DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Tanya



Pasrah Nigel menuruti Miles untuk jadi pasien yang patuh. Disiplin terhadap waktunya makan, minum obat, dan tidur. Tidak ada yang boleh dilakukan selain tiga hal itu dari pagi hingga besok.


Duo J yang genius paham untuk bersikap. Tidak memaksa untuk berinteraksi dengan sang papa sejak selesai sarapan. Keduanya memisahkan diri, pergi ke ruang yang berbeda.


Masing-masing dari mereka punya preferensi. Jemma memilih untuk pergi ke ruang bioskop mini dan Jarrett ke ruang perpustakaan.


Jemma sedang tidak mau memegang piano atau apapun yang ada di ruang musik. Bayangan kejadian Gail setelah mendengar lagunya dua hari lalu masih jelas oleh si perempuan kecil.


Sedangkan Jarrett meneruskan kegiatannya untuk menyelesaikan pembuatan aplikasi yang disponsori Nigel waktu itu. Semua alat dan yang terkait sudah berpindah dari rumah The Twins.


Sebelum Duo J pulang dari villa Addison, sebuah pesan teks dari Miles masuk ke ponsel Jarrett. Si paman mengabari bahwa Nigel sedang tertidur setelah jadwal minum obatnya sepuluh menit lalu.


Maka mereka hanya berpamitan lewat kata di layar ponsel. Termasuk Landon yang menjemput Duo J tidak jadi bertemu langsung dengan dua tuan Irey tersebut.


Sepanjang jalan pulang, Duo J sama-sama sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Hening saja yang ada diantara mereka dan Landon juga sedang tidak dalam mode banyak bicara.


Keadaan seperti itu berlangsung terus sesampainya di rumah. Karena suasana begitu, timbul kebingungan pada Gail, dalam hatinya bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi.


Bagi Gail, rasanya makin sepi hari ini. Tidak ada kehadiran Nigel waktu pagi menjadi salah satu faktor yang membuat perasaan Gail seperti itu. Ditambah Duo J yang sedang mode pendiam.


Hanya suara dari Ellie yang mendominasi dan Gail berusaha mengimbangi sang bunda agar suasana jadi ramai. Melingkar di meja untuk makan malam terasa agak garing sebab kurang celotehan Duo J.


Gail tidak terburu-buru untuk meminta Duo J bercerita tentang ada apa dengan kedua anak berumur lima tahun itu. Dia akan menunggu sampai besok.


Karena sepertinya Duo J yang genius butuh waktu, seperti orang dewasa saja. Mereka berdiam lama seperti itu bukan sesuatu hal yang baru Gail temukan.


Terkadang Gail terpikir bagaimana bisa dua anaknya yang bocah itu berbeda dengan teori-teori perkembangan anak yang dia baca. Kejeniusan mereka penuh kejutan.


Gen yang Duo J warisi pernah jadi pertanyaan oleh pemikiran Gail. Sebab sebagai ibu mereka rasanya dia tidak punya kepintaran yang di atas rata-rata seperti sang putra-putri.


Ternyata adalah Nigel Irey sebagai ayah Duo J. Pertanyaan Gail pun terjawab, ayah dari dua anak kembarnya memang bukan sembarang orang. Sosok pria dengan segala kesempurnaan.


Entah bagaimana bisa Nigel begitu keukeuh ingin kembali bersama dirinya, wanita yang jauh dari kata cukup menurut penilaian Gail sendiri. Mereka tidak lagi sama dengan mereka yang enam tahun lalu.


Gail juga bingung dengan tubuhnya yang tidak bereaksi baik terhadap Nigel. Status mereka adalah suami-istri tapi yang terjadi padanya seperti bertemu orang asing. Rumit.


Sakit hilang ingatan yang Gail alami benar-benar menghapus apapun memori sebelum kecelakaan. Bahkan termasuk Nigel, yang bisa dibuktikan berbagai bukti sebagai suaminya.


Jika dibandingkan dengan pernikahan The Brown, Gail berasumsi harusnya ada getaran rasa atau apapun perasaan menyangkut tali cinta sepasang suami-istri untuknya dan Nigel.


Harusnya cuma otak Gail yang lupa dengan sang suami, bukan keseluruhan dirinya. Hatinya tidak merasakan getaran kedekatan dan tubuhnya menolak berdekatan dengan Nigel.


Sempat Gail menduga-duga, hubungan seperti apa yang dirinya dan Nigel jalani dulu. Sebab hanya pria sempurna itu yang memiliki memori tentang mereka berdua.


Kehilangan ingatan bukan perkara gampang bagi Gail. Dirinya otomatis was-was, selalu begitu waspada terhadap orang baru apalagi yang mengaku punya hubungan dengan dia pada masa lalu.


Lamunan Gail buyar karena tersentak oleh Jemma memeluk lengannya lebih kuat. Sang putri sudah tertidur dari tadi dan sepertinya sedang bermimpi buruk.


Mata Gail kemudian mengarah pada jam dinding. Tinggal setengah jam lagi batasnya untuk segera tidur. Sepertinya malam ini Gail minum obat lagi.


Tapi eratnya pelukan tangan Jemma menghalangi Gail untuk segera mengambil obat dan air minum. Perlu waktu lebih lama untuk sang ibu bisa beranjak.


Setelah selesai dengan urusan bantuan untuk lekas lelap itu, Gail kembali ke posisinya yang berada di antara Jemma dan Jarrett. Sekali lagi Gail mengecup kening keduanya.


Gerakan tangan Jemma yang sedang tidur itu mencari keberadaan lengan sang mama. Gail paham dan segera memberi apa sang putri ingin. Sedangkan si tampan pulas dengan damai di tempatnya.


Gail menatap wajah Jemma sambil bertanya-tanya. Tentang apa yang kira-kira sedang ada di mimpi putrinya itu. Tentang adakah hubungannya dengan Nigel yang menghilang hari ini.


Tentang apa jadinya jika Nigel kembali jauh dari Jemma karena Gail tidak memenuhi apa yang sang suami inginkan. Tentang ini, tentang itu dan segala tentang ala mode overthinking.


Detik ini, Gail ingin sekali melihat Nigel dengan mata kepalanya. Risau yang dia rasakan sejak pagi masih belum hilang. Dia terkenang bagaimana wajah sang suami yang berurai air mata kemarin.


Detik-detik selanjutnya kesadaran Gail mulai masuk dalam fase tidur. Sambil berdoa agar esok lebih baik, dia pun tidak sadarkan diri.


***


“Ayah masih di rumah?” tanya Gail sebagai sapaan ketika matanya menemukan Landon sedang duduk berhadapan dengan meja makan.


Gail yang baru bangun itu merasa kecewa, setelah tadi sedikit berlari keluar dari kamar untuk menuju ruang makan. Harapan untuk menemukan Nigel di pagi ini tidak terkabul.


Dikira Gail sebelumnya, pria yang duduk itu adalah sang suami. Dia salah. Dengan cepat wanita itu menutupi perasaannya.


“Gail sudah bangun,” kata Landon menanggapi sang anak. Jeda beberapa saat, lanjut berkata, “Ayah balik ke rumah, Nak. Kantong yang Bundamu minta bawakan tertinggal.”


Dengan gerakan mata Landon menunjuk sebuah kantong kain di atas meja makan. Pria tua itu memperjelas perkataan tentang alasannya terlihat di rumah pada jam yang jadi waktunya masak di Dapur The Brown.


“Sepertinya itu koleksi kantong baru Bunda ya, Yah?” ucap Gail berkelakar. Dia ingin mengalihkan suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja itu.


“Sepertinya begitu. Ayah tidak tahu kapan Bundamu punya yang warna ini,” ujar Landon mengikuti candaan Gail.


“Sama, aku juga,” timpal Gail dan mereka tertawa kecil. Lagi berkata, “Ayah, apa ada yang perlu dibantu sebelum aku lanjut ke kamar mandi?”


“Tidak. Kantong yang Ayah perlu jemput sudah di tangan,” kata Landon sambil beranjak dari kursi.


Lalu Landon berpamitan pada Gail untuk kembali ke Dapur The Brown. Produksi berbagai cemilan tradisional itu perlu pengawasan sang kepala masak.


Sebelum langkah kaki Landon melewati pintu rumah untuk keluar, si ayah itu mengusap lembut kepala Gail sebagai balasan salim sang anak. Dua matanya mengamati raut wajah di hadapannya.


‘Apa Gail tidak akan bertanya tentang Nigel,’ tanya Landon dalam hatinya saja.


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021