
"Papa, aku sudah selesai," kata Jarrett sambil menepuk pundak Nigel. Antara memberi tahu dan mengejutkan.
Sebab dari kejauhan Jarrett melihat sang papa senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya. Pertama kali Nigel terlihat seperti itu di mata Jarrett.
"Oke, Ja. Ayo kita ke Ikingtech," ujar Nigel sedangkan matanya tetap ke layar walau agak terkejut oleh Jarrett.
"Foto mama," ucap Jarrett ketika melihat apa yang Nigel pandangi.
"Mamamu manis sekali, Ja,” jelas Nigel dengan memuja penuh cinta
"Itu penampakan mama baru bangun tidur, Papa,” tutur Jarrett. Seolah berkata ada yang salah dengan sang papa.
"Pipinya merona malu. Ah, sudahlah. Nanti ada waktunya kamu paham, Ja. Sekarang kita selesaikan urusan di sini lebih cepat biar bisa cepat pulang."
Setelah mengatakan itu disertai senyum manis nan bahagia, Nigel mencium pipi Jarrett bertubi-tubi. Gemas, seolah itu adalah pipi Gail.
"Papa, cukup. Ini pipi Jarrett. Bukan punya Jemma yang suka dicium-cium," tampik Jarrett. Raut kesalnya tampak jelas.
Nigel terkekeh menghentikan tingkahnya. Suasana hati terasa lebih cerah karena mendapati respon Gail saat video call tadi.
Sisi galak disertai tersipu malu yang Nigel lihat dari jawaban tidak Gail, sama seperti yang dulu pernah sering didapatkannya ketika sebagai Genaya.
"Ayo, Ja. Kita berangkat.”
Kedua lelaki keluarga Irey itu berjalan memasuki mobil dan si sopir segera melajukan kendaraan mewah sang tuan ke gedung Ikingtech seperti yang diperintahkan.
Sesampainya di lobi, Nigel turun mobil setelah sopirnya menyiapkan kursi roda untuk kembali digunakan. Ada rasa agak ngilu dalam kaki muncul di antara langkah sebelumnya.
Jarrett pun sigap menghubungi Miles dan memberitahu apa yang terjadi pada sang papa. Namun jarak antara rumah sakit keluarga Irey dan posisi keberadaan, perlu waktu tidak sebentar untuk para dokter tiba.
Gedung megah yang menjulang akan menuntut gerak kaki yang banyak sehingga demi kesembuhannya, Nigel tetap menggunakan alat bantu berjalannya tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju ruang kerja yang diperuntukkan kepada pimpinan, Jarrett dan Nigel tidak banyak bersuara. Keduanya sibuk dengan isi kepala masing-masing.
“Selamat pagi, Pak. Nama-nama yang Bapak minta untuk menghadap sudah di ruang rapat,” lapor seorang karyawan laki-laki yang bisa Jarrett baca sebagai sekretaris sang papa.
“Terima kasih, Boy,” ucap Nigel setelah sekilas melihat tag nama yang dipasang di bagian dada kanan sekretarisnya itu.
Jarrett menyimak dan memperhatikan interaksi Nigel yang berbeda kharismanya jika dibandingkan dengan versi papa, di luar pekerjaan. Aura pria itu penuh wibawa.
Di mata Jarrett, Nigel semakin jadi panutannya. Di antara semua laki-laki dewasa yang pria kecil itu temui, sosok Nigel menduduki peringkat teratas.
Bahkan Jarrett ingin seperti Nigel saat dia besar. Tanpa dia sadari dalam diri sudah ada bibit-bibit yang sang papa turunkan dan tinggal bagaimana dirinya mengembangkan itu.
"Ja, hafalkan letak dan ruangan apa yang kamu lihat. Nanti kamu akan sering ke gedung ini, baik bersama Papa atau tidak. Oke, Son?"
"Oke, Papa."
Ada empat orang yang hadir di ruangan yang Jarrett dan Nigel masuki. Keseluruhannya laki-laki lebih muda dari sang pimpinan.
Pertemuan ini adalah agenda dadakan yang diatur karena perintah Nigel yang datang di pagi-pagi buta. Seolah tidak ada bisa membiarkan waktu berlalu sia-sia.
Jarrett pun diperkenalkan oleh Nigel kepada orang-orang pilihannya yang cakap itu. Masing-masing memiliki kemampuan yang bisa masuk ke project aplikasi yang Jarrett kerjakan.
Sesuai pembicaraan berdua di malam sebelumnya, Jarrett perlu tim dan Nigel bisa menjadi perantara untuk mempertemukannya dengan orang-orang yang sudah berpengalaman untuk itu.
Selebihnya, Jarrett diminta untuk mengandalkan kejeniusannya dalam memimpin orang-orang yang bersedia untuk menjadi timnya itu. Nigel akan jadi orang luar.
Privilese yang Jarrett dapatkan karena papanya adalah seorang Nigel Irey memang membuatnya begitu fokus dengan apa yang ingin dirinya raih.
Apalagi tujuannya Jarrett adalah untuk kesempurnaan keluarga yang terdiri dari mama, papa, kakak dan dirinya hidup bersama. Tidak terpisah seperti bertahun-tahun lalu.
Setelah Jarrett mendengarkan Nigel tentang penyitaan gawainya oleh Gail, barulah dia sadar atas dirinya yang sibuk sendiri.
Tidak peduli sekitar, beda dengan diri Jarrett sebelum punya barang itu. Pertama kali baginya memiliki keinginan besar dan langsung mendapatkan jalan yang dipermudah.
Ternyata Jarrett semakin larut dengan kesenangannya belajar otodidak tentang teknologi dan menghubungkan ilmu yang didapatnya kepada project aplikasi yang jadi cita-cita terkini.
Cita-cita yang hanya Jarrett dan Nigel yang tahu. Rahasia berdua sampai aplikasi rancangan si genius itu siap untuk digunakan dan sebagai hadiah untuk Gail.
Tidak menyangka ada imbas yang Jarrett dapatkan. Tidak terpikirkan pula oleh Nigel sampai kejadian Gail marah dan menangis.
Paham Jarrett akan tingkah lakunya yang akhir-akhir itu tidak sesuai dengan apa yang Gail ajarkan dan nilai-nilai yang ditanamkan. Dirinya yang seolah hidup di dalam dunia sendiri.
Ditambah dengan permintaan maaf yang Jarrett dapatkan dari Nigel dari ujung telepon semalam, perasaannya menjadi campur aduk.
Jarrett yang ujung keinginannya untuk menyenangkan Gail tapi malah menyakiti sang mama di antara usahanya untuk sampai ke tujuan.
Sebagai pendukung Jarrett, Nigel secara tidak langsung ikut menyakiti wanita tercintanya. Rasa bersalah sang papa jelas terdengar di telinga Jarrett.
***
“Mam, apa ini kotak yang Papa bilang?” tanya Jemma ketika Gail kembali dari kamar mandi.
“Sepertinya iya. Entah kenapa papamu ingin sekali kotak itu segera dibuka,” ujar Gail lalu mendekati Jemma yang menatapnya berbinar. “Sang Putri pasti mau sekarang juga Mama buka kotak ini?”
Anggukan Jemma yang sangat antusias cukup menjadi jawaban. Gail menciumi gemas wajah anak perempuannya yang manis itu.
Berat kotak yang Nigel berikan itu tidak seperti kotak yang pernah Gail terima sebelumnya. Ada-ada saja suaminya itu.
“Buka, Mam. Buka. Aku sudah penasaran,” ujar Jemma dengan tingkahnya yang melompat-lompat.
Perasaan Jemma membuncah tapi dia hanya bisa menunggu sang mama untuk selesai membuka kotak dan mengetahui apa isinya. Barang apa yang si papa berikan.
Dari ukuran kotak yang Gail terima, tidak disangka ada laptop di dalamnya. Secara kategori, komputer jinjing itu termasuk netbook. Gawai yang cocok dibawa-bawa seperti tablet tapi lebih berat dan tebal bodinya.
Gail tahu karena pernah membaca artikel di internet. Suatu waktu dia browsing di komputer perpustakaan Addison untuk menunggui Duo J yang belum selesai dengan kegiatan di villa.
“Papa memberikan yang beda untuk Mama,” ucap Jemma ketika laptop itu Gail keluarkan dari kotak.
“Beda? Beda yang bagaimana, Sang Putri?” tanya Gail sembari mencoba menghidupkan gawai di tangannya.
“Papa memberiku dan Jarrett sebuah tablet. Bentuknya sama, kalau Mama lihat punya Jarrett maka seperti itu juga untuk Jemma,” jelas Jemma riang.
Mata Jemma yang mengarah ke gerak tangan Gail membuat si genius manis itu antara sadar tak sadar dengan perubahan wajah sang mama setelah mendengar kalimatnya barusan.
|Bersambung..
Author: Diw @ diamonds.in.words | Rd2021
Saatnya beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, lagi :D
Makasih ya sudah baca sampai sini dan kasih dukungannya untuk keberlangsungan Duo J: Genius :)