DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Kata



Gail mendapat notifikasi bahwa ada sebuah surel masuk di ponselnya. Di sana terpampang informasi pengirimnya, Wordlib. Itu adalah nama penerbit yang mengadakan lomba yang pernah Gail menangkan.


Rasa penasaran Gail terjawab setelah membaca keseluruhan isi surat. Dia pikir setelah mendapat hadiah uang tunai, ya sudah. Tidak ada keperluan lagi. Ternyata salah.


Naskah milik Gail yang jadi pemenang tulisan kategori favorit juri itu diikutsertakan oleh pihak Wordlib untuk penyeleksian adaptasi film. Project terbaru dari penerbit tersebut.


Maka lewat surel itu, Gail diminta untuk menyesuaikan beberapa bagian naskah agar makin cocok dengan kriteria yang Wordlib harapkan. Tinggal penambahan sedikit. Kesempatan emas untuk perjalanan karya perdana Gail.


“Jarrett,” sapa Gail setelah ada tanda-tanda panggilan suaranya diangkat oleh sang putra di ujung telepon.


“Iya, Ma,” jawab Jarrett. Si genius itu masih terkejut mendapati info penelepon adalah sang mama.


Sebab sejak masing-masing punya ponsel sendiri, mereka belum pernah menghubungi satu sama lain lewat alat komunikasi itu. Terbiasa dengan hidup sederhana mereka untuk bicara langsung tatap muka.


“Mama ingin minta tolong pada Jarrett. Apa boleh?” ungkap Gail yang nada suaranya jadi perhatian penuh Jarrett untuk awas karena telepon tiba-tiba sang mama.


Pria kecil itu mendengarkan perkataan Gail, sambil berdoa dalam hati bahwa tidak ada sesuatu buruk yang darurat jadi alasan sang mama menelepon.


Karena itu pasti urusan yang tidak bisa ditunda untuk disampaikan. Tidak bisa ditunggu sampai mereka bertemu kembali di rumah di waktu sore nanti. Jarrett waspada setelah mengatakan boleh.


“Tolong Jarrett buka komputer perpustakaan Om Adi. Lalu cari berkas mtword yang judulnya naskah lomba di folder nama mama. Kata sandinya ulang tahun Duo J. Setelah itu, Jarrett kirimkan ke alamat surel mama.”


“Itu saja, Ma?” tanya Jarrett memastikan dengan rasa lega dalam hatinya. Rasa was-was tadi menguap, karena mama baik-baik saja.


“Iya, itu saja. Terima kasih, Putra yang Tampan,” kata Gail manis. Seandainya Jarrett sedang berada di depannya, pasti dua pipi kecil itu sang mama beri kecupan bertubi-tubi.


Jarrett selalu cepat paham jika Gail menggunakan kata minta tolong. Pria kecil itu tidak akan bertingkah memusingkannya atau membuatnya marah jika tidak dalam suasana santai.


“Putra yang Tampan ini akan segera beraksi. Mama tunggu ya,” ucap Jarrett senang.


“Baiknya,” puji Gail terkekeh, lanjut berkata, “Teleponnya mama tutup dulu ya?”


“Anak mama ini memang baik. Iya, aku akan ke perpustakaan.”


“Hati-hati ya, Genius Tampan. Dadah,” goda Gail pula untuk berpamitan via telepon.


“Dadah, Mamanya Genius Tampan,” sahut Jarrett jelas di ujung telepon. Lalu terdengar suara sang pria kecil tidak sejelas itu lagi ketika berkata, “Papa, Jarrett ada perlu ke perpustakaan.”


Gail memang tidak langsung memutus sambungan telepon ketika berpamitan itu. Sehingga saat Jarrett menyebut kata papa, telinga sang mama mendengarnya.


Bayangan dari orang yang Jarrett panggill itu langsung muncul dalam pikiran Gail. Tentang Nigel kembali memenuhi pikirannya setelah berhasil teralihkan oleh urusan pekerjaan.


Nigel yang berkata bahwa tidak pernah meninggalkannya itu sudah dua kali pagi tidak menemuinya. Menghilang setelah kejadian mereka sama-sama menangis.


Risau dalam hati Gail belum juga reda tapi terus dia tutupi. Sebab menurut Gail, hanya dirinya saja yang merasakan perasaan seperti itu.


Duo J dan The Brown juga tampak baik-baik saja oleh Gail. Pengaruh ketidakhadiran Nigel sepertinya cuma kepada dirinya, diri yang sulit bagi seorang Nigel Irey ini.


Gail menghela lalu menghembuskan nafas untuk menenangkan dirinya sendiri. Bukan masalah besar jika itu bukan masalah juga bagi Duo J dan The Brown.


“Gail,” suara Ellie yang familiar di telinga wanita muda itu terdengar dari balik pintu ruangannya.


“Iya, Bunda. Aku ada di dalam. Pintunya cuma ditutup, Bund,” sahut Gail sambil meletakkan ponselnya kembali ke meja.


Gail berjalan mendekati Ellie yang sudah tampak berdiri di sela bukaan pintu. Kebiasaan sang bunda ingin bicara tanpa masuk ruangan, jadilah si anak yang memperdekat jarak agar enak bersuara.


“Aku bisa, Bund. Pekerjaanku hari ini hampir selesai,” jawab Gail meyakinkan Ellie. Bersamaan hadir lagi bayangan Nigel dalam pikirannya.


“Syukurlah. Terima kasih, Anak Bunda. Sudah waktunya Bunda balik ke gudang.”


Gail mengiyakan pamitnya Ellie. Tapi rasanya ada yang terlupa oleh Gail yang masih memandangi punggung sang bunda semakin menjauh darinya.


Sambil membereskan ruangan agar bersih saat ditinggalkan, Gail baru ingat. Dia lupa menanyakan alasan Ellie tidak bisa menjemput Duo J.


Gara-gara bayangan Nigel yang mengganggu. Gail menjadi tidak tahu kenapa Ellie meminta tolong padanya lebih dulu daripada Landon. Biasanya dia adalah orang yang mendapat giliran akhir.


Selang beberapa waktu, Gail sudah siap untuk pergi ke villa Addison. Dalam perjalanannya, perkara Nigel kembali mengusik. Dia bingung harus bersikap bagaimana jika nanti bertemu.


Timbul ide dalam kepala Gail untuk menelepon Jarrett lagi dan meminta saja Duo J untuk menemuinya di taman samping villa. Supaya Gail bisa menghindar dari Nigel, tapi ada bagian hatinya menolak.


“Genaya,” panggil suara yang baru familiar oleh Gail akhir-akhir ini. Setelah membalikkan badan, Gail bisa melihat Miles berjalan ke arahnya.


“Halo, Miles. Kamu di sini,” sapa Gail gugup. Meski tidak separah saat di awal-awal mereka berinteraksi. Diri ajaib Gail sudah tidak menganggap adik kembar sang suami itu asing.


“Iya. Apa kamu ingin bertemu Nigel?” ucap Miles biasa, dalam format nada hangat dengan wajah minim ekspresi.


“Aku ingin menjemput Duo J, Miles. Sudah sore, waktunya mereka pulang.”


“Baiklah. Kita ke kamar Nigel.”


“Kita? Ke kamar Nigel?” tanya Gail terkejut, bersamaan dengan perasaan campur aduknya muncul. Lanjut berkata, “Bukannya Duo J ada di ruang piano atau ruang istirahat?”


“Tidak, mereka ada di kamar Nigel. Ayo, Genaya,” ucap Miles pendek dan seakan tidak berminat memberi penjelasan lebih lanjut pada Gail. Ajakan itu menutup pembicaraan.


Langkah tegap Miles terus bergerak, seolah menarik langkah Gail untuk mengikuti arah pria muda itu berjalan. Tahu dia belum pernah pergi ke tempat tersebut.


Duo J pernah bercerita bahwa kamar Nigel berada di lantai satu villa dan saat itu, Gail mendengar saja. Dia tidak bertanya untuk tahu lebih banyak tentang Nigel lewat kedua anaknya.


Tiba di sebuah pintu, Miles berhenti dan membalikkan badan. Dia ingin memberi tahu Gail untuk masuk berbarengan dengannya sembari tidak sabar dengan apa yang dilihatnya nanti.


Kehadiran Gail akan membuat Nigel terkejut, bahkan bisa sangat terkejut. Dari yang Miles dengar tadi pagi, sang kakak merengek rindu dan orang yang bersangkutan tersebut datang sore harinya.


Miles ingin menyaksikan pertemuan antara Nigel dan Gail yang sudah dua hari tidak bertemu. Dalam hatinya memuji Ellie, sang mertua kakaknya itu memang bisa diandalkan.


“Paman, kenapa lama di luar? Hampir waktunya aku dan Jarrett pulang,” ucap Jemma menyambut bunyi pintu kamar Nigel yang bergerak dan langkah kaki masuk.


Miles tidak langsung bersuara, menahan kalimat untuk merespon sang ponakan. Dia lebih memilih untuk mengamati ekspresi Nigel yang sedang fokus menyisir rambut Jemma.


Kedua anak dan papa itu sedang berada di atas kasur. Tempat yang seharian ini tidak ditinggalkan Jemma sebab dia mengikuti Nigel untuk berbaring tidur di sana.


“Mama,” teriak bahagia Jarrett di luar kamar Nigel, tepat dari arah punggung Gail.


Telinga Nigel mendengar kata mama disebut oleh putranya, dan itu membuatnya spontan mengalihkan mata ke arah pintu.


'Gee? Itu kamu, Gee.'


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021