DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Siap



"Siapkan dalam dua hari. Saya ingin yang terbaik."


"Baik, Tuan."


Beberapa kata penutup pun mengakhiri pembicaraan Nigel lewat telepon. Pria penting itu melemparkan ponselnya begitu saja ke atas kasur lalu mendekat pada Gail dan kembali mendekapnya.


"Kenapa aku dipeluk lagi, Nigel?" ucap Gail kaget. Dia sedang membereskan tempat tidur.


"Kenapa aku tidak bisa lama-lama berduaan denganmu, Gee?" kata Nigel yang agak merajuk dalam menjawab pertanyaan Gail, dengan pertanyaan pula.


Gail tergelak. Cara bicara Nigel yang penuh wibawa dan tegas sebelumnya berubah jauh ketika menjawabnya barusan. Sisi kanak-kanak suaminya muncul.


"Setelah Duo J tidak jadi masuk kamar, malah telepon yang masuk," gerutu Nigel tanpa melepaskan belitan lengannya ke tubuh Gail.


"Kamu menggemaskan, Nig," ujar Gail tanpa sadar sembari tertawa.


"Aku apa, Gee?" ucap Nigel yang gilirannya dibuat kaget. Dia kendorkan pelukan agar bisa melihat wajah Gail.


"Aku bilang apa?" tanya Gail menjawab pertanyaan.


"Aku mencintaimu," sahut Nigel seenaknya. Mana tahu istrinya percaya bahwa barusan dia telah mengucapkan dua kata ajaib itu.


Sayangnya Gail hanya terdiam dengan pipi merona. Kesekian kalinya Nigel membuatnya salah tingkah.


"Gee?"


"Aku perlu ke kamar mandi. Lepas tangannya, Nig."


"Aku temani, ya?"


"Nigel!" seru Gail melotot dengan pipinya yang merona dan itu terlihat menggemaskan.


Tawa tertahan Nigel terdengar sembari Gail menuju kamar mandi. Lalu papa Duo J itu berbaring di bagian kasur yang ditempati sang istri semalaman.


Aroma Gail tertinggal di sana. Nigel menelungkupkan badannya untuk bisa mencium aroma itu lebih jelas dan dalam hitungan detik dirinya jatuh tertidur.


Raut pulas Nigel terbaca oleh Gail yang penasaran karena melihat suaminya di kasur yang hampir selesai dia bereskan jika saja tidak ada dekapan tiba-tiba tadi.


Dengan menjaga tidak ada bunyi-bunyian yang menganggu, Gail keluar dari kamar utama. Dia menuju ke salah satu sisi yang menyatukan ruang makan dengan dapur.


"Duo J, Mama sudah di ruang makan," ucap Gail setelah mengaktifkan dinding khusus dengan pengecualian suara ke kamar utama.


Kemudian Gail berpindah ke meja makan. Nigel selalu mempersiapkan sarapan untuknya di posisi kursi yang sama ketika di rumah The Brown.


"Mam," seru Jemma riang, seperti biasanya. Dia juga tertinggal langkah dari Jarrett yang terbiasa berlarian.


Gail tersenyum manis menyambut Duo J. Kedua lengannya dibentangkan agar bisa menangkap Jarrett yang hampir sampai di dekatnya.


"Selamat pagi Mama Kesayangan," ucap Jarrett manja dalam gendongan Gail.


"Selamat pagi Putranya Mama," balas Gail dengan nada yang sama.


"Aku, Mam?" sahut Jemma jenaka dari jarak beberapa langkah.


"Selamat pagi Sang Putri," lontar Gail terkekeh. Rasanya pagi ini membahagiakan.


"Aku sudah selesai bermanja. Ayo Mama sarapan," kata Jarrett sembari minta diturunkan dari gendongan Gail.


Duo J dan Gail duduk mengelilingi meja makan. Hanya mama yang sarapan dan anak-anak menikmati waktu kebersamaan.


"Mam, kenapa Papa belum kesini?" tanya Jemma yang sudah beberapa kali mengedarkan pandangannya ke pintu kamar utama.


Jarrett yang punya pertanyaan serupa melihat ke Gail dengan tatapan penasaran. Ini pertama kalinya Nigel tidak mengekori sang mama ketika berada di rumah.


"Papa ketiduran," jawab Gail singkat lalu mengunyah lagi roti bakar yang disiapkan Nigel sebagai menu sarapannya hari ini.


"Jadi Papa tidurnya sekarang," celetuk Jemma santai sambil mengunyah pula potongan roti yang Gail bagi padanya sebagai cemilan.


Dua pasang mata menatap Jemma seolah meminta penjelasan lebih lanjut. Jarrett dan Gail ingin tahu apa yang terlewatkan oleh keduanya.


Mendapati sorot mata dari kedua kesayangannya itu, Jemma nyengir. Barisan gigi kecil putihnya ditampakkan sebelum mulai bicara.


|Diw @diamonds.in.words -2022