
Sesuai perkiraan, belum saatnya jadwal tidur Gail saat Jemma dan Nigel tiba di rumah The Brown. Malah ada jarak waktu dua jam sebelum waktu itu berkat kecepatan kerja sopir dan nahkoda.
Jarrett melihat Nigel dengan kebahagiaan yang membuncah. Dari gerak gerik Nigel sejak turun mobil, ia bisa tahu keadaan terbaru sang papa tanpa dijelaskan.
Sebab kemarin Jarrett berada di dekat tim dokter serta paham apa yang mereka sampaikan terhadap kemungkinan hasil pemeriksaan Nigel. Hal dadakan yang berhubungan dengan kesehatan dilakukan di kantor Ikingtech.
Tatapan Jarrett beradu dengan milik Nigel sehingga sang papa menyadari kehadiran putranya di teras rumah. Nigel pun lebih dulu menghampiri sang putra.
Lagipula Jemma dan Gail sedang asyik berdua dengan momen pertemuan ala mereka. Sang putri langsung minta peluk dalam gendongan saat disambut mama di halaman rumah.
"Aku mau memeluk Papa," ucap Jarrett yang dua matanya sudah berkaca-kaca ketika Nigel sampai di depannya.
"Sini, Ja. Papa berterima kasih banyak padamu," kata Nigel sembari merengkuh tubuh Jarrett lalu menggendongnya, seperti yang dilakukan istri dan anak perempuannya.
"Papa, aku senang sekali kakinya sembuh."
"Berkat bantuan Genius Tampan."
"Apa kita sudah bisa adu renang, Pa? Kata Paman, Papa selalu menang tapi tidak akan menang melawanku."
"Kaki Papa masih penyesuaian untuk seminggu ke depan, Ja. Kita bisa berlomba setelah itu."
"Jarrett," seru Jemma mengalihkan perhatian dua orang laki-laki beda generasi di dekatnya.
Perempuan kecil itu bertolak pinggang di samping Gail. Sesi kangen-kangenan pada sang mama sudah cukup.
"Jarrett Brown Irey, aku sudah pergi seharian. Mana penyambutan kepulanganku?" ujar Jemma memulai drama anak kembar kepada Jarrett.
Mendapati tingkah Jemma yang sudah mulai, Jarrett berbisik kepada Nigel untuk meminta sang papa menurunkannya. Dia akan meladeni saudarinya itu.
"Kejar aku dulu. Aku memberikan pelukan selamat datang setelah kamu bisa menangkapku," tantang Jarrett kepada Jemma.
"Jarrett, ini sudah malam," sahut Gail cepat. Kalimat pendek itu disertai aura intimidasi.
"Baiklah, Mama," pasrah Jarrett karena langsung paham maksud ucapan Gail. Dia menuruti aturan sang mama bahwa malam hari waktunya mengistirahatkan tubuh.
Tawa kemenangan keluar dari bibir Jemma. Berlari bukan sesuatu yang sama-sama keduanya sukai. Hanya Jarrett saja suka itu.
Detik selanjutnya Jemma masuk dalam dekapan Jarrett. Selalu menjadi kebiasaan Duo J saat salah satu berpergian jauh dan terpisah lama.
Melihat manisnya pemandangan dari dua anak berumur lima tahu lebih itu, Nigel pun mengalihkan matanya ke wajah Gail. Sumber kemanisan hidupnya.
"Gee," panggil Nigel untuk mengambil perhatian Gail.
Ketika tatapan mata keduanya tertaut, Nigel membentangkan dua lengannya dengan maksud mengajak berpelukan. Meniru kelakuan Duo J.
Gail merespon Nigel dengan pelototan mata lalu terburu-buru masuk ke dalam rumah. Meski begitu, pipinya yang merona tertangkap penglihatan. Dasar pemalu yang galak.
Nigel menahan tawa. Dia berjalan ke arah bagai mobil untuk mengambil beberapa barang yang jadi oleh-oleh dari Hicyti hari ini.
"Duo J, masuk rumah. Angin malam sudah semakin dingin, Kids," ujar Nigel sambil membawa kantong dari oleh-oleh itu melewati pintu masuk rumah The Brown.
Langkah Nigel berhenti di ruang lepas bersamaan dengan Gail dari arah ruang makan. Kedua tangan pasangan itu sama-sama terisi.
"Nig, ini air putih hangat untukmu. Aku taruh di sini ya?" kata Gail lebih dulu dengan menunjuk bagian meja terdekat dari Nigel.
Ingin Nigel berterima kasih lebih dari berucap dua kata itu saja. Sekali lagi, dia harus menahan diri sampai waktunya tiba.
"Ayah, Bunda, aku membawakan ini dan titipan dari Father," kata Nigel pada Landon dan Ellie yang memandangi interaksinya dengan Gail.
Oleh-oleh yang ditunjuk Nigel berpindah tangan. Kedua orang tua angkat Gail memeriksa pemberian itu setelah mengucapkan terima kasih.
"Pap, boleh aku pinjam ponselnya sekarang? Melihatkan video tadi ke Mama," bisik Jemma yang tanpa Nigel sadari sudah berada di sampingnya.
Niat hati Nigel untuk mengumumkan kesembuhan kakinya di depan istri dan mertua tidak jadi langsung dilakukan. Dia mendahulukan Jemma.
"Oleh-oleh dariku juga ada," sorak Jemma ketika ponsel Nigel sudah beralih ke tangannya.
Video permainan piano Jemma pun diputar. Meski ditampilkan di layar ponsel, bagusnya penampilan si genius manis dalam bermusik tetap terlihat.
"Mama belum pernah mendengar ini. Luar biasa, alunan musik Sang Putri sangat gembira sampai-sampai perasaan Mama sangat bahagia mendengarkannya," puji Gail disertai senyuman bangga kepada Jemma.
"Benarkah? Mama suka? Sangat suka?" tanya Jemma sembari berlonjak-lonjak senang.
Gail tersenyum manis sambil menggerakkan lengan, meminta Jemma masuk ke dekapannya. Buncahan perasaan baik yang sedang terasa, dia bagi dengan menciumi anak perempuannya gemas.
"Apa sulit mempelajari lagu tadi? Sejak kapan Sang Putri latihan? Seingat Mama beberapa hari belakangan Jemma tidak sering menyentuh piano," ucap Gail di sela-sela.
"Aku langsung memainkankannya, Mam. Dari kepala terus turun ke jari."
"Bisa begitu, ya?"
"Begitulah hari ini," ujar Jemma singkat saja.
Perempuan kecil itu menahan diri supaya tidak keluar cerita dari mulutnya tentang kejadian tadi, yang sempat membuat Nigel panik. Jemma tidak mau sang mama panik.
Kehadiran sang papa masuk dalam kehidupannya, membuat Jemma menyesuaikan diri untuk mempercayakan Nigel atas dirinya.
Keselamatan, kenyamanan dan segala hal yang menjadi tanggung jawab seorang papa. Ruang itu yang dulunya kosong dalam diri Jemma, dipercayakan kepada Nigel untuk mengisinya.
"Gail, sudah saatnya siap-siap untuk tidur," ucap Landon mengingatkan.
Semua perhatian pun menuju ke ibu dua anak itu. Mereka mengucapkan selamat tidur kepada Gail seorang.
Yang lainnya akan tidur lebih malam sebab menemani Nigel yang belum pulang ke villa. Lagipula tadi obrolan menantu dan The Brown tersela oleh Jemma dan perlu dilanjutkan.
Hati Nigel menghangat mendapati Gail memberinya pelukan singkat. Meski tak lama seperti yang istrinya lakukan ke Ellie dan Duo J, cukup buat sang suami.
Sejak saat momen Gail menangis dan Nigel menemani, adaptasi tubuh dan penerimaan mengalami kemajuan bagi dirinya. Akumulasi perhatian-perhatian menciptakan kenyamanan.
Terakhir sebelum melangkah semakin masuk kamar, Gail tertegun menatap wajah Nigel. Suaminya sedang tersenyum manis dan terus memandangya dari ruang lepas.
Gail seolah menyimpan raut wajah Nigel saat ini ke dalam memorinya rapat-rapat untuk gambar di pikiran. Ada kemunculan sosok sang suami ketika mendengar musik piano Jemma tadi.
Nigel masih saja melihat ke arah dalam kamar istrinya meski Gail tidak terlihat lagi. Kebahagiaan datang satu per satu hari ini, meski ada yang tak sesuai niatnya tadi.
|Bersambung.. Diw @diamonds.in.words - Januari22
Selamat papanya Jemma, hoho