
"Buka yang sebelah samping ini, Paman?" tanya Jemma kepada Miles.
Anak perempuan berusia lima tahun itu memastikan terlebih dulu seperti apa yang akan dia kerjakan. Dia mencegah kesalahan yang mungkin dilakukannya.
Amplop yang Miles beri di tangannya terlihat berbeda daripada yang pernah Jemma tahu. Sebesar dan setebal buku yang tadi Jarrett baca.
"Benar. Lalu tarik tali yang menyembul itu. Yang berwarna hitam dan putih," terang Miles dari tempat duduknya yang berseberangan meja dengan Jemma.
Hidangan makan malam yang sebelumnya dihamparkan di atas meja itu sudah tidak ada. Masakan selesai disantap serta peralatan makan dan minum dipindahkan.
Yang sekarang sedang disajikan adalah berbagai wadah berisi potongan buah. Kepala pelayan bekerja seorang diri dengan trolinya.
Gail yang paham pengaturan keadaan yang dibuat Nigel, bergerak membantu memindah-mindahkan. Dia tidak enak hati meskipun sang suami memintanya duduk manis saja.
Lagipula sudah kebiasaan Gail setelah makan malam mengerjakan bagian bersih-bersih, seperti saat di rumah The Brown. Bukan masalah.
Nigel hanya bisa mengalah dengan keras kepalanya Gail. Itu memang bukan pekerjaan berat hanya agak repot jika dilakukan sendiri.
Tak ketinggalan, Jarrett bergerak juga. Pria kecil itu mengikuti apa yang Gail lakukan. Dia suka aktifitas fisik apalagi jika bisa sekalian membantu orang lain.
Sembari itu, Gail beradaptasi lewat interaksinya dengan si kepala pelayan. Orang yang selalu diandalkan oleh Nigel itu harus tidak asing lagi baginya.
Naluri Gail seolah memberitahu dia akan punya urusan dengan orang Nigel itu di masa depan. Entah apa.
Selain itu demi Nigel juga, Gail rasa dia perlu mengenal orang-orang yang terkait dengan sang suami. Hanya supaya pengetahuan dirinya menyambung jika nama-nama asing masuk dalam obrolan.
Sementara Gail berfokus dengan kerja samanya dengan si kepala pelayan memindahkan benda-benda yang tidak perlu lagi di atas meja makan itu, Jemma memandangi benda di tangannya.
Amplop yang unik menurut Jemma. lalu dia melakukan seperti yang Miles jelaskan. Perempuan kecil itu sangat fokus untuk membuka dengan hati-hati.
Ternyata di dalamnya ada sehelai kertas yang ditulis dengan rangkaian huruf indah serta sebuah kotak pipih dengan kombinasi warna hitam dan putih. Desain seperti piano.
"Paman, kenapa aku mendapatkan ini?"
"Kenapa tidak?"
"Tidak masuk akal, Paman," kata Jemma dengan dahinya yang berkerut, bingung.
"Saat kamu main piano di restoran waktu itu, mereka sedang berada di sana dan mendengarkan musikmu. Itu baru tadi siang sampai di kantor Paman."
Jemma masih menatap Miles dengan ekspresi belum puas dengan penjelasan sang paman. Tapi segera dia menoleh ke Gail yang sudah kembali duduk di sampingnya.
"Mam, aku ikut kata Mama saja," ucap Jemma seraya memberi kertas yang dibacanya tadi.
Gail menerima uluran Jemma dengan rasa penasaran. Begitu pula dengan yang lainnya ingin tahu topik pembicaraan antara ponakan dan paman itu.
Kecuali Nigel, sebab dia sudah diberitahu Miles lewat telepon setelah amplop tersebut dibuka pertama kali. Tentu saja, kedua pria itu berperan sebagai penyaring terhadap apa yang datang pada keluarganya.
Kertas itu bertuliskan undangan untuk tampil sebagai pianis yang mengisi acara bernama Great Music. Sebuah acara penghargaan musik bergengsi yang diadakan oleh stasiun televisi.
Itu diadakan dua minggu lagi di Hicyti. Kesempatan datang untuk Jemma menampilkan permainan pianonya di hadapan penonton yang jumlahnya lebih besar.
Dari pemikiran Gail saat membaca undangan itu, dia ingin diri Jemma berkembang. Tapi mendapati respon sang putri tidak antusias, jadi bingung.
Refleks Gail menoleh ke Nigel. Sekarang ada suaminya yang juga punya hak campur tangan dalam keputusan untuk masa depan Jemma.
"Nigel, kamu sudah dengar?" tanya Gail ketika dua matanya bertatap dengan sang suami.
Nigel tersenyum mengiyakan. Gail berpikir sebentar lalu beralih ke arah adik suaminya, si yang membawa undangan.
"Miles, apa harus sekarang jawaban untuk ini?" ucap Gail bertanya.
"Tidak. Mereka menunggu sampai dua hari ke depan," jelas Miles.
"Syukurlah, bisa dipertimbangkan dulu kalau begitu," ujar Gail lega.
Tak sengaja Gail menangkap wajah penasaran Avery yang duduk di samping Miles. Sesama menantu keluarga Irey itu melihat ke arah undangan yang ada di tangan.
"Great Music, ya," gumam Avery setelah membaca lalu beralih ke Evelyn untuk berkata, "Ev, ini acara yang kamu ingin hadiri waktu minta izin Mom dua bulan lalu?"
"Mom, boleh aku lihat dulu infonya?" kata Evelyn menadahkan tangannya sebelum menjawab iya atau tidak.
Seiring waktu perihal undangan untuk Jemma itu menjadi topik yang berlanjut dalam obrolan kumpul keluarga besar malam ini. Lalu disusul tentang apa saja.
Sampai pada pukul sembilan malam, Jarrett memberi kode pada Nigel yang sedang asyik berbincang sesama pria. Yaitu dengan Wyatt, Landon dan Miles.
Dari gerakan Jarrett yang menunjuk pergelangan tangan, Nigel langsung paham. Dia pun permisi sebentar dan diikuti sang putra.
"Gee," panggil Nigel setelah berada di jarak yang dekat dengan tempat Gail berkumpul dengan sesama perempuan.
"Ada apa?" tanya Gail spontan.
"Saatnya siap-siap tidur," jawab Nigel. Dia yakin Gail lupa mengecek jam tangan.
"Astaga, iya," seru Gail. Memang masih satu jam lagi batas waktu untuk lelap, tapi tidur di tempat baru bukan perkara gampang.
"Mama, aku langsung ikut tidur," ucap Jarrett menanggapi Gail yang terlihat mulai panik.
"Tenang ya, Gee. Kalau kamu perlu obatnya, sudah aku taruh di laci yang ada di bawah tempat teko pitcher," ucap lembut Nigel.
"Baiklah. Aku pamitan sekarang."
Gail mulai berpamitan. Diawali kepada para perempuan di keluarga yang sedang duduk bersamanya.
"Mam, aku ikut," kata Jemma. Perempuan kecil itu berpamitan tidur pula seperti Gail dan Jarrett.
Jemma mau menemani Gail, berbagi kekuatan dengan sang mama. Rasa tempat yang asing bisa tersamarkan dengan hadirnya si yang terdekat.
Kemudian lanjut berpamitan ke tempat para pria berkumpul. Bagaimanapun sudah maklum dengan kondisi ajaibnya Gail.
Setelah semua selesai, Nigel mengikuti langkah Gail dan Duo J menuju kamar utama. Dia ingin mengantar istrinya itu.
"Nigel, besok jadi ke Hicyti membawa Jarrett?" tanya Gail sambil berjalan.
"Jadi, Gee. Jam sembilan atau setelah kamu berangkat kerja. Kenapa?" kata Nigel sambil menyamakan langkah.
"Aku ingin membicarakan tentang undangan untuk Jemma tadi. Bagaimana, Nigel?"
"Oke. Kita bisa membicarakannnya ketika kamu selesai sarapan. Atau kapan kamu mau, Gee?"
"Apa itu tidak akan menganggu, bisa-bisa kamu ketinggalan jadwal keberangkatan kapal?"
Nigel tertawa. Sepertinya istrinya itu lupa siapa sang suami. Ditambah raut wajah Gail saat bertanya barusan tampak menggemaskan di matanya.
"Nahkoda tidak akan menjalankan kapal sebelum suamimu ini memberi perintah, Gee," bisik Nigel tapi dengan suara yang jelas terdengar sampai ke telinga Duo J.
Dalam sepersekian detik, wajah Gail merona malu. Kalimat Nigel barusan membuat debaran jantungnya terasa lain. Dampak dari kata suamimu.
Tibalah di depan pintu kamar utama, Nigel lebih dulu menjangkau bagian ganggang. Lalu membukakan jalan untuk istri dan anak-anak.
"Terima kasih untuk semuanya di hari ini, Nigel," ucap Gail seraya menghadang Nigel sebelum ikut masuk lebih dalam ke kamar lalu kembali berkata, "Antar sampai sini saja."
Gail tidak akan membiarkan Nigel lama-lama meninggalkan kumpul keluarga tanpa tuan rumah. Jika saja bisa, dia ingin berada di sana sampai akhir.
Nigel mau tak mau menurut. Tanggap Duo J segera bergantian memeluk dan mencium pipi sebagai salam sebelum tidur pada sang papa.
"Giliranmu, istriku," ucap Nigel penuh harap dan bentang kedua lengannya pun lebar terbuka.
|Diw @diamonds.in.words - Feb22
Goodman beud sih lo, N.. hohohooo baper nulisnya nih