
Mobil yang Gail tumpangi melaju ke villa Addison. Dia canggung duduk di dalamnya. Pengalaman pertama naik mobil, begitu yang ada dalam memorinya akibat amnesia.
"Sudah sampai. Ayo masuk, Genaya," ajak si pengemudi setelah mematikan mesin.
"Terima kasih tumpangannya, Avery."
Kedua menantu keluarga Irey itu pun berjalan berdampingan. Mereka melangkah tanpa suara ke tujuan yang sama.
Pintu kamar Nigel sudah berada dalam jarak pandang Gail dan Avery. Mereka melihat dua pelayan keluar dari kamar itu dan siluet seseorang berada di dekat pintu.
"Sayang," suara yang memanggil itu berasal dari arah pintu dan ada Miles disitu.
Gail menoleh ke Avery karena dia tahu panggilan tadi untuk wanita di sampingnya. Tapi Gail bingung, karena tidak mendengar Avery menjawab suaminya.
Hanya sebaris lengkungan manis yang tampak dari Avery. Gail pun hanya menonton saja. Dia menjaga sikap, masih membatasi diri.
Sesampainya di dekat Miles, pinggang Avery langsung ditarik suaminya. Pasangan itu saling mengecup singkat bibir mereka. Yang bermakna salam selamat datang dan intim.
Tentu saja Gail semakin merasa canggung di dekat keduanya. Pemandangan dari istilah dunia milik berdua.
Demi kebaikan penglihatannya, Gail mengalihkan matanya ke dalam ruangan yang jadi tujuan tadi. Terlihat Nigel sedang duduk terpekur pada layar laptop. Fokus sekali.
'Dia baik-baik saja,' kata Gail dalam hati yang diikuti perasaan lega.
Selama beberapa saat mata Gail tak lepas dari sang suami. Dilihat lama begitu ternyata membuat Nigel tersadar ada yang sedang memandanginya.
Refleks Nigel menoleh ke arah pintu dan matanya bersirobok dengan Gail. Meski Nigel tidak bisa memaknai tatapan sang istri, rasanya itu bukan sesuatu yang buruk.
Nigel tak menyangka sepagi ini bertemu Gail. Setahunya sekarang masih jam tidur istrinya itu.
Demi rencana untuk Nigel bisa menunggui Gail bangun tidur seperti yang sudah-sudah, lelaki itu keras kepala meminta Miles untuk tidak memaksanya beristirahat lagi.
Kondisi Nigel kemarin bukan kategori kambuh menurut dokter, karena psikis lelaki itu sudah kembali normal. Itu adalah reaksi terkejut disertai ketakutan berlebihan.
Hanya beberapa jam setelah dokter keluarga Irey memberi suntikan penenang dan obat lainnya, Nigel kembali pada kondisi baiknya pada tengah malam.
Meski begitu, Nigel tidak bisa benar-benar tenang meski Miles sudah memberitahu kabar Gail yang baik-baik saja setelah kejadian kemarin. Dia tersiksa berjauhan begini dengan sang istri.
Nigel ingin menyelesaikan pekerjaan jarak jauhnya untuk hari ini lebih awal supaya dia bisa berlama-lama di sekitar Gail nanti. Dia juga menyiapkan banyak alasan agar lancar diizinkan.
Ternyata tanpa disangka-sangka, Nigel menemukan Gail sudah berada di depan matanya lebih dulu. Jika ada kata yang maknanya lebih dari sangat amat bahagia, itu yang Nigel rasa.
Nigel bangkit dari sofa untuk menyambut kedatangan Gail. Bahkan kakinya perlahan melangkah ke arah wanitanya.
Sedangkan Avery dan Miles menggeser posisi berdiri untuk menjauh dari pasangan suami istri itu. Lewat bahasa isyarat, kini keduanya yang sepakat menjadi penonton si sejoli.
“Apa aku boleh masuk?” tanya Gail setelah Nigel bergerak beberapa langkah ke arahnya.
Gail angkat suara karena dari tadi hening yang melingkupi mereka. Lagipula dirinya yang sungkan itu merasa tidak enak pada situasi canggung yang dia maknai dari tadi.
“Tentu saja, Gee. Aku suka kamu disini, senang sekali,” jawab Nigel cepat. Dia tak akan menyia-nyiakan momen membahagiakan ini. Gail juga tampak baik-baik saja olehnya.
Nada dari kalimat itu benar-benar terasa ceria di telinga Gail. Tak ketinggalan cara khas Nigel dalam berbicara padanya, suara lembut disertai tatapan penuh cinta.
“Aku masuk, ya,” ucap Gail seperti permisi, rasanya masih saja sungkan. Ada gugup pula muncul bersamaan.
Namun demi tekadnya, Gail tidak mau kalah dengan perasaan buruk yang terasa. Dia berusaha meruntuhkan tembok tak kasat mata yang muncul padanya jika berinteraksi dengan Nigel.
Sampai-sampai Gail terlupa akan dimana kehadiran Avery dan Miles. Dirinya terlalu fokus pada sang suami.
“Gee, ini juga tempatmu. Hilangkan rasa sungkan itu, ya?”
“Maaf, Nig-” ucap Gail terpotong oleh timpalan Nigel.
“Sudah, Gee. Tidak ada yang perlu dimaafkan.”
“Baiklah.”
“Apa kamu sudah sarapan, Gee? Barusan pelayan mengantar makan pagi. Ayo ke meja makan dan duduk disini ya, Sayang.”
Sambil bicara, Nigel yang tadinya akan berjalan ke Gail jadi berbelok arah ke tempat makan yang sudah di dekatnya. Dia tarik satu kursi lalu beralih ke kursi sampingnya untuk Gail.
“Su- sudah. Aku membawakan penganan dari bunda. Harusnya kemarin malam ini diberikan.”
Gugup Gail makin bertambah. Dirinya bisa memaknai perlakuan manis Nigel yang sederhana begitu sebagai bentuk romantisme.
“Terima kasih banyak, Gee. Aku tak sabar untuk mencicipi keripik-keripik itu.”
Tangan Nigel meraih kantong yang Gail serahkan. Lelaki itu bisa melihat gemetar tangan yang mengarah padanya itu.
“Semoga rasa enaknya pas dengan seleramu, Nig.”
“Baik untuk dinikmati nanti,” sahut Nigel terjeda karena tersadar ada kata ‘Nig’ yang rindu dia dengar dari bibir sang istri. Lalu bergumam senang, “Gee, aku makin mencintaimu.”
Gail terdiam kaku mendengar kalimat itu. Walau bergumam, telinga Gail masih bisa menangkap apa yang Nigel lontarkan itu. Perasaan campur aduk pun tak bisa Gail elak.
“Gee,” panggil Nigel beberapa kali.
“I-iya?” kata Gail terbata.
“Ayo sarapan, Sayang. Aku ambilkan yang manapun kamu suka. Atau ada yang lainnya kamu mau, aku akan menyuruh pelayan membawakannya kemari.”
“Ti-tidak, aku sudah kenyang. Aku minum air putih hangat saja.”
“Baiklah,” ujar Nigel mengalah kemudian dengan gerak cepat menuangkan segelas air untuk sang istri.
“Terima kasih, Nig.”
“Terima kasih juga menemaniku sarapan, Gee.”
Gail hanya merespon dengan senyuman manisnya. Bingung harus bagaimana bersikap serta canggung hanya berdua begini. Akhirnya Gail tersadar, cuma ada dia dan Nigel di ruangan itu.
“Nig, tadi aku ke villa ini bersama Avery. Sekarang aku tak melihatnya, apa dia bersama Miles?” tanya Gail untuk rasa penasarannya sekaligus mungkin bisa membuka obrolan.
“Sepertinya begitu, Gee. Mereka meninggalkan kita untuk kencan,” ucap Nigel santai.
“Kencan?”
“Iya, mereka sudah seminggu tidak bertemu. Jadi saat ini pasti sedang menikmati waktu berdua.”
“Oh, begitu,” ucap Gail berusaha memahami apa makna dari penjelasan itu.
“Gee, coba ini. Aku membuat puding rasa stroberi. Jemma bilang ingin sesuatu yang dibuat dari buah itu.”
“Kamu memasaknya sendiri, Nig? Jemma merepotkanmu,” kata Gail yang nadanya dibumbui rasa tak enak hati
“Tidak direpotkan, Gee. Aku senang melakukannya, malah aku merasa punya makna lebih karena ini,” ucap Nigel dengan khasnya sembari menyodorkan puding ke hadapan Gail.
Lelaki itu mengendalikan batasan gerak tangannya. Dia tidak ingin suasana indah berdua kini rusak. Sebab dia tahu Gail dan tubuhnya masih beradaptasi dengan jarak mereka.
“Enak, Nig. Bukankah kamu bisa meminta pelayan yang membuatkan puding, kenapa kamu sendiri yang membuatnya?”
“Karena maknanya akan berbeda, Gee.”
“Iya, aku jadi paham setelah dipikir lagi.”
“Dulu aku selalu mengekori Mother kemanapun. Kami sering di dapur padahal selalu ada koki disana yang bertugas memasak. Father selalu kalah dengan keinginan Mother untuk masak.
Beliau hanya akan membuat satu makanan simpel tiap hari dan itu tak akan jadi masalah untuk kesehatannya. Begitu alasan Mother yang membuat Father menyerah.
Mother juga bilang, dia suka saat dua tangannya mengolah bahan dan suka hasil olahannya itu dinikmati orang tercintanya. Aku belum paham makna itu sampai bertemu kamu, Gee.”
“Aku? Aku tidak bisa masak,” terang Gail bingung.
“Kamu bisa tapi tidak suka. Kamu pernah membuatkan nasi goreng untukku. Rasanya lezat sekali. Lalu kamu berkata padaku untuk tidak berharap akan sering dimasaki.”
“Benarkah?”
“Aku tak akan membohongimu, Gee. Saat itu karena perkataanmu, aku menjawab bahwa aku lah yang akan sering memasak untukmu.
Kemudian masakanku kamu puji. Ketika itu aku paham yang Mother pernah bilang. Rasanya membahagiakan sekali, aku ingin terus melakukannya padamu. Sangat bermakna bagiku.”
|Bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Desember2021
Mari beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, makasih loh dukungannya untuk keberlangsungan Duo J: Genius :)