DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Sabar



“Jemma,” panggil Landon yang bingung saat menyadari sang cucu menangis terisak saat memasuki halaman villa kantor Addison. Dia menahan diri untuk bertanya karena kode Jarrett melarangnya.


“Aku akan menjelaskannya, Kek,” bisik Jarrett sambil membuka pintu ruang istirahat yang dikhususkan untuk Duo J pakai ketika berada di villa. Mereka memang seistimewa itu bagi Addison.


Jemma semakin menangis, kali ini lebih lepas. Dia sudah susah payah untuk terlihat baik-baik saja sejak Jarrett memberitahu apa yang didapatkannya dari Miles.


Jarrett segera menarik kakak cengengnya itu untuk masuk dalam pelukannya. Tempat paling menenangkan yang ada di bumi, begitu istilah Jemma.


Sambil Jemma melepaskan tangis hingga dirinya membaik, Jarrett bercerita pada Landon. Kakeknya ini adalah orang yang memegang peranan paling penting untuk masa depan mereka, apalagi bagi sang mama.


Tentang Jarrett yang sebenarnya berada di rumah sakit menemani Nigel dan Miles saat Addison mengatakan alasan pada Gail bahwa mereka belum bisa pulang ke Delan karena urusan bisnis.


Tentang Jemma yang ketika menginap di kediaman keluarga Irey bertemu dengan Nigel dan Miles. Itu menjadi kesempatan dalam mengambil sampel darah untuk tes pada cek kesehatan.


Tentang semua yang isi pesan yang Miles kirim ketika Gail mulai menangis setelah orang suruhan tadi pamit. Bahkan ada kata mohon yang berulang dari Tuan Irey tersebut.


Secepat itu tindakan yang Miles lakukan sebagai cara selanjutnya setelah gagal dengan cara pertama. Demi titik terang hubungan yang terputus selama enam tahun.


Sebagaimana terkejutnya Jarrett dan Jemma, Landon juga merasakan perasaan campur aduk yang tidak bisa dia definisikan dengan langsung. Sangat bahagia sekaligus sangat sedih.


Beberapa waktu berlalu dengan saling diam dan ketiganya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Duo J juga memiliki ide sendiri- sendiri.


Tapi mereka memilih sang kakek yang terlebih dahulu buka suara. Perlu berembuk dengan maksimal untuk menghadapi kenyataan besar ini.


“Kakek ingin mendengar apa yang ada dalam pikiran Duo J. Sepertinya Jemma yang pertama,” ucap Landon dengan lembut. Sang cucu perempuan tampak olehnya begitu emosional.


Jarrett mengeratkan dekapannya dengan Jemma. Dia tahu sisi cengeng saudarinya akan muncul sambil berbicara dan itu mengganggu pengucapan kalimatnya dan dia tidak suka.


Terbata-bata Jemma mencurahkan apa yang dia rasakan dan pikirkan. Kemudian giliran Jarrett yang bicara penuh pengendalian diri sembari tidak membiarkan air matanya jatuh.


Setelah sisi emosional kedua cucu membaik, Landon meminta Jarrett untuk menghubungi Miles. Dia akan berbicara lewat ponsel dengan tuan Irey tersebut sebab keadaan ini memang tidak bisa diulur-ulur.


Secara terbatas lewat sambungan panggilan video, ke empat orang saling berdiskusi. Mereka menyamakan arah dan langkah yang akan dituju dalam waktu dekat.


Setelah sampai pada kata sepakat, Jarrett berlari keluar untuk menemui Addison yang pasti sedang dalam ruang kerja dan membawa si pemimpin penduduk bergabung ke markas dadakan mereka.


“Om Adi, aku sudah tidak lagi melanjutkan misi menambah uang. Mama sudah membelikan ponsel. Masalahku yang satu itu selesai. Aku sangat berterima kasih,” ucap Jarrett saat dia di ruang kerja Addison.


“Aku ikut senang, Jarrett,” ujar Addison. Dia berkata pendek karena sepertinya ada hal lain yang ingin disampaikan si pria kecil dan membuatnya penasaran ingin mendengar.


“Om Adi,” kata Jarret lagi dengan nada lebih serius, “Sekarang kakekku sudah tahu apa yang kita lakukan waktu di Hicity. Itu membuat kita harus melaksanakan misi lebih besar.”


Addison tidak bersuara. Dia menunggu keterangan lebih detil. Namun Jarrett malah menariknya menuju ruang istirahat Duo J tanpa bicara dan Addison menurut saja.


***


Beberapa minggu berlalu, tibalah giliran Jemma ke Hicity. Perempuan kecil itu seperti biasa ditemani Landon jika bepergian.


Kepergian cucu dan kakek kali ini dalam rangka undangan acara untuk Jemma tampil main piano. Seperti biasanya, itu memakan waktu tiga hari dua malam.


Semua dibuat seperti biasanya. Sikap Duo J tampak seperti biasanya dan begitu juga The Brown bahkan Addison. Seperti biasanya untuk Gail.


Hanya Gail Brown saja yang menganggap tidak ada yang berubah dan terpengaruh karena kedatangan orang utusan Miles, tuan dari keluarga Irey yang terpandang.


Jarrett yang genius dalam olahraga, kegiatan fisik lainnya bagaikan jadi obat untuk Nigel dalam menjalani terapi tubuh. Meski sejak dulu tim dokter sudah memberitahu kakinya bisa kembali normal.


Jemma yang genius dalam bermusik dan mengolah seni itu sampai ke hati bagaikan jadi obat untuk Nigel menjalani terapi mental. Penguat ketika fobia juga trauma mesti dihadapinya.


Gail tidak begitu curiga bagaimana bisa putra dan putri secara bergantian sering mendapat undangan untuk pergi dan menginap di Hicity akhir-akhir ini. Yang dia rasa kehidupan berjalan seperti biasanya.


Berbeda dengan Nigel, kehidupan yang terasa mati sudah mendapati nyawa. Tidak hanya satu kekuatan melainkan jadi tiga. Akhir-akhir ini semua kebiasaan selama enam tahun hampir hilang.


Berkat Duo J yang menerima kehadiran Nigel sebagai ayah mereka dengan panggilan papa. Sebutan Om Nig sudah berganti.


Penerimaan The Brown dan Addison terhadap keadaan Nigel yang masih buruk dan pertolongan untuk membuat suami Genaya itu bisa bertemu langsung dengan sang istri.


Dukungan tanpa batas dari keluarga Irey untuk El yang sekarang agar bisa menjadi seperti El yang mereka kenal sebelum kecelakan. Miles, Wyatt, Avery dan tentu saja Evelyn.


“Ev, apa aku akan terus dipeluk begini?” ucap Jemma dengan nada gelinya.


Keduanya berada di sofa ruang musik untuk menunggu kembalinya Nigel dan Miles dari rumah sakit. Sesuai dengan jadwal terapi yang mereka ketahui bersama, dua ayah itu akan pulang setengah jam lagi.


“Aku akan terus memelukmu, Jemma. Kamu itu hadiah, buah dari kesabaran. Mom selalu menggunakan istilah itu padaku,” jelas Evelyn lembut dan sayang yang terasa oleh Jemma.


“Baiklah. Karena disini tidak ada Jarrett, aku terima pelukan kakakku selama yang diinginkan,” tanggapan Jemma membuat Evelyn dan dirinya tertawa kekeh bersama.


“Jemma adalah hadiah dan Jarrett adalah bonusnya. Aku tidak menyesal sudah menuruti apa yang Mom dan Dad minta untuk bersabar.”


“Kenapa?”


“Aku ingin punya adik. Aku sangat ingin. Aku tidak suka kesepian. Aku selalu meminta adik pada Mom dan Dad tapi mereka tidak mengabulkannya walau aku sangat-sangat merajuk.”


“Lalu?”


“Semakin aku besar, Mom semakin sering berkata begini padaku: jadilah sabar. Nanti akan ada waktunya aku mendapat buah dari kesabaran. Rasanya akan lebih senang daripada mendapat hadiah yang pernah aku rasakan.”


“Sekarang kamu sangat senang?”


“Sangat, bahkan sangat senang sekali,” ungkap Evelyn sembari mengeratkan pelukan sayangnya. Lanjut berkata, “Sejak Dad bilang Uncle sudah menemukan ada dimana Aunt yang sangat dirindukan itu,


Lalu, ada juga dua orang anak Uncle yang akan menjadi adikku. Satunya sudah pernah bertemu denganku. Ternyata itu Jemma, adikku yang benar-benar adikku. Satunya adik laki-laki yang seperti Dad dan Uncle, disebut anak kembar. Sangat menyenangkan.”


“Aku juga, punya satu sangat untuk senang. Keinginanku untuk punya papa sudah terjawab. Nanti saat papa bertemu mama, rasa senangku akan bertambah dengan satu lagi kata sangat.”


“Aku tidak sabar melihat seperti apa senangnya Uncle saat ketemu Aunt nanti. Orang yang dirindukannya sejak lama sekali.”


“Iya, papa harus berusaha keras untuk bisa bertemu mama. Kata kakek, mama punya trauma. Itu membuat mama cuma bisa ada di Delan saja. Tidak bisa kemana-mana.”


***bersambung..**


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021


****Silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Juga, bagikan. Makasih ya :))**