
"Kirim kemana video ini, Jemma?"
"Ke ponselku. Terus ke Mama, Papa, Evelyn, Paman, Bibi, Grandpa-"
"Bilang saja dikirim ke semuanya."
"Aku cuma menjawab pertanyaan yang sudah kamu tahu jawabannya, Jarrett."
Perdebatan Duo J teralihkan oleh suara Nigel dari arah Dinding Khusus. Sang Papa mengabari bahwa Mama sudah bangun tidur.
Itu artinya Duo J diminta kembali ke lantai atas. Seperti kesepakatan dengan Nigel ketika sarapan tadi.
"Jarrett, aku sungguh tidak mau berlari kali ini," seru Jemma cepat. Pas saat suara dari Nigel berakhir.
"Ya sudah. Karena permainan pianomu tadi bagus, aku akan berjalan dengan baik di sampingmu. Senang, Jemma?" ucap Jarrett bergaya.
"Bagus. Lakukan dengan baik," balas Jemma pula.
Duo J berbarengan ke arah tangga. Tempat terdekat jika mau langsung sampai di ruang makan yang menyatu dengan dapur.
"Mam," panggil Jemma menarik perhatian Gail yang menundukkan pandangannya ke piring berisi sarapan.
"Selamat pagi, Sang Putri," sahut Gail. Dengan cepat dia kembali ke mode khas-nya menyambut.
Jarrett membiarkan Jemma lebih dulu mendekat ke Gail. Dia mengarah ke Nigel yang duduk di tempat makan itu.
"Ada apa, Pa?" tanya Jarrett begitu saja karena suasana rasanya tak pas ketika tiba barusan.
"Rahasia," bisik Nigel jahil.
Jarrett melengos. Reaksi yang berbeda seratus delapan puluh derajat jika Nigel melakukan hal yang sama pada Jemma.
"Kenapa berbisik-bisik, Pap? Apa urusan antar pria lagi?" ujar Jemma yang ternyata sudah berpindah tempat dari Gail.
"Dasar, Jemma Si Mau Tahu," ledek Jarrett sembari berlari ke Gail. Gilirannya menyapa sang mama dengan bermanja-manja.
"Pap, Jarrett meledekku," ujar Jemma mengadu dengan raut wajah se-tidak-bersalah yang imut. Sekaligus dia membentangkan lengannya untuk minta dipangku.
Lagi-lagi, drama yang berulang kali seperti itu membuat tawa Nigel pecah. Duo J jadi penyelamat di suasana canggungnya dengan Gail.
Serentak Jarret dan Gail menoleh ke arah Nigel dan Jemma. Gerakan refleks membuat pasangan mata bertautan.
Baru saja suasana membaik, malah kembali canggung antara Gail dan Nigel. Keduanya kembali menata perasaan campur aduk masing-masing.
"Mam, wajah Mama memerah. Apa Mama baik-baik saja?" tanya Jemma jeli. Duduk di pangkuan Nigel sekarang berarti arah badan keduanya berhadapan.
"Memerah? Mama baik-baik saja," jawab Gail cepat. Dia tidak akan menceritakan apa terjadi sebelum Duo J sampai di meja makan ini.
"Benarkah?" selidik Jemma.
Gail tersenyum mengiyakan kepada Jemma. Lalu melihat ke arah Nigel yang sedang diam dan bisa dia pahami si suami juga salah tingkah.
"Jemma, bagaimana kita bicarakan undangan yang Paman berikan tadi malam?" ucap Gail mengubah topik.
Anggukan Jemma merespon kalimat Gail. Seakan mempersilakan sang mama berkata lebih lanjut.
"Apa bermain piano di depan penonton yang lebih banyak tidak menarik, Sang Putri?" tanya Gail dengan telinga dan hati siap mendengar.
"Menarik, Mam," jawab Jemma. Lalu dia menoleh ke Nigel dan menatap sang papa sebentar. Lanjut berkata, "Tapi tampil di TV bisa membuatku terkenal, Mam."
"Sang Putri tidak mau terkenal?"
"Tidak. Mam, aku pernah menonton film yang tokohnya seorang yang menjadi terkenal. Dia dikenali banyak orang. Jadi banyak pula yang harus dia korbankan. Aku tidak ingin hidup seperti itu."
"Hidup yang seperti apa, Sang Putri?" tanya Nigel ikut dalam pembicaraan istri dan putrinya.
Sedangkan Jarrett menyimak dan berusaha memahami apa yang saudarinya itu lakukan. Dia tidak ikut angkat suara.
"Hidup yang selalu diperhatikan orang-orang. Tidak hanya musikku, tapi semuanya tentangku. Paling buruknya, yang tidak kenal aku merasa paling tahu tentangku. Lalu, tidak ada lagi privasi dan-"
"Dan?" tanya Gail penasaran.
"Bisa saja banyak orang itu punya berbagai cara untuk bertemu denganku maka itu jadi bencana, Mam. Aku tidak mau rasa senangku yang baru sebentar ini selesai."
Dua bola mata Jemma berkaca-kaca. Dia sudah bertekad tidak akan menangis di depan Gail, tapi air matanya menunggu waktu saja untuk tumpah.
"Aku mau ke toilet dulu. Sebentar, Mam," sambung Jemma seraya turun dari pangkuan Nigel dan berlari ke toilet yang berada di samping dapur.
Gail tertegun mendapati apa yang Jemma sampaikan. Rasa percaya tak percaya pemikiran si genius manis itu jauh ke depan.
Sekilas memang terdengar narsis, satu kali tampil di tivi bisa membuat diri Jemma terkenal. Setelah dipikir lagi, peluang itu terjadi sangat besar.
Permainan musik Jemma yang level kepandaiannya jauh di atas usia lima tahun. Energi dari racikan dan improvisasi nada piano pun tak sekedar sampai di telinga, hati juga enak menerimanya.
Ditambah dengan visual Jemma yang mewarisi gen mempesona Nigel, pribadi perempuan kecil itu juga menyenangkan. Tidak sulit memikat perhatian banyak orang.
Intinya, jika Jemma mengeluarkan cahayanya maka label bintang pasti melekat kepadanya dengan cepat. Apalagi nama besar Irey akan memperbesar daya tarik.
"Mama," panggil Jarrett sambil memeluk pinggang Gail yang bisa dia jangkau.
Itu membuat Gail spontan meletakkan sendok yang sedang digunakan. Menu sarapan di piring si mama Duo J itu masih ada beberapa suap lagi padahal.
Gail meraih tubuh Jarrett dan dibawanya ke dalam pangkuan. Dia segera mengeratkan dekapan ke putranya itu.
Seperti yang pernah Jemma bilang, pelukan Jarrett adalah tempat ternyaman di dunia untuk mendapatkan ketenangan. Nigel jadi merasa cemburu pada anak laki-lakinya itu.
Beberapa pesan masuk bersamaan ke ponsel Nigel. Pengirimnya adalah Miles, Avery, Wyatt serta Evelyn.
Dengan cepat, Nigel mengecek apa yang dikirimkan kepadanya. Tidak pernah-pernah sekeluarga mengirimkan pesan dengan selisih waktu yang berdekatan.
Ternyata itu bukan pesan langsung dari nomor orang-orang kesayangan ke ruang chat pribadi. Nigel menemukan notifikasi kiriman pesan yang banyak itu ke fitur grup.
Itu perbuatan Jarrett. Tertulis bagian info grup bahwa baru dibuat sekitar dua puluh menit yang lalu dan ada sebuah video di bagian awal kolom chat.
Video itulah yang menarik balasan teks dari nomor-nomor yang dimasukkan Jarrett ke grup. Berlabel The Irey Family, tentu saja berisi Nigel, Gail, Miles, Avery, Evelyn, Wyatt dan Duo J.
Isi dari semua pesan yang masuk bernada sama. Yaitu apresiasi sangan positif terhadap permainan piano Jemma yang direkam dan dibagikan oleh Jarrett.
"Je, sini," panggil Nigel cepat ketika matanya menangkap sosok Jemma baru keluar dari toilet.
Jemma ragu. Antara menuruti pinta Nigel segera ke dekatnya atau niat hati ke sisi Gail, dirinya jadi mematung di depan pintu toilet.
Gail yang menyadari Jemma keluar dari toilet menoleh ke arah putrinya itu.Tidak terlihat lagi kondisi mata yang berkaca-kaca di wajah manis itu.
"Jemma, Papa memanggil," ucap Gail kemudian.
Anggukan Jemma menjadi respon. Perempuan kecil itu tidak ragu lagi kemana melangkah. Seolah kalimat Gail itu jadi pengarah untuk dia mengikuti pinta Nigel.
"Pembicaraan tentang undangan buat Jemma disambung lagi nanti ya, Sang Putri? Jangan sampai Papa dan Jarrett kesiangan sampai di Hicyti," ucap Gail saat si perempuan kecil sudah duduk di pangkuan sang suami.
Gail sempat melihat Nigel memeriksa ponsel tadi. Meski tak ada satu patah kata terdengar, dia jadi teringat agenda apa yang akan dilakukan suaminya, si tuan Irey itu hari ini.
Jemma mengagguk paham. Pelukan Jarrett kemudian diurai oleh Gail. Serta Nigel yang mendengar kalimat perhatian Gail itu ikut bergerak dan segera mendahului sang istri yang tampaknya akan mulai beberes.
"Tidak, Gee. Pindah duduk ke sofa saja. Aku yang membereskan sisa sarapan," ucap Nigel cepat.
Rangkaian kalimat Nigel untuk Gail akhirnya keluar. Setelah kecanggungan yang keduanya alami sejak keluar dari kamar utama.
Gail pun merespon lewat senyum, mengiyakan yang Nigel katakan. Dia merasa dalam ekspresi suaminya itu, ada permohonan untuk dituruti yang terkirim.
|Diw @diamonds.in.word - Feb22
nah loh nah loh, hohohoo