
Dari kejauhan, Jemma sudah bisa tahu siapa yang menuju ke arah ruangan yang sedang ditempatinya. Yang menjadi alasan perubahan waktu untuk pulang ke Delan.
Jemma dengan kebahagiaannya yang meluap-luap berlari ke Wyat. Dia tidak bisa sabar dengan duduk manis saja di samping Nigel dan Miles.
Meskipun di meja terdapat hidangan yang penataannya cantik, rasanya lezat, porsinya kecil-kecil tapi banyak, Jemma tidak terlalu peduli.
Ruang privat restoran elit sudah biasa bagi Jemma kini. Apalagi tempat dia berada sekarang, sudah keseringan karena jadi titik bertemu keluarga Irey di luar rumah.
Angelicresto, salah satu lini bisnis Iking Group. Letak bangunannya strategis di tengah-tengah Hicyti, menjadi solusi untuk anggota keluarga Irey yang mobilitas tinggi untuk bertemu di sela agenda.
"Cucu Manis, Grandpa," sambut Wyat lalu sebelah tangan tuanya mengusap sayang pucuk kepala Jemma. Hal favorit si genius manis.
"Jemma merindukan Grandpa. Kabar gembira juga sudah menunggu Grandpa," balas Jemma energik. Kemudian dia mencium punggung tangan Wyat sebagai bentuk salam.
“Grandpa juga. Sangat merindukan Jemma. Ayo,” ucap Wyat antusias sambil menggandeng tangan cucu perempuannya itu lalu melanjutkan langkah ke arah dua anak laki-lakinya berada.
Dengan cara jalan diselingi lompatan-lompatan kecil, Jemma menyesuaikan kecepatannya dengan Wyat. Sebentar, keduanya berkumpul di tempat yang sama dengan Nigel dan Miles.
“Father,” sambut dua pria yang sudah berdiri di hadapan Wyat.
Keluarga Irey itu pun saling bersuara, bertukar kabar, dan tentu saja poin penting berkumpul kali ini adalah berbagi kebahagian terhadap sembuhnya kaki Nigel.
Minus kehadiran, Avery ikut serta lewat sambungan video. Urusan istri Miles itu belum selesai di sekolah yang Evelyn masuki. Savvy Edu, satu lini di Ikingducation.
Rasanya hati Jemma penuh. Genius manis itu suka dengan perasaan yang sedang terasa seperti sekarang. Hari terbaik ke sekian kali yang akan dia patri dalam memori.
Lihat Nigel dalam raut wajah cerah dan haru berterima kasih, Miles yang matanya berkaca-kaca dalam mengucap syukur, ditambah Wyat mengeluarkan air mata bahagia.
Saat itu, otak genius Jemma memproses momen bahagia di depan mata ke bentuk musik di dalam kepalanya.
Muncul dorongan untuk memainkan tuts piano, darimana asalnya Jemma tidak peduli. Serasa akan meledak dirinya jika tidak memainkan musik secara nyata.
"Pap, aku perlu piano. Sekarang juga. Kepala Jemma seperti akan pecah," adu sang genius dengan tatapan mata memohonnya.
"Wajahmu pucat dan berkeringat, Je," kata Nigel terkejut, menyadari keadaan putrinya. "Papa gendong untuk berbaring."
Tanpa menghiraukan perkataan Jemma, Nigel mengangkat tubuh kecil itu. Panik sudah sang papa.
"Pap, mau piano," lirih Jemma dan dua matanya dipejamkan, menahan ada rasa berat di kepalanya.
"Iya, Je. Main pianonya setelah kamu baikan, ya Sang Putri. Paman Es sudah menelepon dokter untuk ke sini," jelas Nigel dalam kepanikannya.
Tidak ada pengalaman yang Nigel pelajari untuk menghadapi Jemma yang dia lihat kesakitan. Ini pertama kalinya bagi sang papa dan dua pria Irey lainnya.
"Bawa piano kepadaku, Pap. Kepala Jemma rasanya mau pecah," rengek Jemma dan itu membuat Nigel mengikuti instingnya.
"Es, apa piano restoran ini sedang digunakan?" tanya Nigel pada Miles, sekalian meminta bantuan sang adik kembar.
"Aku-" ucap Miles terpotong.
"Di lantai paling atas masih ada piano. Di ruangan favorit Mother. Gendong Jemma cepat, El. Dokter masih di perjalanan," titah Wyat.
Terang saja Nigel bergerak cepat. Dia benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi saat begini.
Jemma kembali digendong Nigel lalu menaiki lift. Para karyawan yang bertugas pun cepat tanggap.
Kembang-kempis dada Nigel menghadapi kondisi Jemma. Ingatannya menuju Gail, dia merasa bersalah pada sang istri karena tak becus menjaga putri mereka.
"Pap," lirih Jemma mengeratkan belitan lengannya dalam gendong ala koala dengan Nigel.
"Sedikit lagi kita sampai, Je. Sang Putri merasakan apa sekarang?" ucap Nigel lembut. Dia menekan getar suaranya agar kepanikannya tidak memperburuk Jemma.
"Papa akan melakukan yang terbaik untuk Sang Putri. Papa selalu denganmu, Je. Nanti kita pikirkan bagaimana mengabari Mama setelah dokter periksa kamu, ya?"
"Iya, Pap."
"Nah, sampai Je. Papa turunkan Sang Putri. Beri tahu Papa yang kamu rasakan."
"Iya, Pap," ucap Jemma lagi.
Biasanya dia mengangguk untuk mengiyakan tapi kini berat kepalanya. Jemma duduk di menghadap piano dengan sesekali dua matanya dipejamkan lama. Itu rasanya cukup meringankan kepala.
"Pap," panggil Jemma kemudian.
"Iya, Papa di sini. Bisa Je rasakan Papa menyangga tubuhmu?"
"Bisa. Pap, ponsel Papa ada sama siapa?"
"Di saku celana Papa. Kenapa, Je?"
"Tolong videokan aku main piano ini, Pap. Dari belakang saja, sambil Papa berdiri sekarang. Boleh ya?"
"Iya, Sang Putri. Benar, tidak apa-apa wajahmu tak ada di video? Papa minta kakak pelayan yang ambilkan video, bagaimana?"
"Tidak apa-apa. Yang paling perlu musiknya, Pap."
"Ya sudah. Papa ambil ponselnya dulu, Je."
Setelah kamera ponsel Nigel nan kualitasnya tidak diragukan lagi itu siap, Jemma mulai memainkan jari-jarinya lincah mengeluarkan musik dengan piano.
Seiring Jemma mengikuti nada-nada yang terangkai dalam otak untuk dipindahkan ke alunan melodi lewat tuts yang alat musik itu punya, semakin membaik kondisi kepala genius manis itu.
Jemma terus memainkan piano. Bahkan ketika tim dokter yang diminta oleh Miles datang, dia tidak mempedulikan.
Seakan mengeluarkan semua rangkaian nada yang sedang berada di otaknya harus Jemma selesaikan saat ini juga. Instingnya mengatakan memainkan piano adalah obat untuk kondisi kepalanya yang sakit tiba-tiba.
Di saat Jemma fokus dengan musiknya, orang-orang yang berada dalam jangkauan suara piano terhanyut dengan permainan sang genius. Energi bahagia dari alunan nada bertempo cepat menular.
Seolah mendengar satu orang tertawa lepas dan renyah nan membahagiakan lalu tawa tersebut membuat senang hati orang lain, sampai-sampai membuat ikut tertawa.
Nigel teringat Gail, seandainya ada disini bersamanya mendengar permainan musik Jemma. Walau dia merekam dan bisa memperlihatkan video nantinya, tetap saja rasanya tak akan sebagus menyaksikan langsung.
Selesai Jemma menuntaskan permainan pianonya, rasa kepala si genius pun seperti tidak pernah ada yang terasa tadi.
Plong dan segar daripada keadaan yang sudah-sudah, itu yang Jemma rasakan.
Benar yang Jarrett pernah bilang kepadanya, bahwa Jemma dan musik tidak terpisahkan. Seketika perempuan kecil itu tersadar waktunya pulang ke Delan.
"Pap," panggil Jemma cepat. "Kita masih bisa sampai di rumah sebelum mama tidur, kan?"
"Kalau kita berangkat sekarang, masih terkejar. Tapi Je harus pemeriksaan dulu. Kita telepon Mama saja untuk bilang telat pulang, ya?" ucap Nigel yang memberi ruang Jemma beropini.
"Pap, aku sudah sehat. Kepalaku membaik setelah main piano. Bahkan lebih baik rasanya. Mohon, Pap. Kita pulangnya sekarang."
Nigel memperhatikan wajah Jemma dengan seksama. Mempertimbangkan apa yang dilihatnya dan Jemma katakan.
"Mohon, Pap. Aku mau memperlihatkan video barusan ke Mama sebelum waktunya harus tidur. Langsung dariku."
|Bersambung.. Diw @ diamonds.in.words - Januari22
Genius emang beda, Jemma oh Jemma..