
Halaman belakang rumah yang ditempati Nigel berukuran luas. Setahu Gail itu hanya tanah yang dibiarkan begitu saja oleh pemilik sebelumnya, ditumbuhi rerumputan yang masih dibatas wajar rimbunnya.
Tapi melihat yang di depan mata, tidak disangka Nigel bisa mengubahnya jadi sesuatu yang tidak terbayangkan. Gail seperti sedang berada di tempat yang berbeda, bukan di Delan yang dia kenal.
Padahal ketika melewati bagian dalam rumah, suasananya tampak seperti yang biasa Gail temukan di pulau tidak besar ini. Khas dengan kesederhanaan, yang sama dengan rumah pada umumnya.
Berbeda sekali dengan tempat Gail berdiri sekarang. Setelah dia mengikuti The Brown melewati pintu menuju tempat makan malam bersama diadakan. Itu seperti kejutan yang menyenangkan.
Rumput, semak dan sebagainya yang tumbuh liar sudah tidak ada, berganti dengan tanaman dan bunga yang dirawat. Penataannya juga sedap dipandang.
Lahan kosong yang luas itu juga sudah ditempati furnitur. Dari tampilannya, itu semua dibawa dari luar Delan. Tampak kualitasnya tinggi dengan kesan mewah dan elegan.
Meja makan panjang, kursi-kursi di sekelilingnya, tenda sebagai atap serta pencahayaan dari lampu dan lilin yang letaknya diatur sedemikian rupa. Suasana terasa intim dan hangat juga membahagiakan hati yang hadir.
Ada banyak orang yang sedang berada di halaman, Gail masih mematung. Dia di posisi tidak jauh dari pintu belakang rumah Nigel yang baru Duo J menyebutnya dengan nama Rumah The Twins.
Dari jarak sekian meter, Nigel menoleh ke arah Gail karena ada instingnya, merasa diperhatikan. Sang istri memang cukup lama terdiam dan mengarahkan perhatian pada si suami.
Nigel yang berkursi roda memangku Jemma dari tadi. Dia berusaha keras mengendalikan perasaan cemburunya pada Gail dengan cara mengalihkan fokusnya ke sang putri.
Suami itu tidak ingin kelepasan mengekspresikan perasaanya pada Gail. Belum waktunya juga. Dia masih dalam periode ujian dan harus berhasil tidak melewati batas.
Meski sangat tersiksa, tapi bagi Nigel itu lebih baik. Dia hanya harus lulus dari masa tersebut untuk mendapatkan level selanjutnya dari kebahagian hidupnya.
Selama beberapa saat, mata pasangan suami istri itu bertaut. Nigel tidak bisa membaca raut wajah apa yang ditampilkan Gail. Perasaan apa yang sedang dirasakan. Bahagia atau tidak.
Keduanya diam tapi saling melihat. Hanya ada berdua dalam tatapan mereka. Lalu kontak mata suami istri itu terputus. Kembali sadar pada keadaan sekitar yang ramai.
"El, ini benar-benar mengejutkan," suara dari ucapan itu mendekat ke posisi Nigel berada.
"Father, suka dengan kejutanku?" ujar Nigel bertanya sambil tersenyum hangat dan Jemma bergerak turun dari pangkuan sang papa untuk menyambut Wyatt.
"Grandpa," sapa Jemma antusias dan berlari mendekati. Dia suka pucuk kepalanya diberi usapan sayang dari kakek yang dimilikinya bersama Evelyn.
“Cucu manis,” balas Wyatt tak kalah hangat menyapa Jemma. Mereka sudah beberapa hari tidak bertemu.
Sebab terakhir adalah giliran Jemma yang menginap di mansion utama Irey untuk bertemu dan menjalankan misi kesembuhan untuk sang papa. Itu jadi momen berharga bagi Wyatt.
Bahkan tuan besar Irey menjadwal ulang agendanya jika tiba giliran salah satu dari dua cucunya tinggal di mansion. Rasanya kebahagiaan hidup bertambah drastis.
Wyatt senang dengan keramaian mereka, apalagi ditambah dengan tingkah Evelyn. Suara tawa dan ocehan-ocehan ringan yang tidak berkesudahan dari anak-anak yang dirindukan orang dewasa.
“Apa Grandpa senang ada cucu manis di sini?” kata Jemma. Suasana hati dan raut wajahnya sedang sama-sama cerah. Dia ingin berbagi kebahagian dari hari luar biasa ini.
“Senang sekali. Bahkan sejak tadi Grandpa iri dengan Papamu yang selalu ditemani cucu manis ini.”
“Aku tidak tahu Grandpa datang dari tadi. Papa tidak bilang apa-apa. Maafkan cucu manis ya, Grandpa.”
“Grandpa punya banyak sekali maaf, dan cucu manis ini bisa mendapatkannya satu sekarang,” kata Wyatt kemudian, “Tapi tidak tahu kalau Evelyn. Dia sedang tertidur di kamar depan.”
“Evelyn juga sudah sampai,” sorak Jemma, antara pertanyaan atau mengulang pernyataan. Tidak penting yang mana, sebab hari ini rasa hatinya makin penuh dengan kebahagian.
Wyatt tersenyum lebar menatap Jemma sembari menikmati ekspresi sang cucu yang dia tidak pernah kira ada. Lalu dia mengiyakan pamit Jemma yang ingin menemui sang kakak sepupu kandung.
“Sepertinya kebahagiaan sudah kembali,” ujar Wyatt sambil mendudukkan tubuhnya di kursi dekat posisi Nigel.
“Benar. Walau belum sepenuhnya, Father,” ucap Nigel pada Wyatt. Setelah pria tua itu duduk dengan baik, arah pandang si pria muda beralih mencari keberadaan Gail.
“Apa sepenuhnya itu masih sulit untuk diwujudkan?” tanya Wyatt dengan menekankan suara pada kata sepenuhnya. Mereka berdua paham kata itu untuk makna apa.
“Aku masih orang asing baginya, Father,” jawab Nigel dengan sorot mata yang sudah memaku pada Gail. Sang istri sedang berbicara pada The Brown dan Miles di ujung sana.
“Dan kamu terdengar bahagia mengatakannya, El,” gurau Wyatt. Dia sadar si putra sulung tidak melihat padanya saat berbicara, malah menatap tak lepas ke yang jadi topik obrolan mereka.
“Karena sepertinya aku harus menikmati sedikit demi sedikit dari kebahagiaan yang ternyata ada untukku. Jadi paham bagaimana dulu tidak bahagianya Father sebagai suami saat Mother meninggal.”
“El, kamu benar-benar sudah kembali,” ujar Wyatt senang. Matanya berkaca-kaca menatap Nigel yang masih terpaku pada Gail berdiri beberapa meter jauhnya dari mereka.
Wyatt lanjut berkata, “Miles benar, aku akan senang sekali jika menuruti ajakannya untuk kesini. Dia bilang tidak akan memohon padaku untuk ikut karena aku yang akan menyesal jika tidak.”
“Father,” ucap Nigel yang tersadar ada nada lain pada kalimat itu. Dia mengalihkan tatapannya pada Wyatt, ada air menggenang di ujung mata itu. “Maafkan aku, Father.”
“Grandpa,” panggil suara khas anak laki-laki kepada Wyatt. Tapi kedua mata kecil itu menatap Nigel tajam.
“Jarrett,” sapa Wyatt sambil mengusap air mata yang sempat mengganggu penglihatannya. Lalu berkata, “Cucu tampan, bagaimana perasaanmu hari ini?”
“Aku baik-baik saja, Grandpa. Yang aku khawatirkan adalah Grandpa dan Papa,” jawab Jarrett serius. Kemudian dia mengambil tempat untuk berdiri di antara dua pria beda generasi itu.
“Kenapa Ja? Grandpa dan aku juga baik-baik saja,” ucap Nigel bingung. Tapi ada dejavu yang dia rasakan, situasi seperti ini familiar.
“Grandpa mengeluarkan air mata dan Papa ada di dekatnya. Aku tidak senang ada yang menangis.”
Jeda sekian detik sebelum Nigel tergelak. Dia ingat kenapa tadi rasanya adegan itu seperti pernah terjadi.
Memang ini mirip dengan situasi beberapa jam lalu. Yang beda yaitu satu tokoh pemainnya dan peran yang berganti. Kini Nigel sebagai Jemma yang tadinya membuat orang menangis.
Wyatt tertegun dengan pemandangan Nigel tertawa lepas. Hatinya yang senang barusan melompat ke level bahagia lebih tinggi. Lama sudah tidak melihat si sulung sebahagia sekarang.
“Ingatlah, Ja. Ada yang disebut dengan air mata bahagia, Nak.”
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021