
"Nanti dulu, Gee," pinta Nigel sembari membalikkan badannya agar berhadapan dengan Gail.
"Kenapa, Nig?" tanya Gail bingung dan berhenti melanjutkan langkahnya.
"Kamu benar-benar tidak marah, kan?"
"Aku benar-benar tidak marah," ucap Gail menegaskan. Lalu menghela nafas dan lanjut berkata, "Nig, aku sudah berulang kali menjawabnya. Jangan tanya lagi, ya. Aku bisa marah nanti."
"Baiklah. Aku pamit lagi, Gee. Tapi aku ingin memelukmu, Istriku," goda Nigel di akhir ucapannya.
Gail memberikan pelototan matanya sebagai respon. Semu kemerahan pada kedua pipi wanitanya itu terlihat samar oleh Nigel.
Tak berselang lama, mobil yang dikendarai Nigel tidak terlihat lagi di halaman rumah The Brown. Gail dan Duo J pun meninggalkan teras karena sudah selesai melepas pergi kesayangan mereka itu.
"Mam, jika nanti kita semua bisa pergi bersama-sama, jalan-jalan dengan naik mobil pasti menyenangkan," ucap Jemma sambil berkhayal.
"Papa menyetir, mama duduk di bangku sampingnya, kakek dan nenek berada di bagian tengah, lalu aku bersama Jarrett menguasai daerah belakang," lanjut Jemma berkata kepada Gail.
"Kira-kira kita kemana, Sang Putri? Delan dan mobil tidak cocok. Delan kecil. Kita jadi duduk sebentar saja dalam mobil," ucap Gail menaruh perhatian sembari mengunci pintu rumah.
"Tidak di Delan, Mam. Kita sekeluarga jalan-jalan naik mobil di Hicyti. Apalagi ditambah ada Evelyn, bibi, paman dan grandpa. Aku menantikan hari itu tiba."
Sontak Gail mematung. Yang Jemma ucapkan itu hanya bisa di angan-angan saja. Penantian sang putri tak akan berujung.
"Mama, cerita sebelum tidur malam ini giliran aku yang bercerita ya?" ujar Jarrett mengalihkan topik. Dia yakin Jemma lupa ada efek dari ucapannya barusan karena itu tidak seharusnya.
"Iya. Mama bisa tebak tentang apa yang akan Jarrett ceritakan," sambut bersemangat Gail atas kemauan putranya.
"Aku tebak juga," sahut Jemma.
Topik yang tadi tentang jalan-jalan di luar Delan pun berganti. Jarrett menghela nafas lega.
"Mama duluan. Setelah itu Jemma," ujar Jarrett.
"Tentang kantor papamu."
"Tentang urusan sesama laki-laki, yang aku perempuan ini tidak boleh tahu."
"Jawaban yang betul oleh Mama. Oh, Jemma. Belajarlah lebih banyak dari mamaku," kekeh Jarrett sekalian meledek saudarinya.
"Mamaku memang yang terbaik, Jarrett. Makanya aku dilahirkan semanis ini," ujar Jemma membalas dengan kenarsisan.
Gail mengulum senyum menyimak tingkah kedua buah hatinya itu. Sembari dia memastikan pintu dan jendela rumah sudah aman dikunci saat ditinggal tidur.
Setelah saling mengucapkan selamat tidur malam dengan Landon dan Ellie, Gail dan Duo J masuk kamar tidur mereka. Kebiasaan sebelum tidur pun dilakukan sampai mereka menyeberangi alam mimpi.
***
Menanti tidak pernah semenyenangkan sekarang bagi Jemma. Dia duduk di sebelah Nigel yang menantikan Gail bangun tidur kemudian ke ruang makan yang sedang keduanya tempati.
Sebentar lagi Jemma akan melihat tatapan penuh cinta Nigel kepada Gail. Dua bola mata sang papa punya pantulan cahaya indah jika arahnya ke mama tercinta.
Kegiatan favoritnya itu semakin menarik bagi Jemma. Dia tidak hanya melihat keindahan tersebut pada Nigel. Sebab semalam, tampak keindahan yang sama muncul di mata Gail.
Jemma ingin lagi, menikmati pemandangan dan hawa penuh cinta dari interaksi kedua orang tuanya. Yang dinanti-nanti pun terjadi.
Dua puluh dua menit, begitu hitungan waktu yang Jemma ukur. Mulai dari Nigel menyapa Gail sampai berbalas lambaian tangan, berpamitan lalu laju mobil keluar dari halaman rumah The Brown.
Selang waktu sebentar, kendaraan yang disupiri Nigel itu berhenti. Jemma paham bahwa sudah waktunya turun. Mereka sudah sampai di dermaga.
“Pap, mobilnya tidak apa-apa ditinggalkan di dermaga?” tanya Jemma kepada Nigel, tapi arah pandangannya ke parkiran khusus di dermaga yang masih bisa terlihat dari kapal.
“Tidak apa-apa, Je. Memang itu khusus digunakan di Delan saja, Sang Putri,” jelas Nigel lalu memangku Jemma.
Perjalanan dua jam lebih tidak akan begitu terasa. Jemma selalu punya bahan yang membuatnya tidak henti bicara jika sudah berada di pangkuan Nigel. Tipikal putrinya papa.
Sampai di tujuan, Jemma dan Nigel sudah ditunggu oleh sekretaris beserta sopir dan mobil mewah yang digunakan bersama Jarrett di hari sebelumnya. Kini waktunya agenda ke rumah sakit tiba.
Jemma selalu berada di samping Nigel. Otak jeniusnya bukan di bidang kesehatan, tapi dia cukup pintar memahami apa yang terjadi pada sang papa.
Tim dokter menyatakan Nigel sembuh untuk kedua kakinya. Dua tungkai yang panjang menyempurnakan visualnya itu sudah dikategorikan kembali normal.
Hasil itu berasal dari pemeriksaan dan cek dadakan di kantor Ikingtech kemarin. Rasa nyeri mendadak namun sebentar yang Nigel rasakan ternyata pertanda penyesuaian tubuhnya.
Momen yang dinanti dari dulu akhirnya terwujud, harapan banyak orang untuk Nigel. Jemma tidak bisa menahan kegembiraannya sehingga meluap lewat dekapan erat pada papanya dan tangis.
“Aku menangis, Pap? Air matanya keluar sendiri. Tidak bisa aku tahan. Padahal hatiku sedang senang,” adu Jemma.
“Itu tangis bahagia, Je. Ingat yang pernah Papa katakan ketika Jarrett mengira Papa dibuat menangis olehmu? Kira-kira seperti itu yang sedang terjadi, Sang Putri.”
“Iya, rasanya ada yang meledak dalam hatiku. Pap, setelah sembuh ini-” ucap Jemma menggantung lanjutan kalimatnya.
“Ada apa, Je? Katakan saja, Papa mendengar,” tutur Nigel semakin melembutkan suaranya. Meyakinkan Jemma untuk melawan ragu-ragu dalam ucapan itu.
“Setelah Papa sembuh ini, Papa tetap mendekati mama, kan? Kita terus bersama?”
“Tentu saja, Sang Putri. Malah Papa akan semakin mendekat dengan mamamu. Papa bisa melakukan lebih banyak cara supaya mama kembali pada Papa,” terang Nigel. Gemas.
“Aku menantikan itu, Pap.”
“Kita mampu bersabar sampai nanti. Hingga akhirnya, Je.”
Anggukan Jemma merespon perkataan Nigel. Perempuan kecil itu semakin terisak-isak, tidak berbicara lagi.
“Menangis saja sampai puas, Je. Papa akan terus memelukmu, Sang Putri,” pinta Nigel.
Kalimat Nigel itu membuat Jemma menenggelamkan wajahnya ke dada bidang sang papa. Sosok yang akhirnya hadir nyata, akhirnya sembuh, dan kini Jemma menanti istilah akhirnya disematkan di momen yang dia impikan selanjutnya.
“Pap, bajunya basah,” ujar Jemma kemudian terkekeh. Wajah sembab tapi manis nan lucu itu menatap Nigel dengan rasa tak bersalah.
“Tidak masalah, Je. Ada baju ganti Papa di mobil. Yang penting hatinya Sang Putri kembali tenang.”
“Aku sayang Papa. Sangat amat sayang.”
“Papa sayang kamu, Je. Sangat amat sayang,” tiru Nigel sambil tersenyum karena Jemma sudah kembali ceria.
“Pap, kita belum beri tahu tentang Papa sembuh ke paman. Apa kita bisa memberi tahu secara langsung? Boleh kah ke kantor paman, Pap?”
Ada nada memohon dalam kalimat Jemma itu. Nigel meresponnya dengan memperlihatkan layar ponsel yang bergetar karena panggilan masuk dari Miles.
“Tentu saja. Pamanmu bahkan hampir habis kesabarannya menanti.”
|Bersambung..-Diw @ diamonds.in.words | Rd2021
*PENTING: karena direvisi, lanjut bacanya ke judul bab "LAMA" ya Reader. Dari bab "NANTI" ini langsung lompat ke bab "LAMA". Mohon maaf, kesalahan upload 🙏 Mari lanjut menikmati~