
Pulangnya Duo J dan Gail dari villa Addison menyisakan perasaan campur aduk pada Nigel. Berat sekali hatinya melepaskan istri dan dua anak itu kembali ke rumah The Brown.
Nigel tidak bisa mengalihkan pandangan matanya sampai bayangan mereka menghilang dari balik gerbang. Dia sendirian lagi dan pikirannya jadi cukup rumit. Sungguh cemas.
Andaikan dua kaki panjangnya normal, Nigel akan mengantar sampai pintu rumah. Bahkan kalau diizinkan, sampai tempat tidur mereka. Lalu dia bisa balik ke villa dengan lega.
Meski Gail yang sudah tampak kembali tenang mengatakan kepada Nigel bahwa dirinya baik-baik saja, lelaki itu tidak percaya begitu saja. Tapi bisa apa.
Batasan yang Nigel pahamilah yang membuatnya mengiyakan. Sudah cukup bagi Gail berinteraksi dengannya untuk hari ini. Meski perkembangan hubungan antara mereka mengalami kemajuan.
Nigel tidak lagi dianggap orang asing oleh diri Gail. Tapi batas-batas masih ada untuk Nigel bersikap, sampai nanti benar-benar dianggap orang dekat oleh sang istri. Perkara psikis.
Sepanjang malam Nigel tidak bisa tidur. Pikirannya masih pada Gail. Pesan teks dan foto yang Jarrett kirim untuk membuktikan keadaan Gail yang membaik juga tidak berpengaruh besar.
Berjam-jam kemudian, pagi hari tiba yang ditunggu-tunggu Nigel tiba. Seiring dengan langit yang mulai terang, kursi roda pria itu pun meluncur ke rumah The Brown.
Nigel ini sudah sangat tidak bisa sabar. Baru tiba di halaman, dia langsung disambut oleh Landon.Seperti yang dia beritahu Jarrett semalam bahwa pagi-pagi sekali Nigel ingin bicara dengan mertuanya itu
Dua pria beda status terhadap Gail itu pun bercerita dan berdiskusi. Mereka membahas kondisi perempuan kesayangan tersebut.
Kejadian kemarin sangat mengusik Nigel. Setelah sampai pada kesimpulan, keduanya pun melanjutkan kegiatan hari ini.
Nigel ikut sarapan serta bercengkrama bersama dengan Duo J dan The Brown. Usai itu, dia menunggui Gail bangun tidur.
***
Lagi-lagi mata bulat Gail membola karena menemukan Nigel duduk di ruang makan. Refleks dia melihat ke jam dinding di belakangnya, saat ini sudah pukul sebelas kurang beberapa menit.
Gail pun menjawab sapaan Nigel dengan senyuman saja. Dia bingung dengan kehadiran Nigel yang sesiang itu masih ada di ruang makan. Biasanya kan pagi hari. Lalu perempuan itu lanjut berjalan melewati.
Selama Gail bersih-bersih di kamar mandi, kecepatan geraknya tidak seperti biasanya. Sebab bangun tidur sangat terlambat seperti sekarang membuat badannya tidak terasa segar.
Prediksi tadi malam jadi kejadian. Gail benar-benar libur kerja hari ini dan tidak boleh keluar rumah. Sepakat bahwa Ellie akan mengambil alih tugas Gail jika dia tidak bangun tidur di jam delapan.
Sembari melangkahkan kaki keluar kamar mandi untuk menuju kamarnya, Gail berkali-kali menghela nafas malas. Berdiam sepanjang hari di rumah terasa membosankan tapi bisa apa.
“Gee, ayo duduk. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu.”
Kalimat itu diucapkan oleh suara Nigel dengan nada khasnya yang lembut, dan membuat Gail tersentak dari pikirannya. Mereka berdua sama-sama berada di dekat meja makan.
Gail kaget dan mematung. Dia tidak sangka masih ada Nigel di ruang makan. Padahal durasi Gail di kamar mandi tadi hampir satu jam.
Tambah dengan apa yang Gail lihat, yaitu beberapa jenis masakan terhidang di meja. Tampak hangat dan uap makanannya membawa aroma yang menggiurkan ke hidung Gail.
Perut lapar Gail terprovokasi untuk minta segera diisi. Dia sudah jauh melewatkan waktu sarapan.
Suara derik kursi terdengar dari samping Gail. Senyuman Nigel mempersilakan Gail untuk duduk di sana. Sang istri menurut saja, kebingungannya masih belum hilang.
Setelah Gail duduk nyaman, Nigel berdiri dari kursi rodanya. Sang suami memindahkan letak gelas yang sudah diisinya air putih hangat ke genggaman tangan Gail.
Dalam diam, sepasang suami istri itu saling mengerti apa makna dari gerakan tubuh masing-masing. Gail harus menghabiskan yang Nigel beri padanya.
Jarak wajah Gail dan Nigel cukup untuk membuat mereka bisa melihat jelas satu sama lain. Selain itu, tangan Nigel tidak henti bergerak untuk mengurusi Gail dan itu perlu jarak yang cukup dekat pula.
Meraih piring kosong lalu mengisinya, mengambilkan sendok dan garpu, memilah dan memindahkan bagian terbaik dari lauk agar bisa langsung dimakan, dan perlakuan manis lainnya. Gail dimanjakan.
“Terima kasih, Nigel. Sungguh, kamu tidak perlu seperti ini,” ucap Gail ketika Nigel kembali duduk di kursi rodanya setelah berbenah meja makan.
“Aku senang melakukannya, Gee,” kata Nigel dengan cara khasnya untuk Gail aka Genaya, istrinya seorang.
“Nigel, dengar. Untuk kali ini aku menurutimu, tapi tidak ada lain kali. Jangan lakukan ini lagi, ya,” pinta Gail. Dia tidak nyaman dan tidak enak hati karena merasa menyusahkan.
“Gee, aku khawatir padamu. Aku minta maaf jika kamu tidak suka dengan makanan yang aku siapkan tadi. Kamu bisa sebutkan yang kamu mau, akan aku turuti.”
“Nigel, bukan itu maksudku. Aku-”
“Aku mohon Gee, terima saja aku. Jangan membentangkan jarak lagi.”
“Nigel, a-”
“Sungguh, aku sungguh-sungguh Gee. Aku sungguh-sungguh minta maaf untuk semua hal buruk di masa lalu kita,” ucap Nigel sambil menahan tangannya agar tetap terkendali.
Lanjut berkata, “Gee, aku sungguh minta maaf tidak bisa menyelamatkanmu dari kecelakaan pesawat. Aku sungguh minta maaf terlalu cepat terpuruk karena kehilanganmu,
Aku sungguh minta maaf tidak terus mencarimu sekuat yang aku bisa. Aku minta maaf mengiyakan saja hasil laporan bahwa kamu tidak selamat. Maafkan aku, Gee.
Aku sungguh minta maaf jika semua itu yang membuatmu merasa aku tinggalkan. Aku tidak meninggalkanmu, sungguh tidak pernah. Gee, Nig-mu ini tidak pernah ingkar janji padamu.”
Gail tersentak pada bagian kalimat Nigel tentang meninggalkan. Telinganya serasa tuli kemudian, suara Nigel yang berisi kata-kata selanjutnya tidak terdengar.
Sunyi, Gail hanya melihat Nigel terus bicara tanpa suara kepadanya. Kedua mata Nigel tampak berkaca-kaca, beberapa tetes air mata jatuh. Pandangan mereka bertaut.
Selang dua detik, air mata Gail ikut menetes. Lagi-lagi dia tidak tahu apa makna tangisnya. Fokus netranya masih mengarah pada raut muka Nigel, wajah yang sedang menangis itu.
Bayangan gerak kedua tangan Nigel tertangkap oleh ujung pandangan penglihatan Gail. Dua tangan itu menuju dirinya. Refleks Gail berlari menjauh dari Nigel.
Kamar tidur menjadi tujuan Gail menenangkan diri. Itu tempat teraman yang diri Gail pilih. Meskipun dia tidak mengunci bahkan menutup pintunya, karena kebiasaan pintu kamar dibuka lebar.
“Gee, aku sungguh-sungguh,” teriak tertahan Nigel dalam suara seraknya terdengar ke kamar Gail. Setelah itu, hening.
Gail tidak mempedulikan apa pun selain dirinya yang harus kembali tenang. Dia pusat kehidupan Duo J dan The Brown, sehingga dia harus segera membuat dirinya membaik. Tidak boleh seperti kemarin lagi.
Untung saja Gail sudah mengisi perutnya, jadi tidurnya untuk penenangan diri tidak terganggu. Sebab nanti sore saat Duo J dan The Brown pulang, dirinya harus kembali baik-baik saja. Begitu tekad Gail.
“Tidurlah, Gee. Nig-mu ini tidak pernah meninggalkanmu,” bisik Nigel setelah dia melihat Gail lelap. Sang suami pun melangkah dari pintu kamar menuju ruang lepas. Tubuhnya sudah dari tadi minta istirahat.
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021