
Awal bulan baru, terhitung minggu ke sekian Duo J bergantian menginap di mansion utama Irey. Kali ini giliran Jarrett untuk dijemput.
Nigel resah menunggu di dalam mobil yang sudah parkir selama satu jam ini. Lalu lalang orang yang berkepentingan di pelabuhan tampak dari balik kaca jendela.
Sedangkan Miles yang duduk berdampingan dengan Nigel, sedang fokus pada layar ponsel. Kesabaran sang kakak kembar tak identik itu menipis.
“Es,” panggil Nigel berulang kali untuk menarik fokus Miles beralih kepadanya.
“Aku tahu, El. Jarrett masih memastikan keadaan agar bisa tenang naik kapal kesini,” balas Miles dengan perhatian yang tanpa mengalihkan mata dari layar.
“Apa yang terjadi?” ucap Nigel serius.
“Jarrett sedang menunggui hasil pemeriksaan Genaya di klinik. Dia ingin tahu kondisi-”
“Apa yang terjadi pada Gee-ku?”
“Jaret bilang Genaya demam. Tubuhnya-”
“Aku ingin pergi ke Delan, Es. Kali ini aku mohon kabulkan,” ucap Nigel lebih serius daripada sebelumnya. Bahkan mendesak, ada paksa dan khawatir yang bercampur pada lelaki itu.
“El, kamu-”
“Es, aku mohon. Aku sudah membaik. Naik kapal tidak masalah besar lagi sebagai traumaku. Air laut tidak masalah besar lagi untuk fobiaku.”
Nigel terus meyakinkan Miles serta permohonannya pun lebih terasa ke arah memaksa. Kondisi yang dipaparkan sang kakak memang benar, mampu untuk perjalanan air.
Yang jadi pertimbangan Miles adalah kemungkinan dari efek pertemuan Nigel dan Genaya nanti. Sebaik apa dampaknya jika menuruti sekarang secara mendadak, tidak ada persiapan.
Nigel yang kini tidak lagi sama dengan dirinya selama enam tahun, tidak menyerah memohon pada Miles sampai sang adik setuju. Tidak lagi, dia pun berjuang lebih keras.
Meski Nigel tahu kenapa Miles susah mengabulkan dia untuk pergi ke Delan, tapi hatinya tidak mau tahu. Dorongan untuk bertemu Gee semakin kuat. Lebih kuat malah.
Miles mengalah dan meminta orang-orangnya mempersiapkan kapal privat Irey untuk segera digunakan. Sedangkan kapal yang satunya masih ditambat di dermaga pulau Delan sebagai jemputan Jarrett.
***
Gail terbaring di ranjang pasien dan ada The Brown bergantian mengecek suhu tubuh anak angkat mereka. Duo J menatap gusar wajah pucat sang mama.
Setahu mereka, kemarin Gail tampak seperti biasanya. Kegiatannya juga seperti biasanya.
Bangun tidur tanpa dibangunkan, sarapan dan membuat salad buah, mengantar Duo J ke villa kantor Addison, mengurus pekerjaan di Brown di kantornya, ruangan kerja itu juga rapi seperti biasanya.
Hingga waktunya tidur, Gail tidak menampakkan gejala demam. Dia, Duo J dan The Brown bahkan saling bercanda dan makan malam mereka lancar.
Pintu ruang inap Gail terbuka, lalu muncul seorang yang duduk di kursi roda dan seorang lagi si belakangnya mendorong. Semua orang kecuali Ellie tahu siapa yang datang.
Nigel dan Miles menyapa Landon terlebih dahulu karena berada dalam jarak paling dekat dengan mereka.
Jarrett yang dikabari Miles tentang kedatangan mereka menyapa dari kejauhan, sedangkan Jemma terlelap di pelukannya.
Kursi roda canggih Nigel mengarah ke Gail yang masih belum bangun dari pengaruh obat demam. Miles berbincang dengan The Brown sekaligus mewakili pengenalan diri mereka berdua pada Ellie.
Semakin dekat jarak dan pandangan Nigel kepada sang istri tercinta yang sangat dirindukannya, semakin mengalir air matanya. Tanpa suara, hanya tetes demi tetes ekspresi perasaannya yang campur aduk.
Jarrett memperhatikan dengan seksama pertemuan kedua orang tuanya itu. Sebelah tangannya yang bisa lepas dari pelukannya dengan Jemma, mengarahkan kamera ponsel untuk merekam.
Terpisah enam tahun, waktunya lebih lama dari umur Duo J. Nigel meraih telapak kiri Gail yang bisa dijangkaunya, menggenggamnya penuh perasaan, mengecup bertubi-tubi
Serta ucapan permohonan maaf terdengar tidak putus digumamkannya. Tak tertinggal air mata yang tak bisa berhenti turun ke pipinya. Nigel terus menangis.
Lalu beralih ke wajah Gail, Nigel ingin melihatnya lebih utuh sehingga dia berusaha berdiri. Luas penglihatan matanya bisa menangkap muka sang istri sepenuhnya.
Nigel memandang dalam wajah yang kelopak matanya tertutup itu dan memperhatikan dengan diam. Ada yang berubah dari Genaya dan itu perubahan yang baik bagi Nigel.
Pesona Genaya yang enam tahun lalu berubah menjadi lebih mempesona kini meski yang bersangkutan tidak sadarkan diri.
Nigel merasa Genaya yang pasti banyak berubah dalam enam tahun itu semakin cantik di matanya. Kemudian arah pandang Nigel tertumbuk pada jari tangan sebelah kanan Gail.
Cincin yang melingkari di jari manis itu masih disana meski sudah enam tahun. Yang di bagian dalamnya diukir dengan huruf GENI. Inisial nama berdua, Genaya Edith & Nigel Irey.
Perasaan Nigel jadi tak karuan. Tanpa peduli apapun, Nigel mendaratkan bibirnya ke seluruh permukaan wajah sang istri. Kecupan demi kecupan dan ucapan maaf tak berhenti.
Satu menit, dua menit, tiga menit dan terus-terusan. Miles curiga ada yang tidak beres. Dia segera menarik tubuh Nigel untuk duduk kembali ke kursi roda.
Dengan cekatan Miles menggenggam tangan Nigel, menyadarkan sang kakak agar kembali tenang dan mendapatkan kewarasannya lagi.
Meskipun Miles diberitahu tim dokter bahwa Nigel perlu mengeluarkan sisi dirinya yang tenggelam dalam perasaan bersalah itu pada orangnya langsung, kepada wujud nyata sang istri.
Dia tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Es melihat El yang berantakan jadi sangat berantakan.
Jarrett terus merekam dan juga masih tidak bisa melepaskan dekapan Jemma karena si kakak cengeng itu belum lama tertidur setelah menangis panik karena mama sakit.
Sembari menggenggam tangan Nigel yang berusaha menguasai dirinya kembali, mata Miles melihat kepada Jarrett. Mereka berbicara lewat gerakan mata.
Seolah Miles meminta keponakannya itu mendekat ke sang papa. Seperti yang sering mereka lakukan pada Nigel saat kambuh.
Jarrett mengerti dan menggeleng. Lewat gerakan mulut tanpa suara mereka berkomunikasi.
Dia dan Jemma sedang seperti Miles dan Nigel. Dalam mode ikatan persaudaraan kembar sebagai obat.
Miles tersenyum paham. Ternyata dirinya dan Jarrett menjadi peran yang sama dalam drama si kembar keturunan Irey. Entah bagaimana jika Evelyn terlahir kembar dulu. Miles tergelak sendiri dengan pengandaiannya.
Menit demi menit waktu berlalu, ruang inap Gail dipindahkan ke kelas paling nyaman meski kemungkinan besar si pasien tidak bermalam. Tapi Nigel tetap bersikeras untuk memberi yang terbaik kepada sang istri .
Gail mulai menggerakkan anggota tubuh. Kesadarannya juga terkumpul dengan baik sehingga bisa membawa badan duduk menyandar ke dinding ranjang. Kebiasaannya bangun tidur.
Duo J menatap penuh harap pada apa yang sedang mereka perhatikan. Pada Gail yang saling menatap dengan Nigel dalam jarak kurang dari satu meter.
Tidak ada yang bersuara. Semua fokus pada sepasang suami istri yang terpisah itu dan menunggu bagaimana reaksi dari pertemuan sadar itu.
"Ayah," panggil Gail dalam suaranya yang bergumam. Mata wanita itu panik mencari keberadaan Landon ditambah dengan raut wajahnya yang memohon untuk Landon mendekat.
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021
**Silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Juga, bagikan. Makasih ya :))