
Makan malam selesai. Jemma mengambil sapu dan peralatan bersih-bersih di dekat Gail yang sedang memisahkan sampah dapur.
Giliran Jemma yang membantu Gail malam ini. Beda dengan Jarrett, dia malas-malasan melakukannya.
"Seandainya rumah bisa membersihkan dirinya sendiri, Mam," keluh Jemma dengan gaya jenaka. Geraknya lambat mulai.
Gail tergelak. Jika saja tangannya tidak sedang bersabun cuci piring, dia tangkup gemas pipi putrinya itu.
"Sayangnya rumah perlu manusia untuk membersihkan dirinya," kekeh Gail.
"Aku tidak suka bersih-bersih. Tapi Mama, kenapa suka? Jarrett juga suka. Papa, kakek dan nenek suka pula."
"Siapa bilang Mama suka bersih-bersih, Sang Putri?"
"Aku. Tidak ada aku dengar Mama dan lainnya mengeluh seperti diriku, Mam."
"Sekarang Mama beritahu Jemma. Mama sebenarnya tidak suka bersih-bersih tapi-" ucap Gail menggantung.
Gail memandangi Jemma yang penasaran itu, sang putri akan mendesaknya untuk meneruskan kalimat. Suka saja dia dengan reaksi raut wajah memohon, ingin diberi tahu dari putrinya itu.
"Mam, tapi apa?" seru Jemma. Dia tidak menyangka karena Mamanya itu rajin bebersih.
"Mama selesaikan dulu tugas bagian Mama ini dan Jemma selesai dengan tugas Jemma. Lalu Mama beritahu, bagaimana?"
"Sekarang saja, Mam. Aku bisa mendengar sambil menyelesaikan tugas, kok," pinta Jemma.
"Yang akan Mama katakan itu panjang. Bisa-bisa Sang Putri lebih lama menyelesaikan tugas disini dan Mama jika sudah selesai tugas akan pergi lebih dulu ke ruang lepas," ucap Gail ringan.
"Mam, aku selesaikan dulu tugasku," sahut Jemma cepat dan gerakannya juga lebih cepat daripada sebelumnya. Dia tidak mau ditinggal sendirian.
"Semangat, Sang Putri," seru Gail lalu kembali meneruskan bilasan peralatan makan yang telah disabuninya.
Menit demi menit berselang, Jemma sudah selesai dengan tugasnya. Dari mengelap dan merapikan meja, menata kembali kursi, hingga menyapu lantai.
Baru saja Jemma ingin menagih kesepakatan dengan Gail yang masih berkutat di daerah dapur, suara Nigel terdengar memanggil namanya.
"Mam, aku ke tempat Papa dulu," pamit Jemma.
Gail mengiyakan. Tapi Nigel sudah berada di belakang Jemma dan menggendong perempuan kecil itu tanpa aba-aba.
"Mama," teriak Jemma ketakutan sebelum menyadari tubuhnya yang melayang itu karena diangkat Nigel untuk digendong.
"Apa, Sang Putri?" sahut Gail terkekeh.
"Aku kaget," adu Jemma lalu menoleh kesal ke Nigel dan berkata," Papa membuatku kaget."
"Maafkan Papa," ucap Nigel sembari menahan tawa. Ekspresi kesal Jemma malah lucu di matanya.
Anggukan Jemma tampak memberi jawaban iya. Dia hanya menjadi mode drama-queen jika bersama Jarrett.
Sebelah pipi Jemma menerima kecupan sayang dari Nigel. Seperti yang Gail sering lakukan pada sang putri.
"Gee, apa masih banyak yang akan diselesaikan? tanya Nigel sambil mendekat ke arah Gail.
"Sudah selesai. Ada apa, Nigel?" kata Gail yang sedang mengeringkan kedua tangannya.
"Aku akan membicarakan hal terkait kepindahan kita pada Ayah dan Bunda. Bersama kamu, Gee."
"Baiklah. Ayo."
Ruang lepas pun lengkap ditempati oleh semua orang. Nigel menyampaikan rencananya di hadapan mereka.
"Ayah, Bunda, aku belum membicarakan hal ini dengan Gee. Jadi pertama kali juga untuknya mendengar apa yang aku katakan barusan, " tutup Nigel setelah kalimat panjangnya diucapkan.
"Bunda tidak masalah. Ini rasanya seperti hanya pindah kamar saja," ucap Ellie kemudian. Menoleh ke Landon dan berkata, "Kalau Ayah?"
"Boleh. Ayah senang. Ayah suka dengan rencana Menantu," ucap Landon berkaca-kaca.
"Terima kasih, Bund. Terima kasih, Yah," kata Nigel senang. Lalu beralih kepada Gail, "Gee, katakan sesuatu."
"Sebentar, aku ulang dulu. Jadi, aku dan Duo J pindah ke rumah The Twins hanya membawa yang sedang diperlukan saja. Barang-barang dan kamar kami akan tetap seperti sekarang karena setiap makan malam akan bersama-sama di sini."
Nigel mengangkat jempolnya untuk mengiyakan yang Gail sebutkan itu. Sebab sepertinya sang istri belum selesai berucap.
"Semuanya tetap akan sama. Yang berbeda cuma aku dan Duo J tidur di rumah The Twins serta Ayah dan Bunda sarapan di sana. Begitu, Nig?" ucap Gail memastikan.
"Iya, Istriku," kekeh Nigel gemas. Ingin sekali dia hadiahkan kecupan bertubi-tubi di wajah belahan jiwanya itu, tapi sekarang masih belum berada dalam batasannya.
Jemma langsung memperhatikan perubahan air muka Gail. Dia selalu suka melihat sang mama merona setelah Nigel mengucapkan kata di bagian akhir ucapan barusan.
Semakin hari, semakin sering Jemma mendapati Gail yang tersipu malu karena perlakuan Nigel. Membahagiakan sekali menyaksikan kedua orang tuanya.
"Jarrett, lihat mamaku," bisik Jemma kepada saudaranya yang sedang memakan potongan buah.
"Hmm," jawab Jarret pada saudarinya yang ingin bicara berdua, karena hanya seperti itu dia bisa merespon.
"Mama terlihat lebih cantik kalau Papa menyebut istriku. Apa kamu memperhatikan juga?"
"Hmm," jawab Jarrett lagi, yang kali ini Jemma bisa artikan dengan tidak.
Jemma menyerah untuk melanjutkan topik. Jarrett sedang tidak seru baginya. Kembali perhatian si genius manis itu beralih pada interaksi para orang dewasa.
"Ayah, Bunda, ini kunci rumah The Twins. Rumah itu akan sama dengan rumah ini, selalu bisa dimasuki kapan Ayah dan Bunda mau. Kamar untuk Ayah dan Bunda juga sudah selesai dipersiapkan. Besok bisa dilihat dan beritahu aku jika ada yang perlu diubah."
Nigel meletakkan dua buah kunci di hadapan Landon dan Ellie. Untuk masing-masing sang orang tua.
"Lusa jadi hari kepindahan, sekalian aku mengundang keluarga di Hicyti untuk datang merayakan. Kita makan malam bersama ya, Yah, Bund," ucap Nigel sekaligus memohon.
Tidak ada selain iya untuk jawaban yang Landon dan Ellie berikan. Nigel begitu menghargai keberadaan keduanya.
"Menantu," panggil Landon untuk mengalihkan fokus mata Nigel dari Gail sebentar. Setelah mendapatkan perhatian, dia lanjut berkata, "Apa ada makanan yang tidak boleh dimakan tuan besar Irey?"
Landon merujuk ke Wyatt. Kadar rasa segan masih membuat lidahnya sulit memanggil nama saja kepada besannya itu walau sudah diminta karena kedua pria tua itu seumuran.
"Nanti aku tanya Father. Besok pagi aku beri jawabannya pada Ayah," ucap Nigel tersenyum.
Landon tersenyum balik. Dia yakin menantunya yang luar biasa itu tahu maksud dirinya bertanya.
Obrolan ringan mengalir begitu saja di antara anggota keluarga. Setelah sibuk seharian dengan aktifitas masing-masing, waktunya membangun hubungan berkualitas.
"Hampir lupa," ujar Gail lalu pergi mengambil sesuatu ke kamar.
Jemma antusias melihat Gail kembali. Ada sebuah kotak di tangan sang mama.
"Tadi paket pesanan dari hasil aku coba-coba belanja lewat internet datang. Ayo dinikmati," ucap Gail bersemangat sambil mengeluarkan isi kotak.
Sebuah wadah berisi kukis coklat diletakan di tengah-tengah. Makanan manis itu berbentuk bulat memanjang. Kesukaan Gail tapi Nigel geli dengan bentuk tersebut.
"Nig, jangan dilihat saja. Itu harus dimakan."
|Diw @diamonds.in.words - Februari22
istri lupa ingatan ye N, inget.. hehehe