DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Drastis



Nigel tersenyum senang menikmati interaksi ibu dan anak. Sisi lembut Gail kembali, tidak seperti barusan. Tapi ada sesuatu dengan Jarrett, seperti memberi kode tentang sesuatu padanya.


Lewat gerakan mulut tanpa suara, Jarrett mengatakan dua kata: duduk kembali. Siasatnya minta digendong Gail agar bisa bicara pada Nigel dari balik punggung sang mama berhasil.


Nigel paham dan tak membuang waktu lebih lama. Dia mendekati kursi rodanya dan duduk kembali di sana. Ternyata itu jawaban terkait sikap Gail yang berubah drastis tadi.


Setelah memastikan apa yang Nigel lakukan, akhirnya Jarrett lega. Dia segera meminta Gail menurunkannya dari gendongan sang mama. Dia sudah menyelamatkan kelangsungan keluarga mereka.


Jarrett tidak mau mama yang dalam mode si pemaksa itu, bertingkah yang membuat rasa cinta sang papa berkurang. Sebagai anak, dia  juga tidak mau diam saja- mengambil resiko itu.


Walaupun Jarrett pernah mendengar perkataan sang papa bahwa dirinya mencintai semua hal yang ada pada mama. Lebih baik mencegah hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi pada keduanya.


“Jarrett, kenapa menahan mama dan papaku di sana?” teriak Jemma beberapa meter dari tempat saudara dan kedua orang tuanya sedang berada. Raut wajahnya ditampilkan garang.


Mode saling mengusili yang ada pada kedua anak kembar beda jenis kelamin itu dimulai. Gail sudah paham saja dan jadi penonton. Itulah pilihan bijaknya.


“Jarrett tidak menahan, Je. Kami tidak sengaja bertemu di sini sebelum sampai di ruang musik,” jelas Nigel dengan lembut dan dua lengannya dibuka untuk minta Jemma mendekat.


Sedangkan Jarrett yang diteriaki tadi membalas Jemma dengan mencibir, mengeluarkan lidah meledek sang saudari. Ditambah gerakan-gerakan badannya yang mengejek.


“Pap, lihat Jarrett,” adu Jemma sambil meraih kedua lengan Nigel agar memeluknya sambil dipangku di atas kursi roda. Rautnya berubah drastis, dari garang jadi mengiba.


Sekian detik Nigel melongo dalam hati lalu dia mengalihkan pandang ke arah Gail. Sang istri tampak samar geleng kepala dengan tingkah Duo J barusan. Drama si kembar.


“Papa harus bagaimana, ya?” ucap Nigel merespon dengan cara Jemma bicara. Dia ikuti tingkah mengiba sang putri. Yang malah terlihat aneh nan lucu.


Tawa pun pecah. Kedua anak dan kedua orang tua. Harmonis terasa dalam interaksi mereka. Saling melihat mata yang memancarkan suasana hati yang riang.


Selang beberapa waktu, mereka berpindah ke ruang musik. Jemma ingin mempertunjukkan lagu yang baru selesai dia pelajari.


Si pianis mau unjuk kebolehan di hadapan mama dan papa serta saudara kembarnya. Waktu yang pas karena Gail dan Nigel hadir bersama menjadi penontonnya pertama untuk lagu ini.


Jemari-jemari Jemma pun menari di atas tuts hitam putih piano. Bunyi dari tekanan-tekanan jari lincah itu terdengar sampai ke hati. Khas Jemma yang genius memainkan perasaan.


Di sisi lain, Jarrett larut dalam suasana yang dia rekam dengan kamera ponselnya. Gambar menunjukkan raut bahagia Gail dan Nigel.


Sang mama sudah bisa nyaman dekat berdua dengan papa. Berbeda drastis dengan keduanya saat pertama bertemu pada beberapa hari lalu.


Sejak Jemma meminta kedua orang tua mereka duduk menonton pada posisi yang dia inginkan, itu adalah detik dimulainya video yang Jarrett buat. Kejeniusan rencana mereka terlaksana.


Lagu romantis untuk kedua orang tua. Itu Jarrett dapat dari teori-teori tentang cinta untuk pasangan suami dan istri agar semakin mencintai.


Otak genius Duo J tidak boleh sia-sia, begitu kalimat mereka saat berdiskusi jika sedang berdua saja. Urusan antar saudara kembar yang punya impian yang sama.


Pada akhir lagu yang dibawakan Jemma, pipi Gail basah. Meski dirinya sendiri tidak paham betul apa makna dari air mata itu, tubuhnya bergetar. Lagu akhirnya selesai.


“Gee, apa-” ucap Nigel terputus ketika dia melihat Gail menangis. Suami itu kaget dan refleks mengusap air yang jatuh dari mata sang istri. Sembari memanggil, “Gee.”


Ponsel segera disakukan dan berlari ke Gail untuk memeluk sang mama. Lewat matanya, Jarrett meminta Nigel untuk diam di tempat. Cukup melihat saja, itu jadi batasan saa ini.


Tubuh Jarrett yang lebih kecil dari Gail itu memberi pengaruh besar pada diri sang mama. Seperti ada energi yang bisa membuat ketenangan kembali dan merespon getaran tadi untuk berhenti.


Jemma yang tadinya menyimak apa yang terjadi juga ikut menangis. Tangis ketakutan yang ada pada perempuan kecil berusia lima tahun itu. Dia terkejut dengan reaksi sang mama.


Nigel tidak lagi memfokuskan perhatiannya pada Gail karena insting kebapakannya menuju Jemma. Sang putri masih duduk di bangku piano dan berlinang air mata tanpa keluar suara.


Situasi drastis yang belum pernah Nigel temui dan alami. Pertama kalinya pria itu menghadapi keadaan yang seperti ini. Melihat Gee dan Je serta air mata keduanya.


Kursi roda Nigel bergerak ke posisi Jemma. Sang putri yang bisa ditenangkannya saat ini. Sebab Jarrett sudah bersama Gail dan dia tidak mau berdiam diri saja.


Ternyata ketika sadar menjadi seorang ayah, cara hidup sebagai seorang suami pun jadi tidak sama lagi. Begitu yang terjadi pada Nigel. Drastis sekali.


Ketika Nigel lemah kerena air mata Gee, disaat yang sama dia harus kuat untuk air mata Jemma. Papa segera meraih sang putri dan memeluknya seperti Jarrett menenangkan Gail.


“Pap, aku salah. Aku berbuat salah tapi aku tidak tahu apa,” gumam Jemma dalam pelukan Nigel.


“Kenapa bilang begitu, Je?” ucap Nigel melembutkan suaranya. Jika telinganya tidak peka, suara Jemma barusan tidak akan terdengar olehnya.


“Lihat mama tidak baik-baik saja karena aku, Pap.”


“Mama akan baik-baik saja. Sang Putri hanya perlu sabar menunggu Mama membaik.”


“Aku tidak seperti Jarrett, Pap.”


“Jarrett adalah Jarrett dan Jemma adalah Jemma,” ujar Nigel sambil mengusap punggung sang putri. Dia rasa ada sesuatu yang belum dia pahami.


“Pap, kalau Jarrett bikin ulah maka mama hanya marah dan semua baik-baik saja. Kalau aku, aku ini tidak pernah dimarahi mama tapi mama jadi sakit. Lalu, semuanya memburuk.”


“Je,” ucap pendek Nigel. Dia mendengarkan curahan hati perempuan kecilnya, tidak perlu bicara macam-macam untuk menghentikan tangis itu.


“Aku salah apa sekarang, Pap. Aku tidak mau mama sakit. Aku mau semua baik-baik saja.”


Nigel kehabisan kata-kata sehingga dia mendekap Jemma lebih erat dan berharap kehangatan mereka membuat sang putri tenang kembali. Otaknya juga berpikir ada apa.


Seperti roller coaster, kebahagian dan kesedihan bertukar posisi secara drastis dalam waktu yang cepat. Nigel ingat lagu yang dimainkan Jemma adalah salah satu favorit Gee dan dirinya dulu.


Ketika Nigel ingin memberitahukan hal yang menyenangkan itu pada Gail, dia malah mendapati hal yang menyedihkan.


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021