DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Sendiri



Sendiri di tempat baru adalah hal yang tak mudah bagi Gail, Jarrett memahami itu. Si genius tampan mengalihkan perhatian sang mama dengan mengobrol berbatas pintu kamar mandi.


Jarrett bercerita tentang ruangan menarik yang Gail mesti lihat nanti di lantai bawah tanah. Mamanya itu memang tidak sempat berkeliling sebelum masuk kamar utama ini.


Sekembalinya dari Dapur The Brown tadi siang, Gail langsung ke rumah The Twins. Sesuai isi teleponnya kepada Nigel bahwa dia akan telat tiba daripada waktu yang dia janjikan di awal.


Duo J dan Nigel menyambut kedatangan Gail dengan hamparan hidangan makan siang. Pertama kalinya makan siang bersama di meja makan rumah The Twins.


Sepasang kembar itu tidak menyentuh makanan yang disiapkan sang papa sebelum mama datang. Nigel lemah terhadap alasan Duo J ingin makan berempat dengan Gail.


Tidak bisa dikeluarkan tatapan tajam yang bermakna tak-bisa-dibantah ala Nigel. Jadilah makan siang itu lewat dari jadwal makan seharusnya.


Setelah selesai dengan urusan perut tersebut, Duo J mendapat teguran Gail. Sesi mengomel Gail terhadap keras kepala-nya Duo J yang menungguinya sehingga kedua anak itu telat makan menyita waktu.


Yang direncanakan Nigel membawa Gail berkeliling ke semua ruangan rumah jadi tak sempat. Baru Gail keluar dari mengecek hasil akhir masing-masing kamar Duo J, Nigel langsung membawanya ke kamar utama.


Sebagai tempat aman sang istri dari kehadiran banyak orang yang sudah dia jadwalkan. Nigel memahami betapa ajaibnya Gail dan dia menyediakan tempat itu untuk menyendiri bersama.


Ketika Duo J menemani Gail di kamar paling besar dan lengkap itu, Nigel berada di luarnya untuk menerima kedatangan kepala pelayan keluarga Irey beserta kru lainnya dari Hicyti.


Waktunya persiapan makan malam spesial di halaman belakang rumah The Twins. Orang-orang yang bekerja pada Nigel itu akan mondar-mandir dari halaman depan ke halaman belakang melewati bagian tengah rumah.


Tidak lama berbicara, Nigel dan segala perintahnya sudah dipahami oleh si kepala pelayan. Sehingga sang Tuan Irey tersebut kembali masuk kamar utama.


Berkumpul bersama Gail dan Duo J sekaligus menunjukkan apa saja yang ada dalam kamar tersebut kepada para kesayangan itu. Lagipula Nigel mana mau berlama-lama berjauhan jika istrinya ada di sekitar.


***


Beberapa waktu berlalu, Jemma dan Nigel kembali dengan tas kantong di tangan sang putri yang digendong si papa. Barang yang dimintai tolong Gail sudah datang.


Tak menunggu lagi, barang penyelamat di kala datang bulan itu segera dibawa Gail masuk ke toilet. Tinggal Duo J dan Nigel dalam ruangan besar kamar tidur utama.


Turun dari gendongan Nigel, Jemma berjalan mendekati Jarrett yang kembali asyik dengan buku di tangan. Sofa baca yang empuk dan berbentuk panjang jadi tidak ditempati Duo J bersama.


Sedangkan Nigel mendudukkan diri sendirian di tepi ranjang, tempat terdekat jika dijangkau keluar dari kamar mandi. Dia menunggui Gail.


Jemma memperhatikan perubahan raut wajah Nigel. Ada murung yang mendominasi muka tampan sang papa.


“Jarrett, lihat Papa,” pinta Jemma berbisik. Sengaja volume suaranya cuma untuk didengar berdua.


“Kenapa, Jemma?” bisik Jarrett menyahut. Matanya beralih dari deretan kata-kata ke wajah yang jadi topik saudarinya.


“Aku merasa ada yang terjadi tapi belum aku pahami. Papa tidak sebahagia tadi.”


“Benar juga. Aku baru menyadarinya. Kamu?”


“Tadi saat keluar kamar ini untuk pergi dengannya ke rumah The Brown.”


“Apa karena Mama mengomel tadi?”


“Aku tidak yakin. Seingatku wajah Papa masih bercahaya saat itu. Ketika aku minta digendong, juga masih.”


Bisik-bisik Duo J masih berlanjut berdua. Sementara itu, pintu kamar mandi bergeser dan Gail keluar dari sana.


Dua pasang mata Gail dan Nigel beradu tatap tapi si pria malah membeku memandangi wanitanya. Duo J yang berada tak jauh dari keduanya beralih fokus menjadi penonton.


Lambaian tangan Gail selama beberapa waktu di depan mata membuyarkan lamunan Nigel. Dia terpukau dengan penampilan istrinya yang berbeda.


“Maaf Nig, aku sekalian mandi dan langsung saja memakai pakaian yang kamu siapkan di lemari. Apa kamu marah?” ucap Gail menyangka dirinya bersalah sebab mendapati Nigel yang menatapnya tanpa berkedip.


“Tidak. Tidak, Gee. Aku tidak marah,” kata Nigel terbata-bata lalu dengan malu-malu lanjut berkata, “Kamu sangat mempesona.”


Gail diam, menjadi salah tingkah mendengar kalimat Nigel itu. Pujian itu penuh perasaan ditambah pula cara menatap yang memuja ke matanya


“Gee, aku minta maaf untuk-“


Suara ketukan di pintu kamar membuat kalimat yang akan Nigel katakan tergantung. Suara familiar dari kepala pelayan keluarga Irey di balik pintu memanggil sang tuan dengan mengatakan ada keperluan.


Nigel menjawab sekenanya untuk meminta orangnya itu menunggu sebentar. Perihal kelengkapan untuk makan malam yang dipersiapkan perlu diperiksa.


Gail menoleh ke arah Duo  yang berada di sofa baca. Dia meyakinkan diri untuk mampu beradaptasi dengan lebih cepat terhadap tempat baru ini.


Ada sepasang genius bersama Gail. Kesendirian ketika Nigel keluar dan sibuk mengurus segala sesuatu bisa diatasi.


Setidaknya Gail berusaha untuk tak merepotkan Nigel dengan bergantung dengan keberadaan si suami itu untuk selalu di dekatnya. Adaptasi yang butuh waktu di tempat baru nan asing ini.


“Gee,” ucap Nigel setelah sekian detik menatap Gail lekat-lekat. Dia mau menyelesaikan kalimatnya tadi tapi tertahan di ujung lidah dan waktu juga tidak mendukung.


Gail menampilkan senyum paling manis kepada Nigel. Memperlihatkan dirinya dalam keadaan baik-baik saja, agar jika suaminya itu sedang khawatir bisa jadi tenang.


Sebab kali ini Gail bisa membaca raut wajah yang tak biasanya tampak pada Nigel. Seperti yang Duo J bicakan, naluri sang mama juga terusik.


Nigel ikut tersenyum. Tertular manisnya senyum Gail berikan.


"Dengar Nigel, kamu ditunggu," ucap Gail kemudian. Sekalian dia mau menyelamatkan kedua matanya dari betapa menawannya senyum sang suami.


"Baiklah, Gee," kata Nigel pasrah. Lalu berpamitan pada Gail dan Duo J.


Sepeninggal Nigel, Jemma mengalihkan perhatian Gail dengan minta digendong ala koala. Si genius manis itu mau bermanja-manja selagi Mama tidak perlu melakukan apa-apa.


"Mam, bagian kamar ini yang paling Jarrett suka di sana. Yang papa suka mungkin di sana. Kesukaan ku di sana. Kalau Mama dimana?"


Jemma mengucapkan kalimatnya sambil menunjuk area baca, area kerja dan tempat tidur secara berurutan. Dia suka mengobrol dalam gendongan seperti ini.


"Dimana ya?" ucap Gail seakan ikut bertanya pada dirinya sendiri.


"Mama tidak suka dengan kamar Papa ini?" tanya Jemma cepat.


"Mama suka, Sang Putri," kata Gail tak kalah cepat. Itu dibarengi gemasnya si mama pada ekspresi ingin tahu Jemma yang berada tepat di depan matanya.


Gail benar-benar suka. Sampai-sampai dia bingung bagian mana jadi favoritnya. Seolah Nigel merancang semuanya dengan makna tersendiri.


|Diw @diamonds.in.words - Feb22