
Aturan dan pembagian waktu berjalan sebagaimana mestinya. Duo J dengan Gail sudah menyudahi kegiatan hari ini dengan pergi tidur bersama untuk pertama kalinya di kamar utama rumah The Twins.
Nigel kembali berjalan ke arah halaman belakang. Waktunya melanjutkan peran sebagai tuan rumah untuk kumpul keluarga besar.
"Itu senyum-senyum tak bisa berhenti," ledek Miles menyambut Nigel.
"Beda dengan saat kita baru sampai di sini ya, Sayang," sambung Avery terhadap kalimat Miles sambil mengusap lembut Evelyn yang menidurkan diri dalam dekapannya.
Posisi duduk sudah berubah menjadi satu lingkaran besar. Wyatt dan The Brown tersenyum menanggapi yang lebih muda dari mereka itu.
Sedangkan Nigel semakin melebarkan senyumnya lalu duduk bersama. Dia tak berkomentar untuk membalas karena memang benar yang dikatakan itu.
Obrolan berlanjut sampai beberapa puluh menit kemudian. Tiba jadwalnya keluarga Irey ke dermaga untuk naik kapal menuju Hicyti.
"Landon, terima kasih sekali untuk menu udang balado malam ini. Lezat sekali. Aku ingin menikmatinya lagi, tapi beberapa bulan ke depan," ucap Wyatt ketika berpamitan pada besannya.
Raut wajah senang tuan Irey yang disebabkan makan masakan andalannya, membuat Landon tak bisa berkata-kata. Dia tak menyangka dapat apresiasi langsung sebagus itu.
"Saat aku muda dulu, jangan ditanya seberapa sering. Olahan udang selalu jadi pilihan. Pria tua ini sudah tidak seperti dulu bebas makan apapun," ucap Wyatt lagi dengan terkekeh.
"Jika sudah diperbolehkan, aku akan memasakkan lagi udang balado. Jangan sungkan mengabariku, Besan. Lagipula, menantu punya cara untuk mengirimnya kepada anda."
"Baik, Landon. Aku akan melakukannya nanti."
"Ditunggu dengan sepenuh hati, Besan."
Kemudian dua orang tua itu memisahkan diri. Landon diam berdiri dan Wyatt masuk ke dalam mobil yang sudah ditempati Miles, Avery dan Evelyn.
Waktunya pergi dari Delan dan kembali ke aktifitas masing-masing di Hicyti. Nigel, Landon dan Ellie melambaikan tangan mengantar mobil keluar halaman rumah The Twins.
"Ayah, Bunda, malam ini tidur di sini saja, ya?" tawar Nigel setelah melihat angka yang ditunjukkan jam tangannya. Pukul sepuluh lewat.
"Terima kasih, Menantu Bunda. Nanti ada waktunya menginap di sini. Bukan sekarang," jawab Eliie mewakili suaminya.
"Baiklah, Bund, Yah. Aku antar ke seberang."
Nigel, Landon dan Ellie berjalan bersama melintas jalan raya. Lalu berlanjut sampai di depan pintu masuk rumah The Brown.
"Ingat pesan yang sudah Bunda sampaikan ya, Menantu. Gail sedang mencoba memperluas batas toleransinya terhadap hal-hal baru. Jangan biarkan dia merasa sendiri dan sendirian."
"Iya, Bund. Aku paham."
"Nigel, Ayah yakin Putri Ayah itu akan menjadi istrimu seutuhnya. Hanya perlu kesabaran dan kebaikan yang tanpa batas darimu," sambung Landon terhadap dukungan Ellie.
"Iya, Ayah. Aku tidak akan menyerah."
Landon menepuk pundak Nigel dengan makna bangga sekaligus menyemangati. Pria yang ada di depan matanya itu semakin tampak luar biasa.
Nama besar Nigel Irey yang Landon dengar-dengar sebagai sosok luar biasa dalam bidang bisnis, pekerjaan. Ternyata juga begitu terhadap keluarga.
"Ayah, bisakah kali ini aku memelukmu?" pinta Nigel dengan bertanya.
Segera dua pria beda generasi tersebut mendekat dan melingkarkan lengan. Momen itu berlangsung beberapa waktu sebelum melepaskan diri.
Ellie memperhatikan keduanya. Dia selalu tersentuh bagaimana cara Nigel memperlakukan mereka yang bukan siapa-siapa menurutnya.
"Terima kasih sudah menyelamatkan Gee-ku. Terus menjaga dan menyayanginya dan Duo J. Duniaku kembali hidup berkat Ayah dan Bunda."
Nada Nigel bergetar mengucapkan kalimat itu. Seperti mengendalikan campur aduk emosinya. Wajah bahagia dengan suara serak seperti akan menangis.
"Hal yang harus kembali pasti akan kembali pada waktunya," ucap bijak Landon.
"Baiklah. Senang rasanya karena Bunda dan Ayah bisa menikmati yang telah aku atur."
"Kami merasa terhormat Tuan Nigel Irey," kata Landon jenaka.
Suasana mellow tidak baik lama-lama. Beberapa patah kata pamit Nigel terdengar kemudian.
"Ayah dan Bunda kunci dulu pintunya. Aku akan pergi setelah itu," keukeh Nigel yang menolak untuk duluan melangkah.
Pasangan The Brown mau tak mau menurut. Lagipula sang menantu saat mengatakan itu terasa dalam mode keras kepala seperti putri angkat mereka.
Sesuai perkataannya, Nigel pun meninggalkan rumah The Brown. Langkahnya setengah berlari, ingin segera bertemu kembali dengan istri dan anak-anak.
Mata Nigel berkaca-kaca sesampainya di dalam kamar tidur utama nan komplit itu. Rasanya seperti mimpi, dia bisa melihat langsug pujaannya sedang lelap.
Berbagi tempat tinggal yang sama, kamar yang sama, kasur yang sama. Dilengkapi dengan dua anak yang menjadi anugrah baginya.
Pengaturan tidur berempat tidak jadi masalah. Nigel dan hasrat lelakinya masih aman terkendali sejauh ini.
Porsi Nigel adalah bagian kasur paling kiri dan disampingnya yaitu Jemma. Sedangkan Gail, tubuhnya berada di tengah-tengah anak perempuannya itu dengan anak laki-lakinya. Jaret tidur di paling kanan.
***
"Pap, bangun jam berapa?" tanya Jemma dengan muka bantalnya.
Perempuan kecil itu baru keluar kamar tidur utama dan melihat Nigel yang sedang mondar-mandir di area dapur yang menyatu dengan meja makan.
"Sepertinya dua jam lalu, Je. Bagaimana tidur Sang Putri?"
"Aku tidur dengan baik. Kenapa cepat sekali bangunnya, Pap? Apa aku mengganggu tidur Papa?" tanya Jemma lagi.
Nigel tersenyum manis mendengar nada khawatir Jemma. Dia menghentikan sebentar aktifitas dapur.
Jemma segera membentangkan lengan ketika dia menyadari Nigel berjalan ke arahnya. Dia ingin pelukan selamat pagi dari sang papa.
Pagi pertama saat tinggal bersama. Sisi emosional si genius Jemma merekam momen ini di memori indah. Dia berencana mengabadikan perasaan bahagianya dalam musik.
"Apa Jarrett masih tidur, Sang Putri?" tanya Nigel setelah membawa Jemma dalam gendongannya.
"Jarrett sudah bangun lebih dulu dariku, Pap. Walau badannya di kasur, tapi tangannya sudah memegang buku dan wajahnya serius sekali membaca. Papa sangat pas mengatur letak lampu baca di sebelahnya."
Nigel tertawa menanggapi. Dia membawa Jemma ke dekat kompor untuk memeriksa kematangan telur yang sedang direbus.
"Pap, seingatku sebelumnya meja itu tidak ada di dapur. Kalau kursi-kursi itu ada, tapi letaknya di sudut pintu masuk," kata Jemma setelah kejelian matanya beraksi.
Perempuan kecil itu merujuk kepada meja panjang yang sudah ditata menjadi meja makan dan enam kursi disekelilingnya yang berfungsi jadi kursi makan.
"Meja itu gampang diatur letaknya, Je. Nanti setelah Mama Duo J selesai sarapan, Papa akan tunjukkan dimana letak meja itu sebelumnya."
"Aku akan menunggu Papa memberi tahu. Sekarang apa yang akan aku bantu Pap?"
"Apa ya?" ucap Nigel sambil menyipitkan mata ke arah Jemma, seakan bertanya balik kepada putrinya itu.
"Pap, aku bisa melihat bahwa tidak perlu bantuanku. Yang diperlukan untuk sarapan sudah ditata dengan teratur."
| Diw @diamonds.in.words - Feb22
Entar bikin juga lagu buat muji bapakmu ye Je hehehe