
Rasa aman dan nyaman yang Jemma dapatkan dari pelukan sang papa dan usapan sayang di kepalanya membuat perempuan kecil itu mengeluarkan isi hatinya.
Nigel yang sedang memangku anak perempuannya yang bermanja-manja itu menjadi tertegun. Ada yang tak beres ketika mendengar kalimat Jemma.
"Bisa, Je. Kita hanya perlu lebih sabar supaya saat itu lebih cepat terjadi. Kenapa bertanya begitu, Sang Putri?"
"Tidak kenapa-kenapa, Pap," ucap Jemma lalu mengalihkan topik pembicaraan, "Pap, aku dan Paman Miel punya persamaan ya?"
Nigel paham Jemma tidak mau membahas apa yang dirasakannya. Sang papa pun tak akan memaksa, sehingga dia mengikuti kemana lontaran kalimat dari mulut manis putrinya.
"Tentu saja punya, Je. Kamu dan Pamanmu kan keluarga dekat. Beri tahu Papa, persamaan yang mana?"
"Sama-sama sedang dipeluk sambil duduk dan kepalanya diusap. Aku lihat Paman tertidur dipeluk Bibi. Kepala Paman juga diusap seperti ini. Aku kok jadi mengantuk."
Tawa Nigel terpancing oleh penuturan Jemma. Imut sekali putrinya berbicara. Dia juga jadi tahu kemana hilangnya pasangan yang dibicarakan itu.
"Sayangnya sekarang masih pagi, Je tidak bisa tidur sekarang. Semalaman sudah tidur, kan?"
"Iya, Pap. Jangan peluk dan usap kepalaku lagi. Jemma bersandar saja," ujar Jemma langsung menahan tangan Nigel.
"Oke. Apapun untuk Sang Putri."
Giliran tawa Jemma yang terpancing. Dia tidak ingin apapun selain harapan teruntuk keluarga sempurna terwujud.
"Pap, lihat Jarrett. Saudaraku itu semakin sering terlihat asik sendiri dengan tabletnya. Hadiah dari Papa itu jarang lepas dari tangannya."
"Jarrett sedang mempersiapkan kejutan. Tablet yang untuk hadiahmu masih sama Papa, kapan Je mau pakai?"
"Nanti saja saat aku sudah perlu. Kata Kak Ev, dia pakai tabletnya waktu sekolah. Pelajarannya ada di sana."
"Je bisa belajar musik pakai tablet itu. Nanti Papa atur program di dalamnya. Bagaimana, Sang Putri?"
"Terima kasih, Pap. Tapi aku sedang tidak mau. Untuk sekarang, besok, besok satu lagi, mungkin sampai besoknya besok."
Jemma tidak menjawab. Tubuh kecilnya itu memberi pelukan untuk Nigel dan mengeratkan dekapan mereka. Wajah cantiknya tenggelam di dada bidang sang papa.
Untuk sekian kalinya, insting Nigel meyakinkannya ada yang berbeda pada Jemma di hari ini. Otaknya mulai memikirkan siapa yang akan dia tanyai dan mencari tahu apa yang terjadi.
"Selamat pagi, Genius Tampan," sapaan diperuntukkan kepada Jarrett. Pasangan Miles dan Avery lebih dulu melihat anak laki-laki itu ketika masuk ke kamar Nigel.
"Selamat pagi, Paman dan Bibi. Tolong sapa dengan namaku saja," ucap Jarrett lalu kembali serius dengan bacaannya di layar tablet.
Padahal sudah tahu bahwa Jarrett tidak seperti Jemma yang bermulut manis, Miles tetap saja mengikuti Avery untuk menggoda si keponakan. Lihat istrinya menahan tawa, itu menyenangkan bagi Miles.
"Sayang, apa Jemma tertidur?" bisik Avery kepada Miles. Dia memastikan dulu sebelum bersikap.
Miles pun bertanya tanpa suara ke arah Nigel. Lewat isyarat, papa dari Jemma itu meminta keduanya menyapa juga sang putri yang wajahnya masih menempel pada Nigel.
"Selamat pagi, Keponakan Manis. Ini Bibi bersama Paman Jemma yang Menawan," ucap Avery energik supaya dibalas ceria pula oleh perempuan kecil itu.
"Selamat pagi, Bibi yang mempesona dan Paman yang menawan," sambut Jemma. Mulut manisnya sudah terlihat karena tidak lagi mendekap Nigel.
"Oh, kesayangan Bibi," ucap Avery tersipu.
Ucapan Jemma memang sesuatu. Setelah Miles, Avery pun kena. Untuk kedua orang dewasa itu, manisnya kata dan cara sang keponakan mengucapkan itu membuat hati tersanjung.
"Jemma, apa keripik-keripik ini kamu yang bawa?" tanya Avery sambil menunjuk bungkus-bungkus keripik yang ada di meja makan. Dia mengalihkan fokus agar tak meleleh oleh manisnya keponakan itu.
"Bukan, Bibi. Itu sudah ada sejak aku sampai di sini. Sepertinya Mama yang bawa. Sepertinya dibawakan khusus untuk Papa."
Sekali lagi Avery menahan diri untuk tidak kelepasan mengeluarkan tawa bahagianya. Sudah tahu itu isi dari kantong yang Gail bawa tadi saat dia jemput, tapi mendengar Jemma bicara menyenangkan baginya.
Nigel dan Miles berdiam untuk menyimak dua perempuan kesayangan itu bertukar suara. Ketika mendengar bagian terakhirnya, giliran Nigel untuk tersipu malu.