
"Tidak ada perasaan yang berlebihan, Nig," terang Gail menanggapi yang Nigel katakan. Lanjut penasaran berkata, "Kenapa aku menyebutnya seperti itu?"
"Syukurlah. Aku tidak jadi cemburu lagi," ujar Nigel sambil menunduk tersipu. Kemudian meneguk air yang diberikan kepadanya tadi.
Gail hanya berdiam, menunggu Nigel kembali berbicara. Dia yakin saja setelah ini akan ada cerita menarik keluar dari mulut suaminya itu.
Ada sisi menyenangkan ketika Gail mendengar Nigel bercerita. Kisah yang pernah keduanya lalui tapi tidak ada dalam memori. Menarik saja bagi Gail.
"Saat itu, aku mengetahui kamu tidak punya pacar dan statusmu juga belum menikah. Pokoknya, Genaya Edith adalah perempuan singel yang punya kesempatan untuk aku nikahi.
Di suatu waktu kamu buru-buru pergi dengan mengatakan 'masa depanku ada di rumah', itu membuatku mengira ada seseorang yang aku tidak tahu sedang merebut kesempatanku.
Ditambah wajahmu waktu itu cemas, seolah si masa depan itu sangat amat penting untuk segera ditemui. Aku melakukan segala cara agar kamu tidak jadi pulang.
Aku mengulur-ulur waktu. Bodohnya aku tidak bertanya, memperjelas siapa yang kamu maksud dengan 'masa depan' itu.
Aku mempersulitmu sampai akhirnya kamu bisa pulang. Lalu setiap beberapa menit aku meneleponmu, ingin tahu apa yang terjadi pada sekaligus si masa depan itu.
Di telepon kesekian kali, kamu marah dan mendiamkanku setelah itu. Berhari-hari," tutur Nigel panjang lebar. Dia raih lagi gelas untuk meneguk air yang masih ada.
"Terdengar menyebalkan. Tidak heran aku marah," ucap Gail menatap Nigel yang sedang minum. Raut wajahnya menunggu kelanjutan kisah itu seantusias Jemma. Kesamaan mama dan putrinya.
"Iya, itu membuatku sangat merasa bersalah. Kelakuan konyol yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Tapi aku antara menyesal dan tidak," kata Nigel sambil mengumbar senyum manisnya.
Gail tidak bersuara untuk merespon perkataan Nigel itu. Hanya tatapannya berubah semakin tajam.
"Momen itu membuatku semakin yakin melamarmu dan menikahimu secepatnya. Tidak bisa menerima jika yang kamu sebut si masa depan itu yang menang menyaingiku," terang Nigel.
Diam Gail masih berlanjut. Dia mau Nigel meneruskan lanjutan cerita mereka secara panjang lebar.
"Akhirnya kita menikah, Gee," goda Nigel. Sengaja dia melanjutkan apa yang dia katan dalam satu kalimat saja.
"Aku tahu, akhirnya kita menikah. Si-" ucap Gail terpotong. Rasa penasarannya belum usai.
"Aku sangat mencintaimu, Gee. Sangat, dari dulu sampai kapan pun," timpal Nigel penuh perasaan.
Nigel refleks mengungkapkan lagi perasaannya itu. Sebab dia melihat banyak ekspresi yang jadi reaksi Gail ketika mendengarkannya tadi.
Seperti itulah Gee yang ada di dalam memori Nigel. Perlakuan Gail kali ini tidak berbeda dengan cara Genaya merespon dirinya saat berbicara.
Setelah sekian lama Nigel harus berpuas diri dengan Gail yang banyak menunduk atau seringnya sekilas saja berkontak mata ketika berbicara dengannya, beda sekarang.
"Nig, fokus ke cerita tentang laptopnya," desak Gail. Meski begitu dia bisa merasakan degup jantungnya mulai tidak santai lagi karena pernyataan perasaan suaminya.
"Boleh peluk aku dulu, ya?" goda Nigel lagi.
"Nigel Irey," kesal Gail dan tentu saja dia tidak melakukan apa yang Nigel katakan itu.
"Iya, Gee. Iya, aku lanjut cerita," sahut Nigel terkekeh lalu berkata, "Ternyata hari itu batas akhir kamu harus mengirimkan naskah novel dan baru sadar salah paham dengan jam tutupnya.
Di set pikiranmu adalah pukul 12 malam, sedangkan yang dimaksud adalah 12 siang. Kamu juga tipe deadliner, yang akan beres kerjaannya jika sudah mepet waktu.
Jika saja aku tidak bertingkah, kamu punya beberapa jam untuk benar-benar menyelesaikan naskah yang siap kirim.
Entah kenapa, tumben sekali kamu meninggalkan laptop itu di rumah. Maka ketika kamu sadar salah set waktu, disitulah istilah masa depan yang aku salah paham itu muncul.
Jangan tanya bagaimana rasa hatiku, Gee. Aku tidak mau merasakannya lagi. Cukup kali itu saja."
Nigel tampak mengeluh di akhir kalimat panjangnya itu dan itu lucu di mata Gail.
"Tadi kamu bilang aku marah berhari-hari. Aku melakukannya karena aku tidak berhasil mengirim naskah yang di laptop itu, ya?" ujar Gail lebih merespon fokus utama.
"Set tenggat tidak pada waktunya, naskah belum sepenuhnya selesai, tingkahku mengulur waktu ditambah perjalanan pulang yang lumayan lama dari rata-rata. Kamu bisa menyimpulkannya, Gee."
"Sayang sekali," gumam Gail.
"Benar, kamu sudah berusaha siang malam mengerjakan novel itu. Dimana pun kamu bisa membuka laptop, naskahnya kamu cicil. Aku sangat merasa bersalah membuatmu gagal," ucap Nigel sendu.
Gail diam saja. Dia mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada sesuatu yang terhubung rasanya.
"Gee, maafkan aku lagi ya? Maksudku, aku pernah tidak memperlakukanmu dengan baik di masa lalu. Aku harusnya tidak bercerita, ini mungkin bisa membuatmu marah. Maaf, istriku," mohon Nigel.
Si suami menyamakan keterdiaman Gail itu sebagai bentuk emosi buruk. Nigel takut hubungan yang sudah makin dekat antar keduanya rusak. Sangat cemas.
Belum sempat Gail merespon, Jemma berlari kecil bersama wajah senangnya yang tak luntur. Sang putri berhenti di sela kursi ke dua orang tuanya.
"Pap, Jarrett bilang ada dessert box buatku dan Mama. Benarkah?" tanya Jemma memastikan kepada Nigel.
"Benar. Sudah Papa berikan ke Mama, Sang Putri," terang Nigel seraya berusaha mengalihkan kecemasannya tadi.
Jemma pun menoleh ke arah Gail. Mimik mukanya ditampilkan menyesuaikan tujuannya bicara kepada sang mama.
"Mam," panggil Jemma membuka pembicaraan terkait dessert box.
"Ya," jawab Gail singkat dan menahan senyum. Dia sudah paham kemana arah tingkah Jemma, tapi tetap terasa seru mendapati genius manis itu berusaha.
Mulailah Jemma melancarkan lobinya pada Gail untuk bisa menikmati makanan manis yang kaya akan coklat dari sang papa saat ini juga.
Walaupun sudah hafal aturan Gail bahwa tidak ada makan manis di waktu dekat ke makan malam dan setelahnya, Jemma masih saja mencoba menggoyahkan mamanya.
Jarrett mendekat ke tempat Nigel duduk. Dia sudah selesai mandi dan berpakaian piyama, tidak beda dengan Jemma. Kemandirian Duo J tertanam sejak dini.
Setelah Jarrett sedikit memanjat kursi kosong di samping Nigel, dia pun duduk tenang di sana tanpa suara dan menjadi penonton bersama sang papa.
Nigel baru pertama kali menyaksikan dua perempuan kesayangan itu saling melobi. Namun tidak bagi Jarrett, dia bahkan hafal bagaimana akhirnya tapi sayang untuk dilewatkan.
Tidak akan ada yang bisa menyaingi jika itu dibandingkan dengan momen kebersamaan. Begitu yang Jemma sampaikan kepada Jarrett ketika keduanya bangun pagi tadi.
|Bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Rd2021
Saatnya beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, lagi :D
Makasih dari Duo J :)