
Pada waktu yang sama dengan Jarrett yang sedang berada di Hicity..
Jemma merasa kehilangan Jarrett. Ini pertama kali bagi Jemma ditinggalkan saudaranya selama lebih dari sehari semalam, karena biasanya dia lah yang meninggalkan.
Tidak mungkin rasanya untuk Jemma merengek yang memaksa saudaranya segera pulang. Meski hatinya terasa sedang sedih. Terlebih ada Gail di samping Jemma saat menelepon.
Mereka bergantian untuk berbicara dengan Jaret lewat telepon kabel di ruang kerja sang mama. Perempuan kecil itu malas main ke villa jika sendirian begini.
“Jemma,” suara yang memanggil namanya itu rasanya terdengar familiar di telinga Jemma. Segera dia berlari ke teras.
“Evelyn,” teriak Jemma senang. Dia tidak menyangka si kakak menginjakkan kaki di pulau Delan.
Seperti biasa, Evelyn hanya sendiri dan Jemma akan membuat mereka berdua berceloteh tentang apa saja.
“Kamu seperti habis menangis, Jemma,” ucap Evelyn yang sering langsung sebut.
“Kenapa bisa kelihatan, ya,” ujar Jemma menutup matanya lalu berkata, “Padahal aku sembunyi-sembunyi barusan.”
“Aku sebenarnya hanya menebak,” kata Evelyn dengan tampang tak bersalahnya.
“Ya sudah lah. Ayo masuk, Evelyn. Aku akan memperkenalkan kakakku ini pada mama, kakek, dan nenek,” ajak Jemma antusias. Suasana hatinya sudah berubah cerah.
Evelyn tidak kalah antusias dengan ajakan sang adik itu. Dia hanya punya waktu tiga jam di pulau Delan sebelum jadwal kapalnya balik ke Hicity. Sesuai aturannya.
Jemma menggenggam lembut lengan Evelyn dan membawanya masuk ke dapur produksi. Gail sedang berbicara dengan Ellie di dekat Landon yang sedang mengaduk bumbu.
Waktu yang pas menurut Jemma, tidak perlu mencari ada dimana jika ketiga orang dewasa itu sibuk masing-masing. Langkah dua pasang kaki perempuan kecil makin cepat.
Gail menyadari kedatangan Jemma dengan menyambut sang putri dengan raut wajah khasnya yang cerah dan bahagia. The Brown juga sebab jarang Jemma mau masuk dapur.
Perkenalan Evelyn yang dimoderatori oleh Jemma pada Gail dan The Brown sambil berdiri di dapur berlanjut ke ruang kerja sang mama agar bisa duduk santai.
Selain rasa rindu pada Jemma, Evelyn juga sangat cemas pada kabar si adik. Sebab lebih dari dua hari pesan yang dia kirim lewat aplikasi ponsel tidak mendapat balasan.
Pikiran buruk Evelyn membuatnya memeras otak untuk punya cara agar bisa sampai di tempat tinggal Jemma. Ternyata penyebab komunikasi mereka terputus tidak seperti bayangannya.
Jemma menjadi semakin sayang pada Evelyn. Dia tidak menyangka yang dibilang sebagai nona muda ternyata ada yang seperti si kakak. Dia tidak menyesal menjadikannya panutan.
Obrolan mengalir begitu saja selama satu jam. Evelyn tersadar akan misi keduanya belum dijalankan.
Evelyn pandai membawa diri ketika berkata-kata dengan Gail. Dia tahu wanita yang ada di hadapannya sekaranglah yang jadi kunci keberhasilan rencana yang sudah dia rancang.
Gail juga menjadi seolah tidak merasa bahwa seorang anak-anak yang sedang berbicara dengannya dalam wujud Evelyn. Perempuan kecil itu meminta izin padanya.
Tapi setelah mendengar permintaan Evelyn, Gail terdiam agak lama. Itu membuat Evelyn melancarkan strateginya.
Tangan mungil Evelyn merogoh ponsel dari kantong dan secepat kilat menelepon mode panggilan video. Terhubung pada dering pertama, seorang pria tua tampak di layar itu.
Jemma takjub dengan apa yang dilihatnya. Sang kakak tampak semakin luar biasa di matanya. Evelyn menyapa lawan bicara di ponselnya lalu memperkenalkan Gail.
“Senang bisa melihat anda, Tuan Irey,” sapa Gail gugup. Dia tidak menyangka Evelyn meminta pertolongan pada Wyatt Irey demi izin darinya.
“Senang juga bisa melihat ibu dari pianis muda berbakat,” balas Wyatt dengan ramah.
Evelyn berdoa dengan perasaan was-was dalam hatinya sambil menyimak pembicaraan antara kakeknya dan mama dari Jemma. Tak perlu waktu lama, Gail setuju.
Jemma bisa membaca raut lega Evelyn. Serta merta dia memeluk si kakak, ikut merasakan kebahagian dari keinginan yang terpenuhi.
Sesuai penjelasan Evelyn, Gail tidak perlu khawatir dengan Jemma saat berada di Hicity. Sebab dirinya sendiri yang akan menjemput dan mengantar sang pianis pulang sampai rumah.
Seperti yang Evelyn lakukan sekarang, dia selamat dan baik-baik saja bepergian sendiri. Dia juga memberi tahu bahwa penjagaan keselamatan dari keluarga Irey tidak perlu diragukan.
***
Pada saat ini Nigel menatap Miles dengan bingung. Adik kembarnya itu memegang berkas namun dengan pandangan kosong mengarah padanya.
Sedangkan Miles hanyut dalam lamunannya. Dia bertanya pada diri sendiri, disebut apakah yang terjadi pada Nigel dan Jarrett ini. Benar-benar mengejutkan.
Berkas yang berisi hasil penyelidikan terhadap latar belakang Jarrett baru saja selesai Miles baca. Itu atas permintaan Nigel setelah dia berteriak tidak puas dengan jawaban tentang foto waktu itu.
Seperti kebiasaan mereka selama enam tahun terakhir, apapun itu Miles mengecek terlebih dahulu sebelum diberitahu pada Nigel. Perannya harus menjaga dan menguatkan sang kakak.
Teringat dengan interaksi bersama Jarrett, Miles masih lanjut melamun. Cuplikan-cuplikan kejadian yang mereka alami muncul begitu saja dalam kepalanya.
Ketika Miles sedang merapikan berlembar-lembar kertas yang berlogo Iking Group di atas meja sofa, dia merasa sedang diawasi. Mata Jarrett bersirobok dengan miliknya.
“Apa Om Miel tidak capek?” tanya Jarrett dari atas ranjang inap rumah sakit. Pria kecil itu duduk disana agar lebih nyaman menggenggam tangan Nigel.
Ketenangan yang si pasien dapatkan dari hangatnya genggaman Miles ternyata juga bisa dirasakannya lewat tangan Jarrett yang mungil.
Efek kambuh Nigel selalu jadi ujian untuk Miles. Dia tidak bisa melepaskan genggaman tangan itu selama si pasien dalam kondisi tidur.
Sedangkan resep obat yang dikonsumsi Nigel untuk kembali dalam keadaan stabil mengandung obat tidur. Maka Miles bersyukur sekali dengan hadirnya Jarrett.
“Tidak. Sekarang malah lebih ringan karena bantuanmu,” ucap lembut Miles dengan wajah datar khasnya.
“Bantuan? Seingatku, dari tadi aku cuma duduk disini Om,” ujar Jarrett yang diakhiri tawa kecil di ujung kalimatnya.
“Memang itu bantuanmu, Jarrett. Sehingga aku bisa menyelesaikan berkas perusahaan dengan dua tangan yang bebas,” jelas Miles.
“Ya, aku mengerti sekarang,” kata Jarrett sambil menganggukkan kepala.
“Apa kamu yang sedang capek?”
“Tidak, Om Miel. Aku sedang bosan.”
“Aku mengerti. Kamu hanya perlu lebih sabar satu jam lagi. Ketika Om Nig-mu itu bangun tidur, maka itulah saatnya berpamitan dan kamu bisa bebas berenang nanti sepulang dari sini.”
Tiga hari bersama-sama dalam ruangan yang sama membuat interaksi ketiga orang pria beda generasi terasa menyenangkan. Sedangkan Addison bolak-balik karena urusan bisnisnya di Hicity.
Semua keperluan Jarrett dipenuhi Miles, dari pakaian hingga menu apa yang ingin pria kecil itu ingin makan. Walaupun berada di ruang perawatan rumah sakit, itu lebih terasa vibe hotel.
Sehingga Jarrett hanya sekali pagi saja keluar dari pintu ruangan Nigel. Dia tahu kehadirannya dalam jangkauan pandangan Nigel sedang dalam posisi penting.
Begitu juga Miles, tidak ada selangkah pun dia menyentuh pintu. Asisten dan pelayan yang bergantian datang dan melewati pintu masuk untuk mengantar apa yang diperintahkan.
Miles dan lainnya sudah membiasakan diri dengan keadaan efek kambuh tersebut. Mereka selalu berada dalam jarak pandang Nigel meskipun yang bersangkutan sedang tertidur.
Pada sangat bangun, Nigel akan menunjukkan sikap yang berbeda. Yang paling Jarrett suka adalah sikap hangat yang ditambah dengan mulutnya yang banyak bercerita dan bicara menyenangkan.
Kata Miles ketika Nigel tidur lagi, seperti sikap itulah yang jadi kepribadian Nigel saat bersama orang-orang yang spesial di hatinya. Sayang sekali, kini dia sulit didekati.
***bersambung..**
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021
**author: wah, wah, wah, perasaan apa kabar ;)
***Penting wahai Pembaca, silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Makasih ya :))