
Ada kelegaan muncul saat Gail bisa melihat senyuman Nigel kembali. Tapi ada yang berbeda pada lelaki itu. Hanya saja Gail tidak berani menatap untuk memperhatikan lebih seksama.
“Mam, Papa dan aku akan ke villa Om Adi,” ucap Jemma menarik perhatian Gail. Putrinya itu seperti berbicara untuk memberi tahu bukan meminta izin.
“Apa Jemma sengaja menunggu mama bangun dulu sebelum pergi?” kata Gail sembari mengingat apa mereka sudah pernah membahas itu sebelumnya.
“Papa yang sengaja menunggui Mama,” jawab Jemma ringan. Anak lima tahun itu meraih gelas susunya yang isinya tinggal sedikit untuk dihabiskan.
“Baiklah,” respon Gail singkat. Entah dia menjadi salah tingkah terhadap Nigel. Perut seketika terasa aneh dan itu membuatnya ingin segera ke kamar mandi yang sekaligus toilet itu.
Setelah menerima pamit ala kadarnya dari Jemma dan Nigel, Gail segera beranjak dari ruang makan yang jadi jalur untuk dilewatinya dari kamar tidur. Ada keanehan tiba-tiba pada dirinya.
Sedangkan Jemma bersiap-siap untuk menyalakan kamera buat video di ponsel. Dia ingin merekam momen berharga dari Nigel. Yang jadi kejutan baginya saat bertemu kembali tadi.
Nigel akan berjalan tanpa bantuan. Dari kursi ruang makan ke kursi rodanya yang sengaja di taruh di pintu masuk rumah The Brown. Peningkatan kesehatan fisik,
Jemma ingin menunjukkannya pada Jarrett dan lainnya nanti. Tentu saja Nigel sudah mengiyakan keinginan sang putri. Apalagi dukungan seperti ini memang dia sukai.
Seandainya Gail bisa seterbuka Jemma menerimanya untuk mendekat kembali. Nigel berharap pada keajaiban untuk membuatnya mampu menjangkau hati wanita tercintanya itu.
Satu tapak demi satu tapak selanjutnya berhasil Nigel lalui. Dia dan Jemma pun tiba di kursi roda canggihnya. Selang waktu yang cepat, mereka pergi meninggalkan rumah The Brown.
Jemma senang sekali tidak mesti berjalan jika ada Nigel dan kursi roda itu bersamanya. Permintaannya untuk duduk di pangkuan sang papa tidak pernah bisa ditolak. Jadi hemat tenaga.
Sepanjang jalan kedua anak perempuan dan sang papa itu asyik mengobrol. Apa saja, dari topik remeh temeh sampai tentang Gail yang tidak bisa ditemui selama beberapa hari ini.
Jemma bercerita dengan sangat antusias pada Nigel. Rindunya yang meledak sebab berpisah beberapa hari diobati lewat betapa menyenangkannya sang papa mendengarkannya lalu merespon
Diceritakanlah Gail yang tidak bisa satu kali membaca surat-surat yang Nigel taruh di dalam kotak coklat waktu itu. Jemma yakin karena dia berulang kali lihat sang mama duduk dengan memegang lembaran kertas.
Jemma seperti melihat Jarrett dengan bukunya saat Gail dengan kertas-kertas isi amplop yang Nigel berikan. Wajah serius mereka berdua mirip, membuatnya tidak ingin mengganggu
Nigel tersenyum manis sebelah tangannya mengusap sayang rambut Jemma. Apa yang dia dengar barusan bisa mencerahkan hatinya, yang tidak bisa dilukiskan rindu sangat pada sosok Gee yang dekat dengannya.
“Pap, sampai kapan rumah The Twins tidak bisa aku datangi?”
“Mungkin sebulan. Jadi, Sang Putri bisa bertemu Papa di villa Om Adi.”
“Sayang sekali,” gumam Jemma lirih tapi masih bisa didengar oleh telinga peka Nigel.
“Sayang sekali kenapa, Je?”
“Aku terpikir Papa tidak bisa lagi melihat mama ketika baru bangun tidur. Padahal aku suka dengan mata Papa ketika menatap Mama.”
Nigel tidak bisa menahan tawanya. Pikiran Jemma membuat hatinya berbunga-bunga dan caranya mengucapkan itu sungguh manis oleh Nigel.
“Mana mungkin Papa mampu melewatkan pagi yang indah itu, Je. Hari Papa tidak akan baik kalau tidak bisa melihat mamamu paginya.”
“Benarkah, Pap?”
“Benar.”
“Jarrett menelepon Papa setiap dia baru bangun tidur lalu mengarahkan kamera ponselnya ke wajah mamamu,” jelas Nigel lalu menghela nafas berkata, “Je, Papa tidak pernah meninggalkan mamamu.”
Jemma mendengar kalimat Nigel berisi nada sedih yang jelas di telinganya. Kepekaan otak genius sang putri menyadarkan bahwa ada kata yang salah dia gunakan pada sang papa.
“Pap, aku salah bicara. Maafkan Jemma,” ucap Jemma sambil menunduk dengan perasaan bersalah. Dia ingin suasana bahagia tadi kembali, dan menyesal atas kecerobohan barusan.
Nigel menghentikan laju kursi rodanya yang bertenaga baterai itu. Respon Jemma terhadap perkataannya di luar perkiraan. Si manis berubah drastis.
“Je, lihat Papa,” pinta Nigel sembari mengusap sayang pucuk kepala Jemma. Lanjut berkata, “Kenapa Sang Putri jadi seperti ini?”
“Maafkan Jemma sudah membuat Papa sedih. Aku tidak sengaja menyinggung perasaan Papa. Aku bahkan tahu Papa pindah dan tinggal di sini demi mama tapi aku-”
“Sudah Je. Sudah ya sayang. Papa tidak apa-apa. Peluk saja Papa untuk menangis,” ucap Nigel memotong kalimat Jemma yang emosional. Air mata sang putri semakin mengalir.
“Jemma tidak mau kita semua kembali pisah,” kata sang putri di sela-sela tangisnya yang tertutup oleh dada bidang Nigel. Jemma benar-benar kuat mendekap sang papa.
Haru sekali perasaan Nigel dan tubuhnya yang lelah karena diforsir, kerja berlebihan akhir-akhir ini seperti mendapat kekuatan dari pelukan Jemma. Keputusan dadakannya ternyata tepat.
“Je,” panggil Nigel lembut setelah dia merasakan ketenangan sang putri dalam dekapannya. Kembali berkata, “Lihat Papa, Sayang.”
Jemma mendongak untuk melihat wajah Nigel. Matanya sembab, tatapannya sendu, dan ingusnya naik turun. Lucu sekali dalam pandangan sang papa.
Dengan senyum yang mengembang, Nigel merapikan wajah menggemaskan Jemma. Sang putri tampak cocok dengan umurnya yang lima tahun.
“Pap, bajunya basah olehku. Itu air mata dan ingus Jemma,” ucap anak perempuan itu malu dan telunjuknya mengarah ke dada Nigel.
Tawa Nigel lepas begitu saja. Dia bahkan tidak bisa berhenti tertawa sembari membuang ingus Jemma agar wajah sang putri kembali terlihat baik. Sisa tangis tadi jadi samar-samar.
Momen dan interaksi yang penuh kejutan beginilah yang membuat Nigel mempertaruhkan banyak hal. Dia memilih tidak ingin kembali kehilangan rasa cinta yang hidup lagi setelah enam tahun.
Seorang Nigel Irey memang terkenal di seantero orang-orang penting di negara ini. Tapi tinggal dan hidup bersama kembali dengan orang-orang yang penting di hati, itu prioritas.
“Kita lanjutkan perjalanan ya, Je,” kata Nigel setelah menilai bagus hasil tangannya merapikan penampilan Jemma.
Anggukan Jemma menjawab ajakan Nigel. Kursi roda pun kembali berjalan sendiri sesuai perintah yang ditekan pada tombol-tombolnya.
Kedua manusia beda generasi itu semakin dekat menuju villa kantor Addison. Serta suasana pagi yang menyenangkan kembali di antara mereka.
Baru saja melewati taman di samping villa, suara yang familiar di telinga Nigel dan Jemma terdengar berteriak. Ada nada bahagia dan semacamnya.
“Papa sungguh kembali,” teriak Jarrett sambil berlari mendekati posisi Nigel dan Jemma di kursi roda.
Jemma yang peka segera turun dari pangkuan Nigel. Dia tidak ingin merusak perasaan senang saudaranya itu karena menghalangi Jarrett yang pasti mau memeluk sang papa nanti.
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021