DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Sama



Bersamaan dengan kepulangan Jemma dan Gail ke rumah The Brown, Jarrett dan Nigel pun tiba bersama mobil yang sudah familiar setelah beberapa hari bolak-balik ke halaman rumah The Brown.


Raut wajah Jemma jelas antusias karena melihat siapa yang akan ditemuinya di depan mata. Terima kasih pada sang mama yang lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya hari ini, jadi mereka berdua bisa pulang lebih awal dari jam Gail biasanya.


Baru saja Jemma memijak teras dan Gail memasangkan kunci untuk membuka pintu masuk rumah, keduanya sama-sama terhenti dan beralih fokus ke mobil yang berhenti di halaman.


"Paap," sambut Jemma bahagia terdengar sambil tubuh kecilnya berlari ke arah terbukanya pintu samping kemudi yang Nigel tempati.


"Sang Putri," balas Nigel tak kalah senang sembari turun dari kendaraannya.


Dari pagi sampai sore tidak bertemu, rasanya berbeda sekali dengan kebiasaan menghabiskan waktu sepanjang hari ala Jemma dan Nigel akhir-akhir ini.


Sang papa pun berjongkok, menyamakan tinggi untuk mendekap putrinya yang sudah merentangkan tangan. Jemma mendapatkan apa yang dia mau, Nigel kembali ke sisinya.


"Apa urusan di Hicity sudah selesai, Pap?"


"Sudah untuk hari ini. Besok pagi, Papa ke sana lagi. Jemma mau ikut?"


"Kenapa pergi lagi, Pap?" tanya Jemma berubah sendu. Lengannya memeluk leher Nigel semakin erat.


"Ada perlu ke rumah sakit," bisik Nigel balas mendekap sayang Jemma.


“Apa Jarrett akan ikut dengan Papa?”


“Tidak. Jarett hanya hari ini pergi dengan Papa. Urusan antar pria sudah cukup tadi,” kekeh Nigel lalu tersenyum manis ke arah Gail yang dipunggungi Jemma.


Di sisi Jarrett, langkah kaki kecilnya cepat berlari ketika pintu mobil yang dikendarai Nigel sudah bisa dibuka.


Suasana hati yang senang, Jarrett ingin segera membagi itu kepada Gail yang berdiri di teras rumah. Sang mama juga sedang melihat ke arahnya.


Maka kebiasaan keduanya ketika bertemu kembali dilakukan, seperti biasanya. Tak lagi ada sikap dingin yang Jarrett berikan kemarin. Hati Gail pun menghangat dalam pelukannya.


“Jarrett, lepaskan mamaku. Aku juga mau dipeluk,” sela Jemma yang sudah berada di belakang Jarrett.


Nigel menyimak kelakuan dua anaknya itu dengan senyuman yang bertambah lebar. Rasanya seperti mimpi apa yang dialaminya sekarang.


Angan-angan terhadap adegan yang diimpikan Nigel dilakukan dengan Gee sama persis yang terjadi kini. Pulang disambut bahagia oleh istrinya dan ditambah anak-anak mereka.


“Apa kamu baik-baik saja, Nigel?” tanya Gail membuyarkan lamunan pria yang terdiam memandanginya itu.


“Baik, Gee. Aku baik-baik saja. Ada dessert box untukmu dan Jemma,” ucap Nigel lalu menunjukkan apa yang ada di tangannya kepada Gail.


“Terima kasih. Tak perlu repot-repot membawakan ini dari Hicity,” kata Gail sungkan.


Mau tak mau Gail menerima pemberian Nigel. Kantong kemasan cantik ala makanan mahal pun berpindah tangan.


“Tidak akan pernah merepotkan jika itu untukmu dan anak-anak kita, Gee,” ujar Nigel tetap dengan cara khasnya bicara kepada Gail. Lalu lanjut berkata, “Biar aku yang buka pintu rumah.”


Inisiatif Nigel memutar kunci yang sudah menggantung di lubang pintu membuat Duo J menyelesaikan sesi pelukan rindu. Bergegas keduanya rebutan berlari masuk.


Tawa Nigel terdengar karena tingkah Duo J. Itu membuat Gail terpana dengan pesona suaminya yang terlihat berkali-kali lipat.


Merasa diperhatikan, Nigel mengarahkan fokus matanya dan membalas tatapan lekat Gail. Detik itu dunia sekitar seolah kabur karena hanya ada istrinya yang memenuhi penglihatan.


Tanpa sepasang suami istri itu sadari, Jarrett memvideokan momen. Dia cepat tanggap ketika Jemma memberitahu apa yang dilihatnya.


Niat hati tertunda untuk Duo J mandi, sesuai aturan yang Gail buat untuk mereka ketika pulang ke rumah sore hari. Keduanya lebih tertarik untuk menonton.


Apa yang akan terjadi selanjutnya di antara sang mama dan papa. Jemma suka cahaya mata Nigel yang menatap Gail itu berbalas sedangkan Jarrett sibuk merekam gambar orang tuanya.


Keinginan untuk lebih mendorong Nigel untuk mendekap tubuh Gail. Rindunya pada sang istri tidak bisa untuk diekspresikan, tak mampu memendamnya lebih lama.


“Nigel, maaf,” lirih Gail yang jelas terdengar di telinga Nigel.


Ada nada memohon yang bisa Nigel tangkap dari suara Gail. Mohon untuk menyudahi dekapan, kontak fisik mereka berdua.


“Gee, aku yang minta maaf. Aku tidak minta izinmu terlebih dulu. Maafkan aku, terlalu merindukanmu,” ucap Nigel cepat, rela tak rela mengurai lengannya dari tubuh Gail.


“Ya sudah. Aku masuk, Nig,” kata Gail menekan rasa gugupnya lalu buru-buru ke dalam rumah. Efek pelukan Nigel kali ini berbeda, membuat Gail serba salah.


Saking salah tingkahnya, keberadaan Duo J yang berada di ruang tamu tidak disadari oleh Gail. Langkah wanita itu lurus ke ruang makan, lalu menyimpan oleh-oleh Nigel tadi di sana.


Sedangkan di ruang tamu, Jemma mengangkat dua jempolnya untuk Nigel dan Jarrett mengangkat tangan untuk tos. Sang papa patut mendapatkan pujian.


Sebab Duo J merasa kedekatan sang papa bersama mamanya semakin terjalin. Keduanya bersuka cita untuk Nigel.


“Duo J, mandi,” seru Gail yang sudah berada di antara ruang tamu dan deret kamar mandi.


“Iya, Mama,” jawab Duo J kompak.


Sontak Jarrett menyelipkan ponselnya ke tangan Nigel sebelum mengejar Jemma yang sudah berlari ke pintu kamar mandi. Walau sudah bisa dipastikan, dia lah yang menjadi pihak penerima kamar mandi mana yang disisakan oleh sang saudari.


Tertawa lagi Nigel mendapati tingkah menggemaskan dari sisi kanak-kanak Duo J. Sama sekali berbeda jika dibandingkan dengan di masa awal interaksi mereka berbulan-bulan lalu.


“Nigel, ingin minum apa? Aku akan ambilkan,” ucap Gail, mencegah suasana canggung yang mungkin akan terjadi karena tinggal mereka berdua.


“Air putih saja, Gee. Terima kasih, ya,” kata Nigel sembari mengikuti Gail dan duduk di ruang makan kemudian.


“Sama-sama,” ujar Gail dengan segera meletakkan segelas air di hadapan Nigel.


“Gee, apa sudah jadi membuka kotak yang aku katakan tadi pagi?” tanya Nigel cepat sambil menggeser satu kursi terdekatnya seakan meminta Gail duduk di sana, menemaninya.


Kesempatan di waktu ini harus bisa dimanfaatkan, Nigel bersama Gail berdua saja. Sayang sekali jika ditinggal sendiri padahal sudah duduk di ruang makan.


“Sudah,” jawab Gail pendek seraya menuruti intuisinya untuk mengabulkan apa yang Nigel pinta.


“Bagus. Bagaimana perasaanmu ketika melihatnya, Gee?” tanya Nigel dengan lebih antusias.


“Perasaanku?” tanya Gail balik, belum paham dengan maksud pertanyaan suaminya itu.


“Rasanya menemukan yang dulu sering kamu sebut ‘masa depan’. Yang berhasil membuatku cemburu buta sama benda,” ujar Nigel terkekeh.


|Bersambung..


Author: Diw @ diamonds.in.words | Rd2021


Saatnya beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, lagi :D


Makasih ya untuk keberlangsungan Duo J: Genius :)