DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Bicara



"Bicaralah," ucap Landon, untuk meyakinkan agar kalimat yang terdengar menggantung itu selesai diucapkan.


Hening beberapa saat. Duo J kompak menghirup dan mengeluarkan nafas pelan-pelan dalam menyimak yang akan dilakukan oleh dua pasang orang dewasa di dekat mereka itu.


Sepertinya berat menyampaikan yang sudah berada di ujung lidah, suara masih saja tertahan. Rasa gugup juga menambah kesulitan.


“Bicarakan saja, Nak,” ucap lembut Landon lagi. Nadanya kali ini lebih ke arah membujuk.


Ellie yang duduk tepat di samping Landon menganggukkan kepalanya, ikut memberi bujukan untuk melanjutkan apa yang akan diungkapkan itu. Sisi keibuan darinya ditampakkan.


“Ayah, Bunda, maaf jika nantinya yang aku katakan ini menyakiti hati kalian. Aku sungguh tidak bermaksud begitu. Tolong maafkan aku,” ucap Gail akhirnya.


Duo J dan Nigel memandangi wajah Gail yang sendu. Mereka tidak angkat suara, sebab belum sepenuhnya perempuan kesayang itu selesai bicara.


Sedangkan Landon dan Ellie memperlihatkan diri yang bersedia. Menuruti apa yang Gail mohonkan.


“Aku berencana untuk ikut Nigel. Pindah ke rumah yang di seberang, Yah, Bund. Duo J dan aku tidak lagi tinggal di sini. Aku-“


Kalimat Gail kembali menggantung. Air matanya sudah turun ke pipi dan suaranya berubah serak, menahan tangis tapi tidak bisa.


Ellie segera merentangkan lengannya sembari berjalan ke tempat Gail duduk. Anak angkatnya itu akan menjadi lebih tenang dengan dia beri pelukan.


Landon cepat-cepat menghapus genangan air yang mulai menumpuk di ujung mata tuanya. Begini rasanya berpisah karena melepaskan anak mandiri untuk hidup bersama suami dengan anak-anak.


“Tidak apa-apa, Anak Bunda. Tidak apa-apa,” ucap Ellie, mengulang-ulang kalimat itu dalam memeluk Gail. Sebelah tangannya diusap seakan menyalurkan keyakinan.


Perasaan Duo bercampur aduk, sama dengan Nigel yang tidak bisa melepaskan pandangannya penuh cintanya ke wajah Gail. Bahkan semakin bertambah banyak cintanya untuk sang istri.


Tidak jadi ada ketiga kali untuk Nigel meminta Gail kembali tinggal bersamanya. Meskipun tampak berat untuk istrinya itu lakukan.


*


Malam berganti pagi. Seperti biasa pada jadwal sarapan, waktunya Duo J bertemu Nigel lagi.


Si kembar juga menemani sang papa untuk menunggu perempuan penting dalam hidup mereka bangun tidur terlebih dulu sebelum masing-masing melanjutkan aktifitas sepanjang hari.


Jemma memperdengarkan lagu baru yang akan dia pelajari kepada Nigel. Sedangkan Jarrett diam dengan mata berfokus pada bacaan di layar gawainya.


Landon dan Ellie sudah berangkat ke Dapur The Brown. Setelah keduanya membicarakan bagaimana menghadapi kondisi Gail yang ajaib kepada Nigel agar lebih bersiap dalam tinggal bersama.


Tiba-tiba terdengar suara khas ponsel yang menerima telepon. Bukan salah satu dari yang ada pada Duo J dan Nigel.


"Pa, itu dari ponsel Mama," ujar Jarrett yang lebih dulu tahu.


"Bawa sini, Ja. Biar Papa lihat," pinta Nigel. Dia penasaran siapa yang berani menelepon istrinya yang masih tidur itu.


Jarrett berlari gesit, dari nakas tempat Gail meletakkan ponsel dan gawai lainnya di dekat pintu kamar ke tempat Nigel duduk bersama Jemma di ruang makan.


Kemudian dalam beberapa detik kembali ke posisinya semula, Jarrett duduk damai di ruang tamu. Tak diragukan lagi olah fisik si genius tampan.


Mata Nigel menajam ke arah deretan nomor tak dikenal masuk ke ponsel Gail. Dibaca dari susunan angkanya, itu berasal dari telepon khas perkantoran di Hicyti.


Nigel melihat saja sampai dering panggilan untuk Gail itu selesai. Dia tidak akan melampaui batas terhadap privasi istrinya dengan mengangkat telepon yang entah dari siapa.


Dering kedua di ponsel Gail, Nigel melihat nomor yang sama. Lalu dia letakkan alat komunikasi itu di atas meja yang ada di hadapannya dan kembali berfokus pada Jemma.


"Papa penasaran, Je," tutur Nigel lembut dan ringan.


"Kenapa tidak diangkat saja, Pap?" ucap Jemma yang kali ini dalam mode ingin banyak tahu.


"Karena itu telepon untuk Mama, Je. k


Kita tidak tahu dari siapa dan apa tujuannya. Lagipula, Mama tidak ada berpesan untuk membantunya mengangkat telepon."


"Tapi Papa kan suaminya Mama. Aku tahunya, suami istri itu terbuka satu sama lain. Urusan Mama jadi urusan Papa," jelas Jemma yang belum menyerah dari rasa ingin tahunya.


Nigel tertawa namun tertahan. Dia selalu begitu ketika Jemma sudah menunjukkan sikap dan pemikiran kritisnya untuk memuaskan rasa ingin tahu.


Jemma yang kini lebih tertarik membahas Papa dan Mama, mematikan gawai tablet yang ada di tangannya. Perkara musik tadi nanti saja.


"Je, Papa belum selesai mendengarkan lagunya," ujar Nigel, mencoba mengubah topik.


"Tidak apa-apa, Pap," kata Jemma begitu saja lalu menatapi Nigel. Dia tahu Papanya tahu apa yang dia inginkan.


"Baiklah, Je," ucap Nigel akhirnya. Lanjut berkata, "Mungkin kamu pernah dengar kata privasi?"


Jemma diam. Tapi dari tatapan matanya, Nigel diminta untuk lanjut menjelaskan.


Namun sebelum Nigel angkat suara lagi, Jemma menangkap bayangan Gail bangkit dari kasur. Sang mama sudah bangun tidur.


"Sebentar lagi kita tahu, Pap," seru Jemma dengan suara yang berbisik.


Nigel heran dengan apa yang Jemma maksud. Tak lama, karena terjawab dengan kedatangan Gail di ruang makan.


Gail menyapa dua orang, ayah dan anak yang berbeda cara melihat ke arahnya. Meski agak bingung, pengaruh baru bangun tidur membuatnya berlalu saja, ingin segera sampai di toilet.


Selesai bersih-bersih secukupnya, Gail keluar kamar mandi dan menyapa Jarrett untuk pertama kalinya pagi hari ini. Genius tampan yang sedang sibuk dengan layar tablet itu segera berhenti membaca.


Jarrett membatasi dirinya dengan tablet jika berada di sekitar Gail. Sejak kejadian waktu itu, Nigel meminta dirinya untuk sibuk sendiri seperti itu jika sedang bersama sang papa saja.


"Mama, baru bangun?" ucap Jarrett seraya minta digendong oleh Gail. Hanya pagi hari saja dia akan bermanja-manja dengan sang mama, menuruti sisi anak-anaknya yang berusia lima tahun lebih beberapa bulan.


"Iya. Jarrett sudah sarapan?" sambut Gail. Dia bicara sambil berjalan menggendong putranya ke ruang makan.


Bobot tubuh Duo J memang semakin berat seiring bertambah umur, tapi Gail tidak keberatan. Sebab si kembar genius hanya perlu sebentar saja untuk merasakan gendongan darinya.


Di hitungan kaki Gail dalam dua langkah, Jarrett minta diturunkan. Itu sudah cukup.


Bersamaan dengan itu, ponsel Gail berbunyi lagi. Dering panggilan dari nomor yang membuat Nigel hafal karena dia lihat terus-terusan tadi.


Gail meraih ponselnya dari uluran tangan Nigel. Tapi dia terdiam dengan raut wajah ragu yang bisa jelas terbaca oleh si suami.


"Gee, boleh aku yang angkat? Sebelumnya nomor ini sudah menelepon dua kali. Sepertinya penting. Biar aku yang berbicara."


|Diw @diamonds.in.words - Februari22


Deg-deg an parah pasti tuh jantung hohohoo