
Sesampainya Nigel di ruang tamu, dia mendapatkan tatapan penuh tanya dari Miles. Perlu penjelasan lebih lanjut terkait isi pesan teks si kakak kembar yang menghilang hampir setengah jam.
Nigel balas dengan isyarat. Permintaan untuk bersabar menunggu sampai bisa leluasa mengobrol berdua saja nanti.
"Pap, tadi Jemma ingin menyusul Papa ke mobil tapi tidak dibolehkan Paman," kata Jemma sambil berjalan mendekat ke kursi ruang tamu, duduk bersama dua pria kesayangannya.
"Kenapa Je mau menyusul Papa?" sambut Nigel kepada Jemma yang memanjat untuk dipangku.
"Mau saja. Jemma suka ada Papa dan Mama bersama-sama. Tapi setelah aku selesai mandi tadi, tidak ada yang bisa aku temukan," keluh Jemma.
"Bukannya ada Paman, Bibi, Nenek juga Kakek?" laden Nigel.
"Pap, maksud dari kalimatku itu adalah Papa dan Mama. Ketika aku sempat melihat bayangan Papa di mobil dan ingin kesana, tapi Paman melarangku. Aku cuma bisa menunggu Papa muncul," tutur Jemma.
"Terima kasih banyak, Je. Kamu melakukan hal yang sangat tepat, Sang Putri," ucap Nigel bangga. Ternyata kesigapan Miles menerima permintaan tolongnya dibarengi oleh Jemma yang penurut.
"Baiklah. Tadinya Sang Putri kesal, tapi tidak lagi sekarang," kekeh Jemma lalu membalikkan badannya untuk mendekap Nigel.
Miles geleng-geleng kepala saja menyaksikan perbincangan dua orang di hadapannya itu. Bagai melihat sisi dirinya dan Evelyn, putri kecilnya yang dewasa daripada umur.
"Pap, bajunya basah," ujar Jemma sambil merenggangkan pelukannya dengan Nigel.
Miles yang mendengar ucapan Jemma itu menjadi ikut menelisik kaos yang Nigel pakai. Mata tajamnya bisa melihat jejak di warna gelap pakaian sang kakak kembar.
"Iya, Je," jawab Nigel singkat disertai senyuman. Raut wajah sang papa cerah ceria, tak sesuai ekspektasi Jemma.
"Paman, apa hanya aku yang merasa aneh? Kalau baju yang dipakai lembab, seharusnya menjadi tidak nyaman kan? Tapi Papaku terlihat senang," ujar Jemma setelah menoleh ke arah Miles.
"Benar. Itu aneh. Kita harus menerima keanehan Papamu, Keponakanku," canda Miles lalu terkekeh.
Jemma menghela nafas dengan kentara. Dia belum paham dengan humor yang Miles selipkan dalam kalimatnya dan yakin itu lebih ditujukan kepada Nigel, orang yang mereka bicarakan langsung di depan wajahnya.
"Aku harus menunggu besar dulu untuk mengerti," keluh Jemma diikuti tawa oleh dua pria kesayangannya.
"Papa," panggil Jarrett yang sudah berada di dekat Nigel.
Dari penampilannya, Jarrett yang sudah selesai mandi terlihat lebih segar tapi berbeda dengan raut wajahnya yang tampak murung.
"Ada apa, Ja?" tanya Nigel serius. Dia bisa merasakan sesuatu yang serius akan diutarakan putranya itu.
Perhatian Jemma dan Miles pun beralih ke Jarrett. Penasaran dengan apa yang akan dikatakan selanjutnya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya memanggil saja," ucap Jarrett menyadari semua tatapan mengarah kepadanya. Niat dalam hati dia urungkan. Sisi tertutupnya pun aktif.
***
"Biar aku yang mengambilkannya, Nigel," pinta Gail yang lebih dulu menjangkau piring.
Nigel tersenyum manis sebagai jawaban mengiyakan. Kedekatan dengan sang istri semakin membaik, termasuk duduk berdekatan kini tak sebermasalah seperti di awal-awal.
Gail menyendok nasi sembari bertanya lewat isyarat bagaimana selera Nigel. Lalu memindahkan lauk pauk ke piring setelah mengetahui yang mana si suami inginkan.
Hal yang Gail lakukan untuk Nigel juga dilakukan oleh Ellie dan Every untuk suami masing-masing. Tak enak rasanya bagi Gail jika tidak melayani pula.
Makan malam bersama kali ini dengan cara prasmanan melantai. Kehangatan keluarga besar terasa lewat lezatnya hidangan dan mengalirnya obrolan.
Jemma dengan suka cita tapi Jarrett dengan sedih hati. Jemma banyak bicara tapi Jarrett lebih pendiam. Kentara.
Sikap berbeda itu tak lepas dari perhatian Nigel. Sang papa bisa merasakan ada sesuatu terjadi yang ditutupi Jarrett. Nanti akan dia ulik.
“Jarrett, sayurnya," ucap lembut Gail kepada sang putra yang duduk di sampingnya.
Jarrett menuruti maksud Gail, makan dengan menyertakan sayur. Pria kecil itu mengambil satu sendok makanan hijau itu lalu meletakkannya ke piring.
Gail mengerutkan kening mendapati sikap Jarrett yang langsung melakukan apa yang biasanya didebatkan dulu. Ditambah dengan tingkah dinginnya dalam diam.
Sesaat Gail bisa menghubungkan apa yang sedang terjadi dengan penyebabnya. Kejadian menyita gawai tadi sore menjadi hal besar ternyata.
Jarrett bisa merasakan sang mama menatapnya sendu meski dia tidak menoleh ke arah Gail. Suasana hatinya masih belum membaik untuk berbaikan dengan wanita yang dicintainya itu.
Satu hela nafas panjang dilakukan Gail untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia paham Jarrett dan dirinya perlu waktu sebelum membahas yang jadi masalah mereka.
Yang bisa Gail lakukan sekarang adalah menjaga suasana hangat yang tercipta di makan malam dan berusaha mencairkan dinginnya Jarrett sebisanya.
"Gee, boleh tolong ambilkan aku lauk yang ada di dekat Jarrett itu," pinta Nigel kepada Gail.
Nigel menginterupsi lamunan Gail yang dia tahu dari tatapan kosong ketika istrinya itu menunduk. Seandainya hubungan emosional dengan sang istri lebih dekat, dia ingin memecahkan bersama apa yang jadi beban pikiran itu.
"Ini, Nig," kata Gail sekenanya.
Kemudian Gail bangkit dari duduknya sambil membawa piring bekas makannya. Porsi sedikit yang tadi diambil menjadikan durasi makan selesai lebih cepat.
Nigel tidak sempat selesai mengucapkan terima kasih ketika Gail bergerak cepat meninggalkan tempat yang didudukinya. Si istri menghilang di pintu kamar mandi setelah singgah ke bak cuci piring.
"Ja," panggil Nigel berbisik.
Jarrett dan Nigel sedang berada dalam jarak yang tidak dibatasi seperti tadi, yaitu Gail duduk di antara mereka berdua. Itu memudahkan keduanya berkomunikasi.
Rasa ingin tahu Nigel menuntut jawaban. Ketika tatapan si papa bertemu dengan putranya, ada gelengan kepala saja yang jadi jawaban Jarrett.
Tahu saja Jarrett apa yang akan Nigel katakan kepadanya. Dia ingin mengadukan perasaan kepada papanya itu tapi bukan saat yang tepat sekarang ini.
Mendapati reaksi Jarrett, Nigel membalasnya dengan senyuman empati. Meski dia baru pertama kali menghadapi sisi lain dari para kesayangannya itu, paham dirinya bisa melakukan sesuatu di waktunya nanti.
Selang dua menit, Gail kembali duduk di tengah posisi yang ditempati Jarrett dan Nigel. Ada dua wadah buah potong yang di tangannya.
Gail membawakan buah yang sudah dipersiapkan itu untuk kudapan bagi yang sudah selesai dengan hidangan berat. Dia meletakkannya dengan mengatur jarak.
"Nig, bisa bantu taruh wadah yang ini ke dekat hadapan Avery," kata Gail yang berisi permintaan tolong.
"Tentu. Berikan padaku, Gee," sambut Nigel senang. Dia merasa dirinya sudah mulai berguna bagi sang istri.
Tepat saat Nigel menerima wadah dari Gail itu, dia tertegun. Cukup jelas Nigel melihat sisi mata istrinya basah dan merah, lagi. Mungkin jika posisi duduk tidak sedekat sekarang, itu akan terlihat samar-samar.
|Bersambung..
-Author: Diw @ diamonds.in.words | Rd2021
Saatnya beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini.. makasih ya dukungannya untuk keberlangsungan Duo J: Genius :)