
Tawa Jemma terdengar lepas, renyah, dan menyenangkan. Gail jadi memandangi interaksi putrinya dan Nigel yang entah menertawakan apa berdua.
Sampai-sampai Gail, tidak disadari kehadirannya. Padahal sudah beberapa menit dia berdiri tak jauh dari tempat duduknya anak dan bapak itu.
Ada bangku-bangku yang ditata di dekat pagar rumah The Twin. Sehingga pagar kayu yang terlihat sederhana khas Delan itu jadi penumpu punggung jika duduk di bangku tersebut.
Posisi membelakangi arah jalan. Itu membuat Jemma dan Nigel yang badannya menghadap ke rumah The Twin tidak langsung sadar ketika Gail tanpa suara menuju keduanya.
"Pap, aku akan pelajari semua alat musik yang Papa belikan itu," ucap Jemma bersemangat.
"Papa akan selalu menjadi fans-mu, Je. Apapun yang Sang Putri mainkan," kata Nigel tak kalah menyemangati.
Jemma turun dari bangku yang sedang ditempatinya. Dia akan melonjak-lonjak untuk mengekspresikan rasa senang.
Namun sebelum itu terjada, dua mata Jemma langsung menangkap sosok Gail. Dia memilih segera berlari menyambut kepulangan sang mama dari Dapur The Brown.
"Mam," panggil Jemma sembari merentangkan tangan untuk Gail bawa tubuh kecilnya itu ke dalam gendong ala koala.
"Sang Putri senang sekali," ucap Gail terkekeh saat Jemma mencium pipinya bertubi-tubi.
"Mama benar. Aku sangat senang. Aku akan minta Papa saja yang memberitahu Mama alasannya."
"Kenapa begitu? Mama suka mendengarkan Jemma."
"Karena Mama akan dibuat terbahak-bahak. Seperti yang Papa lakukan kepadaku. Aku juga suka ketika Mama dan Papa bersama-sama."
Lidah Gail kelu. Dia juga seperti kehilangan kata-kata untuk menanggapi kalimat tulus yang ringan Jemma ucapkan itu.
"Ja," teriak Nigel memanggil Jarrett ke arah samping rumah yang dekat dengan tempat duduk-duduk.
"Iya, Pa," sahut Jarrett cepat balas berteriak.
"Saatnya ke atas. Mama sudah pulang, Ja."
"Ya, Papa," kata Jarrett dan beberapa detik kemudian dia muncul dari tangga yang menghubungkan halaman dengan ruang bawah tanah.
Duo J bergantian menyambut kehadiran Gail. Tentu saja Nigel berada di urutan terakhir untuk itu.
"Jarrett dari mana?" tanya Gail ingin tahu keberadaan putranya di saat Jemma dan Nigel terlihat tadi.
"Ruang bawah tanah, Ma. Aku melihat pekerjaan teknisi yang Papa minta datang dari Hicyti."
Kening Gail berkerut mendengar kalimat Jarrett. Serasa ada yang tidak dia ketahui terhadap putranya tapi entah apa.
Gail menoleh ke arah Nigel. Insting keibuannya seolah memberi tahu bahwa ada jawaban pada suaminya itu.
"Gee, ikut aku masuk ke rumah The Twin dulu sebelum kita ke The Brown ya?" pinta Nigel ditambah dengan raut wajah memohonnya.
"Ayo, Mama," seru Duo J antusias dengan ajakan sang papa kepada mama itu.
Mau tak mau Gail mengiyakan. Dia tidak tega melihat wajah-wajah kecewa setelah penolakan.
Langkah kaki Nigel lebih dulu bergerak. Dia sebagai pengarah kemana tiga orang di belakangnya akan dibawa.
"Aku akan menunjukkan apa saja yang ada di rumah kita ini, Gee," ucap lembut Nigel sembari berjalan namun tetap menjaga dekatnya jarak dengan posisi Gail.
Mulai dari pintu masuk, Nigel menerangkan apa yang ada di depan mata Gail. Sedangkan Duo J tidak ikut bersuara sebab keduanya sudah tahu lebih dulu dari beberapa waktu lalu.
"Nig, bagus penataan ruangannya," puji Gail saat berkeliling di bagian dalam rumah.
"Kamu suka, Gee?"
Referensi Gail hanya sebatas memorinya di Delan. Sehingga apa yang disuguhi oleh Nigel di dalam rumah ini membuatnya berdecak kagum.
"Dasar rancangan ini sudah ada sejak kamu menerima lamaranku, Gee. Ketika aku merindukanmu, aku menghibur diri dengan memperbaiki apa yang sudah aku rancang. Berandai-andai ada kamu."
Kalimat panjang Nigel yang mengandung kesedihan itu disampaikan dengan nada gembira. Kontradiksi yang membuat Gail tersentuh.
"Gee, coba kamu tekan ini," pinta Nigel sambil menunjuk ujung dari pintu lemari, kelihatannya.
Gail melakukan apa yang diminta Nigel. Setelah telunjuknya menekan, pintu itu mengikuti arah jarinya ketika ditarik.
"Semuanya ini dibuka dengan cara ditekan," lanjut Nigel menjelaskan.
Yang awalnya Gail kira dinding, ternyata bukan. Itu adalah lemari custom sebesar dinding yang terdiri dari banyak pintu yang dirancang samar.
Bagian dalam lemari berbeda-beda ukuran sekatnya. Sehingga bisa berbagai macam barang bisa dimasukkan kesana.
"Aku membuat ini karena dulu kamu berkata ada masanya kamu sangat malas untuk beberes barang dan bebersih ruangan tapi kamu juga tidak mau melihat ada yang berantakan. Jadi dengan ada lemari besar serbaguna di bagian tengah rumah, ini bisa jadi tempat menyembunyikan barang-barang sampai kamu dalam periode rajin lagi."
Kekeh tawa Nigel muncul di ujung kalimatnya yang panjang itu. Sedangkan Gail menatap suaminya tanpa suara.
"Gee? Kalau kamu tidak suka, interior ini bisa diubah. Tidak masalah," kata Nigel buru-buru saat melihat keterdiaman Gail. Lanjut berkata, "Sungguh, tidak apa-apa kamu ganti."
"Nig," ucap Gail lirih. Sudut dua matanya membayang kumpulan air yang sedikit lagi bisa jatuh.
Tentu saja Nigel panik. Bukan seperti ini yang ada diekspektasinya. Dia ingin menyenangkan Gail, tertawa bersama seperti reaksi yang didapatinya pada Duo J.
Belum sempat Nigel melakukan apa-apa, lepas dari kepanikan itu. Tubuhnya masuk ke dalam pelukan Gail.
Badan Gail yang lebih pendek dari Nigel membuat si istri itu bisa mendengar betapa cepat detak jantung sang suami dalam dekapannya. Sama seperti dia sekarang.
"Terima kasih, Nigel," ucap Gail. Meski suaranya tertutupi oleh badan Nigel, ketulusan serangkai kata ajaib itu sampai ke hati yang mendengar.
"Terima kasih, Gee," ucap Nigel meniru. Lalu tambah berkata, "Aku mencintaimu. Sangat dan sungguh-sungguh, Istriku. Rumahku."
Pelukan Gail dan Nigel berlangsung beberapa menit. Sehingga Duo J meninggalkan tempat kedua orang tuanya.
Jemma memilih duduk di sofa di dekat kaca pembatas antara bagian dalam rumah dengan halaman belakang dan Jarrett menggunakan alat treadmill yang letaknya berdampingan.
"Aku suka melihat itu Jarrett," lirih Jemma sambil menikmati manisnya pemandangan interaksi sang mama dengan papa.
"Masih seperti mimpi rasanya?" tanggap Jarrett menyesuaikan besar suaranya. Pembicaraan khusus berdua.
Anggukan Jemma menjadi jawabnya. Mimpi indah yang menjadi nyata dan ternyata lebih membahagiakan daripada yang bisa dibayangkan si genius manis.
"Aku bahagia. Sangat dan sungguh-sungguh. Apa kamu juga?" ucap Jemma kepada Jarrett dengan meniru cara Nigel berkata tadi.
"Apa ada kata yang rasanya lebih dari kata bahagia, Jemma?"
"Aku belum tahu. Mungkin nanti kalau aku tahu, kamu akan aku beri tahu."
"Tahu-tahu, aku teringat goreng tahu buatan kakek. Jemma, kamu tahu aku suka tahu?"
Kalimat Jarrett yang berisi banyak kata tahu itu mengandung humor bagi Jemma. Duo J tidak bisa menahan diri, kompak tertawa.
|Diw @diamonds.in.words - Februari22
Hmm, aku kok ketawa pula.. Hmm.