
Jarrett mengetahui bahwa Addison punya perlu untuk pergi ke dapur The Brown. Dia pun meminta tolong untuk diantarkan ke rumah, karena itu sejalan dari villa kantor tempat mereka berada.
Firasat Duo J tidak enak saat meninggalkan Gail dan Nigel berdua di rumah The Brown. Mereka tahu Gail tidak akan keluar rumah hari ini dan inginnya menemani sang mama bersama-sama.
Tapi The Brown membujuk Duo J untuk membiarkan Nigel saja yang menemani Gail di rumah. Mereka mengiyakan tapi tidak sepenuhnya setuju. Jadilah dua anak itu ada di villa kantor Addison.
“Jemma,” panggil Jarrett untuk membuyarkan lamunan sang saudari. Dia sedang berbaring di sofa ruang istirahat. Malas melakukan apapun termasuk menyentuh piano.
“Aku sedang tidak mau apa-apa, Jarrett,” jelas Jemma dengan nadanya yang lemah.
“Apa kamu juga tidak mau ikut pulang ke rumah The Brown sebentar lagi?” selidik Jarrett. Dia tidak suka Jemma yang murung seperti sekarang. Jadi si cengeng atau si usil lebih baik.
“Pulang? Sebentar lagi? Apa bisa?” tanya Jemma sedikit berteriak. Raut antusiasnya mulai terlihat.
“Bisa, Om Adi mau mengantarkan kita ke rumah. Tidak perlu menunggu Kakek menjemput sore nanti,” ungkap Jarrett sambil tersenyum.
“Kamu ingin kena marah, Jarrett? Kita sudah setuju, hanya ada Mama dan Papa di rumah sekarang,” kata Jemma kembali ke mode sebelumnya. Mendung kembali raut wajahnya.
“Tidak apa-apa. Suasana hatiku sedang tidak tenang. Ayo kita pulang, Jemma. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri,” pinta Jarrett sambil menarik lembut tubuh saudarinya.
Jemma menuruti apa yang Jarrett perintahkan. Beberes botol minum dan kotak makan mereka dengan cepat. Bekal makan siang yang baru setengah jam lalu dihabiskan.
Si genius yang berhasil tumbuh sebagai anak yang mandiri itu selesai membenahi barang-barang mereka dengan cepat. Satu tas sudah kembali terisi dan Jarrett menyandangnya.
Meskipun ukuran tubuh Jemma agak lebih besar dari Jarrett, si anak laki-laki tidak akan mau menyerahkan tas mereka itu untuk disandang sang saudari. Jarrett mencontoh Landon, pria teladannya.
Duo J keluar dari ruang istirahat lalu menuju ruangan Addison. Tapi belum sampai di tangga penghubung, keduanya sudah bertemu dengan orang yang mereka tuju.
“Duo J, ayo. Aku sedang buru-buru. Aku hanya bisa menurunkan kalian di halaman rumah The Brown. Oke, ya?” kata Addison menjelaskan agar Duo J yang genius paham dengan situasinya.
“Oke, Om Adi. Itu sudah sangat membantu pria kecil ini,” ucap Jarrett dengan wajah senangnya sedangkan Jemma hanya mengangguk sebagai respon.
Dengan gerakan cepat, Duo J dan Addison menuju garasi dan naik ke motor. Kecepatan laju kendaraan itu tidak santai, sesuai dengan yang dijelaskan tadi.
Selang beberapa menit saja, Addison sudah sampai di ujung halaman rumah The Brown yang bertepi dengan jalan. Duo J segera turun dengan mengucapkan terima kasih.
Jemma lebih dulu berlari melintasi halaman dan membuka kunci pintu rumah The Brown. Hati-hati digesernya daun pintu yang terbuat dari kayu itu agar bisa masuk tanpa menimbulkan suara.
Suasana rumah yang terasa sepi dan juga hening membuat perasaan Jemma was-was. Langkah kakinya terhenti, dia memutuskan untuk masuk bersama Jarrett saja. Dia menunggu.
Setibanya Jarrett di dekat Jemma, perempuan kecil itu bergerak pindah ke arah punggung sang saudara. Jarrett sudah paham saja, dia jadi perisai Jemma lagi.
Duo J pun melanjutkan langkah kaki memasuki rumah. Sampai di ruang tengah terlihat Nigel sedang meringkuk di lantai yang dialasi karpet. Pria besar itu lelap dalam tidurnya.
Lalu keduanya melanjutkan langkah ke kamar tidur. Ada Gail sedang tidur juga di kasur. Mengetahui kondisi seperti itu, Duo J menghela nafas lega.
Jemma meraih bantal yang selalu dia gunakan dengan hati-hati supaya pergerakannya tidak mengusik tidur Gail. Setelah dapat, perempuan kecil itu kembali ke ruang tengah.
Ada dua bantal yang dibawa, Jemma sorongkan satunya ke bawah kepala Nigel yang menyentuh lantai. Seketika itu membuat Nigel langsung terbangun.
“Je,” panggil Nigel memastikan apa yang dilihatnya dan memaksa kesadarannya terkumpul cepat. Lagi berkata, “Sejak kapan Sang Putri ada di sini? Pulang dengan siapa, Je?”
Sambil bertanya, mata Nigel mencari-cari jawaban sendiri dengan memperhatikan situasi dalam rumah. Tidak ada orang selain mereka berdua yang tampak dari ruang lepas.
“Pakai bantal itu, Pap. Aku baru sampai bersama Jarrett. Tadi diantar Om Adi pulang. Ayo tidur lagi, Pap,” jelas Jemma sembari ikut merebahkan tubuh kecilnya itu di samping Nigel.
Setelah berbaring dengan nyaman, Nigel ingin berkata lagi tapi dia tahan. Dia melihat Jemma sudah tertidur menghadap tubuhnya.
Nigel menjadi tergerak untuk bangkit sebentar. Dia ingin memastikan kondisi Gail sebelum menemani sang putri yang ikut tidur di lantai dengannya.
Lantai kayu berlapis karpet ternyata cukup rasanya untuk membuat tubuh lepas lelah. Ditambah suasana siang hari yang cukup terik di luar rumah tampak dari jendela.
Meski tertatih-tatih untuk sampai di pintu kamar tidur Gail, Nigel bisa bernafas lega pada detik selanjutnya. Sang istri masih terlihat pulas dan sekarang ada pelukan Jarrett membelit tubuh sang mama.
Nigel tersenyum dengan rasa cemburu. Iri dengan yang dilihatnya itu, anak laki-lakinya mudah saja untuk memeluk Gail. Malahan pelukannya sebagai obat bagi sang istri.
Berbeda dengan dirinya, Nigel yang menyentuh pipi Gail untuk mengusap air mata saja mendapati reaksi penolakan. Bahkan penolakan itu membuat Gail jadi kesakitan lagi.
Tidak tega tapi juga tak rela, Nigel ingin egois tapi dia sudah sampai di tahap sejauh ini dengan Gail. Entah kapan bisa kembali seperti berdua yang dulu lagi bersama wanita tercintanya itu.
Nigel memutar badannya untuk berjalan lagi. Dia berbalik ke arah Jemma, sang putri yang jadi penghubungnya dengan Gail dan membiarkan Jarrett dengan sang istri agar lebih cepat membaik.
“Terima kasih, Je. Papa mencintai mamamu, menyayangimu dan saudaramu serta menghargai semua yang ada pada kalian,” bisik Nigel lalu mengecup kening Jemma.
Kedua manusia beda generasi itu pun sama-sama rebahan di lantai. Momen yang tidak pernah ada terbayang dalam pikiran Nigel namun dia berusaha menikmatinya sekarang.
Nigel pulang ke dalam kehidupan yang diisi kehadiran Gee, adalah bagai mimpi yang jadi kenyataan. Ternyata tidak hanya sang istri, ada tambahan dua nyawa baru yang berasal dari paduan dirinya dan Gee.
Bahkan ada juga kehadiran orang-orang berhati baik yang membantu untuk memuluskan jalan Nigel dalam menjangkau Gee untuk pulang juga kepadanya. Hanya perkara waktu, hibur Nigel dalam hati.
Nanti akan tiba saatnya semua perasaan-perasaan buruk yang ada jadi kalah banyak dengan perasaan-perasaan baik. Saat itu pasti tiba, kata hati Nigel lagi.
Tidak apa-apa sedih sekarang, kalimat Nigel dalam hati menuruti perasaannya kini. Intuisinya membuat Nigel mendekap lembut tubuh Jemma, mencari tambahan sumber kekuatan.
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021