DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Kali



Jemma mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. Gadis itu berusaha memahami yang sedang dia lihat.


Sang papa yang terus-terusan bergumam tanpa fokus dan pengendalian diri. Pamannya yang terus menggenggam erat kedua tangan milik Papa.


Ditambah Bibinya yang tiba-tiba berlari ke luar rumah setelah saling bertatap sebentar dengan sang Paman. Tanpa suara, kedua orang itu seperti bicara lewat tatapan.


Otak genius Jemma buntu karena kejadian kedua orang tuanya barusan. Perempuan kecil itu hanya terdiam di dekat Nigel dan Miles yang duduk berhadapan.


Selang beberapa menit, Avery kembali masuk rumah. Pandangannya langsung bertaut dengan Miles. Wanita itu mengangguk dan dibalas dengan gerakan mata menyetujui dari suaminya.


Langkah Avery terus mengarah ke kamar yang ditempati Gail. Saat mendekati pintu, gerakan kakinya lebih berhati-hati agar tidak kentara kehadirannya.


Kamar yang tidak ditutup itu sunyi karena Gail terlelap di atas kasurnya. Di sampingnya ada Ellie yang sedang mengusap kepala sang putri dan Jarrett yang tertidur juga.


Ellie menoleh ke arah kedatangan Avery. Keduanya berusaha berkomunikasi yang tidak mengganggu tenangnya Gail. Berbisik dan menggunakan gerakan tubuh.


Tujuan Avery ke kamar tersebut untuk mewakili Nigel dan Miles berpamitan. Dia memberitahu Ellie bahwa mereka akan balik ke villa.


Keduanya sama-sama paham, kali ini dua orang tersayang mereka itu perlu waktu sembuh masing-masing. Nigel dengan traumanya dan Gail dengan luka mentalnya.


Setelah itu, Avery menuju ruang lepas dan mendekat ke Jemma. Anak perempuan itu terlihat berbeda. Dia tak bisa menebak dengan baik apa makna dari sorot mata keponakannya.


“‘Jemma,” panggil Avery untuk mendapatkan fokus perempuan kecil itu.


“Bibi,” jawab Jemma lirih.


“Jemma, Bibi dan Paman akan membawa Papa kembali ke villa. Apa Jemma mau ikut atau tinggal disini?” ucap Avery lembut, penuh perhatian.


Karena cukup sering berinteraksi dengan Duo J, Avery menjadi paham bahwa keponakannya punya kemiripan dengan Evelyn.


Mereka adalah anak-anak yang lebih dewasa dari angka umurnya. Itu membuat Avery memberi kesempatan untuk Jemma membuat keputusan untuk diri sendiri.


“Bibi, aku bingung,” lirih Jemma dan air matanya tampak tertahan. Dua netra itu berkaca-kaca.


“Oh, sayang.”


Karena melihat itu, sontak Avery lebih mendekat pada Jemma lalu memeluknya dengan hangat. Pertahanan Jemma masih kuat sambil membalas dekapan sang bibi.


“Aku tetap disini, Bi. Mama biasanya mencariku saat bangun tidur nanti. Aku tidak mau menyebabkan masalah lagi. Papa biasanya dengan Paman, jadi tidak apa-apa tak ada aku.”


Jemma mengucapkan kalimatnya itu setelah beberapa detik berada dalam pelukan Avery. Perempuan kecil itu sadar sang papa harus segera ditangani.


“Baiklah. Bibi percaya semuanya akan kembali baik-baik saja dan Jemma adalah anak yang baik. Tolong jangan menyalahkan dirimu ya, sayang.”


Setelah berpesan begitu, Jemma dan Avery mengurai pelukan mereka. Anak lima tahun itu pun menampilkan senyum manisnya pada sang bibi.


Miles yang membagi perhatiannya pada Nigel dan kedua perempuan kesayangannya ikut tersenyum, tertular manisnya kedekatan mereka.


“Jemma, Paman pamit ya,” kata Miles.


Sisi hangat dan kebapakannya sering tersentuh oleh Jemma padahal sebelumnya hanya Evelyn-lah anak-anak yang mampu mencairkan dinginnya diri Miles.


Anggukan Jemma menjadi jawaban. Juga menjadi pertanda kedua suami istri itu untuk bergerak cepat membawa Nigel.


Avery mencium kening Jemma sekilas lalu berlari mengambil kursi roda Nigel lalu membawanya ke Miles.


Tubuh Nigel dipapah oleh keduanya karena salah satu tangan Miles terus menggenggam saudara kembarnya itu.


Inisiatif Jemma membuatnya berlari ke pintu masuk rumah. Dia membuka celahnya ke besar yang maksimal untuk mempermudah orang dewasa kesayangannya itu keluar.


“Terima kasih, sayang,” ucap Avery. Sekali lagi, dia kecup kening Jemma.


Sebuah anggukan pun kembali jadi jawabannya, dan kali ini ditambah lambaian tangan Jemma melepas kepergian sang papa, paman dan bibi yang menghilang ke dalam mobil.


‘Mobil?’ tanya Jemma membatin pada dirinya sendiri. Yang dia ingat, tidak ada mobil sebelumnya di halaman rumah.


Gail bangun dari tidurnya pada saat jam bangun The Brown. Hanya sekali dua kali dalam sebulan Gail terbangun lebih awal dari jadwal biasanya.


Kali ini karena Gail tidur lebih awal, karena kejadian bersama Nigel pada sore kemarin. Yang tak pernah dibayangkan dalam pikirannya.


Sebelum Gail turun dari ranjang, dia pandangi Duo J bergantian. Sembari melafalkan doa dalam hatinya, Gail mengecup kening keduanya penuh perasaan dan harapan.


Itu pengganti dari apa yang Gail tidak lakukan semalam karena tidur duluan. Lebih tepatnya memaksakan tidur agar diri lebih baik.


Pikiran Gail beralih pada Nigel. Dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana keadaan lelaki itu sekarang, setelah kejadian yang mengejutkan kemarin.


Gail segera keluar dari kamar tidur. Dia ingin mencari jawaban dengan bertanya pada orang tua angkatnya.


“Gail? Apa Anak Bunda ini baik-baik saja?” sambut Ellie setibanya Gail di ruang makan.


“Baik, Bund. Terima kasih Bunda,” ucap Gail sambil memeluk manja Ellie.


Selama beberapa saat, keduanya larut dalam dekap hangat itu. Mereka duduk di dua kursi yang digeser agar lebih berdekatan.


“Selamat pagi, Putri Ayah,” sapa Landon.


“Selamat pagi, Ayahnya Gail,” balas Gail disertai senyum manisnya yang khas.


“Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa Gail sudah lebih baik?” tanya Landon sambil menikmati sarapannya yang disiapkan oleh Ellie.


“Anak Ayah ini sudah baikan, Yah,” ucap Gail menenangkan lalu mengalihkan pandangannya kepada Ellie dan berkata, “Bagaimana kabar Nigel, Yah, Bund?”


“Belum ada kabar apa-apa setelah dibawa Miles pulang ke villa. Kenapa, Gail?”


“Aku merasa khawatir.”


“Sepertinya berkat penerimaanmu, kalian sudah semakin dekat, Nak.”


Landon tersenyum senang karena akhirnya mendengar Gail menanyakan Nigel sejelas ini. Dalam hatinya memuji hasil kegigihan sang menantu sekaligus juga cemas atas kabarnya.


Semalam Landon hanya bicara sebentar dengan Miles lewat ponsel Jarrett. Kembaran Nigel itu memberitahu bahwa keadaan sang menantu berangsur membaik. Hanya itu.


“Yah, Bund, apa boleh aku ke villa lebih dulu dan datang siang ke kantor? Pekerjaan hari ini sebagian besar aku selesaikan kemarin”


“Boleh. Sekalian Gail tolong bawakan penganan yang Bunda buat kemarin untuk Miles dan Avery, ya?”


“Iya, Bund. Apa mereka tidak jadi makan malam di sini kemarin?”


“Mereka buru-buru untuk membawa Nigel kembali ke villa,” jelas Ellie setelah menggeleng.


Kesekian kalinya Gail terusik oleh perasaan campur aduk menyangkut Nigel. Kali ini dia menuruti intuisinya untuk menemui sang suami secepatnya.


“Baiklah. Aku ke kamar mandi dulu.”


Gail beranjak meninggalkan The Brown yang masih menikmati sarapan mereka. Dia ingin segera melihat Nigel, ingin lelaki itu ada di depan matanya.


Dalam kepala Gail, bayangan Nigel yang memeluknya dan memanggil namanya seperti kemarin membuat hatinya yang entah bagian mana ingin membalas dekapan itu sekarang.


Balasan peluk untuk menenangkan rasa takut yang Gail tangkap dari tingkah Nigel. Meski tidak yakin apa dirinya bisa berkontak fisik sehangat itu pada sang suami.


Untuk pertama kalinya, Gail akan mencoba keras untuk meruntuhkan tembok tak kasat mata dirinya nanti.


“Ikut aku pakai mobil, Genaya,” suara yang sudah familiar di telinga Gail itu menyambutnya saat melangkah keluar rumah.


|Bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Desember2021


Mari beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, makasih loh dukungannya untuk keberlangsungan Duo J: Genius  :)