hari ini memanglah luar biasa. Jarrett merasa Gail juga merasakan itu. Mulai dari bangun tidur, pagi hari, makan siang bersama, hingga pamitan seusai makan malam spesial dua keluarga.


***


“Es, beri aku satu menit lagi. Aku belum puas,” tolak Nigel saat dia merasakan tangkai pendorong kursi rodanya mulai dikendalikan Miles.


“Jendela itu tidak akan berubah bentuk, El,” ledek si adik kembar karena roman kasmaran sang kakak kentara sekali di matanya.


Keinginan Nigel pun dikabulkan oleh Miles. Entah bagaimana batas yang diset oleh sang kakak untuk mampu menerima keadaan yang seperti sekarang, bahagia yang terbatas.


“Pap, kenapa lama sekali di dalam rumah? Grandpa ingin bicara dengan Papa dan Paman. Bibi dan Ev juga sudah selesai dengan masakannya,” ujar Jemma yang masuk dari halaman belakang.


“Sudah, Sang Putri?” ucap Nigel memastikan Jemma sudah nyaman untuk menumpang. Dia mengabaikan pertanyaan sang putri tadi, malu saja untuk menjelaskan apa yang dilakukannya.


Anggukan Jemma pun terlihat, yang berarti sudah saatnya mereka kembali ke halaman belakang. Lanjut kumpul bersama, semacam quality time versi keluarga Irey yang terbatas kesibukan.


Pada kesempatan spesial kali ini ada tambahan anggota keluarga. Yaitu besan, orang tua angkat dari menantu keluarga Irey yang ternyata juga lolos dari maut kecelakaan pesawat air.


"Father, Ayah, dan Bunda, maaf sudah menunggu lama,” ucap Nigel sesampainya di meja yang ditempati.


“Apa yang terjadi di dalam?” sahut Wyatt cepat, namun arah pertanyaan itu ditujukan pada Miles. Orang tua itu berkelakar karena dirinya sempat melihat apa yang Nigel lakukan.


“Father,” ucap Miles dengan nada guyon. Dia ikuti sang ayah bercanda


Sikap Nigel yang salah tingkah, tidak disembunyikan oleh sang kakak. Pria itu sudah terang-terangan menunjukkan apa yang sedang dirasakannya terhadap Gail, aka Genaya.


“Bagaimana warna jendela kamar itu, Es? Berubah setiap berapa detik?” sambung canda Wyatt. Kekehan kecil terdengar dari mulutnya.


“Itu hanya bisa dijawab oleh El, Father,” jawab Miles yang juga terkekeh di akhir kalimatnya.


The Brown yang menyimak interaksi bapak dan anak-anak itu menjadi menahan tawa. Ternyata keluarga terpandang nan kaya raya itu menyenangkan.


“Ayah dan Bunda, lepaskan saja tawanya. Jangan ditahan begitu,” kata Nigel akhirnya.


Sontak itu membuat semua orang dewasa tertawa bersama. Bahkan Avery yang baru kembali dari dapur untuk duduk di samping Miles, ikut meledakkan tawa.


“Ev, otak geniusku sedang tidak berfungsi,” adu Jemma sambil berbisik. Itu membuat Evelyn lebih mendekatkan jarak kepala mereka.


“Ada apa? Coba jelaskan, Sis,” kata Evelyn berbisik penasaran.


“Semua orang dewasa itu tertawa karena jendela, atau mungkin warna jendela. Aku tidak mengerti dimana lucunya,” jelas Jemma dengan dahinya yang berkerut.


“Aku juga belum paham,” ujar Evelyn menggeleng.


“Tadi sewaktu aku memanggil papa dan paman di dalam rumah, mereka juga menyebutkan jendela tapi tidak tertawa seperti sekarang,” ungkap Jemma yang masih bingung.


“Sepertinya umur membatasi diri kita untuk tahu,” bisik Evelyn menyimpulkan apa yang sedang terjadi pada mereka berdua.


Suasana dan obrolan yang hangat terbangun seiring dengan menyantap masakan yang diolah ringan oleh Avery. Dia selalu ambil alih menu makanan untuk kumpul santai keluarga.


“Dalam kesempatan ini, aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting untuk semuanya ke depan,” ucap Nigel kemudian.


Nada serius dari salah satu tuan Irey itu membuat perhatian semua orang mengarah pada asal suara. Nigel tersenyum dengan wajahnya yang cerah, bahkan lebih cerah dari sebelumnya.


“Aku ikut Gee. Tinggal menetap di sini, di pulau Delan.”


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021