DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Ekspresi



*Kilas balik pada waktu pamitan antara Jarrett dan Nigel..


“Om Nig,” panggil Jarrett. Suaranya setengah berbisik. Ada rasa yang tidak tahu apa, mengganjal dalam diri pria kecil itu.


Padahal harusnya Jarrett senang sekarang sebab dokter menyatakan kondisi stabil Nigel sudah membaik. Addison dan dirinya sudah bisa kembali ke pulau Delan, sesuai kesepakatan dengan Miles.


Seperti yang Jarrett dengar, pada kondisi stabilnya Nigel bersikap bagai orang sulit didekati dan jika kambuh bagai orang gila, tidak bisa mengontrol diri sendiri.


Jarrett menatap mata Nigel. Pandangan pria itu tampak fokus olehnya. Aura dingin menguar dari saling tatap itu. Sisi hangat yang jadi favorit Jarrett tertutupi.


“Om Nig, lima menit lagi mobil jemputanku datang untuk mengantar ke pelabuhan. Kita tidak bertemu lagi. Boleh aku memelukmu untuk ucapan selamat tinggal, Om?” kata Jarrett gugup.


Miles yang mendengar permintaan Jarrett menjadi terdiam. Tidak menyangka si kecil itu bisa mengucapkan permintaan pada Nigel yang mode dingin. Yang seharusnya membuat dia merasa takut.


Beberapa detik berlalu sebelum ada respon dari Nigel membuat Addison was-was. Dia sebagai wali Jarrett bingung harus berbuat apa dengan suasana mendebarkan itu.


Kedua lengan Nigel bergerak membentang. Miles paham itu cara saudara kembarnya mengatakan boleh pada Jarrett.


Belum sempat Miles menerjemahkan respon Nigel, Jarrett sudah berhamburan memeluk pria yang duduk di kursi roda itu. Tapi Miles sempat menangkap sebaris senyum Nigel yang samar.


Setelah cukup puas, Jarrett mengurai pelukannya dengan Nigel. Lalu meraih telapak tangan kanan Om Nig-nya itu, dia tidak peduli apa tingkahnya ini bisa membuatnya dimarahi.


Jarrett mencium punggung tangan Nigel. Dia meniru yang sang mama lakukan pada sang kakek ketika mereka berpamitan.


Ketika Jarrett mengangkat wajahnya dari punggung tangan itu, fokus pandangannya tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Nigel. Tampak familiar rasanya tapi tidak ingat.


Raut wajah Nigel berubah terkejut dan itu terlihat jelas di muka yang tadinya datar itu. Tak seperti yang sudah-sudah, ekspresi samar-samar yang ada padanya.


Ingatan Nigel terbawa ke memorinya bersama istri tercinta. Istrinya adalah orang satu-satunya yang mencium punggung tangannya sejak mereka menikah dan dia suka momen itu.


Istrinya juga suka memanggil dengan menyingkat namanya menjadi Nig. Seperti saat anak laki-laki itu menyebutnya Om Nig, ada bagian hatinya yang tersentuh.


Sang istri juga satu-satunya perempuan yang Nigel izinkan untuk menyentuhnya bahkan hingga kini. Biarpun orang-orang selalu berkata istrinya dianggap sudah meninggal.


Baginya, Nigel Irey hanya untuk Genaya Edith. Lebih tepatnya, Genaya Edith Irey. Yang baru satu hari merasakan status sebagai istrinya, lalu pergi sebelum menikmati banyak hadiah yang akan diberikan padanya selama hidup.


***


“Aku ingin kesana. Aku ingin bertemu Gee. Gee-ku ada disana. Aku benar Gee-ku masih hidup. Aku ingin Gee-”


Ucapan Nigel terpotong karena luapan perasaannya menjadi terganti dengan tangis. Miles merengkuh tubuh kakaknya yang bergetar sembari berjaga-jaga dengan apa yang akan terjadi.


Perlu beberapa menit untuk Nigel kembali tenang. Miles juga sudah tanggap dengan segala kemungkinan yang berkaitan dengan reaksi kakaknya ini. Ruang privat untuk mereka berdua saja..


“El, aku sudah menyiapkan kapal dan helikopter. Namun ada yang harus jadi pertimbangan, Kak,” kata Miles dengan lembut sembari meraih telapak Nigel untuk digenggam.


“Aku sangat ingin bertemu Gee-ku, Es,” balas Nigel memohon. Miles paham dengan perasaan itu. Rasanya berpisah dengan sang istri memang sangat menyiksa.


Bahkan yang Nigel alami lebih berat daripada yang dirinya rasakan. Rindunya pada Avery yang sering mengalah untuk menghabiskan waktu bersama yang berdua saja demi kondisi Nigel yang ketergantungan pada Miles.


“Dengarkan, aku sungguh-sungguh. Jarrett pernah mengatakan bahwa mamanya tidak pernah pergi dari pulau Delan karena tidak bisa. Meski aku tidak diberi tahu alasannya, aku yakin Genaya tidak akan menghilang dari sana.”


“Aku rindu, Es. Aku rindu Gee-ku.”


“El, jika kamu bisa, aku pun akan langsung membawamu kesana. Tapi kondisimu sekarang belum memungkinkan, Kak”


“Bisa, Es. Aku bisa. Aku ingin Gee-ku. Traumaku bukan apa-apa. Pakai helikopter saja sehingga aku tidak naik kendaraan air.”


“Helikopter hanya bisa sampai pulau Mainland. Tidak ada helipad di pulau Delan. Kamu masih harus melewati laut dari Mainland ke Delan, El.”


“Es, aku mohon.”


“Jika kondisi kakimu tidak seperti sekarang, kamu bisa turun helikopter lewat tangga tali seperti yang kamu pernah lakukan dulu,” ucap Miles hampir putus asa.


“Es, aku mohon antar aku bertemu Genaya. Kalau aku mulai bereaksi dengan traumaku, aku tidak akan memaksamu lagi. Aku akan menuruti semua yang kamu katakan.”


“Baiklah. Ingat juga yang barusan kamu baca itu, Genaya yang sekarang adalah Gail, seorang ibu dari anak yang bernama Jarrett dan Jemma. Yang terpenting adalah Genaya sedang lupa ingatan sejak kecelakaan kalian.”


***


“Gail, coba lihat informasi ini,” kata salah satu karyawan The Brown.


Gail meraih ponsel yang diulurkan oleh si karyawan yang berumur lebih muda darinya itu. Pada layar tampak foto poster yang diminta untuk dia baca.


“Terima kasih, ya,” ucap Gail seraya mengembalikan ponsel tadi pada pemiliknya. Dia sudah mencatat poin penting untuk dia kerjakan, mengikuti lomba tersebut.


“Mama. Mama. Mama,” teriakan yang Gail hafal itu berasal dari Jarret terdengar mendekat ke arahnya. Segera sang mama berlari ke arah halaman.


“Putraku,” sambut Gail dengan wajah khasnya, raut bahagia.


Sisi kanak-kanak Jarrett langsung membuat dirinya minta digendong Gail. Wajah memelas ingin dicium juga tidak ketinggalan.


Jarrett sangat rindu pada wanita yang menggendongnya ini. Ternyata tiga hari berpisah bisa membuatnya ingin bermanja-manja seperti ini dengan Gail.


“Jarrett, apa kamu lupa badanmu semakin besar. Jangan berlama-lama digendong,” ucap Addison mengusili pertemuan antara anak dan ibu itu


“Aku sangat kangen mamaku, Om Adi. Tunggu sampai mama marah, aku baru mau turun,” kata Jarrett memelas. Wajah lucunya mengundang tawa Gail dan Addison.


“Lepaskan mamaku, Jarrett. Yang harusnya lama-lama kamu peluk itu aku,” sela Jemma sambil berlari ke arah tiga manusia yang masih berdiri di halaman.


Jarrett segera menggerakkan badan pertanda minta diturunkan Gail. Dia langsung menyambut saudarinya yang sengaja menabrakkan tubuh mereka. Keduanya terkekeh.


Mereka berempat lalu menemui The Brown yang sedang berada di dapur. Sekaligus Addison berpamitan pada pasangan yang juga seperti orang tua untuk pria muda itu.


Jarrett berada di daftar pertama apa yang Addison lakukan sesampainya di pulau Delan. Yaitu mengantar si pria kecil  ke tempat The Brown sebelum dirinya pulang ke villa.


Cukup puas melepaskan kangen, mereka pun berpencar karena masih waktu kerja. Gail punya urusan dengan Addison ke villa kantor, Landon lanjut memasak dan Ellie mengurus persedian bahan.


Sedangkan Duo J memilih ke ruang kerja Gail untuk menghabiskan waktu menunggui orang dewasa tersebut hingga selesai bekerja.


“Ini untuk Jarrett Brown,” ujar Jemma riang dan satu wadah bekal berisi salad buah disodorkan tepat di depan wajah saudaranya itu.


“Penolong sekali Jemma Brown,” tanggap Jarrett dengan kesal karena hidungnya hampir bersentuhan dengan sisi wadah. Berkata lagi, “Aku memang kangen ini tapi bisa ambil sendiri.”


Jemma tertawa. Memang tujuannya membuat Jarrett berkata dengan nada kesal padanya. Dia suka dan rindu mendapatkan delik mata seperti sekarang.


“Suapi juga aku,” pinta Jemma setelah itu membuka mulutnya agar yang sedang ada di sendok Jarrett beralih ke mulutnya.


“Tutup mulutmu. Salad ini jatahku. Sudah tiga hari aku yang merasakan racikan tangan mama,” kata Jarrett, yang masih bersuara dengan nada kesal.


“Iya, baiklah,” ujar Jemma dengan senyum lebarnya. Lanjut berkata, “Melihat kamu makan seperti itu, aku jadi kenyang. Sudah tiga hari aku tidak sekenyang ini.”


Jarrett tidak lagi balas bersuara. Giginya sibuk mengunyah potongan buah dan hatinya sibuk merasakan senang kembali berada bersama keluarga.


“Jarrett,” panggil Jemma kemudian berpindah ke sofa dan duduk bersandar. Berkata lagi, “Setelah kamu selesai dengan salad buah, berikan aku pelukanmu.”


Hanya dalam hitungan dua menit, Jarrett mengabulkan perkataan Jemma. Dia juga rindu momen berbagi pelukan sayang itu.


“Jemma, aku mengerti sekarang,” ucap Jarrett serius dan membuat saudarinya itu menoleh dan menatap dengan raut wajah serius pula.


“Apa?”


“Kenapa kamu bisa semanja-manjanya,” ujar Jarrett ringan lalu tertawa usil.


“Jarrett Brown!” teriak Jemma. Gantian dia yang dibuat kesal.


“Aku serius, kembaranku,” ucap Jarrett sembari lebih mengeratkan dekapan mereka. Lanjut berkata, “Berpisah lebih sehari. Jauh dari keluarga. Ternyata itu tidak mudah.”


“Benar,” timpal Jemma lalu berkata,” Besok kita berpisah lagi, kembaranku.”


“Jadi kamu batal untuk berhenti tampil main piano di pesta. Sudah aku duga, kamu dan musik mana bisa dibatasi.”


“Benar. Aku juga jadi punya kakak karena dia suka musikku.”


“Yang namanya Evelyn, ya?”


“Iya, Evelyn Irey.”


“Irey? Keluarga Irey, maksudmu?” ujar Jarret spontan. Dia baru tersadar dengan nama belakang anak perempuan yang akhir-akhir ini sering jadi topik Jemma.


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021


**Penting bagi keberlangsungan novel ini, wahai Pembaca.. silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Juga, bagikan. Makasih ya :))