
Buatan tangan yang sederhana dan biasa tapi jika disertai dengan cinta dan kasih sayang memang beda rasanya. Jarrett menghabiskan dengan cepat segelas susu coklat yang dibuatkan oleh Gail.
Sejak kejadian di gedung Ikingtech tadi, suasana hati Jarrett tidak benar-benar membaik. Walaupun sudah bercerita pada Nigel dan sudah ada sikap yang sang papa beri terhadap mulut-mulut berbisa itu.
"Jarrett," panggil Jemma hati-hati. Dia seperti sedang merasakan suasana hati saudara kembarnya itu maka sebisa mungkin tidak menambah buruk.
Jarrett tidak menjawab. Dia meletakkan gelas yang masih di tangannya ke meja.
Lalu Jarrett meraih tangan Jemma untuk mengikuti langkahnya ke ruang lepas rumah The Brown. Itu membuat si genius manis semakin yakin saudaranya tidak baik-baik saja.
Bagian lantai rumah yang terbuat dari kayu dan dilapisi karpet menjadi tujuan Jarrett. Di sana menyenangkan untuk rebahan sembari menunggu diajak pulang ke rumah The Twins.
Paham dengan apa yang akan Jarrett lakukan, Jemma melepaskan tangannya dari Jarrett. Dia berlari cepat ke dalam kamar yang masih diuntukkan pada Duo J dan Gail.
Jarrett menatap punggung Jemma yang menjauh darinya dengan sendu. Dia masih malas untuk bersuara apalagi mengusili sang saudari seperti biasa.
Dengan tanpa semangat, Jarrett merebahkan diri dan seluruh badannya begitu saja berbaring di lantai. Dua bola matanya bisa menangkap bayangan Gail dan Nigel yang sedang beberes ruang makan dan dapur.
Harusnya hari ini giliran Jarrett membantu Gail, tapi malas sekali melakukan apa-apa. Sebelum mama Duo J itu menggali lebih dalam apa yang terjadi, Nigel mengajukan diri untuk ambil tugas sang putra.
"Jarrett, angkat kepalamu sedikit," kata Jemma lembut membuyarkan lamunan Jarrett.
Sebuah bantal yang muat untuk dua orang, digeserkan oleh Jemma ke bawah kepala Jarrett. Lalu dia ikut merebahkan diri dan membentangkan lengan minta dipeluk si genius tampan itu.
Hal yang Jarrett mau tadi, dikabulkan Jemma setelah mengambilkan bantal untuk berdua. Lalu sepasang kembar itu seakan berbagi kekuatan dengan saling mendekap tidur.
Jemma tidak bersuara lagi. Dia mengusap saja punggung Jarret, seolah berkata dirinya ada untuk si adik tersayang itu.
"Duo J baru selesai makan lalu langsung berbaring seperti itu. Bagaimana, Gee?" ujar Nigel memecah keheningan antara dirinya dan sang istri.
Keduanya sedang beberes. Gail di bagian dapur dan Nogel di ruang makan. Dua area yang tanpa sekat jelas.
"Untuk sekali ini saja, biarlah," jawab Gail yang berada di sudut bak cuci.
"Baiklah," ucap Nigel sambil mengambil sapu dan peralatan bersih-bersih lainnya dari tempat penyimpanan.
Nigel akan menyelesaikan seluruh bagian tugasnya dengan cepat. Dia mau punya waktu lebih banyak untuk berbicara dengan Gail.
"Gee, apa yang akan kamu kerjakan masih banyak? Aku sudah selesai. Mau dibantu, ya?" kata Nigel setelah beberapa waktu kemudian.
"Sedikit lagi. Aku bisa sendiri, Nig," ucap Gail singkat. Dia memang sedang mempercepat geraknya sebab pikiran dan hati bercabang kepada Jarrett yang tidak biasa sejak pulang tadi.
"Baiklah, aku berdiri di sini saja," kata Nigel lembut dan memposisikan dirinya bersandar di dinding dekat Gail. Lanjut berkata, "Gee, obrolan kita tadi pagi jangan terlalu dipikirkan."
"Obrolan tadi pagi?" ucap Gail mengulang, seakan bertanya pada dirinya sendiri apa yang Nigel maksud.
Detik selanjutnya, Gail ingat. Wajahnya jadi memerah karena malu.
Tadi pagi itu, Nigel ditemukannya duduk melamun di atas tempat tidur. Gail yang baru selesai mandi dibuat penasaran oleh ketidakbiasaan suaminya yang aktif.
Sehingga Gail bertanya ingin tahu, sambil ikut mendudukkan diri di samping Nigel. Baginya, level sang suami itu sudah meningkat terhadap kedekatan emosional dan fisik antara berdua.
Lancarnya momen makan malam bersama keluarga besar sebelumnya itu jadi saksi bisu.
Pertanyaan Gail tentang apa yang sedang dilamunkan itu langsung ditanggapi Nigel. Pria berumur tiga puluhan itu pun bercerita.
Nigel menceritakan tentang kenangan dari enam tahun lalu. Yang dialaminya berdua dengan Gail, perihal malam pertama dan pagi pertama bersama sebagai suami istri.
Gail yang melihat cara Nigel bicara tampak seantusias Jemma itu suka jika bercerita tentang masa lalu keduanya. Dia bisa merasakan betapa berharganya momen yang suaminya ceritakan.
Kini sudah tidak seperti di awal-awal. Tidak lagi ada getar nada sedih yang terasa ketika Nigel bertutur sembari memutar ingatannya tentang Gail sebagai Genaya di masa tersebut.
Yang ada sekarang, Gail tersentuh dengan nada penuh cinta dan memuja yang keluar dari bibir Nigel. Seakan dibuat yang terlupa oleh sang istri itu digambarkan nyata lewat penuturan si suami.
Nigel sangat suka penerimaan Gail ketika mendengarnya bercerita tentang masa lalu berdua dulu. Tapi dia hanya akan berbagi memori tersebut jika istrinya itu sedang ingin tahu karena baginya menikmati waktu pada detik ini lebih penting.
Kali ini, yang Nigel dan Genaya alami di momen itu diceritakan tanpa disaring pada bagian panas sepasang pengantin baru. Tutur si suami hanyut dalam indahnya ingatan itu.
Gail dibuat dilema ketika menyimak bagian itu. Sebagian sisi ingin mendengar terus karena raut wajah senang dari Nigel menularinya.
Bagian sisi lain, Gail merasa bersalah, takut dan emosi buruk sejenisnya. Dari yang pernah dia baca, seorang pria dewasa apalagi berstatus suami yang sudah punya anak, memiliki kebutuhan biologis terkait hormon berhubungan badan lebih tinggi daripada wanita.
Seakan Gail menyiksa Nigel. Sebab tahap kedekatan kontak fisik keduanya ada di saling mendekap, memeluk seperti yang Duo J lakukan.
"Maaf, Nigel," ujar Gail di tengah-tengah kalimat sang suami bercerita.
Sontak itu menghentikan Nigel bersuara. Karena suara dari kalimat sangat pendek Gail itu seolah menghantam kehati-hatiannya.
"Gee?" ucap Nigel bertanya. Tersadar dia dengan raut wajah bahagia Gail sebelumnya pudar.
Hanya kalimat terdiri dari dua kata itu yang diucapkan Gail lagi dan lagi kepada Nigel. Yang membuat suasana antara keduanya canggung dan salah tingkah.
Perbuatan yang tidak Nigel sadari ada dampaknya kepada Gail tersebut berlanjut sampai kegiatan makan malam barusan. Bahkan tadi pagi siang dan sore, telepon video dan pesan teksnya hanya direspon pendek oleh sang istri.
"Gee, sudah ya? Maafmu sudah aku terima dan aku juga minta maaf, salah kata dalam bercerita tadi pagi. Aku merindukanmu."
Gail tidak hanya menoleh, tubuhnya diputar untuk benar-benar berhadapan dengan Nigel. Tugasnya pas selesai.
Raut wajah Nigel tampak sendu di mata Gail. Nadanya berkata barusan juga berisi nada berharap dan memohon.
Rasa bersalah untuk alasan yang berbeda dengan tadi pagi menjalar dalam hati Gail. Matanya menatap lekat ke mata Nigel.
Nigel menampilkan senyum penuh pesona khasnya lalu berkata, "Gee, aku minta maaf."
Gail tersentuh mendengar kalimat Nigel. Tidak ada yang salah dari diri pria sempurna di depannya itu.
Tanpa mempersalahkan kelakuan Gail sepanjang hari, Nigel meminta maaf lagi dan lagi. Entah dari apa hati sang suami terbuat.
|Diw @diamonds.in.words - Feb22
Buat G, apapun itu oleh Nigel si bucin hihihii